
"Sebentar."
Jemari Younha berhenti seketika begitu mendengar bel apartemennya berbunyi. Ia segera menyimpan file kerjanya tidak lupa meletakkan kacamata minus yang ia pakai sejak tadi. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, dan ia tidak menyangka akan dapat tamu tanpa janji. Dia melangkah cepat—setelah pintu terbuka tanpa disangka Younha bersitatap dengan manik Jinan dan sedikit terhenyak.
"Jinan?"
"Selamat pagi, sibuk ya?" Sapa Jinan semangat, menyodorkan buket bunga tulip putih dan satu kotak kue beras. "Wah, kamu terlihat lelah. Apa aku mengganggu?"
"Ya, sangat mengganggu." Younha menjawab bercanda, sedikit menata rambutnya yang acak acakan. "A-Aku boleh menerima ini?"
"Tentu saja. Buat apa aku membawa bunga cantik ini jika tidak akan ku berikan padamu."
"Hanya—" Younha mengulum bibirnya ragu ingin berucap. "Bukankah ini berlebihan. Aku mudah terbawa suasana, jadi jangan ingatkan aku pada masa itu."
"Kamu masih mengingatnya?" Tanya Jinan. "Aku sangat bahagia dan bersyukur jika memang benar. Tapi aku yakin, kamu mengerti dan aku pun juga. Kita sudah punya kehidupan masing-masing, jadi seperti ini tidak masalah kan?"
Younha mengangguk patah. "Masuklah. Aku lupa jika tamuku juga butuh duduk." Ia membuka pintu unitnya lebar lebar, mempersilahkan pria itu melewatinya.
Younha menutup pintu, namun dia sadar saat Jinan malah terdiam menatap sneakers putih kombinasi biru di rak sepatunya sambil tersenyum lalu melirik Younha seolah mengklarifikasi sesuatu.
"Jihoon tidak tahu jika itu darimu." jelas Younha dari konter dapur, membuka bingkisan kue beras dari Jinan yang dibungkus kain khas jajanan tradisional Korea. "Lagipula itu cantik dan aestetik jika dijadikan pajangan. Tidak ada kegiatan yang tepat bagiku untuk memakainya, jadi kusimpan saja sebagai hiasan. Bagaimana menurutmu?"
"Ya, aku sedikit sedih." Jinan tertawa kecil. "Tapi itu lebih baik daripada disembunyikan dan tidak dianggap. Btw, kue beras itu buatan Mirae. Syukuran atas diterimanya dia sebagai dokter bedah di RS. Universitas Hansung."
"Serius?!" Kata Younha tak percaya, memberikan teh hangat pada Jinan di ruang makan. "Apa dia bisa mengatasi itu? Oh, maksudku apa Mirae tidak akan trauma lagi? Dia bahkan selalu gemetar jika melihat pisau bedah."
__ADS_1
"Mirae banyak belajar. Dia selalu melawan rasa takutnya walau itu membuatnya sakit dan bahagia bersamaan. Dia wanita yang sangat kuat, tidak diragukan lagi kenapa ia rela lehernya tersayat waktu itu."
Jinan bercerita panjang tentang Mirae, dari kebaikan, perhatian, hingga cinta sang istri dan tanpa sadar itu membuat Younha menangis dalam diam. Mirae sangat beruntung mendapatkan Jinan karena Younha memang tahu sejak dulu sikap mantan kekasihnya itu, Jinan orang yang sangat lembut dan dapat menyayangi seseorang tanpa balasan. Dapat mengerti afeksi kecil seperti "Apa kamu lelah?" walau itu tidak penting. Kepedulian yang melebihi dirinya sendiri, bahwa Jinan selalu peduli pada orang lain dan ia tidak terlalu peduli pada tubuh dan perasaannya sendiri.
Hal seperti itu yang selalu Younha rasakan dulu saat bersama Jinan. Namun Younha tidak menyesal jika kini tidak bersanding dengan Jinan karena ia juga memiliki afeksi yang sama "Aku bahagia jika kamu bahagia."
"Terimakasih Jinan." Tukas Younha tiba-tiba dan itu membuat Jinan mengernyit khawatir sebab dari mata Younha tersirat kesedihan. "Terimakasih karena kamu telah bahagia."
"Younha—"
"Bukankah dulu aku berkata jika kamu bahagia maka aku juga bahagia?" Younha tersenyum. "Dan kamu bahagia jika aku bahagia. Kurasa kita sudah impas 'kan?"
