About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Kedua Orang Yang Mendekat Dan Menjauh


__ADS_3

"Bolehkah aku meminta satu hal padamu?"


Mirae merenggangkan pelukannya setelah berulang kali mengucapkan maaf, tatapan yang sempat redup beberapa saat yang lalu kini kembali serius dan menuntut jawaban.


"Apa itu?"


"Setelah kamu bisa memastikan jika Younha baik-baik saja begitu melewati ini, entah karena Woojin akan ada untuknya atau Jihoon yang malah akan kembali pada Younha, setelah itu berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan pergi menemui Younha lagi." Mirae menatap Jinan penuh harap. "Aku lelah harus berprasangka buruk setiap hari, aku tak ingin tapi aku terus berpikir seperti itu. Tidak, lebih tepatnya aku cemburu. Aku cemburu kamu membagi perhatianmu pada wanita lain meskipun Younha adalah sahabatmu yang pernah kamu cintai. Apa kamu pernah membayangkan bagaimana posisiku saat melihatmu berbicara penuh perhatian atau memeluk Younha tepat didepan mataku? Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, haruskah membiarkanmu dan merasa cemburu atau melarangmu dan membuat hubunganmu dengan Younha jadi tak enak. Kemarin mungkin aku lebih memendam rasa cemburu, tapi sekarang bolehkan aku memakai hakku untuk melarang suamiku dekat dengan wanita lain?"


Jinan terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa karena mendadak pikiran buntu. Mirae barusaja memintanya untuk meninggalkan Younha dan bagaimana bisa dia melakukan itu? Bagaimana mungkin dia meninggalkan Younha yang setelah kemarin berkata membutuhkannya dan bagaimana—bagaimana bisa?


Monolid Mirae menjadi memohon pada suaminya itu walau dia tahu Jinan tidak akan menurutinya.


"Bolehkah aku melarangmu menemui Younha lagi?" Mirae mengulang. "Bisakah kamu menurutinya?"


Jinan menahan napas dan berkedip cepat, mendadak gugup disudutkan dengan pertanyaan seperti itu.


"Mirae, tapi—"


"Aku tidak ingin mendengar kata tapi." Mirae menggeleng. "Hanya ya atau tidak. Jika kamu tidak bisa maka aku harus memakluminya dan menahan rasa cemburuku lagi 'kan?"


Mirae melepaskan pelukannya di pinggang Jinan dan tersenyum sumbang. Lalu mengalihkan pembicaraan dan membuang muka.


"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi." Mirae berbalik pergi, lagi-lagi.


Dia harus mengalah akan perasaannya sendiri. Sehebat apapun mereka bertengkar bahkan sampai Mirae mengeluarkan kata-kata kasar dan makian tetap saja dia harus menjadi pihak yang mengalah. Melihat posisi Younha dari Jinan, dia merasa memang ditakdirkan untuk selalu menahan cemburu. Tidak tahu, Mirae tidak tahu yang dia lakukan benar atau salah.


Langkah kelima Mirae terhenti saat merasakan dua buah lengan memeluk perutnya dari belakang. Mirae merasakan punggungnya hangat karena bersentuhan dengan dada Jinan. Pria itu kini menaruh dagunya diatas bahu Mirae.


"Aku akan menjauhi Younha." Bisikan Jinan spontan membuat air mata Mirae jatuh lagi tapi penuh kelegaan. Seakan egonya sedang mendapat umpan besar. "Maafkan aku karena selama ini sudah membuatmu sedih akan sikapku. Aku mencintaimu Mirae-ya."


Mirae mengangguk lirih dengan air mata yang terus mengalir, hatinya benar-benar lega.


...*****...


Jihoon menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum. Jika termometer bisa mengukur tekanan bahagia, mungkin benda itu sudah meledak saking tidak kuatnya menahan rasa di dada Jihoon. Mendengar bagaimana Younha mengajak berbicara Seojun dengan nada suara seperti anak kecil yang dibuat buat—ikut membawa Jihoon clingy sendiri.


Jihoon sadar bahwa dia dan Younha berpaut usia lebih dari satu tahun. Terkadang Younha menunjukkan sikap lebih mudanya itu dan bagi Jihoon sangat lucu. Tanpa terasa, Jihoon terbawa pada momen-momen saat mereka menghabiskan waktu bersama di awal pernikahan—menikmati momen pengantin baru, hanya berdua. Younha yang suka merajuk, Younha yang mudah merasa sebal, Younha yang sering merengek manja, Younha yang ingin rambutnya dimainkan dan Younha yang ingin anak pertamanya adalah laki-laki. Semua potret masa lalu Younha memenuhi memori Jihoon. Singkat, namun membekas.

__ADS_1


"Kamu—"


"Kamu—"


Mereka berucap bersamaan lalu terdiam sebab canggung untuk melanjutkan. Beberapa kali Jihoon melirik Younha di sampingnya, mereka barusaja sampai didepan gedung apartemen Younha dan tidak ada tanda-tanda untuk berniat turun.


"Kamu duluan." Jihoon mempersilahkan setelah beberapa detik diam.


"Kamu ada acara hari ini?" Younha memulai, tapi nada bicaranya sedikit ragu.


Jihoon terdiam, jemarinya mengetuk ngetuk kemudi disaat berpikir.


Melihat gelagat Jihoon yang tidak segera menjawab, Younha dapat menyimpulkan jika pria yang berstatus direktur itu pasti sangat sibuk. Apa yang dipikirkan olehnya sehingga mengajukan pertanyaan seperti itu?


