About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Kecemasan Itu Menguasai Hatimu


__ADS_3

Hyejin membanting ponselnya ke tempat tidur dengan kasar. Rahangnya mengeras bersama umpatan yang tidak bisa dibendung lagi jika mengingat semua sandiwara Jihoon saat melerainya. Hyejin tak habis pikir kenapa Jihoon bisa merahasiakan soal observasi dan pergi bersama Younha—hanya berdua! Hyejin benar-benar tidak bisa tenang setelah June memberitahunya lalu penjelasan Jihoon barusan bahwa dia memang pergi dengan Kim Younha sialan itu!


Bagaimana mungkin Hyejin bisa berpikir lurus? Mungkin saja mereka akan bersenang senang, mabuk, lalu menghabiskan malam bersama. Hyejin terkekeh gila memikirkan itu. Apa Jihoon sengaja merencanakan ini? Atau malah ja*ang Younha itu yang menggoda Jihoon?


Hyejin membanting semua barang diatas buffet ke lantai hingga berceceran dan pecah bahkan beberapa pecahan cermin kecil melukai telapak tangannya. Kemudian tangan tremornya menarik laci kecil disampingnya untuk mengambil beberapa obat penenang dan meneguknya tiga tablet. Menekan saraf sarafnya yang tegang.


"Jadi alasan kamu tidak mau ikut dengan ku ke Jepang karena itu Mas?!" Hyejin meninju meja rias dengan rahang mengatup marah. "Apa kamu kira aku tidak bisa berbuat diluar kendali? Apa kamu kira aku tidak bisa menyingkirkan parasit sepertinya. Kamu akan menyesal setelah ini Mas Jihoon!"


Hyejin keluar dari kamar, ingin meneguk segelas air karena tenggorokannya kering juga menyeka telapak tangannya yang terluka.


Dding! Ddong!


Suara bel rumah berbunyi dan itu membuat Hyejin tambah mengumpat. Tidak tahu saja jika hatinya sedang tak karuan saat ini. Dengan langkah sedikit menyeret, wanita itu menghampiri pintu dan membukanya pelan lalu terjengat begitu tahu siapa yang datang.


"Kak Woojin?"


"Malam adikku yang manis." Pria itu mencubit main main hidung Hyejin. "Kenapa? Kaget ya kakak disini?"


"I-iya lah." Hyejin terkekeh kecil, menyembunyikan telapak tangannya dari sang sepupu. "Masuk kak, tapi mama kebetulan ada acara di luar."


Hyejin membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan pria berambut kecoklatan itu melewatinya dan merebahkan diri disofa ruang tamu sedangkan Hyejin langsung ke dapur untuk menyiapkan minum.


"Kenapa kakak di Jepang?" Tanya Hyejin dari konter dapur. "Oh, pasti urusan bisnis 'kan? Tidak mungkin kakak meliburkan diri. Kak Woojin tuh memang susah kalau diajak refreshing, dari dulu kerja terus pikirannya."


"Ya, namanya juga hobi." Woojin tertawa ringan, mulai membuka laptopnya.


Hyejin membawa nampan berisi dua cangkir teh lalu meletakkan diatas meja dan mempersilahkan pria itu untuk minum. Woojin tak sengaja melihat tangan Hyejin yang terluka sudah ditutup plester, dahinya mengkerut khawatir.


"Eh, itu kenapa tangan kamu terluka?" Sargahnya menunjuk tangan sang adik yang berusaha disembunyikan.


"Ngga apa-apa kak. Cuma luka kecil kok."


"Sini coba aku lihat." Woojin menarik tangan Hyejin. "Panjang gini kok lukanya. Ini kenapa sih? Kamu mecahin apa sampe goresannya dalem gini."

__ADS_1


Hyejin tidak menjawab.


"Ke rumah sakit yuk. Kalau cuma gini bisa infeksi!" Woojin menelisik luka di tangan Hyejin lalu mengerutkan dahi seolah tahu sesuatu saat melihat luka itu membiru walau darahnya masih segar. "Kamu minum obat pereda sakit? Kenapa lukanya membiru? Kayaknya ini luka baru deh." Pria itu menatap Hyejin lekat. "Kamu minum obat apa dek?"


"Obat apa maksud kakak?" Tanya Hyejin pura pura tidak mengerti. "Mungkin karena hawanya dingin jadi lukanya cepat membiru."


Hyejin menarik tangannya cepat. "Kak Woojin ini perhatian sekali. Aku jadi penasaran siapa wanita yang bakal dampingin kakak nanti."


"Kakak juga belum rela adik kakak yang masih kecil ini udah mau nikah aja." Candanya. "Kamu udah seyakin itu sama Jihoon?"


Hyejin mengangguk. "Tentu, kami sudah lama bersama. Sudah saatnya untuk menikah."


"Kakak hanya bisa mendo'akan yang terbaik buat kalian. Walau aku ngga terlalu klop sama Jihoon, tapi asal kamu bahagia kakak juga akan bahagia."


"Kakak istirahat dulu aja lah." Alih Hyejin menyahut laptop sang kakak. "Percuma datang kesini kalau cuma mau lanjutin kerja. Pulang aja sana kalau gitu."


Melihat sang adik manyun seperti itu, Woojin malah tertawa jenaka—mengusuk rambut sepupunya yang merajuk kemudian merebahkan diri di sofa.


