
"Younha, hanya sebentar. Aku ingin bicara padamu."
Ekspresi Younha perlahan luluh dan mempersilahkan wanita itu masuk. Ada beberapa alasan mengapa Younha sedikit lunak dengan Hyejin dan salah satunya karena Younha ingin bangkit, dia ingin melupakan semua yang tejadi pada masa lalu dan memulai lagi dari awal meski Younha rapuh.
Lebih dari lima menit mereka hanya terdiam. Younha menunggu Hyejin berbicara dan tidak ingin memaksa sebab wanita itu terus menangis, entah apa yang sedang terjadi padanya. Padahal Younha tidak pernah menduga pertemuan mereka akan setenang ini, biasanya mereka saling menyalahkan dan bertengkar.
"Kau tahu, mulut pria akan sangat manis saat mereka memberikan harapan. Mas Jihoon memberikanku itu hingga aku masih bisa bernafas hingga saat ini, namun kenyataannya dia hanya mencari sesuatu yang ada padamu—" Suara Hyejin tercekat di ujung lidah, sebelum dia pun meremas tangannya sendiri menyalurkan emosi campur aduk dalam dirinya. "—cintamu untuknya."
Hyejin menghela nafas.
"Mas Jihoon mencintaimu. Meski harus menghabiskan waktu lima tahun untuk menyadarinya." Dia tertawa kecil, terdengar sangat frustasi. "Tidak, Mas Jihoon tidak pernah sekalipun mengabaikan cintanya untukmu. Selama lima tahun ini dia berkorban pada dirinya sendiri untuk menemaniku, menjadi penopang hidupku dan bertahan darimu, Younha. Perlakuan, usapan tangan, dan perhatiannya berubah total saat bersama hingga aku sadar jika dia sebenarnya masih bertahan untuk memberikan semua itu padamu."
"Dia tidak akan pergi jika mencintaiku." Kata Younha disela ucapan Hyejin. "Anak-anak hanya investasi masa depan bagi Mas Jihoon dan itupun tidak menjadi bukti yang kuat untuknya memilihku. Jadi, kenyataan bahwa dia mencintaiku sangat tidak masuk akal."
"Kamu hanya tidak mengerti."
"Kalian sama saja." Ujar Younha jengkel. "Selalu berkata seperti itu."
"Maka akan ku beritahu sekarang."
Tatapan mereka bertemu serius, untuk pertama kali. Younha tidak terlalu berminat membahas masalah yang tidak pernah reda ini namun melihat Hyejin yang seolah berada di titik terendahnya—mungkin ini jawaban dari segala penderita Younha selama ini.
"Dia hanya mencintaimu..... Younha-nya."
Kelopak mata Younha mengerjap, berada di ambang kepercayaan.
Hyejin meremas jemarinya sebelum melanjutkan. "Akulah yang egois disini. Lima tahun yang lalu saat aku tahu jika kalian menikah, duniaku terasa hilang dan hatiku hancur sekali. Aku tidak punya tonggak untuk terus berdiri dan disaat aku hampir mati—Jihoon datang dan membawaku pulang bersama uluran tangannya. Aku tidak tahu betapa putus asanya keluargaku saat itu, namun Jihoon memberi kekuatan penuh dan berjanji akan merawatku. Aku hidup dengan cinta Jihoon?" Hyejin berdecih kecil. "Cinta sebagai orang yang dikasihani. Kamu tahu bagaimana rasanya jadi aku?"
"Cukup." Younha menyekat, dadanya terasa sesak mendengarnya.
"Aku hampir putus asa lagi dan Jihoon selalu ada disaat yang tepat." Air mata Hyejin mulai membasahi pipinya, sambil mengungkapkan perasaan yang selama ini dia pendam. Tidak tahu Younha akan menyadarinya atau tidak. "Aku selalu berusaha agar dia tidak kembali padamu dan kurasa aku menang setelah kalian berpisah."
"Cukup Hyejin!!" Jerit Younha mulai frustasi.
"Namun aku yang kalah karena Mas Jihoon mencintaimu!!"
