About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Saat Cinta Menyadarkanmu


__ADS_3

Beranjak tiga puluh menit sejak Jihoon duduk di kursi kebesarannya dan selama itu pula ia hanya terdiam menatap tumpukan berkas di depannya. Pikirannya kosong bukan karena pusing dengan urusan kantor, namun penuturan mengejutkan Hyejin tadi pagi masih mengiang di kepala dan telinganya.


Suatu hal yang sangat Jihoon inginkan tapi begitu hal itu datang hatinya malah gelisah tak karuan. Dia tidak mengerti pada perasaanya sendiri, terasa sesak di dadanya seolah memang belum bisa menerima kenyataan bahwa Hyejin hamil. Jihoon mengurut dahinya pening. Tiba-tiba ia teringat Younha, bagaimana perasaan Younha jika tahu hal ini?


"SUN Entertainment mengajukan proposal kerjasama." June meletakkan sebuah berkas di meja Jihoon. Ketika ingin langsung berbalik, ia menatap raut sang atasan yang melamun lalu memberanikan diri untuk memanggil ulang. "Pak Jihoon? Pak?"


Pria itu melambaikan tangan didepan wajah Jihoon, dan tak berapa lama kemudian sang Direktur tersadar. Jihoon sedikit kaget saat mendapati sekretarisnya sudah berdiri disana. Ah, apa pikirannya sangat berantakan hingga tidak sadar ada orang yang masuk?


"Ya, ada apa June?" Tanya Jihoon.


"Ada proposal kerjasama dari SUN Entertainment." June menunjuk map yang baru ia letakkan. "Karena kolom Your Answer kita banyak peminatnya, mereka ingin mengajukan promosi program Survival Show."


"O-Oh, ya. Tentu." Jihoon mengerjap linglung lalu menggaruk samping kepala sebelum akhirnya menatap sang sekretaris. "Lalu, apa yang harus aku lakukan?"


"Maaf?" Celetuk June ikut bingung. "Tentu saja Pak Jihoon harus memeriksa dan menandatanganinya."


Jihoon mengangguk cepat. "Dimana bolpoinku?"


"Bolpoin?" June celingukan, membalik beberapa map mengira si bolpoin tertutupi. Hingga June sadar jika bolpoin Jihoon masih berada di tangan kanannya sendiri. "I-Itu di tangan kanan anda."


Jihoon menoleh ke tangannya dan benar saja benda yang ia cari masih disana. Dengan cepat ia membuka lembar proposal dan membubuhi tiga tanda tangan di kolom pihak kedua. Dengan pandangan yang sedikit kabur, ia membaca beberapa lembar dengan sedikit mendekatkan ke arah matanya. Entah mengapa ia juga merasa pusing. Mungkin karena semalam begadang membuatnya kelelahan.


Sang sekretaris yang melihat wajah sang atasan pucat segera menanggapi. "Apa anda baik-baik saja?"


"Ya, aku baik." Jawab Jihoon masih fokus memberi tanda tangan. "Aku semalam lembur untuk menyusun materi observasi."


"Kenapa anda membuatnya sendiri?" Tanya June tidak mengerti. "Harusnya diserahkan saja pada Tim Lapangan."


Jihoon tertawa kecil. "Tak apa. Untuk observasi ini aku ingin terjun langsung ke lapangan. Harap kosongkan jadwalku untuk lima hari ke depan, June."


"Baik, Pak."


"Kosongkan juga jadwal Kim Younha tanpa mengurangi gajinya."


"H-Hah?"


"Ini perintah dariku."


"Maaf sebelumnya Pak, tapi ada apa dengan Younha-ssi?" June mengerjap dan menerima map lampirannya yang dikembalikan oleh Jihoon. Masih tidak mengerti maksud dari atasannya itu, untuk apa mengosongkan jadwal anggota tim management tiba-tiba?


"Dia akan menemaniku observasi lima hari kedepan. Katakan padanya jika aku tidak menerima penolakan." Jihoon menjelaskan dengan nada ketus.


"Dia dari Tim Management—"


"Lalu?" Sahut Jihoon cepat. Nada bicaranya makin dingin saat mengingat jika sang sekretaris telah lancang berkencan dengan Younha saat itu. Hah, Jihoon ingin sekali meninju June saling geramnya. "Dia pintar merangkum pendapat dan kesimpulan. Kecerdasannya cukup untuk mendampingiku observasi."


"Maksudku—sekarang tugas Tim Management sedang menumpuk." June mencoba cari alasan. "Beberapa penghambatan iklan juga belum dirapatkan. Bukankah akan merepotkan mereka jika salah satu anggotanya izin bahkan sampai lima hari?"


