About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Kalah Atau Mengalah?


__ADS_3

Surat beramplop putih yang datang bersama bunga tulip beberapa bulan yang lalu sempat ia abaikan dan tergeletak di atas buffet, dekat bunga yang kini sudah menghitam. Younha merabanya, membaca kalimat "You" di permukaan amplop dengan sipit yang hampir tidak bisa terbuka lagi.


Dahi Younha terus berkerut, dia bersandar ke buffet sambil menarik surat yang terlipat dua dari dalam amplop. Air matanya menetes lagi, sudah tidak kuat tertampung saat membaca tulisan tangan yang tidak asing itu. Dadanya sakit, mulai terasa kebas menahan rasa sesak sejak berjam-jam lamanya.


Halo, sayangku.


Rasanya canggung banget nulis surat ini buat kamu. Hehe, jangan ketawa ya?


Setelah kita menikah dulu, kita sepakat buat pakai bahasa formal untuk keseharian dan kantor lalu semua itu kebablasan sampai lupa kalau kita juga butuh santai. Semenjak itu juga, aku ngga pernah denger kamu misuh-misuh lagi. Well, habis ini kamu boleh kok misuh lagi..... luapin ke aku apa yang kamu rasain.


Aku ngga tau kapan kamu bakal buka surat ini, karena kamu kayaknya juga mulai sibuk. Tapi mungkin aku ngga punya hak buat tau kesibukan kamu, jadi aku ngga mau penasaran.


Saat kamu baca surat ini, aku pikir kamu sudah bahagia dan temuin orang yang tepat.


Karena surat ini juga kamu bakal tau, kalau aku pengecut banget.


Sebenarnya ada banyak hal yang aku takutkan di dunia ini. Tapi satu satunya yang bikin aku takut itu kamu—perasaan kamu.


Kamu yang terlalu pengertian.


Kamu yang terlalu sabar.


Kamu yang terlalu penuh cinta.


Aku yang jahat ini ngga layak dapat itu semua dari kamu. Kurangnya aku bukan satu, tapi banyak. Ngga adil banget kalau kamu masih bertahan sama suami kayak aku, dilihat dari segi manapun ngga ada bagus-bagusnya.


Aku itu terlalu banyak masalahnya.


Jadi, cukup ya buat sakitnya. Kamu harus segera sembuh dan hidup lebih baik. Kamu boleh benci aku tapi jangan ungkapin itu, cukup kamu simpen aja—karena aku ngga yakin bisa kuat kalau kamu benci.


Makasih udah mau jagain anak-anak buat aku, seperti katamu bahwa kita bisa beritahu mereka saat waktunya udah tepat. Aku bakal bertahan sampai saat itu datang.


Walaupun aku mau jagain kamu. Peluk kamu. Lindungi kamu. Jadi tempat buat kamu bersandar—tapi aku ngga bisa. Aku ngga percaya diri hingga akhirnya kamu yang menanggung sakit itu.


Aku berharap kamu ketemu sama pria yang bisa jagain kamu setiap saat, kamu peluk kalau rindu, dan selalu ada kalau kamu kesepian.


Aku memang pengecut, aku yang paling tahu saat kamu putus asa tapi aku juga ngga bisa berbuat banyak.


Dan sekarang, kamu udah ketemu sama pria itu jadi aku mundur, ya..


Aku ngga mau ungkapin kalau kita benar-benar udah jauh, aku juga ngga mau jadiin Yeonjun dan Seojun sebagai alasan karena kebenarannya aku masih sayang sama kamu.

__ADS_1


Tapi aku sadar, kalau aku udah ngga punya tempat.


Younha-ya, aku pergi—dari hidupmu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Im Stay for our Love walau kamu ngga bakal terima.


Ayo ketemu lagi di masa depan dengan kamu yang lebih bahagia.


Bahagianya kamu, bahagianya aku juga.


Jadi setelah ini, kamu janji akan bahagia ya?


Aku sayang kamu....


^^^Untuk Younha-ku, Jihoonnie🥀^^^


Kertas itu terkulai lemas di samping tubuhnya. Younha menangis, entah untuk alasan apa—rasanya tidak pantas dia menangisi pria yang selalu menyakitinya. Namun Younha merasa hampa, dunianya seolah-olah hilang bersama secarik kertas itu.


Pria itu, satu satunya orang yang paling Younha cintai.


Semua janji agar tidak saling meninggalkan ibarat seutas benang—hanya untuk melegakan dan semakin lama semakin tipis dan putus. Jihoon selalu bersumpah dengan jiwanya bahwa tidak akan meninggalkan Younha, namun dunia bertindak sebagai gunting yang memutus benang itu.


Dding! Ddong!


"Kamu?"


Wanita itu bergegas menutup pintu namun keburu dicekat oleh tangan ranting didepan.


"Younha, hanya sebentar. Aku ingin bicara padamu."


...*****...


"Kamu darimana saja?"


