
Younha meletakkan ponselnya diatas kasur dengan datar setelah membaca pesan Jinan. Tatapannya hanya kosong pada langit-langit kamar dan jantungnya tidak ada degupan lebih seperti dulu. Setelah beberapa saat terdiam, ia pun bangkit lalu berjalan ke arah cermin dan betapa kagetnya dia melihat hisapan lebam dibawah telinga dan tulang selangkanya begitu jelas. Buru buru Younha mengambil concealer untuk menutupi dosa dosanya.
Dding! Ddong!
Telunjuk Younha yang sedang melakukan gerakan tap tap terhenti seketika. Dahinya ikut mengernyit saat mendengar suara bell. Apa itu Jinan, karena Younha tidak punya janji selain dengannya. Tapi kenapa tidak langsung masuk saja seperti biasanya, atau mungkin itu Jihoon?
Tungkainya mulai berlari kecil menuju pintu setelah ia memastikan Hickey itu tertutupi concealer sepenuhnya. Younha agak terjengat saat membuka pintu dan mendapati sebuket bunga Lily putih menghalangi wajah pria dibaliknya—dia Jinan, yang kemudian menampakkan senyum manis.
"Selamat pagi." Sapa Jinan dengan sumringah. "Baru bangun tidur ya? Kelihatan banget muka bantal kamu."
Younha mengedip, lalu menerima dengan senyum sumbang buket bunga itu, memeluknya erat sambil melirik prianya bergantian.
"Masuklah. Aku akan bersiap." Younha membuka pintu lebar lebar agar Jinan bisa istirahat saat menunggunya berbenah. Saat Younha selesai menata bunga itu di vas, Jinan menarik siku Younha dan membawanya ke pelukan.
"Aku kangen banget." Jinan memeluk bahu Younha erat dengan pejaman mata. "Oh, harusnya aku minta maaf dulu baru bilang kangen."
Pelukan merenggang. Mereka saling bertukar tatap hingga yang lebih tinggi meminta maaf duluan setelah beberapa minggu jarang memberi kabar. Younha tersenyum kecil, ia juga meminta maaf karena terlalu egois dan kata maaf dalam batin untuk dosanya yang Jinan tidak ketahui.
"Oke, kamu mandi dulu gih—terus kita cari sarapan baru ke museum." Jinan mengusuk rambut Younha.
"Tunggu, ya."
Jinan mengangguk, memilih duduk di ruang tengah sambil meredakan sesak dadanya. Younha sedikit berubah dari biasanya, jika dulu dia akan memeluk erat-erat Jinan saat baru bertemu hingga tidak ingin lepas, jika dulu dia selalu menanyakan kabar dan hal apa saja yang dilalui Jinan, jika dulu dia selalu cerewet saat tahu Jinan belum makan, jika dulu dia selalu menciumi wajah Jinan karena rindu, namun kini telah berbeda. Kini yang Younha lakukan hanya terus menghindar dengan sorot mata linglung.
Mungkin, Younha telah melakukan hal yang sangat Jinan takuti.
...*****...
"Kamu—masih marah?"
Younha menatap Jinan setelah memarkirkan mobil. Salah satu hal yang membuat hubungan mereka renggang adalah kecurigaan Younha, mereka jarang bertemu dan itu membuat Younha menuduh Jinan berselingkuh dengan Mirae. Setelah pertengkaran itu mereka tidak pernah berhubungan, apalagi Younha sempat memblokir nomor Jinan walau hanya tiga jam.
"Marah? Untuk apa?" Jinan berkata lembut dengan senyum tulus. "Masalah kita sudah selesai, kita sudah saling bermaafan tadi."
Younha ikut tersenyum walaupun tetap tidak lega. Mereka kini berada di parkiran mobil di sebuah pasar malam. Setelah berkeliling museum dan mengambil beberapa foto—Younha ingin menghabiskan waktu singkat mereka dengan berjalan jalan di pasar malam.
"Ayo masuk."
Jinan meraih tangan Younha untuk digenggam. Sesaat Younha linglung, menatap tangannya lalu iris Jinan dengan kerjapan kecil. Ia sedikit kaget, seharian mereka tidak berpegangan tangan maka dari itu Younha bertanya apa Jinan masih marah.
Jinan menggenggam tangan Younha dan menyeretnya masuk sambil meliukkan tubuh melewati beberapa kerumuman pengunjung lain.
__ADS_1
Mereka mencari hiburan selain naik wahana, seperti atraksi motor ekstrim, badut memutar bola, beberapa trik sulap kecil yang membuat Younha bertepuk tangan takjub. Jinan tidak pernah absen untuk memperhatikan semua tinggal lucu Younha karena dia tahu kesempatan seperti ini mungkin tidak akan terulang lagi.
"Sini deh, duduk dulu." Jinan memulai duduk di bangku taman agak jauh dari keramaian. "Capek ih, kamu ajak jalan-jalan terus."
"Jompo banget sih!" Younha ikut duduk disamping Jinan. Memulai obrolan kecil sambil menikmati suasana malam dengan gemerlap lampu warna warni dari pasar malam. Younha berjalan tiga langkah ke depan untuk melihat kembang api lebih dekat dan diikuti oleh Jinan yang langsung menggenggam tangannya.
Hati Jinan sangat lega saat melihat Younha bahagia bersamanya. Beberapa kali juga ia mendapati Younha bergerak gelisah, sorot matanya sedikit kosong dan tidak fokus sambil melirik ponselnya. Seolah menunggu sesuatu. Saat ditanya, dia hanya menjawab tidak ada apa-apa walau sebenarnya ia menunggu kabar dari Jihoon.
