About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Kilas Balik 4


__ADS_3

"Maaf baru kasih kabar. Kamu dianter Jihoon dulu ya..... Aku ada Interview nih😣 Sorry babe🥺🥺"


Dan seperti itu lagi, dua Minggu telah berlalu Jinan jarang memberi kabar dengan alasan sibuk, tidak ada waktu, dan sebagainya. Padahal Younha hanya menanyakan kabar, sudah makan atau belum, dan hal sederhana yang cukup dibalas dalam waktu satu menit. Tapi kenapa Jinan seolah benar-benar tidak punya waktu?


"Haish, ternyata cowok sama aja!!" Younha menjerit pada ponselnya sendiri, memaki dengan suara keras yang terdengar menggaung dari ruang kafe itu. "Bangsat Lo Yoon Jinan!! Kesel banget gue!!!


"Lo kenapa sih?" Jihoon menutup telinganya dan menoleh kanan kiri, malu karena semua orang di dalam kafe langsung menatapnya dan Younha. "Malu maluin anjir!!! Dikira gue ngapa ngapain Lo."


"Biarin!!"


Younha bergegas bangkit dan mengemasi barang-barangnya menuju halte bis, Jihoon mengikuti setelahnya walaupun ia sedikit tidak tega meninggalkan sup asparagus yang belum habis setengah. Ia menyusul langkah Younha dan menahan lengan si gadis.


"Lo masih ada satu mata kuliah lagi lho?"


"Ngga peduli!!!"


Jihoon membuang nafas kasar. "Terus Lo mau apa? Kalo pulang gue anterin aja." Tawar Jihoon mencoba menenangkan Younha yang sudah membuang muka. Pria itu tahu jika Younha menyimpan kesedihan. "Kalo mau nangis, nangis aja ngga papa. Jangan marah dan ngegas kayak gitu. Meledak nanti badan Lo."


"Kenapa Lo peduli?"


Jihoon berpikir sejenak. "Ya, karena Lo pacar kakak gue. Sama berharganya bagi gue, walau gue ngga nganggep Jinan gitu sih."


Younha menutup wajahnya dengan telapak tangan dan menangis, menumpahkan segala sesak yang selalu ia tahan selama ini kemudian dengan spontan Jihoon memanjangkan tangannya dan meraih Younha ke pelukan. Menepuk kepala dan gadis yang makin terisak disana. Younha lelah dengan Jinan, ia ingin menjadi penyemangat kekasihnya tapi ia merasa kini mereka semakin jauh. Walau Younha tahu jika Jinan memang sedang sibuk sibuknya, namun pikiran dalam otak kecil Younha selalu terbang kemana mana. Termasuk apakah Jinan ada hubungan dengan Mirae?


"Gue capek banget anjirr!!" Younha memukul dada Jihoon brutal, tapi anehnya pria itu hanya diam saja dan masih mengeratkan pelukannya. "Cowok itu nyebelin banget."


Jihoon tersenyum menatap wajah sembab Younha lalu menghapus air mata itu dengan kedua jempolnya.


"Capek banget ihhh." Younha menghentakkan kakinya. "Sebel, hiks. Pengen nangis."


"Lha itu dah nangis."


"Lo pergi aja deh, jangan ganggu gue!"


"Nanti kalo Lo kenapa napa gimana?" Jihoon mengusap kedua bahu Younha. "Nangis gitu kayak anak kecil muka Lo. Nanti diculik om om mau?"


Bukannya diam Younha malah makin terisak, membuat Jihoon bingung menenangkannya karena benar saja, Younha seperti bayi saat menangis. Sudah didiemin.


Jihoon kembali memeluk tubuh kecil Younha, menepuk nepuk kepalanya sambil mengucapkan mantra bodoh untuk membujuk Younha seolah bisa mengurangi rasa sesaknya. Walau semua itu tidak berguna, Younha tetap merespon dengan tawa tawa kecil disela isakannya. Kedua tangan rantingnya bertaut dibelakang tubuh Jihoon seakan tak mau lepas.

__ADS_1


Younha memejamkan mata, akan menganggap bahwa dia sedang memeluk Jinan walau hatinya berdebar dipeluk Jihoon.


Gadis itu hanya tidak ingin mengungkapkan bahwa, ia dan Jinan sudah mulai jauh.


...*****...


Dua bulan kemudian....


Banyak orang berkata jika rindu itu sakit tapi menyenangkan. Seseorang bisa terus menyimpan rasa ngilu dalam dadanya dalam waktu yang lama hingga sebuah pertemuan datang yang akan meletupkan segala rasa ngilu itu. Dengan senyuman tipis, Younha juga merasakan itu karena besok, adalah hari dimana ia dapat melepas rindu dengan Jinan setelah sekian lama hanya berkomunikasi melalui ponsel.


Younha mencoba memikirkan hal apa yang dapat memercikkan rasa excited saat bertemu Jinan nanti, tapi ia tidak merasa apa-apa. Hanya degupan jantung stabil dan hambar. Ia juga sudah menyiapkan beberapa kata rayuan dan maaf untuk mendinginkan hubungan mereka tapi tetap saja. Rasanya aneh.


Ia menghela nafas panjang, ingin memikirkan itu nanti lagi saat mencium aroma nasi goreng dari dapurnya—tapi pemandangan kamar dengan kasur dan seprei yang sudah berantakan membuat Younha mengurungkan niatnya.