Jihoon memeluk Hyejin, kemudian menelisik badan ramping itu dengan rinci. Dua jam lebih Jihoon menunggunya di beranda rumah karena wanita itu tidak dapat dihubungi. Hyejin pergi bersama teman temannya tadi siang namun hingga malam tidak kunjung pulang. Dan sekarang, angin musim gugur menyapu kulit mereka yang sama-sama pucat dengan suhu tubuh mereka yang sama-sama panas. Setelah dari pemakaman Ayah Younha pagi tadi, tubuh Jihoon semakin lemas dan demam.


Kedua tangannya mengusap bahu sang kekasih dengan lembut, Hyejin yang melihat ekspresi Jihoon seperti itu tanpa sadar meneteskan air mata. Bagaimana bisa dia berkata sanggup melewatinya tanpa Jihoon?


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Jihoon lagi. "Jangan diam saja Hyejin, katakan apa yang mengganggumu."


Hyejin menggeleng dalam isakannya.


Kemudian spontan tangan Jihoon memanjang untuk membawa badan kecil itu ke dekapannya. Memberikan kehangatan dan rasa sayang yang selalu ia berikan. Tangan merambat untuk mengusap kepala sang kekasih yang terus menangis dalam dekapannya. Jihoon tidak ingin bertanya ada apa, karena dia juga tidak yakin bisa memberi jawaban.

__ADS_1


"Kenapa, hm? Cerita sama aku?"


Hyejin menggeleng, makin menempelkan kepalanya pada dada Jihoon. "Aku bahagia kamu udah mau bertahan sama aku selama ini."


Pria itu melepas pelukannya lalu menatap wajah kecil sembab didepannya. Tangan Jihoon menyentuh pipi Hyejin hati-hati, menyalurkan kekhawatirannya dalam diam. Dia tahu jika alam bahkan tidak merestui. Segala afeksi yang ia berikan untuk Hyejin sejak dulu hanya topeng.


"Apa ada masalah?" Lanjut Jihoon saat Hyejin seolah menyimpan rahasia.


Hyejin menggeleng.


"Kamu sakit?"


Wanita itu terisak, kembali membenamkan wajahnya di tubuh Jihoon. Hyejin tidak berani membuat Jihoon kembali khawatir padanya karena setelah malam ini dia akan meninggalkan Jihoon—itulah satu satunya cara agar tidak ada yang terluka. Hyejin tahu jika Jihoon tidak tulus mencintainya, segala kasih sayang itu hanya rasa iba dan kasihan. Jadi perpisahan ini yang terbaik bukan?


"Maaf, Jihoon. Maafin aku."


Jihoon menghembuskan nafas panjang sambil mengusap rambut kekasihnya.


"Semua akan baik-baik saja, jangan takut."


Malam semakin tenggelam dan mata Hyejin sama sekali tidak mau menutup. Air matanya telah habis saat mengadu dalam diam ke dada Jihoon tadi, kini yang tersisa hanya senyum perpisahan.


Telunjuk Hyejin menyusuri setiap lekuk wajah Jihoon yang sudah terlelap di sampingnya. Dalam sengapnya malam dan lampu temaram kamar, Hyejin menahan kantuk agar bisa merekam setiap momen berharga dari lekuk wajah kekasihnya—dari bulu mata, hidung, pipi, mulut, dan dagunya. Semua akan Hyejin ingat dalam memori abadinya tanpa celah.


Malam ini adalah malam terakhir Hyejin bisa menyentuh Jihoon dengan nyata. Walau ia tidak sanggup saat matahari terbit nanti meninggalkan seorang pria yang ia cintai sepenuh hati.


Biarkan pria itu tidak melihatnya dalam lelap. Biarkan pria itu tidak melihat kepergiannya.


Hyejin tahu jika mungkin Jihoon tidak akan terlalu menderita begitu berpisah dengannya. Apa ini semacam karma? Ya, bisa dikatakan seperti itu. Pada akhirnya Hyejinlah yang harus mengalah untuk kebahagiaannya.


Wanita itu membenarkan selimut yang membungkus tubuh Jihoon, kemudian mendekatkan diri untuk mengecup keningnya dalam dalam. Hyejin terus membisikkan cinta, menyalurkan perasaan melalui ciuman lemah itu.


"Maaf karena aku pernah ada di hidup kamu." Bisik Hyejin didepan wajah tenang Jihoon yang tidak berkutik sama sekali. "Kamu udah berkorban banyak buat aku. Maaf aku pergi dengan cara seperti ini, aku berharap kamu menemukan kebahagiaanmu lagi Jihoon."


Hyejin sedikit menjauh untuk menelpon seseorang. "Aku sudah siap, kak."


Setelah meletakkan ponselnya, Hyejin melihat Jihoon sekali lagi lalu tersenyum tipis—senyum yang menyimpan seribu kesakitan.


Pintu kamar ditutup perlahan, hampir tidak bersuara. Bersama pandangan Hyejin yang hilang dibaliknya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2