About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Masalah Yang Saling Berkaitan


__ADS_3

Langit sore seakan mendukung suasana hati Younha, hari ini dengan mudah gagasan baru untuk majalah bulan depan darinya diterima oleh tim kreator tanpa basa-basi. mereka bahkan memuji kecerdasan Younha saat mengambil tema Secret Valentine yang bisa dikatakan rumit, dimana Valentine yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi semua orang malah terselip kesedihan dari beberapa hati. Entah karena hal kecil seperti tidak adanya ucapan dari seseorang, hadiah tanpa balasan, atau Valentine tanpa cinta.


Hati manusia itu rumit. Serumit mencari jarum di tumpukan jerami, mungkin dilihat dan ditemukan namun juga mengundang keputusan asaan. Younha tersenyum simpul, walau tahun ini ia hanya melewati Valentine dengan kedua putranya namun Younha sangat bersyukur. Setidaknya dua malaikat kecil itu membawa kebahagiaan Younha yang pernah hilang.


Perlahan satu tangkai bunga melati kecil diselipkan oleh tangan mungil Yeonjun, bocah itu naik kursi panjang yang diduduki Younha lalu meletakkan si bunga saat Younha melamun.


"Mama cantik." ucapnya dengan senyum merekah. "Kakak senang kalau mama tersenyum, kata bibi Mirae kalau ingin melihat bidadari maka kakak harus melihat mama tersenyum."


Younha tersenyum kemudian, meraih tubuh kecil Yeonjun lalu memberikan kecupan pada kepala sang putra yang sangat cerdas. "Aduh, manis sekali anak mama. Pasti adek Seojun tidak sabar ingin bermain dengan kakak." lanjutnya mencubit pipi gembul sang putra.


"Wah!! Ada kupu-kupu!!" seru Yeonjun menunjuk binatang terbang itu. Bocah itu segera turun dan berlari mengejarnya.


"Pelan pelan kak." Tegur Younha pada Yeonjun yang sudah agak jauh.


Sambil menggendong bayi tujuh belas bulannya, Younha kegirangan sendiri bercanda dan bermain dengan putranya di taman kecil itu. Langit sore hampir hilang, namun Younha masih betah berlarian kecil menangkap kupu-kupu indah yang berterbangan. Beberapa saat kemudian, Younha melihat Yeonjun jatuh tersungkur diatas rumput taman, teman-teman yang bermain bersama Yeonjun berusaha membantu namun Younha yang panik segera menyusul Yeonjun—sehingga teman-temannya agak menjauhi anak itu.


"Sakit sekali ya?" Younha meniup kecil siku Yeonjun yang tergores. Anak itu tidak menangis, hanya meringis sambil menggigit bibir bawahnya untuk membendung air mata di pelupuk matanya. "Manangis saja kak, jangan ditahan seperti ini. Nanti tambah sakit."


Yeonjun menggeleng. "Kakak tidak mau mama melihat kakak menangis."


"Ya ampun, tidak apa kak." lanjut Younha menuntun sang putra duduk di bangku taman. "Mama tidak akan marah jika kakak menangis."


"Tidak mau." Yeonjun masih menggeleng walau air matanya sudah merembes. "Kakak takut dimarahin bibi Hyejin."


Seketika Younha mengernyit, masih meniup luka Yeonjun dan membersihkan dengan tisu kering. "Apa bibi Hyejin pernah marah saat kakak menangis?" Sahut Younha sedikit emosi.


Yeonjun tidak mau menjawab.


"Tidak apa, menangislah nak. Ini mama bukan bibi Hyejin." Suara bergetar Younha terdengar lirih disela tangisan Yeonjun yang mulai kencang.


Padahal anak menangis itu hal wajar, apalagi saat terluka. Sejak kecil anak harus diajarkan mengelola emosi yang benar, jika senang tertawa jika sakit menangis, bukannya ditahan tahan seperti orang dewasa yang memang sepatutnya menyembunyikan emosi.


...*****...


"Kamu dimana sih, kenapa tidak menjawab telfonku?" Gumam Jihoon dipinggir balkon apartemennya sambil terus mengernyit sebab belasan panggilannya ke Younha tidak diangkat sekalipun. Jihoon memanggil lagi dan tidak ada respon walau ponsel Younha terpantau aktif.


"Sayang, bagus ini atau ini." Hyejin tiba-tiba menunjukkan dua kemeja untuk dipilih.

__ADS_1


"O-Oh ya, yang kanan bagus." Jawab Jihoon seadanya, menyingkirkan ponselnya diatas meja kecil.


Hyejin yang melihat gelagat tidak biasa Jihoon sedikit curiga, ia menebak jika sang kekasih kini sedang menghubungi Younha. "Apa kamu masih membawa syal unguku? Aku pikir butuh itu untuk ke Jepang."


"Ya, aku masih membawanya. Sebentar aku ambilkan."


Jihoon pergi untuk mencari barang yang dimaksud. Hyejin tersenyum seolah tidak tahu apa-apa, syal itu hanya kedok pengalihan. Ia ingin tahu apa yang Jihoon bicarakan dengan Younha. Hyejin mendekati meja itu, mengambil ponsel Jihoon dan melihat satu pesan Younha yang baru masuk.