Hyejin membereskan tas kerja dan jas kakaknya yang tergeletak begitu saja sebelum kembali menuju kamar. Setelah memastikan Woojin tidur, Hyejin menutup pintu kamar lirih lalu membereskan pecahan barang barang yang ia lempar sendiri tadi. Dengan senyum yang sulit diartikan, wanita itu sedikit khawatir sang kakak akan kecewa jika tahu dia memakai obat obatan sampah itu.


...*****...


Jihoon menggigit jemarinya gelisah sambil terus menatap jam dinding yang terus berputar. Pikirannya bergelayut dengan dua hal, pembicaraannya dengan Hyejin di telfon dan keberadaan Younha di kamar mandi.


Mungkin masalah dengan Hyejin bisa diselesaikan dengan omongan halus dan sedikit rayuan walau juga berkemungkinan sulit. Tapi Younha—bukan hal mengejutkan yang mereka lakukan beberapa jam lalu yang mengganggu pikiran Jihoon melainkan kekhawatiran suatu gangguan yang diidap Younha. Beberapa kali juga Jihoon mengetuk pintu kamar mandi untuk minta maaf dan menyuruh Younha keluar namun tidak ada respon.


Waktu menunjukkan dua dini hari. Terhitung tujuh jam setelah Younha masuk kamar mandi hingga kini.


Suara pintu terbuka terdengar oleh Jihoon dari balkon hotel lantai sepuluh itu. Dengan langkah cepat Jihoon menghampiri Younha yang barusaja keluar.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Jihoon khawatir, memegang kedua bahu Younha dan memindai tubuh yang dibalut Bathrobe hotel itu dengan mengernyit. "Kenapa tidak menyahut saat ku panggil?"


Younha menghembus nafas panjang sambil menyingkirkan tangan itu dari badannya. "Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Kenapa?!" Jihoon mendesah frustasi. "Kamu membuatku khawatir."


"Jangan membual lagi. Tidurlah selagi waktu malam masih panjang." Younha melihat jam dinding dan terjengat sendiri lalu menatap Jihoon dengan kerjapan. "J-Jam dua dini hari?"


"Kamu tertidur saat berendam?" Tanya pria itu dan dengan polosnya Younha menggeleng. "Younha, kamu berendam tujuh jam—kulitmu sampai pucat begini. Kecemasanmu kambuh lagi Younha-ya, maafkan aku."


Younha berkedip bingung, terlebih saat Jihoon mengambil kedua tangannya dan melihat jemarinya berkerut karena terlalu lama didalam air. Younha tidak mengerti, apa waktu di bumi begitu cepat berlalu? Ia merasa hanya berendam tiga puluh menit.


"Kita periksa ke dokter besok." Jihoon mengusap jemari Younha. "Kamu harus bertahan."


"Sudahlah, ini bukan hal yang penting." Younha menarik tangannya berjalan menuju ranjang lalu berlagak merapikan bantal. Dia bahkan tidak merasa jika di tangan kanannya masih memegang botol shampo. Kemudian Jihoon mendekat dan mengambilnya. Younha mengerjap makin tak mengerti, pikirannya linglung untuk sesaat.


"Apa yang kamu pikirkan?" Jihoon berkata lirih. "Jangan buat pikiranmu kosong untuk saat ini, katakan padaku apa yang ingin kamu katakan."


"Aku tidak tahu."


"Ceritakan apapun yang terlintas di benakmu Younha. Apapun itu." Jihoon meraih tangan Younha, mengusapnya untuk memberi kehangatan.


"Aku tidak tahu."


"Younha, tetaplah sadar dan tatap mataku. Kamu bisa melewati ini jadi katakan perlahan, hm?" Jihoon mencoba membawa Younha dari perasaan linglung karena gangguan kecemasan itu. Namun manik Younha hanya bergerak gelisah dan itu membuat Jihoon semakin takut.


"Aku hanya berharap kamu dan Hyejin selalu bahagia—semoga kalian memiliki kehidupan yang baik kelak." Bisik Younha dengan bibir bergetar. "Aku hanya berharap Yeonjun dan Seojun tidak kesepian walau tanpa ayah disisi mereka. Kamu tetap menjadi ayah yang baik seperti yang kamu katakan saat Yeonjun masih didalam kandungan dulu. Hanya mereka kebahagiaanku dan harapanku juga hanya untuk mereka. Aku tidak salah 'kan jika merasa seperti itu?"


Mendengar penuturan mantan istrinya yang begitu menyayat hati, Jihoon segera memeluk Younha dan merasakan tubuh itu gemetar kedinginan. Pelukan Jihoon semakin mengerat bersama dia mengucapkan maaf karena semua kesalahannya membuat Younha menderita.


Dengan mata yang sudah banjir, Younha melepas pelukan Jihoon lembut. Pandangannya masih linglung, namun Younha menyeka air di pipinya lalu berkata lirih,


"Apa yang terjadi? Kenapa aku menangis?"


Jihoon meraih tubuh Younha kembali, memeluknya lebih erat dan erat. Mengucapkan beribu maaf yang mungkin tak akan pernah diterima oleh hati remuk Younha.


"Maafkan aku, Younha-ya."

__ADS_1


...*****...


__ADS_2