"Kau ini kenapa?" Jihoon mendelik heran. Kenapa June jadi cerewet begini. "Minggu deadline baru saja selesai. Waktu mereka masih tiga Minggu lagi untuk majalah bulan berikutnya."


"Bagaimanapun, Younha harus bersedia." Kata Jihoon kembali fokus pada tablet tipisnya.


"Baiklah."

__ADS_1


June berlalu dari ruangan Jihoon, kemudian menghela nafas sambil meratapi nasib didepan pintu.


...*****...


"Apa apaan?"


Younha berkata sewot, menatap June dan Pak Hyunwoo bergantian. Kini mereka sedang di kafetaria kantor. Dua pria itu menghampiri Younha setelah lima menit disana. Mereka duduk di bangku agak pinggir, sedikit berjarak dari karyawan lain dan itu membuat lega June yang sudah was-was jika Younha akan mencak mencak.


"Pak Jihoon tidak ingin kau menolaknya Younha-ssi." Kata June. "Beliau mungkin akan memecatmu jika menolak."


"Konyol sekali!" Younha bersedekap sambil mendumel. "Kenapa mau memecatku jika tidak menurut? Semena mena sekali. Harusnya seorang direktur tahu tugas dan kesibukan bawahnya. Kenapa dia memutuskan seenaknya? Dia pikir dia siapa?! Sudah hebat begitu?!"


June dan Pak Hyunwoo hanya saling bertukar pandang sambil menelan liur susah payah. Tidak berani menyela omongan Younha karena wanita itu jika sudah marah seperti banteng. Susah direm.


"Aku punya dua anak dan mereka masih kecil. Yang satu malah masih bayi." Younha menggebu-gebu. "Lagipula observasi tidak ada hubungannya dengan Tim Management sepertiku. Banyak orang dari devisi lain mau mengajukan untuk kegiatan sederhana seperti ini. Aku sedang pusing setelah Minggu deadline dan masih banyak pekerjaan yang belum aku kerjakan. Astaga!!! Apa yang pria itu pikiran!! Kenapa otaknya dangkal sekali?"


"Dia.... maksudnya direktur kita?" Pak Hyunwoo mencari penjelasan dari Younha yang dengan berani menyebut Jihoon dengan kata ganti Dia. "Pak Jihoon?"


"Diam dulu Pak Hyunwoo!" Younha menyahut cepat. "Saya sedang emosi."


"Oh, iya Younha-ssi. Lanjutkan."


"Pokoknya katakan pada Pak Jihoon bahwa aku tidak bisa!!"


Ketika eksistensi Jihoon terlihat di kafetaria, para pegawai yang sedang makan serempak berdiri sambil membungkuk hormat—ada yang sampai tersedak saking kagetnya. Pria itu menyapa karyawannya ramah lalu celingukan mencari keberadaan Younha.


"Apa Pak Jihoon butuh bantuan?" Seorang pengurus kafetaria bersuara. "Kami akan membuatkan menu yang ingin anda makan."


Pak Hyunwoo yang merasa sang atasan mendekat ke meja mereka segera menarik June untuk pindah ke tempat lain. Sedang Younha hanya acuh saat tahu Jihoon sudah duduk dihadapannya. Ia akan menganggap Jihoon sebagai patung atau setan yang tak terlihat walau telinganya mulai geli mendengar bisik-bisik tetangga. Mungkin setelah ini juga akan beredar gosip bahwa ia penggoda kekasih orang lain—yakni putri komisaris sendiri, Eun Hyejin.


"Aku tahu June sudah memberitahumu tentang observasi lokal." Celetuk Jihoon dengan volume suara rendah. "Aku benar-benar ingin kamu ikut. Hanya lima hari."


"Tidak bisa." Jawab Younha masih menyumpit jamur sausnya santai.


"Kamu bisa menitipkan anak-anak pada Mirae."


"Mirae sekarang bekerja di rumah sakit. Dia jarang di apartemen."


"Kalau begitu titipkan saja pada ayahku."


"Tidak bisa."


"June akan membuatkan surat izin untukmu tanpa pengurangan gaji sama sekali."


"Tidak bisa."


Jihoon mendengus kesal. "Kenapa tidak bisa?"


"Kamu punya sekretaris dan ribuan pegawai yang akan menerima ajakanmu suka rela. Kamu juga punya Hyejin—"


"Dia pergi ke Jepang selama seminggu."


"Kalau begitu tunggu dia pulang."

__ADS_1


"Tidak bisa."


