
Jika Seoul sesak dengan penduduk Workaholic, Gangnam sesak dengan gedung tinggi dan kawasan elit, Incheon sesak dengan pelancong dari mancanegara, maka Busan sesak dengan pelabuhannya. Kota besar kedua di Korea Selatan ini juga sangat populer, orang-orang asing mungkin tertarik—Busan merupakan kota berwarna dengan kelap kelip lampu malam hari, kota film dan festival. Maka dari itu perkembangan olahan makanan di Busan meningkat baik dari segi rasa dan pengolahannya.
Namun kurang bagusnya, persaingan semakin ketat hingga tak jarang industri kecil terkena getahnya.
Jihoon mendengarkan dengan seksama penuturan dari seorang pria pemilik restoran Seafood, kolega proposal iklan. Memberi dan menerima segala ulasan dengan bahasa sopan dan hangat. Sedang Younha yang menyimak dan mencatat segala materi juga andil dalam beberapa kasus yang pernah ia temui. Dengan wawasan yang luas dan kompeten, Younha menjelaskan secara rinci dan lancar. Dan itu membuat Jihoon ikut tersenyum melihat bagaimana Younha lebih cerdas dari dirinya. Ah, rasanya tidak salah mengajak Younha untuk observasi, otaknya saja sudah cukup dibanding tiga cendekiawan yang hanya saling adu argumen.
Sepuluh menit dari restoran Seafood itu, ada sebuah restoran mewah dengan Sunset Room di lantai dua. Jihoon sengaja mengajak Younha untuk makan malam disana. Sudah menjadi ingatan tetap Jihoon bahwa Younha tidak bisa makan Seafood, dia alergi.
"Kamu tidak makan lagi?" Tanya Younha setelah menyeruput kuah sup pedasnya menatap Jihoon yang masih fokus pada ponsel. "Makanmu sedikit sekali? Apa kamu tidak lapar seharian menyetir?"
Jihoon menggeleng. "Aku sudah kenyang. Habiskan saja."
"Padahal makanmu sedikit. Jangan bilang sedang diet?"
"Tidak. Hanya tidak nafsu makan akhir akhir ini."
"Setidaknya habiskan supmu." Younha menunjuk makanan Jihoon yang hanya di sentuh sedikit. "Jangan abaikan sup asparagus, dulu kamu sering merengek minta sup asparagus. Hah, aku bahkan baru saja menidurkan Yeonjun tapi kamu terbangun tengah malam dan memintaku membuatkannya."
"Benarkah?" Manik Jihoon berbinar, ia meletakkan ponsel lalu menatap Younha sambil menyedekapkan tangan di meja. "Aku lupa kalau aku semanja itu. Oh ya, waktu itu aku terbangun karena suara mainan bayi Yeonjun. Suara itu bahkan masuk mimpiku."
Jihoon tertawa kemudian. "Sebentar, biar aku mengingatnya. Oh, nadanya begini Tut, Tut, turururu, Tut, turururu, Tut, tururururu."
"Ei, bukan seperti itu." Younha ikut meletakkan sendoknya. "Nadanya begini Ting, tingting, Ting, Ting, Ting, Ting Tingting."
"Tidak, yang benar Tut, Tut, turururu, Tut, turururu, Tut, tururururu."
"Hei mana bisa bayi tidur dengan alunan seperti itu. Yang benar ini Ting, tingting, Ting, Ting, Ting, Ting Tingting."
Jihoon tertawa lirih. "Padahal aku yang mendengarnya, kenapa kamu yakin sekali?"
"Aku yang selalu bersama Yeonjun setiap waktu." Sanggah Younha. "Kamu pikir aku tidak ingat semua alunan mainan itu? Sudahlah, cepat makan supmu. Jangan sampai merengek tengah malam nanti."
"Melihatmu makan dengan rakus saja sudah membuatku kenyang." Celetuk Jihoon tiba-tiba. "Makanlah yang banyak, kamu pasti sangat menggemaskan jika gendut."
"Hei!" Younha mendelik. "Aku tidak akan gendut."
"Gendut seperti bayi Seojun." Jihoon makin mengejek. "Lihatlah, pipimu sangat bulat saat sedang mengunyah."
__ADS_1
"Menyebalkan!" Younha kembali makan tanpa peduli kekehan Jihoon. "Kalaupun aku gendut tidak masalah. Tidak ada orang yang akan mengomel dan siapa yang peduli, aku sudah tidak punya suami."
"Jadi yang di depanmu ini siapa?"
Younha menatap Jihoon dengan tatapan sinis. "Entahlah. Kita saling kenal?"
"Oh ya, kita tidak saling kenal ya? Jadi untuk apa aku membayar bill makan malam ini?" Celetuk Jihoon sambil memeriksa tagihan, lalu pura-pura kaget. "Ya ampun, satu juta won?!"
Younha melotot. "Jangan bercanda!"
"Maaf, kita saling kenal?" Jihoon menaikkan satu alisnya sedang wajah Younha makin kecut. "Baiklah, makan saja sesukamu. Pemandangan menyenangkan melihatmu makan seperti ini."
"Kamu..... yang akan membayar 'kan?" Younha jadi ragu untuk melahap satu potong daging lagi.
Jihoon tertawa puas lalu mengangguk. Membiarkan Younha menghabiskan semua hidangan tanpa menyelanya dengan omongan.
