About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Aku Membencimu!


__ADS_3

"Younha-ya!"


Seorang pria sipit berambut hitam pekat dengan stelan kantor abu-abu melambaikan tangan kepadanya dari meja didekat jendela. Younha tersenyum lebar, kemudian melangkah menghampiri.


"Lama tidak bertemu?"


Younha mengangguk. "Sibuk kak, lagian jika bukan karena kerjasama internal ini mungkin aku nggak akan ketemu sama kakak. Gimana kabar kakak, baik?"


"Baik, apalagi ketemu sama kamu. Sudah tidak perlu ditanya lagi." Woojin memulai dengan basa-basi dan candaan kecil. "Apa kabar Yeonjun dan Seojun? Ah, terakhir kali aku melihatnya, Yeonjun sudah bisa berlari dan Seojun belum lahir. Pasti mereka menggemaskan sekarang."


"Yeonjun sudah hampir lima tahun lho kak!" Binar Younha menjadi antusias. "Seojun menggemaskan sekali, kalau aku pergi ke tempat umum sambil menggendongnya pasti orang-orang ramai ingin menyentuh dan mencuit pipinya. Uh, aku jadi gemas sendiri."


Woojin tersenyum mendengar semua cerita Younha yang masih sangat ceria seperti dulu. Obrolan mereka berlanjut ke pekerjaan, kerjasama internal ini Woojin sengaja memilih Younha untuk mereview sebuah buku. Walau bukan bidangnya, Younha tetap cerdas dan dapat memberi keterangan seperti yang diharapkan Woojin. Pria itu juga berkata jika di perusahaan Jihoon dia merasa tidak nyaman maka Woojin akan membuka tangan lebar untuk menerimanya.


"Aku sebenarnya sedang tertekan akhir akhir ini. Ayahku bilang akan merencanakan blind date jika aku tidak segera memikirkan pernikahan." Woojin memberitahu apa yang ayahnya katakan, terdengar agak lucu.


Younha tertawa. "Memang harus itu, kak Woojin sudah tua tapi bahkan pacar tidak punya. Benar saja ayahmu khawatir."


"Ya, bagaimana?" Woojin tampak berpikir sebelum membalas tatapan Younha. "Adikku melangkahiku dan sekarang hampir menikah, mungkin ayah frustasi dan khawatir karena aku tidak pernah mengenalkan pacar padanya. Tapi sejak umurku bertambah bulan lalu, ayah semakin push aku agar segera menikah."


"Oh, you okay with that?"


Woojin mendesah jengkel. "Tidak juga, tapi aku coba mengerti."


Keduanya spontan terdiam, Woojin meletakkan berkasnya dan Younha berlagak menulis sesuatu.


"Bagaimana denganmu?"


"U-Um, aku?" Tukas Younha agak gelagapan. "Berpasangan atau tidak, menurutku tidak penting lagi. Sekarang fokusku hanyalah mengurus anak-anak."


"Aku akan ada." Celetuk Woojin yang membuat monolid Younha melebar seketika walau dia tidak berani menatap balik pria di depannya. "Saat kamu butuh tempat bersandar, Im Stay."

__ADS_1


"Kamu serius?"


"Apa aku terlihat bercanda?" Woojin memainkan sepuluh jarinya diatas meja, menunggu Younha memberanikan diri menatapnya. "Saat ini, mungkin akan sulit. Tapi aku akan menunggumu."


Manik Younha mengerjap, walau kaget mendengar pertanyaan seperti itu—tapi cukup untuk menyadarkan Younha bahwa dia juga harus segera kukuh kembali. Dia harus bisa melupakan Jihoon dan menjemput kebahagiaannya sendiri. Mungkin Woojin orang yang tepat, dia baik dan sangat penyayang. Abaikan saja jika dia adalah sepupu Hyejin, yang terpenting sekarang adalah kasih sayang seorang ayah untuk Yeonjun dan Seojun.


Younha melirik Woojin sekali lagi, apa sudah saatnya?


"Ah, kenapa aku membuat tidak nyaman ya?" Tukas Woojin diseling tawa dan candaan. "Tak apa, anggap saja yang kamu dengar tadi hanya ocehanku. Kamu tahu 'kan, aku memang suka bercanda."


"Aku akan memberi jawaban." Sahut Younha yang membuat Woojin diam seketika. "Tapi aku butuh waktu."


Mereka terdiam untuk beberapa saat, awalnya Woojin tidak mengira jika penuturannya akan mendapat tanggapan dari Younha. Tapi melihat wanita itu tersenyum kemudian, membuat hatinya ikut lega—Woojin akan menunggu apapun keputusan Younha.


...*****...


"Younha-ssi, direktur ingin bertemu denganmu."


"Masuk."


