
"Bagaimana kabarmu?"
Younha barusan keluar dari kereta dan langsung mendapat terjangan pelukan dari Jinan. Jika biasanya Younha akan memberontak saat Jinan memeluknya, tapi kali ini Younha hanya terdiam sambil memejamkan mata. Hatinya sedang tidak baik-baik saja, jadi pelukan seperti ini Younha merasa membutuhkannya.
"Kenapa tidak bilang saja jika kamu akan pulang sendirian?" Tanya Jinan setelah pelukan itu merenggang. Tangan pria itu mengusap kedua bahu Younha, air mukanya mencoba menyembunyikan kekhawatiran saat menelisik wajah lesu wanita di hadapannya. "Katakan saja padaku, maka aku akan menjemputmu langsung ke Busan."
"Kamu berlebihan sekali."
"Tidak ada yang berlebihan untukmu. Bahkan jika kamu menyuruhku menjemput ke Amerika sekalipun, aku akan bergerak cepat."
"Kamu pasti sedang bermimpi menjadi Superman."
Jinan ikut terkekeh. "Bukan Superman, tapi Superjinan."
"Terserah kamu aja lah." Younha pasrah, lelahnya sedikit berkurang begitu melihat wajah Jinan saat tersenyum lalu mengikuti langkah Jinan menyeret kopernya.
Mobil mereka mulai melaju perlahan membelah jalanan yang nampak sesak siang ini. Selama perjalanan, Jinan beberapa kali melirik Younha yang terlihat murung. Pria itu tidak mau membuat Younha tertekan karena pertanyaannya, dia sengaja membiarkan Younha tenang sendiri hingga akhirnya mau bercerita.
"Aku bertengkar dengan Jihoon."
Jinan menoleh pada Younha yang membuang pandangannya keluar, mereka sudah sampai di basemen apartemen Younha dan berdiam diri di mobil—sudah sepuluh menit, hingga akhirnya Younha buka suara.
"Kami pergi untuk mengurus pekerjaan tapi tanpa disangka kami malah bertengkar konyol." Younha tersenyum tipis, pada angin diluar mobil. "Dia mengungkit hal yang tidak perlu disaat kami sudah berpisah. Aku tidak butuh itu darinya, dia hanya membebaniku."
Jinan mengerjap kecil, menyandarkan kepala di jok mobil. Pria itu bingung harus bersikap bagaimana dengan Younha, dia tidak punya hak untuk masuk dalam urusan mereka tapi Jinan tidak sanggup melihat Younha terpuruk seperti ini.
"Kami tidak pernah bertengkar sebelumnya bahkan ketika kami akan berpisah—semua berjalan lancar dan terjadi begitu saja. Lucu sekali sekarang kami malah bertengkar padahal bukan siapa-siapa lagi." Younha mendengus pelan. "Menurutmu kenapa Jihoon seperti itu?"
"Jihoon itu—" Jinan tertawa kecil sebelum melanjutkan kalimatnya. "—sulit ditebak. Dulu, dia pernah berkata bahwa kamu adalah goalsnya dia. Jihoon belajar dengan giat untuk menunjukkan padamu bahwa dia bisa mengelola perusahaan sendiri. Katanya, kamu itu adalah rumah yang sedang ia cicil sedikit demi sedikit. Kamu tahu apa impian terbesar Jihoon?"
"Apa?"
__ADS_1
"Mengajakmu dan anak-anak kembali ke Britania Raya." Jinan menggenggam satu ini tangan Younha, lalu menatapnya dalam dalam. "Dia, kamu, Yeonjun dan Seojun."
"Impian itu hanya sekedar impian kosong." Younha berbisik sendu. "Untuk apa berkeinginan seperti itu jika dia akhirnya meninggalkanku?"
"Rumit untuk dijelaskan, panjang sekali jika aku harus menceritakan tentang Jihoon dan Hyejin padamu." Bisik Jinan. "Ada hal yang tidak kamu ketahui dibalik hubungan mereka."
"Jinan, aku tidak mengerti."
"Aku tidak ingin kamu mengerti." Tukas Jinan yang membuat Younha makin bingung. "Itu tidak penting untukmu. Lebih baik sekarang kamu fokus pada anak-anak, dan ya, kamu bertanya kenapa Jihoon seperti itu?"
Jinan menjeda cukup lama.
"Karena Jihoon mencintaimu."
Younha mengerang kecil, terlalu muak dengan kata itu hingga ia hanya terdiam dan tidak meminta penjelasan pada Jinan yang kini sudah keluar mobil dan mengambil kopernya.
...*****...
