About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Aphrodite


__ADS_3

Younha menenteng sepatunya dan membiarkan kaki telanjang menginjak pasir halus yang dibasahi air laut, jeans sudah ia lipat sampai betis untuk melindungi tubrukan air yang datang bergantian. Angin menyapu kencang, matahari sudah mulai turun dan memancarkan sinar oranye yang cantik. Berjalan jalan sendirian menjadi healing tersendiri bagi Younha sembari memikirkan hal-hal janggal lalu melepaskan nafas panjang agar membaur dengan udara bebas.


Senja mulai nampak eksistensinya, merasakan angin laut menyapu kulitnya membuat Younha benar-benar relax bahkan hampir saja lupa kalau dia sudah punya dua putra.


Pasir pantai mencetak telapak kakinya yang kini juga diikuti dua telapak kaki yang lain. Jihoon melihat punggung Younha naik turun mengikuti irama nafasnya. Terlihat jelas bagaimana nafas berat itu dihembuskan. Apa yang sedang dipikirkan olehnya?


"Kamu kedinginan?" Sebuah jaket membungkus tubuh Younha dari belakang, membuatnya kaget.


"Oh, kamu." Younha lega saat tahu pria tanpa babibu itu adalah Jihoon, dia pikir pria aneh yang bersiul padanya tadi. "Sudah selesai bicara dengan Seungmin?"


"Dia ada urusan, jadi pergi lebih dulu." Kata Jihoon yang kini menyusul di sisi kanan Younha. "Wah, langit yang sangat cantik."


Younha berhenti melangkah, menghadapkan badannya pada lautan luas lalu mendongak dengan senyum tipis. Jihoon menatap wajah Younha dari samping, baginya lebih cantik daripada langit sore ini.


"Benar, cantik sekali."


"Kamu memikirkan sesuatu?" Jihoon melangkah untuk meluruskan kedua alis Younha dengan jempolnya. "Kamu melihat langit tapi pikiranmu tidak terarah padanya. Dahimu berkerut terus, jelek sekali."


Younha mengangkat wajahnya, menatap Jihoon tepat di irisnya. "Jihoon-na."


Tubuh Jihoon terasa bergetar tiba-tiba saat Younha memanggilnya dengan panggilan yang menyeretnya untuk ingat pada masa awal cinta mereka. Pupil Jihoon bergerak acak, memindai wajah bening Younha yang terlihat sangat tenang.


"Dulu kamu pernah bertanya siapa aku?" Lirih Younha dengan senyum tipis. "Aku adalah nafasmu. Tapi aku juga penasaran, apakah kamu pernah menganggapku? Pernahkah kamu peduli padaku? Kupikir kamu mengerti maksud dari kalimat jangan membuatku bingung. Tapi, ternyata aku yang tidak mengerti dari kalimat itu sendiri."


Younha berbalik menghadap laut lagi.


"Dulu, Aphrodite sangat mencintai Ares walau hubungan mereka terlarang. Tapi cinta itu tak serta merta membuatnya bahagia, malah membawa Aphrodite pada jurang penghianatan yang membuat hidupnya sengsara." Younha bercerita sambil melihat senja perlahan memudar. "Cinta Aphrodite sia-sia karena Ares memilih pergi meninggalkannya."


"Jika Aphrodite dan Persephone milikmu, lalu kamu memposisikan dirimu sebagai apa?" Younha berkata lirih, menatap Jihoon dengan harapan setipis benang—entah akan terputus atau bertahan saat mendengar jawaban Jihoon. "Pernahkah sekali saja kamu menganggap dirimu Ares? Atau kamu hanya ingin selalu menjadi Hades?"

__ADS_1


Monolid Younha bertaut dengan bola mata kelam Jihoon yang perlahan melunak. Sedang hatinya menebak nebak jawaban selagi Younha menunggu.


"Aku tidak pernah menjadi Ares." Jawab Jihoon lugas tanpa basa-basi. "Aku tidak pernah ingin menjadi Ares."


Bibir Younha membentuk senyum getir, lemah, malu, dan merasa kalah. Harusnya dia tidak mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu, sejak awal dia tahu jika pria didepanya adalah Hades—yang hidup sematinya Dewi Persephone.


"Ah, tentu." Younha tersenyum getir. "Aku baru sadar jika cinta sebenarnya—adalah hal yang cukup membahayakan. Ternyata tidak hanya hidup, cinta juga bajingan—"


"Aku tidak ingin menjadi Ares karena itu hanya mitologi omong kosong!" Sahut Jihoon meraih kedua bahu Younha, memaksa pupil kembar sembab itu untuk menatapnya dalam. "Aku ingin menjadi nafasmu juga, menjadi priamu. Yang kamu sebut namaku dengan tulus."


