
"Ini sudah pagi, kenapa ayah belum bangun?"
Yeonjun cemberut, berdiri didepan pintu kamar utama sambil memeluk boneka kelincinya dengan kerjapan kecil. Beberapa kali meneriaki sang ayah tapi tidak ada respon, Jihoon masih tertidur pulas.
"Sarapan dulu yuk. Mungkin ayah kelelahan sebab kemarin menemani Kakak dan adik bermain seharian." Bujuk seorang maid yang sedari tadi menemani si bocil berdiri didepan pintu.
"Tapi Yeonjun ingin sarapan sama Ayah."
Bocil yang memakai piyama bulan sabit itu bersandar pada pintu—memukul daun pintunya dengan boneka, berharap Jihoon segera bangun. Yeonjun tidak nyaman berada di apartemen sang ayah tanpanya disamping si bocah. Dan rasa takutnya bertambah karena tidak suka dengan figura figura yang berisikan foto Jihoon bersama Hyejin. Foto itu seolah mengintimidasi Yeonjun, bocil itu merasa tak suka melihat sang ayah merangkul wanita lain selain Younha, walau Yeonjun selalu melihat Jihoon bersama wanita itu. Tetap saja rasanya aneh.
"Apa ayah tidur dengan bibi Hyejin?" tanya Yeonjun datar.
Maid itu sedikit kelu, bingung memilih kata untuk menjelaskan pada bocah empat tahun itu. "Ayah biasanya tidur di kamar sebelah, mungkin ada yang dibicarakan dengan bibi Hyejin sehingga tertidur tanpa sadar." jelas sang maid mengelus kepala dan pipi Yeonjun bergantian. "Ke dapur yuk, adek Seojun sudah disana lho. Tadi bibi Jarim membuat sup tofu dan bakso. Kakak mau?"
Yeonjun mengangguk ringan walau bibirnya masih cemberut.
Ding Dong!!!!
Suara bel itu membuat Yeonjun langsung menghentikan langkah dan menatap pintu masuk apartemen. Maid yang bersamanya meminta Yeonjun menuju dapur dulu tapi bocah itu malah betah bersandar pada pintu kayu kamar itu selagi sang maid membuka pintu masuk. Yeonjun hanya khawatir pada sang ayah, malam tadi saat Yeonjun pergi sendiri ke kamar mandi—ia mendengar suara aneh dari kamar ini. Suara suara itu, entah kesakitan atau apa. Yeonjun tidak mengerti dan ia tidak mau cerita pada maid rumah ini. Ia akan bercerita pada Younha saja.
"Yeonjun?"
Mendengar suara lembut dan menenangkan itu, Yeonjun tersadar dari lamunannya dan tersenyum lebar saat Younha mulai mendekat dan memeluknya, mengecup pipinya penuh rindu tidak lupa mengucapkan selamat pagi.
"Mama rindu dengan Kakak dan Seojun." Katanya menatap sang putra yang kini memeluknya. "Ayah mengurus kalian dengan baik 'kan?" lanjut Younha melepas pelukan itu.
Yeonjun mengangguk girang. "Kemarin kakak naik kuda kudaan sama adek. Terus beli pizza besar sekali!!"
"Wah, seru sekali ya?"
"Bibi Hyejin sampai capek karena adek minta jalan terus."
Younha mengangguk dengan senyum tertahan. Entah alasan apa yang membuatnya tidak senang saat anaknya bahagia bersama Hyejin. Walau Younha sadar, kelak Yeonjun dan Seojun juga akan mengerti siapa bibi Hyejin itu. Senyum yang terulas dari bibir sang putra sangat tulus dan itu menghantarkan Younha untuk lebih pasrah bahwa kini mereka bahagia. Anak-anak, Jihoon, dan Hyejin bahagia—Younha hanya tidak bisa menata hati.
"Terus kenapa kakak disini?" Tanya Younha menatap manik pingpong Yeonjun yang hanya mengerjab dengan bibir mengerucut. Alis Younha menukik, meminta penjelasan pada maid yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Tuan Jihoon belum bangun, mungkin sedikit kelelahan. Kemarin mereka bermain hingga sore dan baru pulang tadi malam jam sembilan."
"Oh, karena ayah lelah jadi tidurnya agak lama." Younha mengelus kepala Yeonjun untuk melerai si bocil yang terlihat sebal. "Sebentar lagi pasti bangun. Sarapan dulu yuk, mama ingin dengar cerita kakak kemarin main apa aja ya?"
Younha menuntun anaknya ke konter dapur. Yeonjun langsung antusias begitu melihat bibi Jarim meletakkan sup tofu dan bakso diatas meja makan. "Selamat pagi Bu Younha." sapanya ramah.
"Pagi juga bi." balas Younha tersenyum. "Seojun dimana?"
"Sama bibi Saewa ditaman samping. Jalan jalan sambil makan bubur."
"Kemarin kami pergi ke Water Park. Airnya dingin sekali mama. "Yeonjun mulai bercerita selagi memakan sup tofu hangat. "Brrr, kakak main perosotan air sama ayah. Tapi ayah teriak terusss.....sakit telinga kakak mendengarnya."