Perlahan Younha memeluk dirinya sendiri dengan kerjapan pelan yang membawa mengulang ingat pada kegiatan yang ia lakukan bersama Jihoon lima jam yang lalu. Berawal dari bisikan sensual hingga semua itu terjadi begitu saja.


Younha mematung sejenak sebelum akhirnya beranjak merapikan tempat tidurnya dengan perasaan berkecamuk. Ia mengusap wajah pucatnya sambil menghardik dirinya sendiri seolah tidak percaya apa yang telah ia lakukan.


Dengan perasaan panas dan menggebu gebu, ia melangkah menuju sebuah lemari dengan cermin besar didepannya, melihat pantulan dirinya sendiri dengan dahi mengernyit. Rambut lepek dan berantakan juga beberapa Hickey menapaki kulit mulusnya. Satu telapak tangannya bergerak untuk menyentuh bibirnya yang terdapat sedikit luka gigitan.


Younha membuang nafas panjang. Mereka sudah kelewatan.


"Lo mau telur mateng atau setengah mateng?" Suara dari ambang pintu terdengar, membuat Younha menoleh dari depan cermin.


"Setengah mateng."


"Oke, gue tunggu di ruang makan."


Younha menyusul tak lama kemudian, mengambil duduk di salah satu kursi konter dapur basecamp itu sambil menatap punggung pria yang masih sibuk menyiapkan sarapan. Bukankah kejam jika memojokkan Jihoon dari apa yang terjadi pada mereka disaat keduanya sama-sama Welcome?


Ini sudah terlalu jauh, dan semua ini salah Jinan. Younha tidak akan seperti ini jika bukan karena Jinan.


"Nih, nasi goreng spesial buat Lo." Jihoon menyodorkan satu piring ke depan Younha, sambil memamerkan senyum sumringah.


Ketika mereka mulai menikmati sarapan, Younha membuka suara.


"Ji, kita udah kelewatan." Kata Younha dengan napas memburu. "Maksud gue—gue yang udah keterlaluan. Gue jahat banget."


Jihoon yang faham kemana arah bicara Younha ini seketika kehilangan nafsu makan. Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap manik redup si gadis. "Maafin gue, gue yang salah."

__ADS_1


"Harusnya kita ngga pernah ketemu. Gue pacar Jinan dan Lo tahu apa yang udah kita lakuin?" Younha sedikit menggebrak meja. "Kita main gila di belakangnya dan—semua itu karena Lo hasut gue Ji!!!"


"Jadi, Lo nyalahin gue?" Jihoon mengernyit bingung. "Lo nyalahin gue disaat kita sama-sama mau? Kita sama-sama butuh?"


Younha tergugu, kalimatnya tercekat diujung lidah dan ia hanya terdiam karena benar-benar bingung.


"G-Gue bingung—"


"Gue lebih bingung sama Lo." Jihoon kelewatan membentak, lalu


menyesalinya. "Jadi, Lo maunya kita gimana?"


Younha terdiam.


"Younha—"


"Kenapa sih Lo tuh kayak gini?" Air mata jatuh dipipi kiri Younha. "Lo perhatiin gue, jagain gue, tahu apa yang gue butuh dan selalu ada waktu buat temenin gue disaat gue bahkan ngga bisa dapet itu semua dari Jinan?"


Hembusan nafas Younha memburu. "Kenapa Lo ada di antara gue dan Jinan? Kenapa Lo harus ada setelah gue dan Jinan udah barengan? Dan kenapa—lo bisa geser posisi Jinan di hati gue? Kenapa Ji?"


Jihoon terdiam, hanya mendengar segala keluh kesah Younha. Mencerna semua kalimatnya hingga terhenyak pada maksud kalimat terakhir.


"Harusnya Lo jagain gue seperti yang Jinan suruh." Younha menggebrak meja lagi. "Tapi kenapa Lo buat gue kayak gini?"


"Gue juga ngga ngerti sama Lo, Younha." Jihoon berdecih. "Lo ungkapin perasaan tapi seakan akan Lo nyalahin gue?"


"Please, mulai sekarang menjauh dari gue."


"Lo tahu gue ngga bisa."


"Gue bingung Ji!"


"Maafin gue." Jihoon gemetar, sipitnya mulai berkaca-kaca dibalik poni yang menutupi mata. "Gue tahu, gue ngga berhak ada di hidup Lo. Please jangan tinggalin Jinan. Gua yang bakal pergi, kalian—jangan sampai kalian berantakan."


Dengan pikiran sedikit kosong, Jihoon mengambil tas dan kemejanya yang tergeletak disofa. Dia bahkan tidak bisa mengancingkan baju dengan benar karena Tremor.


"Lo bisa pulang kapanpun." Jihoon berkata setelah beberapa langkah. "Gue bakal tunggu keputusan Lo yang sebenarnya."


Younha membuang muka pada objek seadanya sambil mengusap wajahnya yang basah. Dia merasa bodoh, bingung pada hatinya yang mencoba membenarkan bahwa Jihoon kini telah mengisi sebagian besar perasaanya.

__ADS_1


Bahwa ia mulai mencintai Jihoon.


...*****...


__ADS_2