
Jihoon tiba-tiba pergi untuk terbang ke Chicago. Semalaman Younha menelpon balik setelah melihat panggilan tak terjawab berendet sampai delapan belas kali. Younha benar-benar linglung setelah kembali dari tempat Woojin dan mengabaikan ponselnya begitu saja.
Younha menyandarkan punggungnya di sofa sambil memikirkan hal-hal janggal yang kini sedang berputar di sampingnya, bagaimana rasa bahagia dan cemas itu bercampur saat memikirkan Jihoon, bagaimana rasa bersalah itu muncul saat melihat Woojin, dan bagaimana rasa penasaran itu ada saat memikirkan Jinan.
Seharian sudah Jinan dan Mirae tak menjawab telponnya, pesan tidak di balas, dan saat Younha datang bersama anak-anak—Mirae bahkan tak mau membukakan pintu. Semua terjadi tiba-tiba sampai Younha tidak fokus untuk interview dengan penulis buku hari ini.
Jinan dan Mirae mendiaminya entah karena apa. Younha merasa pasti dia berbuat salah, tapi dia tidak tahu kesalahan apa itu. Younha terlalu kebanyakan pikiran, tanpa terasa helaan napasnya terdengar berat.
"Mama!" Seojun datang dan langsung memeluk kakinya. "Ojun ingin telur kukus."
Younha tersenyum dan membawa Seojun ke gendongannya. Wanita itu mencubit pucuk hidung putranya gemas lalu menciumi pipi gembulnya.
"Kalau kakak ingin makan apa?" Younha bertanya pada Seojun.
"Kakak ingin telur kukus juga!" Seojun terkikik sambil menunjuk sang kakak yang sedang serius belajar menulis.
"Kakak ingin jus apel juga, Mama." Sahut Yeonjun. "Jus apel yang manis."
"Oke."
"Mama ingin makan apa?" Seojun memegang kedua pipi Younha dengan tangan kecilnya dan mengerjap penasaran.
"Apa, ya?" Younha berdehem panjang selagi menurunkan bocil itu di kursi meja makan. "Mama ingin makan Ojun saja!"
"Jangan!" Anak itu langsung memeluk tubuhnya sendiri. "Nanti kalau Mama makan Ojun—Ojun jadi poopies."
Younha agak terkejut dengan ucapan polos Seojun lalu tertawa geli. Dia beralih memotong daun bawang dan menyiapkan telur, tidak lupa mengupas dua buah apel untuk dibuat jus. Selagi Younha sibuk dengan pekerjaannya, si bungsu menghibur dengan bernyanyi jingle bells dengan lidah cadel dan lirik amburadul. Sesekali Younha akan membenarkan nyanyiannya sambil terkekeh gemas.
"Ayah makan apa, ya?" Si bungsu menopang dagu. "Ojun rindu Ayah."
"Baru kemarin bertemu, sudah rindu?"
Seojun menggangguk sambil memanyunkan bibirnya. "Ojun rindu Om Jinan dan bibi Mirae juga, oh—Om Woojin yang hidungnya seperti Pinokio. Mama, kapan kita bertemu Om Woojin lagi?"
Younha yang barusaja menuang jus ke gelas terhenti sejenak saat Seojun menyeret nama Woojin dengan polosnya. Younha tidak tahu seakrab apa mereka hingga Seojun terus mengingat pria itu, tapi Younha juga tidak heran—Woojin menemani anak-anaknya sekitar lima bulan terakhir. Balita seusia Seojun memang mudah nyaman bahkan dengan orang yang baru dikenalnya.
"Mama, kapan Om Woojin datang lagi? Kapan juga kita bisa bermain dengan bibi Mirae?" Seojun memiringkan kepalanya.
"Sekarang—Seojun bermain dengan Mama dan kakak dulu sambil menunggu Ayah pulang. Om Jinan, bibi Mirae dan Om Woojin sedang sibuk bekerja, jadi belum ada waktu untuk datang." Younha mengusap kepala putranya.
