About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Dalam Baik-Baik Saja


__ADS_3

Hujan mengguyur deras memenuhi jalanan dan jarak pandang Jihoon dari dalam mobil. Gelegar petir menemani perjalanannya membelah jalan sepi dengan minim penerangan di sisi kanan kiri. Alis Jihoon terus menekuk, sesekali menggigit bibir dan jemarinya dalam kegelisahan. Pedal gas terus diinjak hingga melewati angka 120 km/jam, pria itu bahkan tidak peduli dengan keselamatannya sendiri.


Bayang-bayang Younha muncul dalam pikiran kusutnya. Dari senyum simpul kala menjadi mahasiswa di Oxford, cinta Jihoon untuk Younha tulus tanpa alasan walau selama ini yang Younha lihat hanya kebohongan belaka. Sulit mengungkapkan fakta dari cinta yang sesungguhnya karena Jihoon dihadapkan pada takdir yang sulit. Takdir yang membuatnya menjadi orang baik dan jahat bersamaan.


Hingga saat waktunya tiba untuk mengungkapkan kebenaran, dia merasa kurang berani dan ragu. Keraguan yang panjang itu pada akhirnya menghilangkan kesempatan untuk menyatakan hal sebenarnya. Namun, meski Jihoon mendapat keberanian untuk menyatakan hal sebenarnya, keberanian kadang terasa lebih tidak nyaman daripada kebohongan.


JIhoon merasa seperti itu, kenyataan membuat dadanya sesak untuk waktu yang lama.


Decitan ban bergesek dengan aspal nyaring setelah dia menginjak rem tiba-tiba. Pemandangan di seberang jalan dimana sebuah truk terguling dengan asap tebal melingkupi ikut membuat badan Jihoon bergetar makin hebat. Dia melepas seatbelt tidak sabaran, kemudian berjalan tegas menuju kerumunan dengan pakaian basah kuyup.


“Dimana?” Mata Jihoon bergerak ke segala arah, mencari seseorang yang ia khawatirkan sejak tadi. “Dimana penumpang taksinya?!”


Dia berteriak dan meraih kerah polisi yang memakai mantel hujan sambil terus bertanya dimana korbannya.


“Anda siapa?” Tanya polisi itu.


“Apa itu penting sekarang?!” Jeritnya makin frustasi. “Katakan padaku dimana korban penumpang taksi itu?!!”


“Jihoon-na!”


Jihoon menoleh ke asal suara, melihat Younha berdiri disana dibawah payung berwarna biru dan dalam keadaan baik-baik saja. Kedua tungkai Jihoon bergerak tanpa diperintah, menghampiri wanita itu lalu memeluknya erat. Younha terdiam bingung sekaligus kaget dengan sikap Jihoon, apa yang sebenarnya terjadi?


Tubuh hangat mereka tidak bisa menandingi dinginnya hawa saat ini. Payung Younha jatuh begitu Jihoon memeluknya, disana dia bisa merasakan jika tubuh kekar itu bergetar kedinginan.


“Kamu bodoh? Kenapa membiarkan ponselmu kehabisan daya disaat akan pergi?" Sargah Jihoon begitu pelukan itu merenggang dan manik mereka bertemu. Jihoon memegang kedua bahu Younha, menyalurkan rasa khawatir. “Bagaimana jika hal buruk terjadi dan kamu tidak bisa menghubungi siapapun?!”


Bola mata Younha gusar, bibirnya pun kelu untuk berucap.


“Itu…” Younha melihat wajah Jihoon yang pucat dan tangannya spontan naik untuk menyentuh dahi dan pipi dingin itu. “Jihoon-na kamu baik-baik saja? Hujan seperti ini kamu berkendara dari pusat Seoul tiba-tiba? Wajahmu pucat, kenapa malah terkena hujan?”


Jihoon terpaku dengan pertanyaan Younha, bahkan disaat seperti inipun dia tetap khawatir padanya. Apa yang Jihoon pikirkan? Younha tidak mencintainya? Bukankah yang wanita tunjukkan saat ini sudah jelas?


“Harusnya kamu tidak datang dikala hujan deras begini.” Lanjutnya setelah mengambil payung untuk melindungi Jihoon dari hujan. “Jihoon-na kamu benar baik-baik saja?”


