
Dari sebuah apartemen mewah yang rapi dan wangi, Jihoon mengaduk kopi hitam buatannya sendiri sambil menggerakkan jemari diatas layar tablet tipis. Pria yang sudah siap dengan setelan kantor itu pun menghela nafas sejenak sebelum menyeruput kopinya.
Meski mata terfokus pada layar tablet, bukan berarti report karyawan yang membuatnya tersenyum. Melainkan ingatannya kembali pada masa dua tahun yang lalu, masa dimana setiap pagi selalu ada kehidupan yang hangat dirumahnya. Dimana Younha selalu bangun lebih pagi untuk menyiapkan kebutuhannya juga suara rengekan Yeonjun yang masih berusia dua tahun bahkan Seojun baru sepuluh bulan. Suasana dapur ramai, tidak sesunyi sekarang sampai Jihoon bisa mendengar tetesan air keran di wastafel.
Drrttt Drrttt....
Jihoon melihat ponsel di sampingnya, bibir yang tersenyum tadi semakin lebar saat membaca nama kontak itu. Ikon hijau digeser lalu meletakkan benda mewah itu ke telinganya.
"Aku merindukanmu."
Jihoon reflek tertawa, suara dari seberang sangat imut. "Tidakkah seharusnya menyapa dulu? Selamat pagi, Sayang."
"Apaan, itu terlalu formal. Menyebalkan sekali." Hyejin cemberut, walau tahu kekasihnya memang seperti ini tapi tetap saja ia tidak senang jika Jihoon tidak membalas rasa rindunya. "Aku ingin kamu juga mengucapkan rindu, bukannya selamat pagi."
"Aku merindukanmu."
"Sudah kadaluarsa."
Jihoon mengendus gemas. "Lalu apa yang harus kulakukan agar sayangku tidak marah lagi, hm?"
"Lusa aku akan ke Jepang. Karena Minggu lalu mendadak ada urusan ke Busan jadi aku baru bisa terbang lusa." Hyejin menyandarkan tubuhnya di sofa setelah mengemasi barangnya. "Kamu harus menemaniku jalan jalan seharian sebelum aku pergi."
"Tentu, aku bisa." Jihoon melirik jam tangannya. "Berapa lama kamu di Jepang?"
"Mungkin satu Minggu, aku ingin nonton konser Treasure di Kyocera Dome." seru Hyejin antusias. "Bukankah itu seru?"
"Lalu bagaimana denganku, aku juga ingin datang ke konser Treasure."
"Sudah tua tidak perlu ikut." canda Hyejin tertawa lirih. "Oh ya, aku rindu pada Yeonjun dan Seojun. Bisakah kita mengajak mereka besok?"
"Ya, mungkin aku bisa membujuk Younha." Tegas Jihoon tersenyum getir.
"Apakah Younha sangat membenciku?" Decih Hyejin remeh. "Dia selalu dingin kepadaku walau aku berusaha sebaik mungkin di hadapannya. Apa dia mengira aku akan merebut anak anaknya juga?"
Jihoon mengurut alisnya perlahan, bingung mau berkata apa.
"Baiklah, sudah jam tujuh pagi. Kamu harus segera berangkat ke kantor 'kan?" potong Hyejin. "Sampai jumpa besok, sayang."
Panggilan ditutup. Pikiran Jihoon bergelayut dengan permintaan Hyejin. Tidak tahu Younha akan mengizinkan atau tidak walau mereka juga anak Jihoon, tapi keputusan Younha lebih mutlak dari keinginannya.
...*****...
"Apakah Pak Jihoon ada di ruangannya?"
Jam masuk kerja baru lima belas menit yang lalu, tapi Younha dengan penuh semangat mengantarkan berkas laporan yang ia kerjakan lembur semalam. Setelah bermain di taman hiburan bersama Jihoon dan anak anaknya kemarin, Younha jadi sangat antusias. Entah mengapa ia sering tersenyum sendiri saat mengingat sang mantan suami.
__ADS_1
"Oh, maaf Younha-ssi. Hari ini Pak Jihoon langsung ke tempat meeting di Incheon, apa anda sudah ada janji?" June, sekretaris Jihoon barusaja kembali untuk mengambil laptop yang tertinggal. "Jika tentang laporan, anda bisa letakkan dimeja Pak Jihoon. Nanti ku beritahu beliau."
Younha mengerjap, sedikit melonggarkan tangannya yang memegang berkas dengan kuat tadi. "Oh, begitu ya. Tidak perlu, ini laporan sponsor jadi akan saya serahkan langsung pada beliau sambil memberikan sedikit penjelasan."
"Kalau begitu, saya permisi dulu." Younha pamit.
"Younha-ssi." June memanggil agak canggung. "Siang nanti mau makan bersama?"
"M-Maaf?"
"Oh, maksudnya temanku membuka restoran baru dan siang ini launchingnya." Tukas June sambil mengusuk tengkuknya. "Jika tidak keberatan—"
"Ya."
June mengerjap lalu tersenyum puas. "Dan, nanti malam apa kamu punya rencana?" tanya June tiba-tiba dengan bahasa tidak formal. Younha hanya tersenyum melihat pria di hadapannya yang salah tingkah dengan wajah memerah. "Mereka juga mengadakan pesta syukuran malam nanti. Aku bermaksud—"
"Jika kamu bertanya apa yang aku lakukan tentu saja aku sibuk. Menemani anak-anakku sepanjang malam." Jawab Younha tulus sedikit mematahkan harapan June.