Younha segera menyela. "Oh, abaikan saja pertanyaanku tadi. Tidak ada yang penting, lupakan saja—"


"Tentu." Kata Jihoon dan Younha menoleh padanya. "Tentu saja aku tidak punya rencana hari ini selain bermain dengan anak-anakku. Kamu berniat mengajakku mampir 'kan?"


Dahi Younha mengernyit. "Ih, kepedean sekali."


"Tidak perlu berbohong karena raut wajahmu menunjukkan semuanya." Jihoon tertawa gemas kemudian mengusuk kepala Younha dan membuat wajah wanita itu makin merah. Tidak tahu saja jika Younha sedang salah tingkah saat ini.


Untuk beberapa saat Jihoon tersenyum sendiri menahan gereget. Padahal jelas sekali dia sudah berpakaian kantor lengkap tapi Younha tetap bertanya seperti itu. Jihoon segera menyalakan ponselnya dan memanggil sebuah nomor.


"Kosongkan jadwalku hari ini juga batalkan semua rapat dan pertemuan. Aku sedang ada urusan yang lebih penting. June."


"Tapi anda memiliki jadwal periksa hari ini, Pak."


Jihoon berdecak kecil. "Alihkan saja besok atau lusa. Lagipula aku baik-baik saja."


"Pak Jihoon—"


Jihoon menutup telponnya seketika. Kemudian menyusul langkah Younha yang sudah masuk lift lebih dulu bersama kedua anaknya.


...*****...


Seojun berdiri dengan kaki kecilnya sambil mengangkat buku dongeng tentang kancil, mata sipitnya menatap sang Mama seolah meminta izin dengan penuh binaran. Younha tersenyum simpul, menunggu hal apa yang akan dikatakan anak bungsunya.

__ADS_1


"Mama, Ojun boleh minta Ayah bacakan dongeng buat Ojun?" Batita itu menunggu respon tak sabar, ketika Younha akhirnya mengangguk—Seojun langsung berlari dari konter dapur dan menyusul Jihoon di ruang tengah.


"Ayah, baca dongeng!"


Jihoon tertawa dan membawa tubuh kecil Seojun ke pangkuannya.


"Seojun mengganggu kakak bermain dengan Ayah!" Kata Yeonjun cemberut tapi masih asik menyusun Lego sendiri. "Ayah tidak akan pulang lagi 'kan? Ayah mau tetap disini dan bermain bersama Yeonjun 'kan?"


Pertanyaan yang keluar tiba-tiba dari bibir Yeonjun membuat Jihoon yang barusaja membuka selembar buku dongeng terdiam sejenak. Dia menggeser Seojun dan memberikan mainan mobil agar melupakan dongeng dan bermain dengan dunianya sendiri. Bagaimana Jihoon akan menjawab pertanyaan kecil yang tidak sederhana itu? Bagaimana jika Jihoon ingin tapi Younha tidak mengizinkan?


Pria itu tersenyum tipis, tangan kanannya terangkat untuk menyisir helai rambut Yeonjun yang menatapnya dengan pingpong penuh harap. "Nanti Ayah akan sering mampir dan bermain dengan kakak dan adik, ya. Tapi untuk saat ini Ayah belum bisa tinggal."


"Kenapa?"


Jihoon menghela nafas. "Sepertinya Mama tidak mau berbaikan dengan Ayah."


"Mama tidak mau berbaikan dengan Ayah karena apa?" Yeonjun menampakkan raut bingung.


"Itu—sulit dijelaskan, kakak tidak akan paham."


"Ayah berbuat salah 'kah?"


Jihoon menjadi agak gugup saat Yeonjun mengintimidasinya. "Iya, fatal sekali."


"Kalau begitu minta maaf saja, Mama pasti maafkan karena Mama Yeonjun baik." Kata Yeonjun enteng sekali.


Jihoon tertawa gemas lalu mencubit pipi putranya main-main. Padahal dia sudah minta maaf berjuta kali tapi Younha tetap sulit menjawabnya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian tegang sekali?" Younha datang membawa dua cangkir teh bunga dan beberapa toples kukis buatannya. Younha ikut duduk di karpet, dibelakang Seojun yang asik dengan mobil-mobilannya.


"Yeonjun bertanya kenapa Mama marah sama Ayah, jadi kujawab kalau Mama memang suka marah-marah sejak dulu." Jihoon berkata sembarangan sambil tertawa kecil, berniat menggoda Younha agar tak terlalu kaku padanya.


"Aku tidak pernah marah selain padamu. Rasanya tanganku gatal melihat wajahmu itu, ingin ku tampol saja." Younha mendelik pada Jihoon. "Jangan mengotori pikiran anak-anak dengan masalah kita. Jangan gunakan mereka untuk merayuku, tidak akan mempan."


Jihoon mengendus. Dia menggeleng dengan dahi berkerut saat merasa pusing menusuk di atas kepalanya. Younha menoleh, meragukan yang terjadi pada Jihoon karena pasti mantan suaminya itu akting kesakitan atau apa untuk mencuri perhatian. Tapi begitu wajah pucat mulai nampak dengan darah mengalir dari hidung Jihoon, Younha pun panik dan segera menghampiri bertepatan pria itu tumbang di pelukannya.


"Mas Jihoon!!"

__ADS_1


...*****...


__ADS_2