"Kalau begitu aku juga tidak bisa." Younha membuang nafas jengah. "Apa yang orang akan pikirkan jika kita pergi hanya berdua. Aku ingin hidup tenang tanpa gangguan Lee Jihoon!"


"Kalau begitu ajak anak-anak juga. Kita akan mampir ke rumah nenek di Busan."


"Jadi menurutmu ini observasi perusahaan atau liburan keluarga?" Younha meletakkan sumpitnya dan menyudahi makan. Bergegas melangkah keluar dari kafetaria. Sedang Jihoon berusaha memutar otaknya, mencari cara untuk membuat pendirian Younha gentar.


...*****...


"Sebaiknya kamu ikut saja Younha. Denda karena membantah tugas atasan itu tidak sedikit. Apalagi dari direktur." Eunbi berkata lirih sambil membujuk Younha agar mau ikut observasi.


Sebelum Younha sampai di meja kerjanya, Pak Jihoon barusaja mengutus June untuk memberikan lembar peringatan denda pada karyawan yang mengabaikan tugas dari atasan. Younha semakin pusing, kenapa Jihoon ingin sekali pergi bersamanya?


"Aku tidak terlalu tahu soal observasi." Younha mulai berkata. "Bagaimana jika aku tidak bisa membantu Pak Jihoon nanti?"


"Kamu sangat cerdas Younha. Aku yakin kamu bisa." Temannya itu menepuk sebelah bahu Younha. "Apa yang kamu khawatirkan. Anak-anak?"


"Tentu saja." Sahutnya cepat. "Anakku masih bayi."


"Titipkan saja pada baby sister kepercayaanmu. Seojun sudah bisa minum susu formula 'kan? Tidak masalah jika jauh darimu dalam waktu lima hari."


Berpikir sejenak, Younha menata ekspresi dan hatinya agar tidak kelewat emosi sebelum akhirnya menghembuskan nafas panjang. "Baiklah akan aku pertimbangkan."


"Nah, itu lebih baik." Eunbi tersenyum lalu melangkah menuju tempat fotocopy dan saat itu juga wanita itu memberi kode Oke dengan jemarinya pada Jihoon yang sedari tadi mengintip di ambang pintu.


...*****...


"Yeonjun benar-benar tidak bisa ikut?"


Bocah empat tahun itu terus merengek, bergelantungan pada leher Younha yang menggendongnya dari tadi. Bibir si kecil melengkung ke bawah, mata bulatnya hampir menangis karena Younha tidak bisa membawanya ikut.


"Mama cuma pergi sebentar kok." Younha mengusap punggung anaknya dengan lembut. Menenangkan dengan kalimat penghibur yang sering ia gunakan saat Yeonjun merajuk. "Nanti mama bawakan oleh oleh baju dan mainan baru, ya?"


"Tapi Yeonjun nanti rindu mama!!"


Jihoon yang sedang asik menggendong Seojun menoleh ke arah Younha. Ikut mengusap rambut putra pertamanya sambil merayu untuk menyogok sang putra. "Nanti bisa video call dari ponsel bibi Mirae. Kakak pintar 'kan?"


Yeonjun mengangguk dengan bibir mengerucut.


Setelah sepuluh menit drama keluarga, akhirnya Jihoon dan Younha bisa pergi juga. Yeonjun berlari memeluk pinggang Younha sambil mengungkapkan kata-kata yang sering bocah itu dengar dari dongeng. Seperti jangan lupa makan, pangeran sayang mama, mama jangan lelah nanti pangeran sedih, dan sebagainya. Younha membalas dengan kecupan, memberi pengertian bahwa ia bangga dengan pangeran kecilnya.


Mereka mengantarkan Jihoon dan Younha sampai depan lobi apartemen. Yeonjun mendadah dadah dengan full senyum, begitu juga Seojun yang digendong seorang baby sister.


Mobil mulai melaju. Younha menghela nafas panjang, merasa tidak enak pada kedua putranya. Ia pasti akan rindu mencium bau bedak bayi apalagi lima hari. Baru ditinggal saja Younha sudah rindu.


Sementara Jihoon kini sedang menyetir dengan santai, mengikuti alur jalan yang sedikit penuh. Sambil melirik Younha yang fokus pada ponselnya, senyum Jihoon terulas tipis menyusun rencana apa saja yang dapat mereka lakukan berdua. Mungkin nostalgia dengan jalan-jalan dikala senja sambil bergandengan tangan?


Younha, cukup denganmu di sampingku seperti ini memberi kekuatan bahwa aku masih bisa membuka mata untuk hari esok.


Maaf, aku terlambat....


...*****...

__ADS_1


__ADS_2