About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Campagne


__ADS_3

...🔥Warn 18+...


Jihoon memainkan garpu digulung pasta Carbonara dengan raut menekuk tanpa senyum. Hyejin yang sedari tadi memperhatikan membuat nafsu makannya hilang. Ia meletakkan garpunya perlahan, lalu menatap lurus Jihoon didepannya.


"Apa yang kamu pikirkan?" Hyejin berkata lirih. "Lihatlah aku dan katakan apa yang kamu pikirkan, Jihoon."


Jihoon menghela nafas, menyandarkan punggung di dudukan kursi dan memandang delikan Hyejin dengan manik pupus. Mereka hanya adu pandang sengit, mengabaikan pengunjung dan pramusaji di sekitarnya.


"Younha?" Kata Hyejin penuh kebencian. "Apa kamu sedang memikirkan wanita itu bahkan saat kita sedang bersama? Dia yang membuatmu sampai mengabaikanku seperti ini? Aku dari tadi berbicara denganmu, tapi tidak ada yang kamu dengar sama sekali."


"Hyejin, maafkan aku."


"Selalu saja maaf!" Garpu dibanting ke lantai marmer hingga menimbulkan suara nyaring. "Kata maaf itu karena benar kamu sedang memikirkannya, begitu? Kamu—"


"Ya, aku memikirkan Younha!" Jihoon menyela, giginya mengatup rapat. "Dia memblokir nomorku dan sudah hampir satu bulan dia selalu menutup pintu rumahnya agar aku tidak bisa bertemu anak-anakku. Mirae juga tidak mau menyambungkan telfon pada mereka. Younha tipikal wanita pekerja keras dan sekarang dia menganggur—pasti Younha stress, dia juga tidak pernah mengurangi uang yang ku kirimkan ke rekeningnya. Aku sangat menghawatirkan Younha hingga kepalaku hampir meledak!!"


"Younha, Younha, Younha, selalu saja YOUNHA!!" Hyejin menggebrak meja. "Aku yang ada di depanmu, harusnya aku yang kamu perhatikan!"


"Aku selalu memperhatikanmu, aku selalu menuruti apa maumu." Jihoon ikut menaikkan suara. "Tapi kamu tidak pernah sekalipun membiarkanku tenang sendiri—bahkan jika aku tidak fokus padamu sedikit saja, kamu selalu marah dan memaksaku untuk mengatakan apa yang aku pikirkan. Kamu yang selalu memancing pertengkaran kita, apa kamu tidak sadar?"


"Kamu mulai menyalahkanku?!" Suara Hyejin tercekat. "Apa kamu tidak berfikir jika selama ini aku ketakutan! Aku khawatir setiap bangun tidur dan kamu tidak di sisiku lagi karena kembali pada ja*ang itu! Apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini?!"


"Jangan sebut Younha sebagai ja*ang karena dia wanita baik-baik." Sorot mata Jihoon menjadi tajam. "Bersikaplah dewasa, anakku bahkan tahu tata krama dan rasa segan!"


Hyejin mulai berkaca-kaca, hampir tidak percaya jika barusan Jihoon sedang melawannya.


"K-kamu mencintainya?" Hyejin berbisik gamang. "You still love her? Answer me, please!!"


Jihoon membuang muka ke luar jendela kaca.


"Harusnya kamu tidak datang waktu itu, hingga mungkin aku tidak akan lebih sesakit ini. Merasakan hidup bersamamu tapi hatimu tetap bukan milikku?!"


Hyejin menangis, kemudian bangkit meraih mantelnya dan berlari keluar restoran. Meninggalkan Jihoon dengan helaan nafas gusar sambil memijit pelipisnya. Dia tidak berniat mengejar Hyejin dengan sikap kekanak-kanakannya.


Dia lelah.


...*****...


"Aku gugup sekali."