"Aku di apartemen. Tak apa jika ingin bertemu anak-anak."


Dengan cekatan Hyejin menghapus pesan itu sebelum dibaca Jihoon. Hatinya bergemuruh tak karuan, nafasnya tercekat bersama keraguan dan rasa bersalah karena ia sudah sejauh ini. Hyejin hanya tidak mau Jihoon mencintai Younha lagi.


Ia tidak mau Jihoon meninggalkannya.


...*****...


"Oom Jinan!!" Yeonjun langsung berlari menghampiri pria yang barusaja keluar dari Audi hitamnya.


Younha ikut menoleh, kini mereka di pintu masuk kawasan apartemen. Baru lima belas menit pulang untuk mengobati luka Yeonjun dan membuatkan Seojun susu, bocah empat tahun itu ingin keluar lagi untuk beli es krim. Katanya, lukanya akan cepat sembuh jika makan es krim. Younha hanya mengiyakan dan menuruti kemauan bocah itu selagi tidak macam macam.


"Mau beli es krim." Cicit Yeonjun. "Lihatlah oom Jinan, tadi Yeonjun jatuh dan biar cepat sembuh harus makan es krim."


Jinan mencubit pipi Yeonjun gemas, mengusap luka kecilnya lalu bangkit saat melihat Younha mendekat. "Bagaimana harimu?" Lanjut Jinan dengan nada sedikit sendu.


Younha hanya mengerjap kecil, ikut sendu bersama kalimat tidak asing itu. Kalimat yang selalu Jinan tanyakan di setiap malam dulu. Sesederhana kalimat "Bagaimana harimu?" yang tidak pernah Younha dengar dari mantan suaminya. Hanya hal sederhana yang dapat menutupi beban satu hari, kalimat penghibur bahwa dirinya memang ada dan layak diberi pujian atas kerja kerasnya dalam sehari. Dan tidak ada jawaban lain dari pertanyaan itu selain,


"Aku baik-baik saja."


Pria didepanya mengangguk, menatap iris Younha yang nampak tulus dan jujur walaupun Jinan tahu akting Younha sangat buruk. Mungkin ia dapat menyembunyikan ekspresinya dari orang lain tapi tidak dengan Jinan.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Younha balik. "Kini kamu sudah bisa mengelola kantor sendiri?"


"Aku sangat baik dan ya—ada sedikit kendala di kantor tapi tak apa. Sudah kuatasi" Jawab Jinan pelan.


"Ah, tentu." Younha menepuk lengan Jinan, sedikit menggodanya. "Kamu dari dulu memang keren, murid kesayangan pak guru ini sudah sukses."


"Kamu dan anak-anak sudah makan?"

__ADS_1


"Belum, ini juga sekalian ingin makan diluar."


"Bagaimana jika makan di apartemenku saja, Mirae masak banyak hari ini. Dan juga, Mirae sakit."


Younha reflek mengerutkan dahinya khawatir. "Mirae sakit apa? sudah ke dokter? berapa lama? kenapa baru bicara sekarang?"


Jinan malah tertawa ringan. "Dia sakit rindu, merindukanmu."


"Jinan ih, bikin jantungan aja." Sahut Younha sewot. "Kirain Mirae sakit karena kelelahan menjaga Yeonjun dan Seojun."


"Tidak, bahkan Yeonjun sangat membantu Mirae. Tangan kecil itu pandai memijit, kupikir ia pantas jadi tukang pijit." Canda Jinan terkekeh.


"Eh, sembarangan. Anakku harus lebih baik dari mamanya. Dia ingin jadi dokter katanya."


Jinan menoleh pada Yeonjun saat asik bermain dengan adiknya yang mulai berjalan kecil. "Kenapa kakak Yeonjun ingin jadi dokter? tidak polisi saja seperti Oom Jinan?"


Yeonjun menggeleng cemberut. "Kakak ingin jadi dokter buat mama, kakak sering meniup luka mama hingga sembuh."


Younha dan Jinan tersenyum bersama, gemas dengan perkataan imut si bocah.


"Kalau begitu ayo kita pergi. Mirae juga membuat kue dengan coklat strawberry kesukaanmu."


"Untukku?" sanggah Younha tak percaya. "Kupikir itu terlalu berlebihan. Aku tidak punya apapun untuk diberikan kepada Mirae."


Jinan berdecak kecil. "Tak apa, senyummu sudah semanis coklat strawberry itu."


"Apa?"


"Kata Mirae." Sahut Jinan cepat. "Kataku juga sih."


"What are—"


"Ayo kita berangkat!!!" Jinan menggendong Seojun tiba-tiba memotong omongan Younha yang mungkin akan mendumel dengan bahasa Inggris seperti dulu. Yeonjun duduk di jok tengah dan Younha di jok depan sambil memangku Seojun. Mobil itu melaju pelan keluar dari kawasan apartemen. Dan tanpa mereka sadari, Jihoon memantau mereka dari dari dalam mobilnya yang terparkir tepat diluar gerbang.


Dari dalam mobil berkaca gelap itu, Jihoon meremas kemudinya geram. Jinan lagi, kenapa pria itu selalu ada dalam setiap urusannya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2