
Younha melamun. Tidak ada hal apapun yang melintas di kepalanya, hanya kedua tangan yang bergerak statis memasukkan kukis kedalam plastik—tampak seperti mesin yang dikendalikan sistem. Mirae menoleh sesaat, bingung ingin memulai obrolan karena Younha pasti akan terdiam atau memutuskan pembicaraan saat sudah ditengah tengah. Saat tidak ada jadwal rumah sakit, dia akan mampir bermain dengan anak-anak sesekali membantu menyusun kukis siap jual buatan Younha setelah menempelkan stiker diluar bungkusan, kemudian memasukkannya kedalam kotak.
Sudah lima bulan dan Younha belum berniat untuk kembali jadi pegawai kantoran dalam waktu dekat. Dia masih trauma, mendapat tekanan batin yang begitu kuat apalagi dari dua orang sekaligus.
Kini penghasilannya hanya dari pesanan kukis di media sosial. Meski hasilnya naik turun, Younha tetap bersyukur masih bisa membelikan anak-anaknya makanan yang mereka inginkan.
"Mama."
Mendengar panggilan lirih, Younha pun mengalihkan pandangan pada Yeonjun yang hanya berdiri didekat konter bar sambil menyembunyikan sesuatu dibalik punggung kecilnya.
"Ada apa, sayang?" Dia berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan sang putra. "Apa kakak juga mau kukis?"
Yeonjun menggeleng, lalu menaruh telunjuk kecilnya didepan bibir.
"Mama janji jangan beritahu om Woojin?" Pingpong Yeonjun memohon. "Kakak salah, Mama. Kakak tidak menjaga adik dengan baik, huhuhu."
Younha mengernyit sambil menyapu helai poni putranya. "Apa yang kakak perbuat, hm?"
Kemudian dua tangan Yeonjun tersodor ke arah Younha, membuat wanita itu melotot ngeri begitupun reaksi yang diberikan Mirae. Siapa yang tidak kaget jika Yeonjun memegang blueprint proyek mal milik Woojin—yang sudah basah dan sobek.
"Kakak lupa menjaga adik saat bermain hingga menumpahkan susu. Tapi kertasnya malah sobek saat kakak coba lap dengan tisu." Yeonjun memasang wajah ketakutan, hampir saja menangis. "Kakak minta maaf, Mama jangan beritahu om Woojin ya?"
"Jangan beritahu apa?"
Sahutan suara rendah namun lembut milik Woojin membuat Yeonjun tersengat kaget, pangeran itu spontan memeluk Younha dan bersembunyi dibalik lehernya. Woojin mungkin menjadi yang paling terkejut saat melihat kertas blueprint itu sudah tidak berbentuk lagi di lantai. Tapi bukannya marah, Woojin malah berlutut untuk memegang pundak Yeonjun yang masih memeluk Younha erat-erat.
"Maafkan Yeonjun om Woojin, Yeonjun tidak bisa menjaga adik." Suara si bocil teredam leher Younha.
"Jadi, bisa jelaskan dulu apa yang terjadi, pangeran?" Tanya Woojin sambil membujuk agar Yeonjun mau menatapnya.
"O-Om Woojin mau dengarkan Yeonjun?"
"Tentu, penjelasan memang perlu didengar—kemari." Woojin menarik lengan mungil Yeonjun dan dibawa ke gendongannya. "Sebelumnya, coba tanya Mama Yeonjun apa kita masing-masing mendapat satu kukis?"
Younha tersenyum. "Mama buatkan bentuk matahari untuk Yeonjun, bulan sabit untuk adik, dan gajah untuk om Woojin."
Yeonjun menerima tiga kukis yang sudah terbungkus plastik dari Younha, bersemangat sekali.
"Kenapa om Woojin gajah? Karena hidungnya panjang?" Yeonjun menyentuh batang hidung mancung Woojin sambil tertawa. "Om Woojin lebih mirip Pinokio, hahaha."
"Okey, okey, ayo kita ke ruang tengah dan jangan ganggu Mama yang sedang sibuk." Woojin pun tersenyum gemas, kemudian membawa Yeonjun bersamanya.
"Kak Woojin, kukisnya sudah siap tinggal diantarkan." Younha menunjuk empat kotak kukis yang sudah dikemas Mirae.
"Oh, aku akan antarkan." Woojin berbalik lagi masih dengan Yeonjun yang mengunyah kukis. "Kirim saja alamatnya—Yeonjun mau ikut Om?"
Younha segera menyela. "Tapi aku dan anak-anak berencana pergi ke launching butik Bu Seji sore ini."
Bulu mata Woojin bergerak lambat dalam kedipan. "Aku akan antar kalian dulu."
"Tak apa, Kak." Younha melepas apron birunya. "Kami dengan Mirae juga."