"Apa kamu bahagia?" Jinan bertanya balik, kini diiringi decihan kecil. "Kurasa kamu tidak bahagia jadi bagaimana bisa kamu berkata bahagia?"
Younha berkedip untuk menahan air di pelupuk matanya yang sudah penuh. Tidak mengira Jinan akan berkata seperti ini. Susah payah Younha menyembunyikan perasaannya dan apakah kini mulai terbongkar?
"Mirae di rumah sakit 'kan?" lanjut Younha bangkit. "Bisakah kita berkunjung? Aku ingin melihat Mirae memakai jas dokter kebanggaannya. Kita kesana ya, aku akan ganti baju dulu."
Younha berlari kecil menuju kamarnya, meninggalkan Jinan yang membuang nafas panjang dengan pikiran campur aduk.
...*****...
"Bagaimana jika kita menikah tahun ini?"
Pertanyaan tiba-tiba Hyejin hampir membuat Jihoon menginjak remnya mendadak karena untuk pertama kali, Hyejin mengatakan hal serius. Jihoon segera mengontrol wajah paniknya dengan senyuman tipis lalu melirik sang kekasih yang sedang memangku Seojun disampingnya.
__ADS_1
"Menikah bukan hal yang mudah diucapkan dan dijalani dengan lancar lancar saja." Jihoon berkata lembut ditengah mengemudi. Menyandarkan bahunya rileks dan memilih kata-kata tepat agar Hyejin tidak salah faham. "Menikah itu butuh persiapan mental dan fisik sayang, jadi tidak bisa tiba-tiba."
"Aku serius, bukankah kita sudah pantas menikah?" Hyejin menatap pria yang sedang menyetir. "Aku sudah siap semuanya. Mental, batin, fisik, bahkan mengurus anak-anak. Kita sudah menjalani selama ini dan kamu juga pernah menikah sekali." Sanggah Hyejin dengan nada sebal. "Semua pengalaman kamu sudah cukup untuk membangun rumah tangga kita 'kan? Dan dengan itu, apa kamu belum siap menikah lagi?"
"Hyejin, kamu tahu aku gagal dalam pernikahanku sebelumnya, jadi—"
"Jadi kenapa kamu belum siap?" sahut Hyejin tidak sabar. "Apa selama ini kamu tidak benar-benar mencintaiku?"
"Sayang, kamu ini bicara apa?" Jihoon melirik sekilas. "Semua yang sudah kulakukan selama ini adalah bentuk cinta dariku."
"Kalau begitu ayo menikah." Hyejin menekankan kalimatnya lagi. "Aku tidak sabar ingin mendengar Yeonjun dan Seojun memanggilku bunda. Kita berempat akan jadi keluarga utuh. Walau mereka anak dari mantan istrimu tapi aku tidak keberatan untuk menjaga mereka."
Jihoon mengetuk kemudian ragu saat lampu merah menyala. Ia melirik bayi kecilnya di pangkuan Hyejin lalu pada kekasihnya bergantian. Hati Jihoon gelisah, bagaimana mungkin ia bisa memisahkan anak-anaknya Younha, si ibu kandung. Younha pasti tidak terima dan berakhir membenci Jihoon.
"Aku rasa kita jangan mengambil anak-anak dari Younha." Jihoon tersenyum tipis dengan intonasi rendah, berusaha melerai Hyejin. "Younha ibu kandung Seojun dan Yeonjun dan itu sangat kejam jika kita memisahkan mereka. Aku rasa kamu juga tahu perasaan wanita jika seperti itu, hm?"
Hyejin mengerjab sendu sambil mengusap helai rambut Seojun yang tertidur di pangkuannya. "Aku takut Younha tidak mengizinkan menyentuh Seojun dan Yeonjun lagi setelah kita menikah. Maaf, aku membuat permintaan gegabah seperti ini."
"Tak apa sayang, aku mengerti perasaanmu."
"Tapi, bisakah mereka memanggilku bunda mulai saat ini?" Hyejin antusias. "Ini sudah saatnya mereka tahu jika aku juga akan menjadi ibunya. Bagaimana?"
Jihoon tidak menjawab dan hanya anggukan patah yang mewakilinya, sebenarnya ia ragu dan takut Younha tidak terima walau itu fakta. Hal kecil seperti mengatakan "Bunda" pada orang lain juga dapat membuat luka tanpa disadari.
Younha sudah terlalu rapuh, bagaimana wanita itu menahan kepahitan ini?
__ADS_1
...*****...