Younha tersenyum, membenarkan dasi bermotif garis hitam merah pada kerah baju Woojin. Hari ini, Younha sengaja ditawari menjadi sekretaris sehari karena mendadak sekretaris Woojin pulang ke Gangnam—ada kerabat yang meninggal.

__ADS_1


"Ini bukan pertama kali kak Woojin bertemu klien luar negeri. Kenapa gugup?" Tanya Younha setelah memasang dasi, disambung merapikan jasnya.


"Sebenarnya aku biasa, aku gugup karena kamu yang memasang dasiku." Celetuk Woojin yang membuat Younha makin lebar menyengir. "Kamu tidak masalah 'kan? Mendadak jadi sekretaris begini."


"Selama kak Woojin membantu, aku pasti bisa."


Younha menyembunyikan senyum, mengambil notebooknya lalu mengikuti langkah Woojin menuju ruang rapat.


Dua jam lebih, rapat berjalan lancar dengan pembahasan hangat dan saling merespon. Tanpa Woojin tahu, Younha tidak pernah berhenti mengaguminya dalam hati. Pria itu cerdas, dari cara bicara, tersenyum, bahkan pakaiannya sangat indah dan cocok dengan wajah Good lookingnya. Aksen Inggris Woojin sempat membuat Younha terpesona, tidak salah jika dia dipilih Jinan sebagai direktur—karena pantas menjadi pemimpin yang humble dengan semua orang.


"Younha, ada beberapa laporan yang harus ku periksa—aku akan disini sampai sore. Kamu mau aku antarkan pulang dulu?" Tawar Woojin setelah rapat selesai.


"Aku diusir?"


"Tidak, bukan begitu." Woojin menggeleng. "Kamu pasti lelah seharian duduk dan ikut berfikir dalam rapat. Nanti anak-anak rewel."


"Aku juga sering lho dulu, kerja lembur sampai malam jadi sudah terbiasa, lagipula Mirae akan mengajak mereka keluar dengan Jinan malam ini." Younha terkekeh. "Aku ingin menemanimu bekerja, bosan setengah bulan menganggur."


"Ah, seperti ditemani kekasih." Celetuk Woojin tanpa menoleh, dia cukup malu mengatakan perandaian itu.


Younha mengulum bibirnya, membuang pandangan kemana saja untuk menyembunyikan raut salah tingkahnya. Kenapa tidak? Seorang pria tampan barusaja menggodanya soal kekasih. Padahal mereka tidak pernah dekat sebelumnya.


"Benar tidak mau pulang?"


Kepala Woojin tertoleh pada Younha, pun si wanita yang ikut mendongak lalu membuang mukanya lagi menahan malu.


"Aku ingin pulang ke apartemen kak Woojin dan minum champagne bersama."


"Younha—"


"Tidak mau mendengar penolakan." Younha berjalan lurus sambil berlagak menutupi telinganya, mendahului Woojin yang mematung dengan senyum gereget.


...*****...


"Kamu sudah mabuk, Younha-ya."


"Tidak."


"Kamu mabuk."


"TidaaaAaAaAaAaaakkk—hik."

__ADS_1


Woojin menghela nafas, sudah sejak botol pertama habis setengah—Younha mulai bergerak tak karuan, merancau tidak jelas dan melepas baju dan celana panjangnya hingga kini menyisakan kaus hitam pendek dengan celana dalaman sepaha. Meski Younha sudah mabuk, Woojin tidak mau mencuri kesempatan dengan meraba paha semulus kanvas itu—melirik saja tidak berani. Dia sangat menghargai wanita itu.


Beberapa kali Woojin berusaha menutupi paha Younha dengan selimut tapi beberapa kali juga ditepis wanita itu sambil mengeluh panas. Wajah dan pipi Younha sudah merah merona. Woojin menebak Younha sudah mabuk sejak mulai bergoyang sambil melompat. Di beberapa waktu juga menari dan menggoyangkan pinggulnya seperti di kelab malam.