"Kalau begitu hati-hati, ya." Woojin tersenyum manis. "Kalau ada apa-apa telpon aku."
"Bukankah lebih baik telpon 911?" Tanya Younha bercanda.
"Aku bergerak lebih cepat dari 911, hanya untukmu." Woojin sedikit malu.
Meninggalkan kekehan halus begitu Woojin pergi ke ruang tengah.
...*****...
“Daisy Corp. sedang membuka lowongan pegawai baru, tidak banyak, hanya lima orang dan mungkin aku bias keep satu slot untukmu.” Woojin kembali setelah menidurkan Yeonjun dan Seojun. Kedua bocah itu terlelap akhirnya setelah lelah bermain. Younha juga sudah selesai dengan pekerjaannya begitupun Mirae yang langsung bergegas pergi begitu dapat panggilan dari rumah sakit.
Younha tersenyum tipis, sambil membereskan perkakas sehabis membuat kukis. Walau agak ragu untuk menawari Younha bekerja kembali di kantor, tapi Woojin merasa kini Younha terlihat lebih fresh dari kemarin. Dia beringsut melupakan yang sudah terjadi dan memulai lembar hidup baru, seperti yang Woojin harapkan for always stay—melihat senyum Younha yang mulai kembali membuatnya sedikit merasa penting.
Karena Younha penting untuknya.
“Jika kamu sudah lebih baik?” Tanya Woojin, mulai duduk di kuri meja makan. “Tapi aku juga tidak memaksa, apapun yang membuatmu nyaman kedepannya aku akan bantu.”
“Bukankah itu kesempatan bagus?” Jawaban Younha agaknya membuat Woojin sedikit terkejut.
“Hm?”
__ADS_1
“Rasanya tidak bagus membuat laptopku terlalu lama menganggur.”
“Tentu.” Woojin mengangguk. “Dan Daisy Corp. perusahaan terbaik nomor dua, kabar bagus direkturnya sangat baik dan humble. Selama bekerja disana aku tidak pernah mendapat tekanan, kupikir hal itu juga bagus untukmu.”
“Apa itu? Kamu sedang membicarakan dirimu sendiri?” Kata Younha diiringi tawa lirih, mengambil duduk di seberang kursi Woojin. Younha sedikit terhenyak saat tanpa sengaja kedua iris mereka bertemu, entah mengapa dia merasa Woojin semakin tampan setiap harinya.
“Kalau begitu aku akan menyiapkan berkas lamaran segera.”
Woojin tersenyum senang, Younha sudah lebih rileks dan menikmati waktunya dan tidak beralasan untuk bekerja kantoran lagi. Dia sudah mendengar semua hal-hal sulit yang dilalui Younha selama bekerja, memang sangat buruk—Woojin pun tidak akan sanggup bertahan. Namun, Younha sekarang sudah bangkit dan berkarir kembali. Woojin pasti akan selalu mendukungnya.
“Kepala HRD Daisy Corp. kenalan dekatku, jadi aku sudah bisa memastikan kamu dapat satu kursi kubikel dan ID Card tanpa khawatir, Younha.”
Younha tertawa kecil. “Enaknya jalur orang dalam.”
“Tentu saja.”
Meski pada akhirnya Younha harus kembali pada pekerjaan lamanya, tapi Woojin akan memastikan bahwa Younha tidak merasakan hal buruk seperti dulu lagi.
...*****...
“Tidak dijawab?”
Gelengan Yeonjun dengan bibir melengkung ke bawah membuat Younha ikut menghela napas, mereka sedang di ruang tengah dengan masing-masing di paha Younha. Setelah merengek rindu dengan Ayah, akhirnya Younha mengizinkan putranya untuk menelpon Jihoon. Dia juga tidak bisa untuk benar-benar memisahkan Yeonjun dan Seojun dari Jihoon. Yeonjun menekan ikon panggilan lagi, tapi suara operator pun kembali mengambil alih.
Dahi Younha mengernyit, tidak biasanya Jihoon susah dihubungi seperti ini. Apa mungkin karena dia sempat memblokir nomornya hingga Jihoon abai terhadap nomor tak dikenal?
“Mungkin Ayah lelah dan sekarang sudah bobo.” Younha menghibur Yeonjun yang tampak murung sedang adiknya hanya duduk selonjoran di atas karpet sambil memakan biskuit.
“Kakak tidak mau bobo?"
“Minionsnya belum habis.” Yeonjun menunjuk layar LED televisi. “Sebentar lagi ya, Mama?”
“Oghey.” Younha mengusuk helaian rambut Yeonjun dan menemani mereka nonton karun favorit selagi menunggu kedua anaknya tidur.