"Ah, kamu sangat sibuk ya?"
"Ada apa June-ssi?"
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan malam juga." Canggung June mengusap telapak tangan pada jas hitam yang ia pakai. "Mereka mengadakan syukuran malam ini. Kamu boleh membawa anak-anak juga."
"Aku akan pergi bersamamu. Tanpa anak-anak." Younha berkata lembut yang membuat June makin meleleh. "Tidak mungkin anak-anak ikut jika acaranya sampai malam 'kan?"
"Tidak apa, June-ssi. Kebetulan aku juga ingin pergi sendiri."
Younha sedikit merapikan berkasnya sebelum menuju lift. Lalu berdiri didepan lift yang sudah terbuka.
"Aku akan mengirim alamat rumahku lewat pesan, kalau kau memang mau menjemputku June-ssi."
Sipit sekretaris itu terbuka lebar. "Oh, ya. Tentu, tentu saja aku akan menjemputmu!"
Lift terbuka, Younha tersenyum kearah June sebelum masuk lift dan meninggalkan pria itu yang hampir tekena serangan jantung.
...*****...
Younha berkacak pinggang, melihat pantulan dirinya sendiri di cermin lebar. Bibirnya mengulas senyum indah melihat pakaian yang ia kenakan. Baju tebal modis selutut dengan parfum wangi yang melingkupi tubuhnya. Rambutnya dibiarkan terurai, sedikit menutupi kedua anting cantiknya.
Malam ini benar-benar legang, ia menitipkan Yeonjun dan Seojun ke rumah Mirae sejak tadi sore.
Bel pintu berbunyi, Younha menyampirkan tas kecil ke bahu lalu berlari ringan menuju pintu sambil menyiapkan senyum terbaiknya untuk bertemu June sebelum senyum itu luntur saat malah bertatapan dengan manik tegas mantan suaminya. Younha mendelik, berusaha menutup pintu namun keburu ditahan lengan kokoh Jihoon.
"Sebentar—hei?" Rancau Jihoon saat berhasil masuk. "Kamu mau kemana dengan pakaian Serapi ini?"
__ADS_1
Younha mendengus kesal sambil bersandar di pintu dengan tangan bersedekap. "Kenapa kamu datang tiba-tiba?"
"Dimana anak-anak?"
"Mereka di rumah Mirae. Jika ingin bertemu mereka kamu kesana saja. Jinan juga di rumah hari ini." Sambung Younha membuang muka dari Jihoon walau ia tahu sang mantan suami sedang menatapnya tajam. "Aku pikir kalian bisa berbincang alih alih berbantahan terus."
Jihoon mendekat satu langkah, membuat Younha was-was namun tidak terlihat.
"Kamu mau pergi kemana?" Tanya Jihoon lagi. "Dengan siapa? Aku mengenalnya?"
Younha menghembus nafas kasar. "Kenapa ingin tahu sekali? Aku tidak pernah seingin tahu itu tentang hubunganmu dengan Hyejin. Kenapa kamu peduli kepadaku tiba-tiba?"
"Aku hanya ingin tahu kamu pergi dengan siapa. Jangan sampai orang itu jahat dan hanya memanfaatkanmu."
"June-ssi, sekretarismu." sahut Younha. "Kamu juga tahu kepribadiannya."
Jihoon mengernyit, sedikit sesak saat tahu sekretarisnya diam diam curi start seperti ini. Pandangan Jihoon tak luput dari wajah Younha lalu terjengat tiba-tiba saat melihat riasan si wanita yang bisa dikatakan tebal.
"Kenapa bibirmu merona sekali?!" protes Jihoon. "Hapus itu, gunakanlah lipstik yang biasa, jangan merah seperti ini. Berdandanlah seperti orang normal."
"Jadi begini aku tidak normal?" Younha berdecih kesal.
"Hapus!"
"Apaan sih?!"
Jihoon yang geram langsung maju dan menghapus lipstik di bibir Younha dengan jempolnya. Younha kesusahan menghindar karena tubuh Jihoon seperti raksasa, ia melepas tautan itu dengan susah payah dan bergegas mengambil cermin kecil dan tisu dari tasnya.
"Kamu merusak riasanku!"
"Batalkan perjanjianmu. Dirumah saja!"
"Jangan seenaknya!"
"Kim Younha—"
Ding! Dong!
Keduanya terjengat, apalagi Younha yang gelagapan mendorong Jihoon ke ruang tengah. Pria itu ditarik ke samping sofa untuk menyembunyikan diri.
"Diamlah disini dan jangan buat suara sedikitpun. "Bisik Younha mengingatkan. "Ini demi kebaikanmu sendiri Pak Direktur."
Younha menghampiri June diambang pintu. Samar samar Jihoon mendengar sapaan mereka yang hangat dan penuh canda tawa, dari balik sofa itu juga Jihoon terbelalak saat melihat tangan Younha digenggam June dengan satu buket bunga ditangan yang lain. Lalu mereka pergi setelah menutup pintu.
Kepalan tangan Jihoon menguat, jantungnya bergemuruh seolah ingin meledak. Melihat Younha sebahagia itu bersama pria lain, ia sedikit tidak terima.
__ADS_1
Sampai kapanpun, Jihoon tidak akan membiarkan Younha bersama orang lain.
...*****...