About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Kilas Balik 3


__ADS_3

"Kamu beneran ngga papa?"


Younha semakin menggenggam tangan Jinan di pangkuannya. Mereka sedang berada rumah sakit—menunggu surat hasil tes kesehatan Jinan. Sejak tadi terdengar rengekan kecil dari mulut Younha, membuat Jinan keheranannya karena kekasihnya ini cerewet sekali.


"Ini cuma hasil tes kesehatan." Jinan tertawa kecil. "Bukan berarti aku sakit."


Mendengar itu Younha makin cemberut, pasalnya ia sangat khawatir saat tahu Jinan di rumah sakit. "Kamu sih ngga jelasin kenapa kamu kesini?" Protes Younha sebal. "Untung dosen aku pengertian, jadi aku bisa bolos tanpa ketahuan. Aku pikir kamu beneran sakit, aku bahkan pecahin cermin kecil di mejaku tadi saking kagetnya. Udah kayak drama 'kan?"


"Kamu gemesin tahu gak sih?" Jinan mencubit dagu Younha main main. "Marah marah sambil manyun, kayak anak kecil."


"Aku marah beneran lho padahal!"


"Iya, aku tahu kamu lagi marah. Siapa bilang lagi nyanyi?"


"Permisi." Seorang dokter wanita menghampiri keduanya sambil memegang selembar surat. "Apa aku mengganggu?"


Younha reflek menjauhkan kepalanya yang sedang sandera Jinan tadi, lalu mereka bangkit untuk hormat sekaligus menyapa dokter itu.


"Sudah selesai?" Jinan bersuara setelah memberi hormat. "Terimakasih sudah membantuku Mirae."


"Tentu saja, ini bukan hal yang sulit."


"Oh ya, ini Younha." Kata Jinan menunjuk Younha kepada sang dokter. Younha tersenyum manis, lalu mereka bersalaman dan saling memperkenalkan diri.


"Mirae." Sang dokter tersenyum menerima jabatan tangan Younha. "Jinan cerita banyak tentangmu. Seperti yang kudengar, kamu cantik dan sangat baik. Beruntung sekali Jinan bertemu denganmu."


"Terimakasih."


Mereka berbincang sekedarnya karena masih didalam rumah sakit. Walau hanya saling berkenalan, menyapa, dan menanyakan kabar. Mirae seorang dokter tahun pertama, bisa dikatakan agak sibuk karena ia bertugas di IGD. Setelah dirasa cukup, Jinan dan Younha pamit dan saat itu juga terjadi kericuhan di sudut ruang itu yang membuat ketiganya sontak mengalihkan pandangan.


Terlihat sepasang orang tua tengah bertengkar membahas biaya rumah sakit. Walau itu urusan pribadi dan orang lain tidak berhak ikut campur, namun tetap saja tidak nyaman karena mereka berbantahan dengan nada keras di rumah sakit. Mirae yang merasa bertanggung jawab atas kekondusifan ruang IGD pun andil dalam peristiwa itu.


Ia mendekat dan berkata dengan sopan kepada kedua orang tua itu agar tenang dan tidak mengganggu kenyamanan pasien dan pengunjung lain.


"Maaf Pak, sebaiknya dibicarakan perlahan di tempat lain." Mirae berkata lembut, berdiri diantara keduanya yang saling berkacak pinggang. "Mohon dimengerti ini tempat umum dan dapat mengganggu pengunjung lain. Maaf atas ketidak nyamanannya."


"Apa urusanmu Bu dokter!!" Pria tua itu berkata ngegas. "Urusanku dengan wanita tua menyebalkan itu. Jadi minggirlah!!"


"Iya saya mengerti, tapi harap melihat tempat Pak." Lerai Mirae mulai tidak sabar. "Jangan berkata keras di ruang ini."


Istri dari pak tua itu terlihat takut, pucat, dan murung seolah terjadi kekerasan rumah tangga diantara mereka bahkan disudut bibirnya terlihat segores luka pukulan. Tangan keriputnya diam diam mengambil pisau kecil di nakas perawat disampingnya saat sang suami masih berbantahan dengan Mirae. Jinan yang melihat itupun langsung melotot dan bergegas melangkah.


"Hei! Kenapa kau melotot padaku?!!" Pria tua itu menunjuk istrinya sendiri. "Jangan beri aku tatapan itu atau kau akan tahu apa yang akan terjadi nanti."


"Pak mohon—"


"Mirae awasss!!!" Jerit Jinan berlari.