Dding! Ddong!
“Oh, ada tamu?” Seojun memekik lalu berlari lebih dulu yang segera diikuti Younha. “Mama, ada bunga!”
Sipitnya langsung terarah pada sebuket bunga Lily merah muda yang masih segar dan harum di lantai. Younha memeluknya dan membaca secarik note kecil yang bertuliskan; Teruntuk Kim Younha-ku—sambil tersenyum menduga-duga dari siapa kiranya bunga ini datang. Jihoon bahkan tidak pernah tahu jika Younha menyukai bunga Lily merah muda, jadi kiriman bunga cantik ini apa mungkin… dari Jinan?
“Mama, ayo masuk! Apa telurnya sudah matang?” Anak itu menarik telunjuk Younha untuk masuk dan menutup pintu.
Seperti dugaan. Tanpa melihatnya saja tebakan Younha benar karena Jinan yang mengirim bunga itu dan kini bersembunyi di balik dinding sambil menelan senyum tipis.
__ADS_1
...*****...
Jihoon barusaja merebahkan tubuhnya ke sofa empuk setelah melepas jas dan melonggarkan dasinya. Tubuhnya terasa sangat lelah sebab duduk berjam-jam dalam meeting. Teringat akan Younha yang tidak sempat ia pamiti, Jihoon bergegas meraih ponselnya yang ia cas sejak pagi tadi karena kehabisan daya.
Kelopak mata Jihoon berkedip cepat setelah membaca rantaian pesan Younha yang kesemuanya berisi omelan khas wanita itu. Senyum Jihoon tidak bisa disembunyikan lagi semenjak membaca pesan pertama,
Kamu sudah sampai? Apa perjalananmu nyaman?
Jangan lupakan vitaminmu, aku akan menjadi pengingat tiga kali sehari.
Hari ini Seojun bertengkar dengan sang kakak tapi langsung berbaikan begitu diiming-imingi kukis. Menggemaskan sekali.
Kamu tidur? Baiklah, selamat istirahat, Jihoon-na.
Pria itu senyum-senyum sendiri sementara jemarinya gereget untuk mendial nomor Younha—menunggu tersambung dan menyiapkan suara terbaiknya.
“Demi Tuhan, aku tidak salah lihat sekarang pukul dua pagi, Lee Jihoon.” Suara Younha, terdengar makin serak dengan sipit belum terbuka sepenuhnya.
Jihoon tertawa kecil. “Oh, aku lupa kalau waktu disini berkebalikan dengan Korea. Aku barusaja selesai makan siang.”
Younha mengangkat panggilan tanpa berniat bangkit dari kasurnya walau kantuknya hilang seketika begitu mendengar dering telpon.
“Ada apa?”
“Memastikanmu masih hidup.”
Younha mengendus dengan senyum gemas. “Kamu juga mengatakan itu satu tahun yang lalu.”
“Younha.”
“Hm?”
“Terimakasih.”
“Untuk?”
“Karena telah lahir ke dunia dan menemaniku."
Hening lagi. Jihoon masih setia menempelkan ponselnya di telinga untuk mendengar deru napas Younha yang diselingi kikikan kecil. Jika boleh jujur, sebenarnya Younha tidak bisa benar-benar membenci Jihoon seperti yang mulutnya ucapkan. Younha merasakannya sendiri, bagaimana jatuh cinta setiap pagi hari melihat wajah Jihoon di atas ranjang. Dia juga yang mencintai lebih dulu, dia juga tahu jika alasan Jihoon tidak pernah menyatakan cinta adalah takut jika tidak bisa menepatinya.
Hingga perasaan Younha yang merasa terabaikan memberontak dengan sendirinya.
“Kamu merusak suasana.” Sergah Younha. “Harusnya kamu tidak mengatakan hal cheesy seperti itu disaat aku sedang mengantuk.”