"Tidak." Younha menggeleng tak percaya. "Hidupku mungkin terlihat baik selama ini tapi hatiku tertinggal di neraka. Sulit menjadi pihak yang mencintai sementara aku tidak dicintai terlebih aku memiliki Yeonjun dan Seojun yang terus mengingatkanku pada Mas Jihoon. Dia sudah bahagia denganmu—"
"Aku akan pergi secepatnya." Kata Hyejin yang membuat Younha bingung berat. Setelah diam beberapa saat, dia baru mengerti bahasa Hyejin mulai melepaskan Jihoon sekarang.
"Kemana?"
Hyejin menaikkan bahunya. "Entahlah, mungkin jauh."
__ADS_1
"Kamu pikir aku percaya?"
"Percaya atau tidak kamu akan melihatnya sendiri. So please, looking again to Jihoon. He needs you."
Hyejin pamit setelah itu, dengan senyum tipis penuh kesakitan.
...*****...
Jihoon mengerang kecil sebelum membuka mata, menyesuaikan temaram lampu kamar yang menyeruak masuk ke rentinanya. Dia memanjangkan tangan untuk meraba permukaan kasurnya yang dingin, dimana posisi Hyejin sebelumnya. Kini wanita itu menghilang, membuat Jihoon langsung duduk dan mengitari pandangan ke seluruh kamar. Tungkai kembarnya menyentuh lantai, melangkah menuju jendela dan menyibak gorden, ternyata masih malam.
"Hyejin?"
Panggil Jihoon dengan suara serak dan satu alis terangkat, menunggu jawaban.
"Hyejin?" Jihoon menyusuri lantai dingin sampai depan kamar mandi, yang ternyata kosong. "Kamu dimana?"
Sepi. Tidak ada yang menjawab, Jihoon menghampiri ponselnya diatas kasur untuk menelpon Hyejin namun keduluan dengan sebuah kontak yang menelponnya.
Jinan, tidak biasanya sang kakak menelpon. Tanpa berlama-lama ia segera mengangkat panggilan itu.
"Kamu dimana? Apa kamu sendirian?"
"Ya, aku sedang sendirian." Jawab Jihoon tidak tahu apa-apa. "Barusan aku mau menelpon Hyejin, mungkin dia pulang ke apartnya saat aku tidur."
Jinan memijit pelipisnya dari seberang, helaan nafas terdengar gusar dan berat. "Apa dia tidak bilang sesuatu?"
"Bersiaplah, aku akan datang."
"Katakan dulu ada apa Jinan?" Jihoon berdecak jengkel. "Apa sesuatu terjadi padanya?"
"Nanti akan ku ceritakan saat di mobil."
Tutt.
Panggilan diputus seberang. Jihoon menatap layar ponselnya dengan kosong, seolah suatu hal sedang menyita fokusnya. Perasaan Jihoon tiba-tiba tidak enak saat mengingat Hyejin yang menangis tadi. Apa yang sedang terjadi? Jihoon terlambat untuk mencernanya.
Sementara ditempat lain, Hyejin menyeret kopernya menyusuri lobi bandara dengan berat. Pikirannya kusut seperti benang usang, dia tidak pernah menyangka akhir seperti ini terjadi padanya.
Hyejin sudah konsultasi dengan Mirae bahwa ia akan berobat ke Swiss sekaligus menetap disana. Apa Mirae akan memberitahu Jihoon tentang ini? Ah, rasanya tidak mungkin. Hyejin sudah siap berpisah dengan pria yang paling ia cintai dan dia pergi tanpa pamit, bukankah sia-sia jika sekarang berharap pria itu datang untuk mengucapkan perpisahan?
"Apa semua sudah beres? Kamu terlihat seperti mengkhawatirkan sesuatu?" Tanya Woojin dari sampingnya, pria itu yang akan mengantar Hyejin sampai ke Swiss diam-diam.
"Tidak ada." Hyejin menggeleng, walau menggeret kopernya dengan perasaan susah.
__ADS_1
"Hyejin!"