Sontak Mirae menoleh dan mendapati sang ibu menyodorkan pisau dengan kepalan tangan diatas kepalanya. Semuanya terjadi begitu saja, dengan secepat kilat pisau kecil itu terarah pada leher Mirae yang berusaha mendorong pria tua tadi untuk menghindar.


Darah segar mengalir deras dari leher Mirae. Jinan langsung menangkap tubuh tumbang Mirae yang sudah berlumuran darah mengotori jubah putih dokternya.


"Mirae! buka matamu!!!" Jerit Jinan menakup leher Mirae dengan tangannya. "Tetaplah sadar!!! Hei!!"

__ADS_1


Beberapa saat semua orang di ruangan itu terdiam syok, sebelum akhirnya panik dan berlari mendekat. Apalagi Younha yang hanya membungkam mulutnya tak percaya. Melihat darah sebanyak itu membuatnya pusing tiba-tiba dan tidak berani mendekati Jinan yang kini berlari menggendong Mirae ke pusat penanganan.


...*****...


Hampir dua jam Jinan dan Younha menunggu Mirae yang sedang di operasi. Sayatan pisau kecil itu cukup dalam, hampir mengenai urat nadi leher Mirae. Beberapa kali Jinan melangkah kesana kesini sambil mengulum bibir cemas. Younha hanya terdiam, sedikit melamun saat ingat kejadian tadi.


Namun bukan itu satu-satunya yang ia pikirkan, melainkan Jinan. Pria itu terlihat sangat khawatir, ia bahkan tidak peduli dengan kemejanya yang berlumuran darah. Sedari tadi hanya terus mengintip ke ruang operasi dengan ekspresi takut dan gelisah. Younha tidak ingin berfikir lebih, tahu jika Mirae hanya teman Jinan tapi kenapa pria itu bahkan tidak melirik Younha yang juga ketakutan dari tadi?


"Jinan, are you okay?"


"Kamu bisa pulang dulu." Kata Jinan mulai duduk disamping Younha. "Jihoon akan menjemputmu."


"Bagaimana denganmu?"


"Aku harus menunggu Mirae." Jinan menggenggam tangan Younha, menatap wanita itu lembut. "Dia tidak punya siapapun disini. Hanya aku yang ia kenal, setidaknya saat dia bangun nanti ada orang yang ia kenal di dekatnya."


Younha terdiam, hanya berkedip lambat tanpa jawaban.


"Kamu tidak berfikir lain tentang Mirae 'kan?"


"Tentu saja tidak." Jawab Younha dengan senyum sumbang. Menurutnya, Jinan seorang pria yang sangat peka. Dia selalu tahu apa yang Younha pikir dan rasakan. Walaupun Younha juga tahu Jinan itu orang seperti apa, tetap saja wajah cemas kekasihnya itu tidak luput dari mata Younha. "Tinggallah dan jaga Mirae. Aku akan pulang, tapi kamu juga jangan lupa istirahat."


"Younha—" Jinan menahan lengan Younha yang sudah memakai tas selempangnya. "Maaf."


"Aku ngga tahu maksud kamu apa Jinan." Dengus Younha pelan. "Tapi suatu saat mungkin aku akan tahu untuk apa maafmu ini."


Younha akhirnya pamit, melangkah gontai sambil tertunduk frustasi. Saat sampai diujung lorong, ia sengaja berbalik badan untuk melihat apa yang dilakukan Jinan dan benar saja, pria itu masih bersandar lagi di pintu ruang operasi dengan ekspresi yang sama. Membuat Younha ikut membuang nafas panjang entah karena apa.


...*****...


"Toko buku Blue Store, depan RS. Saint Germain."


Younha memasukkan ponselnya kedalam tas setelah membalas pesan singkat Jihoon. Karena hatinya sedang tidak senang, ia ingin mengalihkannya dengan mencari bacaan novel baru. Langkahnya mulai menyusuri rak fiksi dan memilih beberapa novel baru terbitan penulis favoritnya.


Saat hendak mengambil satu buku kumpulan cerpen bersampul biru, tangannya bersinggungan dengan orang lain. Park Jihoon berdiri menjulang di belakangnya dan itu membuat Younha sedikit terjengat.


"Bisa ngga sih ngga usah ngagetin?"


"Emang gue ngagetin? Kan gue nggak jedor DOR! gitu." Jihoon menaikkan satu alisnya.


"Kok lo cepet banget sampe disini?"


"Tadi gue di toko sebelah. Udah cari bukunya?"


"Udah. Gue udah bawa tiga novel." Younha menunjuk dengan dagunya. "Lagian buku lain ngga penting penting banget—Eh, JI?!"