“Kalau begitu aku akan mengatakannya lagi besok setelah sampai di rumah.” Bisik Jihoon yang menyimpan bahagia.
“Aku akan menunggunya.”
“Tidurlah lagi.” Suruh Jihoon akhirnya. “Maaf sudah mengganggumu.”
__ADS_1
Younha tertawa. “Kamu selalu mengganggu malamku, sebenarnya.”
“Senang melihatmu kesal.” Jihoon ikut terkekeh. “Apa perlu aku bacakan cerita untuk mengantarmu tidur?”
“Aku bukan anak kecil, Lee Jihoon.”
“Akan ku bacakan cerita dewasa kalau begitu.”
“Astaga, percakapan macam apa ini?”
Younha tidak berkata lagi setelah Jihoon memulai narasi cerita tentang masa lalu mereka saat kuliah dulu, dari pertemuan pertama, bolos, hingga kelakuan mereka di belakang Jinan. Karena semua masa lalu itu sudah tuntas, jadi kisah bodoh itu seperti sejarah yang lucu untuk diceritakan kembali. Younha mengatur posisinya dan menempelkan ponsel itu ke pipi, mendengar cerita-cerita Jihoon yang seperti lullaby—membawanya terlelap kembali.
...*****...
“Mama, apa gambar kakak bagus?”
Yeonjun memasuki area dapur sambil memamerkan gambar dua anak bergandengan dengan baju bermodel dan warna sama persis. Diatas dua orang itu, terdapat tulisan Selamat datang, Ayah yang hurufnya agak naik turun.
Younha tersenyum bangga, mengusuk kepala sang putra dan memujinya.
“Bagus sekali, kurang diberi warna sedikit lagi. Ayah pasti suka dengan gambarnya.”
“Mama bisa bantu?”
“Tentu saja. Nanti setelah Mama selesai masak, ya?” Younha tersenyum melihat putra sulungnya mengangguk semangat dan berlari kembali ke ruang tengah.
Younha meletakkan semangkuk sup asparagus dengan sosis dan menatanya di meja makan bersama menu lainnya, dia melirik sang putra yang fokus pada gambarnya lalu tersenyum melihat Yeonjun yang cepat belajar dan pintar. Younha tidak sabar untuk mendaftarkannya sekolah. Anak itu akan mempunyai banyak teman dan Younha akan makin bahagia begitu mendengar cerita putranya sepulang sekolah. Younha sangat tidak sabar.
Bell unit terdengar, Yeonjun mengangkat kepala dan melihat sang Mama tengah sibuk berinisiatif untuk membukakan pintu. Tanpa suara heboh seperti biasanya, anak itu menghampiri Younha sambil menggandeng jemari seseorang.
“Mama! Lihat siapa yang datang?” Kata Yeonjun girang.
Younha tertawa menanggapi. "Siapa?"
Wanita itu mendongak dan maniknya berubah gugup tiba-tiba saat langsung berhadapan dengan Woojin disana. Untuk beberapa saat Younha sempat blank dan bingung untuk menanggapi.
“Kak Woojin?”
“Aku mampir karena teringat Yeonjun suka sekali dengan coklat jepang.” Kata pria itu santai seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Woojin berjongkok dan memberikan bingkisan itu pada Yeonjun yang langsung diterima. “Makan bersama Seojun, ya. Jangan berebut. Oke!”
“Oke!” Yeonjun berseru dan membalas high five Woojin.
Tersisa Younha dan Woojin yang berada di antara meja makan.
“Younha, aku ingin bicara—"
“Bicara apa?”
Younha yang belum sempat menjawab pun makin gugup saat Jihoon tiba-tiba datang dan menyela. Sipit tegas itu menghunus tajam, menatap Younha dan Woojin bergantian. Sementara Younha tidak bisa berkutik saat dua pria di hadapannya saling bersitatap dan mengintimidasi dalam diam.
__ADS_1
...*****...