"Aku sudah memesan hotel melalui aplikasi tapi hanya satu kamar." Jihoon memberitahu tiba-tiba.
Younha yang sedang mengunyah dengan mulut penuh pun tersedak, mungkin akan mati jika Jihoon tidak menyodorkan air putih.
"Kenapa hanya satu?" Younha menepuk dadanya, terkejut. "Maksud kamu—aku tidur di mobil?"
"Apa kamu gila?" Younha kelewat membentak, lalu merendahkan suaranya setelah menoleh kanan kiri. "Tidak sopan berada di kamar yang sama bagi kita yang tanpa status. Apa susahnya memesan dua kamar? Astaga, kamu pelit sekali."
"Sulit mencari hotel di Busan. Beberapa bahkan sudah penuh." Jihoon menjelaskan. "Syukur masih dapat satu kamar, bintang lima pula."
"Ash, aku tidak butuh bintang lima itu. Aku akan cari wisma saja." Younha segera menyalakan ponselnya namun direbut Jihoon.
"Wisma tidak bagus. Lagipula merepotkan jika aku harus bolak balik menjemputmu." Jihoon menahan ponsel Younha di tangannya. "Segera habiskan makananmu."
Younha berdecak kecil sebelum akhirnya menyendok sup asparagus Jihoon lagi. Mereka sudah dua jam lebih di restoran itu, tak menyangka akan membahas masa lalu saat Yeonjun masih bayi. Jihoon memandang Younha dengan senyum tipis, andai mesin waktu Doraemon benar-benar ada maka Jihoon akan menggunakannya untuk kembali pada masa itu.
...*****...
"Perjalanan menuju hotel sekitar lima belas menit. Istirahatlah sejenak, aku yang akan menyetir." Kata Younha menyerobot kunci mobil Jihoon saat mereka sudah sampai di tempat parkir.
"Tidak perlu, aku tidak lelah."
__ADS_1
"Tidak lelah apanya?" Sahut Younha. "Kamu menyetir seharian dan makanmu hanya sedikit, wajahmu juga pucat. Apa Hyejin tidak mengurusmu dengan baik hingga kamu kurus seperti ini?"
Younha mendumel dan memaksa Jihoon untuk duduk di jok samping kemudi. Ia bahkan sampai mendudukkan Jihoon dengan geram karena pria itu susah sekali diatur. Younha duduk di jok supir kemudian, sebelum menginjak gas mobil ia menoleh pada Jihoon dan memasangkan seatbelt padanya karena Jihoon memang terlihat lemas. Pria itu senyum senyum sendiri begitu Younha menarik seatbelt di sampingnya.
"Apa yang kamu lihat?" Tanya Younha ketus sambil mengancingkan seatbelt itu.
"Kamu."
"Kamu harus membayarnya setelah mencuri pandang di wajah cantikku."
Jihoon makin tersenyum. "Maksudmu membayar setelah sampai di kamar hotel?"
"Mesum sekali pikiranmu!" Younha melotot. "Diamlah dan jangan ganggu aku saat menyetir jika tidak ingin kita menabrak mobil lain."
Jihoon terdiam setelahnya dan menyandarkan kepalanya untuk meregangkan tubuhnya yang memang lelah. Sementara Younha menyetir dengan kecepatan sedang sambil beberapa kali melirik Jihoon di sampingnya. Tiba-tiba ia khawatir, apa Jihoon tidak enak badan? Apa pria itu sedang banyak pikiran hingga lemah begini?
"Kamu beli apa dari apotek?" Tanya Jihoon saat terbangun dari tidur singkatnya dan mendapati Younha keluar dari toko obat itu. "Mencurigakan sekali."
"Memangnya aku beli bom?" Wanita itu merotasikan bola mata. "Ini suplemen penambah nafsu makan dan vitamin—untukmu."
"Untukku?" Jihoon bereaksi kaget, menerima uluran plastik apotek tersebut. "Wah, tidak menyangka kamu akan mengeluarkan uang saat bersamaku."
"Hei, aku tidak sepelit itu." Younha berdecih. "Kulihat kamu kurang sehat dan makanmu hanya sedikit. Kuharap itu dapat membantu."
"Terimakasih." Jihoon mengangguk. "Kamu sedang mengkhawatirkanku?"
"Tentu saja tidak!!" Jawab Younha sewot, bersiap untuk menyetir lagi.
"Kamu makin cantik saat mengomel dengan bibir manyun seperti itu."
"Jangan menggodaku!"
Jihoon terkekeh, masih menatap Younha yang menyetir. Dia pikir asik juga mengganggu wanita dengan kesabaran setipis tisu dibagi tujuh itu. "Oh, telingamu merah!!"
"Haish, jangan disebut!!!" Younha marah marah sambil menutupi telinga dengan satu tangannya. Ia jadi salah tingkah dan badannya mulai panas. Mungkin wajahnya juga sudah memerah saking malunya.
Kemudian dengan cekatan, Jihoon mengusuk rambut Younha dan itu makin membuat Younha gelagapan. Jihoon tidak sadar jika usapannya di kepala Younha—menimbulkan rasa yang sudah lama mati aktif kembali. Younha mendumel sendiri, memang seharusnya dia menolak keras ajakan Jihoon untuk berkeliling kota.
__ADS_1
Pria ini agak bajingan sebenarnya.
...*****...