“Entahlah. Aku juga tidak tahu apa yang kulakukan.” Tukas Jihoon dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Mereka saling pandang dalam diam, dalam bingung, dan dalam dimensi lain. Suatu hal yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata sedang menyita perasaan mereka.


Sementara dibawah pohon seberang jalan lokasi itu, Woojin tersenyum dalam getir merasakan air hujan mengaliri wajahnya. Dia juga tidak mengerti apa yang membawanya sampai disini, namun melihat Younha dan Jihoon bertemu seperti ini, pria itu sedikit sadar bahwa Younha adalah rumah yang tidak bisa ia gapai.


...*****...


Mirae melirik jam dinding.


Sudah sangat larut bahkan memasuki pukul setengah satu dini hari. Hujan yang mengguyur barusaja reda dan menyisakan rintikan kecil. Meski hiruk pikuk kehidupan malam Seoul masih terlihat dari lantai dua puluh lima apartemennya, tetap saja merasa sepi di hatinya.


Jinan memang sudah izin untuk pulang terlambat, toh Mirae juga tahu kesibukan sang suami sebagai polisi. Mirae mondar mandir sambil memangku tangan sesekali melirik handphonenya diatas meja berharap Jinan akan menelpon untuk memberi kabar. Namun tak ada kabar masuk sejak terakhir kali bilang akan pulang terlambat.


Akhir-akhir ini mereka memang agak jauh. Jinan sibuk dengan urusan polisi dan masyarakat sedang Mirae juga menjalani banyak tugas operasi. Percakapan mereka hanya sepintas saat sarapan atau akan tidur. Pekerjaan yang membuat lelah juga menyita waktu menjadikan hubungan suami istri itu sedikit renggang dalam komunikasi.


Beberapa minggu ini juga, Jinan lebih sering membicarakan Younha saat bersama Mirae. Alasan karena wanita itu sedang melewati masa sulit menjadi yang paling utama. Mirae memang mengerti yang terjadi, bukannya dia tidak percaya pada suaminya, namun fakta bahwa Younha adalah sahabat yang pernah menjadi pendamping hidup Jinan sedikit mengganggu pikiran—pun segala perhatian yang pria itu berikan diam-diam menyayat hati Mirae.


Mirae sama sekali tidak ingin menuduh Jinan maupun Younha, tapi pikirannya sudah buntu dan membuat amarah yang selama ini ia tahan bergejolak ingin diluapkan. Mirae bangkit untuk mengganti pakaian dan menyusul ke apartemen Younha yang tak jauh dari tempatnya-namun bel unit mendahului langkahnya.


Jinan terlihat kelelahan dengan kemeja di tubuhnya yang berantakan, dasinya entah kemana dan kancing kemeja teratasnya sudah dibuka, memperlihatkan sedikit kulit dadanya. Jinan tersenyum namun juga kaget melihat sang istri masih bangun, dia melepas pantofelnya dan menghampiri Mirae yang hanya terdiam ditengah ruangan.


“Sayangku belum tidur?”


“Kenapa kancing bajumu terlepas?”


Jinan merunduk, melirik kemejanya sendiri lalu terkekeh.


“Seojun yang melepaskannya.” Kata jinan yang belum menyadari maksud Mirae yang penuh tuduhan.


“Seojun?” Mirae berdecih sarkas. “Kamu berada di apartemen Younha selarut ini?”


“Aku sudah izin padamu.”


“Kamu izin untuk pulang terlambat tapi tidak untuk ke apartemen sahabatmu itu!” Mirae berteriak marah. “Apalagi pulang selarut ini padahal aku di rumah sendirian. Jinan, kamu sudah punya istri! Kamu punya keluarga dan rumahmu sendiri!”


Jinan memejamkan mata, mengurut dahinya yang tiba-tiba pening mendengar kesalah pahaman Mirae.

__ADS_1


“Kamu yakin yang membuat kancing bajumu copot Seojun? Bukan Younha yang keenakan dan tidak sabaran?” Suaranya memelan di akhir kalimat.