Seperti biasa, suara khusky yang ia dengar begitu masuk ruangan Jihoon. Lagi-lagi Younha heran melihat ekspresi Jihoon yang tidak bersahabat, hanya tegang dan kaku. Pria itu juga mengedarkan pandangannya ke segala arah asal tidak menatap manik Younha.


"Sudah bertemu dengan Woojin?"


"Ya, barusan."


Jihoon terdiam, tidak bergerak selain hanya menatap sebuah amplop tipis putih di tangannya kemudian meletakkan di meja dengan ragu dan tidak menatap Younha sama sekali.


"Apa ini?" Tanya Younha begitu mengambil amplop tipis itu. "Kamu—"


Pupil Younha melebar seketika. Mengerjap bingung saat menarik sebuah kertas dari dalam amplop dengan Hangul yang ditulis secara vertikal; pengunduran diri. Dia tidak merasa pernah menulis surat resign dan memberikannya pada atasan. Younha hanya memakai sedikit dari uang yang dikirimkan Jihoon ke rekeningnya, selebihnya dia menabung sendiri agar bisa digunakan untuk masa depan Yeonjun dan Seojun. Dia masih butuh pekerjaan untuk anak-anaknya. Jadi, mustahil jika Younha resign.

__ADS_1


"Aku tidak merasa menulis ini, apa—"


"Mengundurkan diri segera, paling tidak itu lebih terhormat dari pemecatan." Jihoon berkata tegas, tidak menatap iris Younha yang bingung berat. "Aku akan memberikan pesangon dua kali lip—"


"Ada apa sebenarnya?" Younha berkata lirih, sebelum meninggikan suaranya kemudian. "Kenapa aku harus resign setelah menurutimu pergi ke Busan?!"


Manik Younha bergetar, berusaha mencari jawaban namun yang dilakukan Jihoon hanya diam mengerjap tanpa mau menatapnya.


"Apa jangan-jangan karena Hyejin? Kami bertengkar dua hari yang lalu dan itu semua karenamu!" Lanjut Younha dengan intonasi tinggi, biar saja para karyawan yang lewat ruangan itu mendengar keluh hatinya. "Dia sudah membuat hidupku tidak tenang dan akan terus melakukannya. Dia juga mengancamku bahkan anak-anak untuk menjatuhkanku dan sekarang dia memintamu untuk menendangku dari sini? Begitukah?! Jangan diam saja dan jawab aku, sialan!"


Younha meremas surat di tangannya, hatinya sakit sekali melihat tingkah Jihoon yang sulit dicerna dengan akal sehat. Kemarin dia mengatakan cinta dan hari ini dia mengusirnya dari perusahaan. Apa dia tidak pernah sekali saja memikirkan perasaan Younha?


"Aku tidak punya pilihan." Jihoon akhirnya membuka bibir. "Hyejin—"


"Diamlah!! Aku tidak ingin mendengar jawabanmu lebih panjang jika tentang Hyejin keparat itu!" Younha mendesis, matanya sudah merah menahan emosi. "Kalian berdua menjijikkan!! Menyusahkan hidupku! Apa aku bahkan pernah mengusikmu dan sialan Hyejin itu?! Kenapa kalian tidak punya hati?! Selalu memperlakukanku seperti sampah!!"


Younha menarik napas, lalu menghembuskan perlahan. Menahan diri yang ingin sekali meninju pria berstatus direktur itu.


"Aku akan keluar dari sini." Katanya merobek lalu meremukkan surat pengunduran diri paksa itu hingga menjadi bola, kemudian dilempar ke dada Jihoon dengan sangat benci. "Aku akan keluar dari neraka ini dengan dua syarat; jangan pernah bertemu dan jangan anggap Yeonjun dan Seojun anakmu lagi. Mulai saat ini mereka tidak memiliki ayah penjahat sepertimu! Kupikir cukup sampai disini saja—aku tidak akan pernah menghubungimu! Tidak akan pernah lagi!!"


"Mereka tetap anak anakku!" Jihoon bangkit dari tempatnya hendak menyusul Younha. "Aku punya hak untuk bertemu mereka."


"Kenapa kamu peduli?!" Younha terkekeh. "Buatlah anak yang lain lalu berlagaklah seperti kamu ayah yang baik!"


Younha berbalik badan dengan hentakan kaki kesal tapi Jihoon mencekat—secepat kilat ditepis sampai tangan Jihoon tersentak kuat.


"Aku membencimu, semakin membencimu!" Younha menekan kalimatnya dengan penuh kecewa. "Aku resign dan aku tidak butuh uangmu!"


Younha membanting pintu, pergi ke ruangannya dengan mata merah menahan tangisan. Masih tidak percaya apa yang Jihoon lakukan padanya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2