About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Hari Dengan Rintik Hujan


__ADS_3

Satu tahun kemudian...


"Oh! Hujan!"


Younha segera mengambil payung lipat yang sejak tadi tergeletak dalam tas belanjaannya. Tahun ini hujan datang lebih awal, walau langit beberapa jam yang lalu masih cerah tetap saja tidak memungkiri kepastian kapan hujan itu turun. Seperti sekarang, barusaja Younha keluar dari toserba untuk berbelanja kebutuhan bulanan, hujan turun rintik-rintik. Tidak deras tidak juga gerimis, tapi cukup membuat basah.


Diapun akhirnya urung niat untuk menerobos hujan dan memilih duduk di pelataran depan toserba yang memiliki beberapa kursi dan meja. Penasaran dengan surel dan pesan yang ia kirimkan pada Jihoon dua hari yang lalu, Younha segera mengecek ponsel dan mata berbinar itu perlahan berubah jadi kesal.


Sudah dua hari, Jihoon tidak membalas satu pesan pun darinya. Pria itu, yang berjanji akan mengirim pesan sepuluh kali sehari malah hanya dua hari sekali. Yang berkata akan mengirim surel setiap hari, malah satu bulan sekali. Yang berkata ingin menulis surat, tapi hanya Younha yang selalu mengirimkan setiap bulan.


"Dasar Lee Jihoon sialan!! Apa jangan-jangan kamu disana juga selingkuh?!!"


Jemari cantik yang dihiasi cincin Cartier dari Jihoon itu, bergerak menuju galeri dan melihat kembali foto-foto lama untuk meredakan emosinya. Diawali dengan foto bayi Yeonjun dan Seojun, putranya yang menangis karena berebut permen, hingga keduanya kini berpakaian seragam rapi. Younha teringat jika dulu Yeonjun tidak mau sama sekali sekolah usia dini, jadi sekarang baru masuk pendidikan dasar.


Slide selanjutnya, ada foto jemari Hyejin dan Jihoon yang tersimpan tidak sengaja. Younha tersenyum kecut, lalu menghapus foto jahat itu. Walau Younha sempat berpikir bagaimana keadaan wanita itu? Karena pada dasarnya, Hyejin tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Dia hanya berjuang untuk cintanya, namun cara keliru itu yang membuat wanita seperti Hyejin menanggung penyesalan sendiri.


Younha menggeser slide lagi dan setelahnya terdapat beberapa foto Jihoon yang sengaja ia potret diam-diam dalam ruang rapat. Bagaimana Jihoon berbicara, membaca berkas, bahkan menyimak saja sangat berwibawa. Younha mendengus panjang, masih satu tahun lagi untuk bertemu Jihoon. Rasanya ingin sekali menyusul kesana. Untuk beberapa saat Younha sempat terpesona sampai tidak sadar jika hujan mulai reda dan menyisakan gerimis kecil.


Saat hendak bersiap pergi, benda pipih yang masih berada di tangan kanannya itu bergetar. Younha tersenyum lebar begitu nama kontak Mantan Suami itu memanggil.


"Dimana?"


"KENAPA TIDAK MEMBALAS PESANKU BRENGSEK!!" Younha menjerit, sementara Jihoon agak menjauhkan ponselnya, kaget.


"Sepertinya ada yang marah?" Tanya Jihoon dengan santainya.


"Kamu pikir seperti ini aku sedang bernyanyi!!"


Jihoon tertawa lirih. "Kamu dimana?"


"Kenapa bertanya?"


"Kalau tidak tahu kamu dimana, bagaimana aku bisa menemuimu?"


"Dari Berlin?" tanya Younha tidak paham maksud Jihoon. "Kamu akan pulang karena cuti?"


"Tidak."

__ADS_1


"Lalu untuk apa bertanya?"


"Mencari jalan menuju hatimu."


"YAH!! SHIBAL SAEKKIA!!" Younha mengumpat tapi yang didengar dari ponsel hanyalah kekehan Jihoon. "Berhari-hari kamu tidak bisa dihubungi, pesan juga tak dibalas, aku sampai berpikir jika kamu selingkuh disana!"


"Maaf."


"Hanya itu?"


"Kurasa tidak." Jihoon tersenyum, dibawah payung berwarna merah maroon di seberang toserba. Jembatan taman yang tepat berada di depan Younha berdiri. Pria itu sengaja tidak memberitahu Younha jika akan pulang tiba-tiba. "Aku sedang berpikir bagaimana wanita yang aku cintai bisa melihatku sekarang."