"J-Jihoon." Lirih Younha mulai luluh dan terbata. "Lee Jihoon."


Jihoon mengangkat rahang Younha, mengusap kedua pipi lembur wanita itu—khawatir dia akan terluka lebih jauh.


"Aku mencintaimu." Ucap Jihoon gamblang yang mengundang binaran bingung dari Younha, satu tetes air mata jatuh dari netra cantiknya.


"Apa yang kamu katakan?"


"Aku mencintaimu!"


Air mata Younha tidak terbendung lagi.


"Padahal aku yang lebih dulu ada untukmu."


"Aku menunggumu."


"Pernah mencintaimu."


"Sepenuh hatiku."

__ADS_1


Tubuh Younha bergetar, melangkah mundur saat Jihoon berusaha meraih pergelangan tangannya.


"Younha-ya..."


"Jihoon-na." Bisik Younha melanjutkan kalimatnya. "Mungkin jika kamu berkata itu lima tahun yang lalu, aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Jika kamu mengatakan itu empat tahun yang lalu, aku akan tersenyum lebar dengan hati bahagia, jika kamu mengatakan itu tiga tahun yang lalu, aku akan bernafas lega karena tidak lagi kesepian, jika kamu mengatakan itu dua tahun yang lalu, aku akan menerima dengan hati terbuka dan ucapan terimakasih tiada tara."


"Sekarang?" Younha terkekeh sinis. "Apa kamu pikir bisa mengembalikan hatiku yang sudah hancur berkeping-keping? Semua sikapmu, jangan membuatku bingung dengan sikapmu padaku, Jihoon!"


"Apa yang membuatmu bingung?" Jihoon membalas tatapan sendu Younha. "Apa yang membuatmu bingung dari sikapku?"


"Kamu yang bersikap seolah kamu mencintaiku!" Younha berteriak. "Kamu melakukannya seolah-olah, padahal kamu tidak pernah mencintaiku."


"Aku mencintaimu!" Jihoon berkata lagi, lebih menekankan kalimatnya. "Aku melakukannya bukan karena seolah-olah, tapi karena aku memang mencintaimu. Aku tidak ingin menjadi Adonis yang berada diantara Aphrodite dan Persephone—karena aku adalah Aresmu, Younha-ya."


"Aku tidak butuh lagi!" Younha menggeleng. Tangan mengepal di kedua sisi tubuh. "Aku tidak butuh dicintai olehmu, kita sudah berakhir."


Younha mengusap kasar wajahnya yang sudah basah, membalikkan badan untuk pergi meninggalkan Jihoon namun tubuhnya dipeluk pria itu dari belakang. Younha tidak memberontak, tidak juga berusaha melepaskan diri. Hanya terbawa untuk merasakan tubuh hangat Jihoon yang sangat Younha rindukan. Ia memejamkan mata sejenak, berharap waktu dapat berhenti agar dia bisa terus merasakan pelukan pria itu seperti ini.


"Masihkan ada kesempatan?" Bisik Jihoon di bahu Younha. "Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Jangan halangi hatimu yang terus menjerit bahwa kamu juga merasakan hal yang sama padaku. Bolehkah aku berkata—aku menyesal Younha-ya. Maaf, maafkan aku."


Younha melepas pelukan Jihoon lalu berbalik menghadapnya lagi. "Apa yang membuatmu menyesal?" Nada suaranya terdengar sangat menyakitkan. "Aku masih sama seperti saat kita berjumpa dulu, kepribadianku tidak berubah. Kebiasaanku masih sama seperti yang kamu lihat saat bangun tidur. Aku juga tidak kaya raya, anakku juga masih dua—Yeonjun dan Seojun. Aku juga masih pintar menyembunyikan tangis sendiri. Jadi apa yang telah kulakukan sehingga membuatmu merasa menyesal?"


Jihoon terdiam dengan kerjapan pelan penuh kesenduan. Tidak ada yang bisa dikatakan lagi untuk membela dirinya yang memang sangat bersalah pada Younha.


"Jangan sia siakan waktu lima tahunmu untuk berpacaran dengan Hyejin di belakangku. Aku sudah berkata untuk cintai dia, sebesar bagaimana usahamu untuk mendapatkannya." Lanjut Younha mengatur nafasnya. "Kamu bukan Adonis maupun Ares. Kamu adalah Hades, harusnya kamu sadar itu."


"........ Jihoon-na."


Senja mulai digantikan dengan datangnya malam seolah memberi bentangan kegelapan tak terukur yang kini ada di antara Jihoon dan Younha. Air mata datang tanpa kompromi, membasahi wajah cantik Younha yang kini berjalan sambil meremas jaket Jihoon di tubuhnya, meninggalkan pria itu di pesisir pantai.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2