Jihoon membuka matanya perlahan, netranya otomatis menyipit saat sinar lampu langsung mengenai rentinanya. Pria itu menoleh kanan kiri sambil berusaha mendudukkan badannya yang terasa berat. Dia melirik tangan kanannya yang masih ditancapi jarum infus lalu mengitari pandangan ke seluruh kamar.
Selimut tebal itu ia sibakkan perlahan, tungkainya mulai turun menyentuh lantai dingin dan mencabut infus itu dengan ringisan. Walau kepalanya masih sangat pusing tapi Jihoon abai, yang dipikirkan sekarang hanyalah Younha. Apa Younha juga sudah pulang? Astaga, apa Hyejin menyusul kesana?
Dari arah pintu yang perlahan terbuka, Hyejin masuk sambil menenteng satu nampan berisi sup asparagus hangat dan satu gelas air putih. Wanita itu melihat Jihoon yang sudah terduduk di pinggir ranjang langsung heboh melangkah dan meletakkan nampan di atas nakas samping tempat tidur.
Hyejin memeluk Jihoon tanpa aba-aba kemudian menangis disana.
"Jihoon, kamu membuatku takut!!" Seru Hyejin ditengah isakannya. "Kenapa kamu sakit? Kamu membuatku khawatir."
Jihoon mengerjap kecil, tangannya ragu untuk mengusap kepala Hyejin namun mendengar wanita itu menangis kencang dan meremas kausnya membuat Jihoon tidak tega. Kenapa Hyejin histeris sekali?
"Aku baik-baik saja Hyejin." Bisik Jihoon perlahan mengusap kepala kekasihnya. "Maaf telah membuatmu khawatir."
__ADS_1
"Aku pikir kamu mati. Kamu tidak bangun seharian."
Jihoon tertawa kecil, mengusap punggung Hyejin dengan candaan yang membawa wanita itu ikut tertawa bersamanya. Jihoon menyibakkan rambut Hyejin, memindai wajah mungil yang kini memerah sebab menangis. Hatinya menjadi bingung tak karuan saat Hyejin menyatakan kekhawatirannya seperti ini—hal yang baru Jihoon rasakan dari wanita itu.
"Jihoon, aku ingin mengatakan sesuatu tapi aku minta kamu jangan marah." Hyejin menatap iris Jihoon dalam, sedikit ragu untuk mengatakan ini karena dia benar-benar takut Jihoon akan meninggalkannya. "Sebenarnya—aku tidak hamil."
Tautan mereka terjalin, Jihoon mengerjap kecil dengan dahi mengernyit. Hatinya mengutuk dirinya sendiri yang sebenarnya—Munafik. Sulit dipungkiri bahwa hati Jihoon lega sekali, lega mendengar kenyataan bahwa Hyejin tidak hamil. Jihoon sudah tidak bisa berfikir lurus, kini yang ada di angan angannya hanya Younha—Jihoon sungguh tidak mengerti.
"Aku takut kamu meninggalkanku dan kembali pada Younha." Lanjut Hyejin. "Kamu satu satunya harapanku dan aku hidup karena kamu Jihoon. Jika kamu sudah tidak peduli denganku lalu untuk tujuan apa aku hidup?"
Hyejin makin terisak. "Aku takut Jihoon, aku tidak tahu harus berkata apa selain, aku benar-benar takut."
Jihoon meraih tubuh Hyejin ke pelukannya, memeluk bahunya erat seperti yang sering ia lakukan walau kini rasa hatinya telah berbeda.
"Aku sayang banget sama kamu."
"Kamu—tidak marah?"
"Kenapa aku harus marah?" Lerai Jihoon sambil bersandar di bahu Hyejin. "Kamu melakukannya karena sayang sama aku. Seperti yang kamu katakan bahwa kamu takut, seharusnya aku yang peka dengan perasaanmu. Aku yang buruk memperlakukanmu, aku ingin kamu selalu mengerti tapi aku sendiri yang tidak pernah mengerti perasaanmu. Kamu sudah menderita selama ini, Hyejin. Maaf, maafkan aku."
"Aku juga sayang banget sama kamu."
"Aku lega mendengarnya." Jihoon memeluk makin erat. "Aku lega karena kamu pernah sayang sama aku."
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" Lirih Hyejin bingung. "Aku sayang kamu selalu, bukan pernah."
"Hyejin."
"Ya?"
"Maafin aku yang pengecut."
__ADS_1
Hyejin ingin bertanya apa maksud pria itu, tapi mulutnya membekap dada Jihoon yang sama sekali tidak mau melepasnya. Sampai mereka melepas pelukan, dan yang Hyejin lihat setelahnya hanyalah helaan nafas panjang Jihoon yang sulit dimengerti.
...*****...