Setelah kejadian di basecamp lalu, mereka tidak pernah saling menghubungi. Younha tipikal orang yang gengsi menelfon dulu jadi ia menunggu kabar dari Jihoon dan hingga kini—mereka juga tidak pernah bertemu.
Jinan sebenarnya tahu, namun mencoba menyangkal kenyataan bahwa kekasihnya menghawatirkan pria lain saat mereka sedang berkencan.
"Aku sebenarnya udah lama mau kasih ini." Jinan mengeluarkan kalung emas putih Cartier dari sebuah kotak lalu memasangkan ke leher Younha. "Ini mungkin ngga sebanding yang kamu harapkan. Maaf kalau—"
Tubuh Jinan diterjang Younha, gadis itu memeluknya erat hingga memutus omongan Jinan yang mungkin akan menjelaskan hal yang Younha tidak suka.
"Kamu nyiapin ini buat aku?" Younha melepas pelukannya kemudian. "Ya ampun, ini bagus banget. Aku suka." Lanjut Younha meraba benda berkilauan itu dengan telunjuknya. "Makasih Jinan."
"Makasih juga karena kamu udah mau bertahan sama aku selama ini." Jinan mengusap kepala kekasihnya. Suaranya bergetar. "Younha, aku—"
"Aku mau kita udahan. Sampai disini aja."
Manik bahagia yang juga mengandung tatapan berbeda. Mereka bertaut—tapi dengan perasaan yang tidak sama lagi. Tidak ada binaran kasih tulus Dimata Younha sekarang, malah saat tidak sengaja nama Jihoon masuk dalam obrolan mereka—Younha menjadi sangat antusias.
"Younha—"
"Hm?"
"Maaf."
"Haish, jangan drama lagi—"
"Aku ngga bisa nepatin apa yang udah aku janjiin ke kamu. I can't stay with you."
Kaki Younha melemas, hampir saja jatuh tersungkur jika ia tidak menguatkan pijakannya. Pupil Younha bergetar, beberapa bulir air sudah memenuhi pelupuk matanya. Mendengar itu.....tidak bisa bersamanya membuat dada Younha sesak. Kenapa Jinan berkata seperti itu tiba-tiba?"
"Aku ngga ngerti maksud kamu." Younha tertawa sumbang. "You just joke?"
"Im Sorry."
"NO!!" Younha mengulum bibirnya. "Apa karena Mirae? Wanita itu, kamu jarang mengabariku dan beri aku waktu. Apa karena dia? Apa sebenarnya dia bukan sekedar teman? Apa aku hanya pelampiasan? Apa kamu juga selalu mendatanginya, peluk-peluk, cium-cium, atau bahkan juga tidur sama dia?!!"
__ADS_1
"Bukankah itu kamu?" Jinan menghunus manik basah Younha dengan tegas. "Naked in another man's bed when I'm not around. You think I don't know? What are you do?! Kim Younha—look at you!!"
Dada Younha serasa mencelos, sejak kapan Jinan tahu?
Kali ini Younha terdiam menatap wajah Jinan yang terlihat sangat menyesal setelah membentaknya dengan tamparan fakta yang membuat Younha Kelu setengah mati. Kemudian Jinan mengusap wajahnya frustasi berusaha untuk meraih tubuh Younha tapi gadis itu malah terus mundur.
Bukan karena Jinan marah, tapi Younha hanya tidak mau Jinan terus memegang tubuh menjijikkan Younha.
"Jinan.... A-Aku minta maaf." Younha meremas kesepuluh jemarinya. "Maafin aku."
"Ngga, kamu ngga salah." Jinan mencoba menenangkan. "Aku yang ngga pengertian hingga kamu jadi seperti ini. Maaf."
Tangan besar Jinan menakup tubuh Younha dan mengelus kepalanya sayang, seperti yang selalu ia lakukan. Pelukan hangat dengan kasih yang tulus. Cinta Jinan masih sama hanya saja, mungkin Younha sudah tidak merasakannya.
"Maafin aku, Jinan."
"Jangan minta maaf, kamu ngga salah."
Pria itu merenggangkan pelukannya untuk menatap wajah sembab Younha—ia jadi tercubit saat melihat Younha kacau begini karenanya.
"Did you love him?" Bisik Jinan menakup pipi Younha, memaksa mereka bersitatap. "Did you?"
Younha sempat terdiam, sebelum menggeleng pelan walau Jinan tahu jika Younha berbohong. Gadis itu tidak sanggup menatapnya lebih dari tiga detik. Dia menghindar.
"Younha, kamu bisa jujur." Lirih Jinan. "Aku bersyukur jika ada orang lain yang bisa ganti buat jagain kamu. So, let me know, Hm?"
Walau sempat ragu, namun akhirnya Younha mengangguk pelan tanpa berani menatap balik Jinan.
"Maaffin aku, Jinan."
Pria itu tersenyum manis kemudian saat Younha meminta maaf dengan anggukan kecil sebagai jawaban dan disusul dengan ungkapan bahwa dia mencintai Jihoon.
Jinan lega, walau juga mati.
Jinan meraih tubuh Younha lagi. Membiarkan Younha menangis disana. Membekapnya dengan erat untuk yang terakhir kali dengan ucapan maaf dari masing-masing yang mengantar mereka pada perpisahan tanpa sesal. Younha mengungkapkan banyak terimakasih atas perjuangan Jinan selama ini.
Perjuangan yang membawa akhir berkebalikan dari hasil tidak akan mengkhianati proses. Karena hasil dari cinta mereka hanyalah cangkang padi yang tak berisi.
Kosong. Bahwa mereka harus berpisah.
...*****...
__ADS_1