Suara itu menggaung ditengah kepadatan manusia. Keduanya saling pandang dan terkejut, lalu melihat Jihoon yang mematung dengan nafas tersengal bersama Jinan di belakang.
"Jihoon?" Hyejin berbalik badan. Matanya bergetar saat melihat pria itu mendekat dengan raut khawatir. Inikah yang dinamakan ketakutan? Hyejin baru menyadarinya. Takut untuk jauh dari seseorang saat harapan itu tak lagi ada.
"Kenapa ini? Kamu mau kemana? Kenapa tidak beritahu aku?" Tanya Jihoon acak, dia terkejut setengah mati saat tahu Hyejin pergi seperti ini. "Apa aku membuatmu tidak nyaman hingga kamu pergi seperti ini?"
Hyejin menggeleng, air matanya jatuh lagi.
"Kamu berkata ingin menikah denganku, ayo lakukan itu, Hyejin. Lakukan semua yang kamu mau."
Kedua jempol Jihoon mengusap pipi merona sang kekasih yang menangis. Dalam hatinya menghardik dirinya sendiri yang tidak peka terhadap Hyejin. Jihoon terlalu bodoh, dia melakukan kesalahan yang sama seperti dulu—saat orang yang dicintai menyimpan kepedihan sendiri.
"Aku ngga bisa sama kamu lagi, Jihoon." Hyejin berkata disela isakan. "Aku ngga mau kamu terus menderita."
"Hei, menderita apa?" Jihoon mengangkat rahang Hyejin, hatinya tercubit melihat wajah merah itu. "Aku bahagia bersamamu."
"Tidak." Hyejin melepas tangan itu. "Kamu hanya iba dan kasihan. Kamu tidak benar-benar mencintaiku. Jadi tidak ada alasan untukku tinggal."
"Kamu ini bicara apa? Aku tidak mengerti."
Hyejin menatap iris Jihoon lekat. "Kamu mencintai Younha."
Jihoon terdiam, bahkan Hyejin pun berkata seperti itu.
"Aku harus pergi untuk kalian bahagia. Kamu sudah berkorban untuk aku dan sekarang waktunya aku yang mundur." Lanjut Hyejin. "Kalian harus memulai dari awal dan bahagia, hm?"
"Hyejin, apa maksud—"
"Hidupku ngga lama lagi." Kata Hyejin terisak, sementara Woojin mengusap punggung adiknya berharap situasi ini segera berakhir. Dia tidak tega pada Hyejin yang sudah sakit.
"Apa?!"
"Aku sakit dan ngga mau kamu ikut andil seperti dulu. Ternyata semuanya keliru, Jihoon. Jadi kumohon hiduplah dengan baik bersama orang yang kamu cintai." Hyejin meraih tangan Jihoon, mengusapnya lembut dan menatap netra si pria intens. "Kembalilah pada Younha, dan... maafkan aku."
"Aku akan selalu ada buat kamu. Please jangan bilang kayak gini. Kamu bisa lewati ini and I will be beside you."
"Tidak." Suara Hyejin tercekat, dia menghapus air matanya lalu tersenyum seolah mempresentasikan bahwa dia kuat. "Sekarang aku sudah sadar, tidak penting siapa yang mendukung atau disampingku. Karena semua itu tentang hati, bukan ego maupun keterpaksaan. So, I can get through this on my own. Don't be worry."
Jihoon tidak menjawab sepatah katapun saat tubuhnya diterjang Hyejin yang memeluk erat untuk terakhir kali. Dengan senyum tulus yang wanita itu lempar untuk Jihoon, dia merasa telah tuntas dengan semua ini dan tidak akan menyesal.
Pegangan tangan mereka mulai terlepas perlahan, dari seluruh jemari hingga telunjuk dengan berat. Senyum cantik yang ia tunjukkan perlahan pudar bersama suasana ditengah keramaian bandara.
__ADS_1
Hyejin sadar sudah tidak punya harapan, namun cintanya untuk Jihoon akan selalu terpatri dalam lubuk hatinya.
...*****...