Keesokan, walau senja sudah nampak Jihoon terus menerus menelpon, mengirim pesan dan bertanya ada apa Younha menelponnya semalam—tapi Younha giliran mengabaikan semua itu. Setelah menghabiskan setengah kantong cairan infus malam tadi, Jihoon langsung tidur pulas, beberapa hari mengurus pekerjaan di Jepang sempat membuatnya hampir drop. Dan hari ini juga bahkan dia tidak membuka ponsel sebab beberapa kali meeting.
Dia bersandar di jok mobilnya tanpa melakukan apapun, matanya terfokus pada gedung apartemen di depannya tanpa berniat turun. Napas berat pria itu sesekali terhembus gusar. Jihoon terlalu ragu untuk menelpon kembali dan berkata bahwa dia ingin pulang.
Ketika akhirnya Jihoon berani hendak mendial nomor mantan istrinya, saat itu pula mereka berjalan keluar dari pintu apartemen. Jihoon menatap dengan sipit yang terbuka lebar, disana dia melihat Younha bersama kedua anaknya bergandengan dengan raut bahagia dan ikut membawa Jihoon lega.
“Ayah!”
Yeonjun segera berlari untuk memeluk sosok yang membawa dua boneka besar itu, pun Seojun yang melihat sang kakak berlari juga ikut menyusul dengan langkah kecilnya. Keduanya sama-sama mendapat pelukan di sisi kanan dan kiri.
“Sudah lama sekali, ya. Ayah rinduuuu dengan kalian.” Jihoon mengcupi kedua kepala putranya. “Maaf Ayah baru datang, kalian tidak marah ‘kan sama Ayah?”
“Tentu saja tidak. Ayah sibuk, begitu kata Mama.”
“Bagaimana kabar kalian?” Jihoon tersenyum. “Astaga, Seojun sudah besar sekali sekarang.”
Yeonjun sangat rindu. Tidak mau melepaskan rengkuhannya dari leher sang Ayah. Anak laki-laki itu cerewet sekali, menceritakan apapun tentang adiknya dan membuat Jihoon gemas.
Sementara Younha berdehem kecil begitu sampai didepan ketiganya. Jihoon segera bangkit, lalu memberikan dua boneka itu pada Seojun dan Yeonjun yang makin menyengir senang.
“Mas Jihoon?”
Jihoon berbisik pada Yeonjun agar mengajak sang adik bermain boneka di dalam mobilnya. Yeonjun menurut, lalu menggandeng adiknya pergi. Pria yang menyisakan kemeja putih dan lengannya disibak sampai siku itu pun berhadapan dengan Younha yang linglung seperti orang bodoh.
“Apa kabarmu, Younha?” Suara Jihoon begitu lembut dan hampir tak pernah lagi dia dengar sejak pertemuan di pemakaman terakhir kali.
“Kamu masih bertanya?” Younha tersenyum kecut. “Menurutmu bagaimana seharusnya keadaanku selama ini?”
“Aku harap kamu baik-baik saja.”
“Aku bahkan masih hidup dan berhadapan dengan orang sepertimu.”
Jihoon tersenyum, mengabaikan Younha yang melempar sipit Bombastic Side Eyes.
“Kamu pikir ada yang lucu?” Gerutu Younha. “Ah ya, lucu sekali kita harus bertemu lagi setelah kupikir manusia sepertimu sudah musnah dari muka bumi.”
“Kalian mau pergi kemana? Aku bisa antarkan karena aku tidak ada jadwal ke kantor hari ini." Jihoon menyahut pertanyaan tanpa menggubris Younha.
“Tidak ada urusannya denganmu.” Younha bersedekap.
__ADS_1
“Oh, kalau begitu aku akan menculik anak-anak. Lihatlah, mereka sudah di mobilku.” Jihoon menunjuk mobilnya sendiri, menggoda Younha yang kesabarannya hanya setipis tisu.
“Jihoon—"
Pria itu berbalik untuk bergegas ke mobil karena dia tahu jika mantan istrinya tidak akan punya pilihan selain pergi bersamanya.
“Haish, dasar bajingan ini.” Umpat Younha kemudian menyusul langkah Jihoon.
...*****...
Jihoon menepuk pelan bahu kecil Seojun yang tidur memeluk bahunya, dia mengayunkan tubuh mungil itu dengan lirih sesekali melirik Yeonjun yang juga sudah tidur di ranjang milik Jihoon sambil memeluk boneka Romynya.
“Karena anak-anak sudah pulas, malam ini aku izinkan mereka untuk menginap. Besok pagi aku akan datang untuk menjemput. Kamu tidak perlu mengantar.” Kata Younha sambil mengemasi barangnya di atas nakas kecil disamping tempat tidur Jihoon.
“Kamu tidak menginap juga?” Tanya Jihoon masih berdiri mengayun putra bungsunya. “Bagaimana jika mereka bangun tengah malam dan rewel?”