"Wah, pasti kakak senang bisa naik perosotan dengan ayah." Younha terkekeh. Sedikit mencuri pandang ke pintu kamar Jihoon, sudah jam tujuh pagi kenapa Hyejin bahkan belum bangun?
"Mama, apa ayah sakit?" Tanya Yeonjun disela sela mengunyah. Mulut itu masih penuh nasi, tapi Younha bisa mendengar jelas pertanyaan si bocah yang menurutnya tiba-tiba dan tanpa sebab.
"Kenapa kakak bertanya seperti itu?" Younha balik bertanya. "Apa badan ayah panas saat kakak sentuh, mungkin ayah sakit karena main air."
Yeonjun menggeleng kuat. "Tidak, ayah tidak panas. Tadi malam Yeonjun mendengar ayah dan bibi Hyejin kesakitan di kamar. Kakak ingin masuk tapi pintunya terkunci. Karena kakak takut, kakak kembali lagi ke kamar."
Younha tidak habis pikir. Ia mengalihkan perhatian Yeonjun dengan cerita yang lain walau hatinya bergemuruh tak karuan.
"Ayah!!!" seru Yeonjun begitu melihat Jihoon keluar dari kamar sambil menggosok rambut basahnya.
"Hei, uh—" Jihoon bingung mau menyapa apa, walau ia kaget bukan main saat tahu Younha datang ke apartemennya. "Kamu disini? Sejak kapan?"
"Lima belas menit yang lalu, mungkin?" Younha berdecih kecil sambil memindai keadaan Jihoon yang memang sedikit berantakan, kaus oblong hitam polos dengan celana training. Tidak diragukan lagi jika mereka memang bercinta sebab Younha dapat melihat dengan jelas beberapa hickey dileher Jihoon.
Yeonjun berdadah dadah pada sang ayah, dengan mulut yang penuh bocil itu menyapa gemas. "Pagi ayah!!"
"Pagi juga pangeran." Jihoon mengecup pipi sang putra, lalu mengelus rambutnya. "Pelan pelan makannya kak."
Jujur Younha menyukai setiap interaksi kecil antara Jihoon dan anak-anak. Walau sekedar sapaan, usapan, atau kecupan kecil. Dari semua perhatian itu bisa dilihat jika Jihoon sangat penyayang dan tanggung jawab. Ia tidak pernah lupa memenuhi kebutuhan Yeonjun dan Seojun dengan mengirimkan uang bulanan ke rekening Younha.
Younha juga mulai menerima kenyataan Jihoon dan Hyejin. Namun tahu jika mereka malah bercinta saat bersama anak-anak, Younha jadi geram—Ia kecewa.
__ADS_1
"Mas, aku ingin bicara."
"Oh, ya. Bicaralah disini saja."
"Tidak bisa, ini urusan orang dewasa. Anak kecil tidak boleh mendengarnya."
Jihoon mengusuk rambut putranya sekali lagi sebelum mengikuti Younha menuju ruangan lain, ke balkon luar dekat konter dapur yang langsung menghadap taman. Younha berdiri sambil bersedekap menatap Jihoon tajam, sedang yang ditatap hanya mengusuk tengkuk canggung.
"Kamu bersenang senang?" Younha menekankan kalimatnya. "Aku tahu ini tidak ada hubungannya denganku dan aku tidak berhak ikut campur, tapi—" Younha menahan nafas sebelum menghembuskannya dengan panjang. "Bisakah kalian tidak bercinta saat ada anak-anakku? Aku hanya berharap kamu menggunakan waktu liburan bersama mereka sepenuhnya, mengurus mereka seperti ayah yang baik. Tidak bisakah?"
"A-Aku tidak mengira Yeonjun tahu soal itu."
"Anak seusia Yeonjun memang sering bangun tengah malam." Sela Younha cepat meluapkan sesak dadanya. "Kamu punya waktu Senin sampai Jumat. Pagi, siang, sore, dan malam untuk bercinta sepuasmu bahkan sampai kamu gila sekalipun. Tapi kenapa harus ketika ada anak-anakku?!"
Younha kelepasan membentak, lalu menghembuskan nafas panjang.
"Maafkan aku Younha, seharusnya aku bisa mengontrol diriku."
"Ya memang harus!!" Younha menyentak geram, namun melihat Jihoon hanya terdiam pasrah ia jadi tidak tega. "Aku akan membawa anak-anak pulang sekarang."
Younha bergegas mengemasi barang-barang anaknya. Menggendong Seojun dari emongan seorang maid lalu menggandeng Yeonjun yang baru selesai makan.
"Ayo salaman dengan ayah dulu."
Mereka berpamitan dengan patuh dan mendadah Jihoon sambil berjalan. Sebelum sampai didepan pintu utama, pria itu mencekat pelan lengan Younha.
"Younha" Jihoon berbisik ragu. "Kamu—marah?"
Younha menoleh sinis. "Entahlah."
"Maafkan aku."
Jihoon meremas tangan ranting Younha lalu menatap manik berkaca sang mantan istri sekali lagi sebelum membiarkannya pergi bersama kedua anaknya.
Meninggalkan Jihoon dengan helaan napas panjang yang menyimpan penuh penyesalan.
__ADS_1
...*****...