Kelopak mata Younha bergerak dengan pupil yang mulai memindai sekitarannya. Younha celingukan, sempat berpikir apa benar Jihoon disini? Tapi rasa tidak mungkin itu lebih mendominasi.


"Hei, jangan bercanda Jihoon."


"Jembatan." Jihoon menyela. "Apakah wanita di depan toserba itu sedang mencariku?"


Pandangan Younha lurus menembus hujan pada sosok pria dibawah payung disana. Memastikan jika itu adalah Jihoon nyata bukan hayalan belaka. Pelupuknya mulai berkaca-kaca dengan bibir melengkung ke bawah, bersiap untuk menangis. Younha meletakkan ponselnya di meja, lalu berlari menuju tempat Jihoon tanpa payung.


"Heiii hujann!!!" Teriak Jihoon ikut berlari menyusul Younha.


"Aku sangat mencemaskanmu, kamu tahu? Harusnya kamu memberitahuku jika akan datang. Karena kamu tidak menjawab pesanku terus, aku jadi berpikir yang tidak-tidak." Gumam Younha disela isakannya.


Jihoon tersenyum, mengusap kepala Younha. "Aku hanya ingin mengejutkanmu. Coba, biar ku lihat."


Younha melepas pelukan bersama kedua telapak tangan Jihoon menapaki wajah sembabnya, menghapus air mata itu dan menatap lekat manik berair Younha yang menyimpan berjuta binar bahagia.


"Sepertinya aku bisa bernapas sekarang."


Younha mengendus dalam senyum, meraih tubuh pria itu lagi untuk dipeluk lebih lama. Membiarkan hujan ikut cemburu pada dua manusia yang sedang melepas rindu itu.


...*****...


"Jadi, kamu menetap di Korea?"


Jihoon mengangguk. Dia mengusap usap jemari lentik Younha yang dihiasi cincin cantik itu. Rumah sepi, sebab anak-anak menginap di rumah Jinan dua hari. Katanya ingin mengajak bermain adik bayi mereka yang baru lahir. Kenny, putri pertama Jinan dan Mirae.

__ADS_1


"Hm, sepertinya aku tidak sanggup mengatasi semua panggilan cinta yang ku terima."


Younha berdecih, tersenyum tipis kala wajahnya mulai memerah salah tingkah.


"Pasti Hyejin sangat berarti bagimu." Kata Younha dan Jihoon langsung menoleh kaget.


"Kenapa tiba-tiba Hyejin?"


"Kamu tidak pernah semanis ini sebelumnya." Wanita itu memasang raut sewot tapi tetap menggenggam tangan Jihoon erat. "Dia pasti butuh asupan cinta setiap hari. Berapa kali kamu mengatakan cinta padanya?"


Jihoon tampak berpikir, sementara Younha menatapnya serius, Jihoon malah sengaja menggoda dan menguji kesabaran wanita itu.


"Lima kali sehari."


"Lima kali?!" Younha agak berteriak lalu menarik tangannya cepat. "Kamu tidak pernah mengatakan cinta padaku tapi Hyejin—" Younha menghela napas. "Keterlaluan sekali."


"Saranghae." Ujar Jihoon tiba-tiba.


"Terimakasih."


Younha cemberut dan langsung menghentakkan kakinya pergi menuju kamar di lantai dua. Sedangkan Jihoon sama sekali tidak takut jika wanita itu marah apalagi naik tangga hampir terjungkal karena terus menoleh ke belakang. Jihoon mengendus gemas, menunggu apa yang akan Younha ancamkan setelah ini. Dan benar saja, satu pesan langsung masuk ke handphone Jihoon diatas nakas.


"Kamu bahkan tidak mengejarku, awas saja nanti!! Kamu tidak akan melihatku seharian karena aku akan mengunci kamar ini sebentar lagi!!😠


Senyum tertahan Jihoon perlahan berubah jadi lebar dan sedikit terangkat dari sudut bibirnya, tidak tahu saja jika Younha sedang membangunkan singa tidur yang kelaparan. Jihoon mengetikkan balasan cepat, geregetan sendiri.


"Aku datang. Tunggu aku....."


Pria itu menyisir helai poni yang menutupi matanya, bergegas menyimpan ponsel ke saku dan berlari menapaki anak tangga tidak sabar.


Meninggalkan ruang tamu dengan lampu temaram bersama rintikan hujan.


...*****...


Chap ini boring, gak ada apa-apanya...


Episode depan tamat ya.. special 3k word. makasih pra readers yg dah support othor sejauh ini.

__ADS_1


Eh, itu tadi mereka mo ngapain blm nikah juga🫣🫣🤭


Teubaaaa 💎💎


__ADS_2