"Kamu mabuk." Kata Woojin tidak bosan lalu meneguk campagne lagi.


Younha yang berjongkok diatas kursi bar pun menopang dagu. Menatap wajah tampan Woojin dari samping.


"Berikan aku soal tentang julukan negara. Aku bisa menjawabnya." Kata Younha sambil menyengir.


"Negeri matahari terbit?"


"Jepang."


"Tirai bambu?"


"China."


"Kincir angin?"


"Belanda."


Woojin tampak kaget, karena Younha menjawab cepat walau mabuk. "Itu memang kamu yang cerdas, atau kamu tidak benar-benar mabuk?"


Younha menggeleng. "Im not drunk. Aku hanya ingin berpikiran sinting untuk sesaat. Aku tidak benar-benar mabuk."


Woojin tertawa lirih, menyesap gelasnya kembali sambil mengalihkan pandangan saat tanpa sengaja sipitnya melihat perut mulus Younha. Wanita itu lompat-lompat sambil mengikat kausnya hingga membentuk pakaian crop top di atas perut. Woojin yang merasa tidak nyaman segera menghampiri dengan membawa selimut.


"Aku ingin berpikiran sinting dan menari, menari, menari—" Younha menubruk tubuh Woojin. Pria itu segera mundur namun tanpa diduga, Younha malah makin mendekat dan mengalungkan tangannya ke leher Woojin tanpa aba-aba. Bibir plumpy Younha mendekati bibir si pria lalu berbisik. "—menari bersamamu di ranjang. Maukah?"


Monolid Woojin melotot untuk menyelami iris berkabut Younha yang mengulum bibir bawahnya memancing birahi. Pria itu tidak langsung menerima, dia yakin Younha sedang mabuk dan hanya mengigau.


"Aku tidak akan menyesal besok, aku benar-benar ingin bercinta denganmu." Wajah Younha makin mendekat, menghembuskan nafas panas didepan bibir Woojin. "Aku tidak mabuk, jadi aku tidak akan menyesal."


Tangan Woojin menapaki wajah Younha hati-hati, kemudian lebih mendekat dan meraih bibir mempesona itu. Tubuhnya sedikit merunduk untuk menjemput cumbuan penuh gairah, memiringkan kepala ke kanan dan kiri saat ciuman itu mengalir lebih pada hisapan, lenguhan, dan *******. Pria itu menahan tengkuk Younha selagi bibirnya mengerjai sumber bisikan nakal wanita itu. Younha begitu bersemangat, hasratnya naik hingga ke ubun-ubun.


Tubuh kecil Younha diangkat sambil terus dicumbu dan tautan mereka tidak terlepas hingga sampai di kamar Woojin. Tubuh ramping Younha dibaringkan ke atas ranjang perlahan, Woojin menyisakan jarak pertama kali dan langsung merunduk, melihat dua kancing kemejanya telah terlepas dan itu ulah tangan kecil Younha—mereka saling pandang, saling mengintimidasi satu sama lain sebelum akhirnya dengan berani Younha melepas satu kancing lagi.


"Say if you want me." Kata Woojin menatap lekat iris Younha. Dia harus yakin jika yang akan terjadi adalah kemauan mereka berdua secara sadar dan tidak dalam pengaruh alkohol.


"Yes, I want. I need you, Woo—Need you so bad."

__ADS_1


Mulut Younha kembali diraup Woojin tanpa ditahan-tahan. Punggungnya pun ditekan sampai dada mereka saling menempel. Kaki Younha memeluk pinggang Woojin, menggesek bagian inti yang sama-sama sensitif. Lidah saling bertemu untuk beberapa kali. Hingga pakaian sudah dilempar acak ke segala arah, Younha merasa sangat bahagia dan menatap manik Woojin penuh puja—membawa mereka melewati malam panjang dengan indah. Sebagai wujud dari merealisasikan kata Tonight, the world is ours.....


...*****...


__ADS_2