Jihoon menyerobot buku di pelukan Younha dan langsung menuju kasir. Younha langsung mengikuti dengan lari kecil, sipitnya mulai was-was saat Jihoon mengeluarkan dompet kulitnya.


"Ngga, nggak. Gue bayar sendiri." Younha ikut mengeluarkan dompetnya. "Gue nggak mau punya utang."


Jihoon tidak menggubris dan terus menghalangi Younha sembari menunggu kasir selesai memindai barcode dan menyebutkan totalnya. Lalu tanpa ragu Jihoon membayar belanjaan itu dengan Black Card jimatnya.


"Habis ini Lo mau ngapain?" Tanya Jihoon saat mereka sudah didepan toko.

__ADS_1


"Gue free hari ini." Jawab Younha sedikit manyun. "Ada les dance jam tiga nanti, tapi gue batalin."


"Kenapa?"


"Males."


"Weh, bisa males juga Lo?" Ejek Jihoon. "Kalo gitu mau ikut gue?"


"Kemana?"


"Basecamp." Jihoon tersenyum tipis. "Tempat rahasia gue."


...*****...


Basecamp ini terletak dipinggir kota dan tersembunyi dari gedung gedung lainnya, sedikit menjorok kedalam hutan tapi Younha tidak khawatir—disana ada rumah penduduk yang tidak terlalu jauh.


Younha mengikuti langkah Jihoon sambil memeluk novel barunya, melihat kanan kiri. Terlalu sepi dan hanya beberapa suara burung saling bersahutan.


Hanya sebuah bangunan rumah pada umumnya di Britania Raya. Batu bata merah menghiasi seluruh tembok dengan pagar putih pendek yang ditumbuhi tanaman merambat. Disampingnya juga ada dua pohon besar bersanding dengan ayunan kursi panjang yang cantik.


"Ayo masuk." Kata Jihoon setelah membuka pintu. "Lo bakal suka."


Benar saja. Younha bergumam kala melihat isi basecamp itu. Nuansa hangat dan penuh warna. Ada sofa dengan bantal-bantal ditengah ruangan. TV lengkap dengan PS dan proyektor film. Dapur minimalis yang penuh perkakas aestetik, canggih, dan antik. Jihoon bahkan menunjukkan dua kamar mewah khas Inggris dengan hiasan dinding melingkupi kanan dan kiri.


"Gue mudah stress." Tukas Jihoon mengambil dua kaleng cola dari kulkasnya. "Biasanya gue disini kalau lagi gabut."


Younha duduk disamping Jihoon dan menerima satu kaleng cola yang sudah dibuka. "Makasih Ji."


Jihoon mengangguk, sambil mencuri lirik pada Younha yang meneguk colanya sambil terus bergumam dalam hati—betapa indahnya wajah kekasih sang kakak angkat. Jihoon ingin menjaganya agar tidak terluka, mendekapnya agar selalu aman.


"Kenapa Lo kayaknya kesel banget?" Jihoon mulai bersuara.


"Ngga apa-apa." Jawabnya datar. "Kenapa Lo mau aja disuruh Jinan jemput gue?"


"Sebagai adik yang baik harus nurut sama kakak."


"Serius?"


"Nggak juga sih." Pria itu meletakkan minumannya, menggeser duduknya sedikit mendekati Younha. Pandangan mereka bertemu, dan entah mengapa Younha seakan betah menatap mata Jihoon. "Gue boleh tanya sesuatu?"


"Satu pertanyaan, satu dollar."


Jihoon tersenyum simpul, agak ragu sebenarnya. "Apa yang ngebuat Lo betah sama Jinan?" Pria itu menjeda kalimatnya. "Servisnya?"


Younha tersedak sodanya, tatapannya langsung beralih pada pria yang diam-diam mengamankan soda di tangan Younha. Jihoon merapatkan duduknya, mensejajarkan wajah dengan gadis itu hingga tatapan mereka terkunci dengan nafas yang saling beradu. Younha tidak berniat menghindar sedikitpun walau ia terkejut bukan main menatap iris Jihoon sedekat ini.


"Gimana kalo seiring waktu berjalan Jinan mulai jarang kasih afeksi?" Bisik Jihoon, suara seraknya membuat Younha merinding. "Ngelirik yang lain?"


Jihoon memiringkan kepalanya, beranjak mendekati telinga Younha yang mulai memerah dan bergidik. Meninggalkan bisikan dengan hembusan nafas yang menggelitik. "Gue bakal ada kalo Lo butuh. So let me know what do you want."


Younha menahan nafasnya, begitu campur aduk.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2