Younha mengendus pelan. “Aku tinggalkan susu Seojun disini. Kamu seorang Ayah, harus bisa menenangkan anakmu sendiri." Dia merapikan rambut dan riasan didepan cermin, seperti tidak akan langsung pulang untuk istirahat.
“Kamu masih ada acara?”
“Ya, interview dengan seorang penulis buku dongeng di Paju, Dohwa-dong.”
Jihoon meletakkan Seojun disamping sang kakak, menyekat mereka dengan guling dan boneka besar di masing-masing sisinya. Kemudian mendekati Younha dan bersandar di pintu almari.
“Apa harus saat ini?” Tanya Jihoon sambil mengernyit.
“Kami sudah berjanji kemarin, lagipula untung kamu bisa menjaga anak-anak. Awalnya aku ingin menitipkan mereka ke Daycare.”
“Kalau begitu aku akan antarkan.”
“Aku naik taksi saja.” Sahut Younha cepat, lalu bergegas meraih tasnya dan keluar. Meninggalkan Jihoon yang merasa khawatir entah karena apa.
...*****...
Woojin mengetuk-ngetuk kemudi mobil namun tetap fokus membawa BMW itu membelah jalan raya. Hampir keluar dari Seoul, namun gemerlap lampu dari gedung dan pinggiran jalan masih sangat ramai dan cantik. Sepuluh menit terakhir dia gunakan untuk senyum-senyum sendiri, pikirannya terbawa untuk mengingat senyum Younha saat bermain dengan anak-anak, wajah kotor sebab tepung adonan kukis, atau suara lembutnya saat berbicara. Woojin tidak pernah absen untuk diam-diam mengamati semua hal yang ada pada diri Younha.
Hah, bahkan Woojin berdebar hanya membayangkannya saja.
Pria itu memasang earphone di telinga, menunggu nada dering digantikan dengan suara seseorang.
“Ada apa?” Mulai suara dari seberang.
Woojin mengigit bibir bawahnya gereget. Ah, padahal tidak ada yang ingin dia bicarakan. Ini semua hanya modus.
“E-eh, hm. Aku sudah bicara dengan Pak Kang tadi, beliau berkata jika itu bisa sekali.”
Younha terkekeh dari seberang, dia menyandarkan punggung ke jok mobil penumpang. Woojin sangat terburu-buru, padahal Younha tidak berharap pria berstatus direktur itu membantunya sedetil ini.
“Terimakasih, kak. Maaf karena selalu merepotkanmu.”
Woojin menggeleng. “Aku merasa senang direpotkan olehmu.”
Keduanya tersenyum di tempat masing-masing. Aneh, mereka tidak pernah secanggung ini saat berbicara. Kenapa tiba-tiba hanya saling diam setelah membahas satu topik?
“Younha—"
“Aw—"
“Younha? Hei, ada apa?”
Dahi Woojin berkerut saat tiba-tiba panggilan terputus setelah suara Younha disusul gebrakan seolah ponsel wanita itu jatuh. Setelahnya juga ada decitan ban mobil nyaring. Woojin mencoba untuk memanggil kembali, namun hanya suara operator yang terdengar. Dia meminggirkan mobilnya sejenak, menghubungi beberapa anak buahnya untuk melacak keberadaan Younha.
...*****...
“Aku beringsut baik, Jihoon. Terimakasih sudah peduli dan menanyakan kabar.”
Jihoon meletakkan ponselnya di samping laptop yang kini menjadi fokusnya. Setiap malam dia tidak lupa untuk menanyakan kabar Hyejin walau hanya sekedarnya. Jihoon tetap menganggap Hyejin sebagai orang yang disayanginya, sama seperti janjinya dulu. Pekerjaan yang menumpuk tidak serta merta menyita perhatiannya, Jihoon malah terus beralih pada ponselnya. Dia berniat untuk menghubungi Younha, perasaannya tidak enak sejak tadi seolah suatu hal akan terjadi. Setelah ragu beberapa menit, dia meraih ponsel itu.
Loockscreen terbuka, situs web berita yang belum sempat ia tutup menyita perhatiannya. Monolid Jihoon langsung melebar begitu membaca berita teratas yang baru terbit beberapa saat yang lalu itu. Berita itu menunjukkan tentang tragedy kecelakaan sebuah taksi dengan truk bermuatan barang berat yang bertubrukan di jalan Paju Dohwa-dong, supir maupun penumpang taksi dilarikan ke rumah sakit.
“Paju Dohwa-dong, apa mungkin?” Gumam Jihoon lalu bergegas memanggil nomor Younha. “Younha, please.”
Tidak terjawab. Segera Jihoon meraih mantelnya dengan tergesa dan mengemudi kesana ditengah badai petir yang turun.
__ADS_1
...*****...