Jinan kaget, lalu menatap manik istrinya yang memerah. Tidak menyangka Mirae akan berprasangka seperti itu dan menuduh Younha. Younha bukan orang seperti itu.


“Mirae, ada apa denganmu?”


“Kalian bermain sampai selarut ini?” Mirae melirik jam dinding. “Berapa lama Younha bisa bertahan denganmu? Empat jam? Lima?”


“Kamu barusaja menuduhku tidur dengan Younha?” Dahi Jinan berkerut.


“Memangnya tidak?” Mirae menyibak kerah kemeja Jinan dan melihat kulit leher maupun dadanya masih bersih. “Harusnya dia juga meninggalkan tanda di tubuhmu agar dia menjadi makin sempurna karena bisa meniduri mantan kekasihnya lagi! Bukankah itu yang kamu mau? Kamu masih mencintai Younha dan berharap bisa kembali? Atau kalian sudah beberapa kali bermain di belakangku tanpa kutahu. Sementara aku berusaha berpikir yang baik-baik tentangmu dan Younha! Aku yang selalu harus mengalah dan mengalah!!”


“MIRAE!” Tanpa sengaja Jinan menaikkan nada suaranya agar Mirae diam sejenak. “Aku tidak menyangka kamu berpikiran seperti itu.”


“Lalu aku harus berpikiran seperti apa?” Suara Mirae bergetar. “Melihat suami sendiri berada di apartemen wanita lain untuk berbagi dongeng?”


“Mirae—"


“Setiap saat aku ketakutan memikirkanmu dan Younha. Kamu masih mencintainya dan dia juga bisa memberikanmu anak yang banyak, berapapun yang kamu mau.” Mirae melemah dan sedih dengan ucapannya sendiri. “Bagaimana jika suatu saat kamu meninggalkanku?”


Jinan langsung menarik Mirae ke pelukan sebelum sempat wanita itu menjatuhkan air mata pertama. Kedua lengan Jinan memeluk bahu istrinya erat, memberikan kecupan di pelipisnya selagi telapak tangan mengelus punggung sempit itu untuk ditenangkan. Jinan memberi waktu agar Mirae dapat meluapkan semuanya meski itu hanya prasangka terhadapnya dan Younha. Dia juga memberi jeda untuk berpikir secara rasional dan merenungi segala yang telah wanita itu ucapkan.


“Katakan apapun lagi yang mengganjal di hatimu.” Bisik Jinan. “Semuanya.”


Mirae masih diam, sebelum menautkan kesepuluh jemarinya dibalik pinggang Jinan lebih erat.


“Berpikir untuk meniduri Younha pun aku tidak pernah. Aku sudah memiliki istri yang sangat kucintai, itu cukup untuk menyekat segalanya.”


Jinan merenggangkan pelukannya agar bisa menatap wajah Mirae, sedang wanita itu masih terus memeluk pinggangnya.


“Aku bisa mengerti dengan pikiran burukmu itu karena aku juga salah, aku tidak tahu jika ada yang diam-diam terluka, diam-diam menahan sakit, dan diam-diam berusaha baik-baik saja sepertimu.” Jempol tangan Jinan mengusap lembut pipi istrinya, menyeka air mata yang membuatnya ikut sakit bersamanya. “Dan aku bukan dari apartemen Younha barusan tapi apartemen Jihoon. Setelah pulang dari kantor aku mampir membawakan sedikit kue untuk Jihoon dan beberapa saat setelahnya Jihoon dan Younha baru datang dengan pakaian basah. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka, namun Seojun yang terbangun dari tidurnya melarangku pulang hingga larut.”


Jelas rasa bersalah tergambar di wajah Mirae, dia sudah menuduh hal tanpa dasar itu atas egonya sendiri. Ia menatap wajah Jinan yang teduh, tidak ada lagi gurat marah selain raut wajah kelelahan.


“Maaf sudah membentakmu.” Jinan menarik tubuh Mirae ke pelukannya lagi. “Maaf sudah pulang terlambat dan membuatmu cemas.”

__ADS_1


Jinan menyandarkan pipinya di bahu Mirae, menikmati tubuh hangat mereka yang berpelukan di tengah ruangan sambil mendengar luapan maaf lembut dari bibir istrinya.


...*****...


__ADS_2