
Hyejin terduduk di kloset yang tertutup, sementara maniknya menatap kosong alat tes kehamilan digital yang dia genggam dengan tangan bergetar—kini terkulai lemas di pahanya. Jelas napas pelan keluar bersamaan belakang kepalanya bersandar pada dinding marmer, lalu memejamkan mata untuk mengontrol amarah yang bergejolak dari dalam dadanya.
Lagi-lagi, hanya satu garis.
Padahal sudah dua bulan Hyejin melepas kontrasepsi tanpa Jihoon ketahui. Dia bahkan sangat yakin jika Jihoon selalu keluar didalamnya. Tapi kenapa ia selalu menstruasi rutin di setiap bulannya. Rahang Hyejin mengatup geram, ini mungkin sudah alat tes ke tiga puluh yang ia coba dan hasilnya selalu sama.
Negatif.
Setelah melempar alat tes kehamilan itu ke tempat sampah di samping wastafel, ia keluar dari kamar mandi dan langsung mendapati Jihoon sedang sibuk dengan beberapa berkas di sofa kamarnya.
"Kenapa kamu lama sekali di kamar mandi?" Jihoon berkata tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran kertas. "Kamu sudah siap kan? Waktu terbangmu satu jam lagi. Aku sengaja datang untuk mengantarmu langsung ke bandara."
Perhatian tulus dari Jihoon itu dapat sedikit meredakan amarah Hyejin. Melihat bagaimana pria itu mencintainya, Hyejin percaya bahwa Jihoon tidak akan meninggalkannya. Namun disisi lain ia juga ragu dan khawatir jika suatu saat Jihoon memilih kembali pada Younha karena tidak kunjung mendapat keturunan darinya.
"Lalu kenapa kamu sibuk sekali?" Tanyanya sambil memoles wajah dengan make up. "Harusnya kamu menunda pekerjaan kantormu dulu saat memutuskan datang kesini."
"Maaf, yang penting aku tetap menemanimu sebelum berangkat 'kan?" Jihoon tertawa kecil. "Kamu tahu aku sibuk sekali, makanya aku curi curi waktu untuk bertemu dengan kekasih imutku ini."
Hyejin ikut tersenyum, kemudian mengulum bibirnya ragu sebelum akhirnya mengungkapkan sesuatu.
"Aku hamil."
Jihoon kelewat mencoret tanda tangannya saat mendengar omongan santai Hyejin didepan cermin, tangannya bahkan sampai tremor saking kagetnya. Hyejin melirik ujung mata, memasang anting di telinganya.
"H-Hamil?" Tanya Jihoon gugup setengah mati, menatap Hyejin tidak percaya. "K-kenapa bisa?"
"Kamu bertanya kenapa bisa?" Hyejin berbalik badan. "Kita bercinta pagi dan malam! kamu pikir darimana anak ini datang?" sorot matanya memicing. "Dari setan?"
"Maksudku—kamu pakai kontrasepsi." Jihoon berkata ragu. "Aku juga sering pakai pengaman untuk jaga jaga."
"Apa kamu tidak senang?" Hyejin menutup bedaknya kesal. "Kenapa kamu terkejut dengan ekspresi seperti itu?"
"Sayang, aku—"
"Aku hamil anak kamu. Ini anak kita. Kamu akan jadi ayah yang hebat."
Jihoon menyingkirkan berkas kerjanya, kalau menghampiri Hyejin di meja rias dan mengusap kedua pundaknya lembut. "Bukannya aku tidak senang, sayang. Hanya—aku belum siap untuk jadi ayah lagi. Aku butuh waktu untuk belajar dan berusaha menjadi seorang ayah yang hebat seperti yang kamu katakan."
"Aku tidak mengerti dengan semua perkataanmu." Hyejin berbalik badan, menatap tajam pria yang kini berjongkok di hadapannya. "Maksud kamu, aku harus menggugurkan—"
"Hei, sttt." Jihoon menggenggam tangan Hyejin dan menenangkannya. "Tidak mungkin aku minta kamu menggugurkannya."
"Lalu apa maksud kamu belum siap?" Sentak Hyejin. "Kamu ingin aku mati?!"
"Kamu ini bicara apa?"
"Kamu yang bicara apa?!" Hyejin menepis tangan Jihoon. "Apa yang harus kulakukan dengan anak ini?"
__ADS_1
Jihoon menatap perut Hyejin dengan tatapan datar dan itu cukup membuat Hyejin faham bahwa Jihoon memang sangat terkejut dan tidak mengharapkan anak darinya jika ia benar-benar hamil.
"Aku benci kamu, Mas!!"
Hyejin berlari untuk mengambil koper dan beberapa perlengkapannya dengan geram. Ia mengusap sudut matanya tidak menduga jika jawaban Jihoon akan seragu itu, bahkan terang terangan belum siap. Kekhawatiran Hyejin semakin besar tiap harinya, dia takut Jihoon akan meninggalkannya seorang diri dan kembali pada Younha. Walau pada kenyataannya, Hyejin berbohong soal kehamilannya untuk melihat reaksi Jihoon.
Namun, gelagat Jihoon barusan membuatnya kecewa. Bagaimana jika ia benar-benar hamil dan mendapat reaksi yang sama?
"Sayang, dengarkan aku." Jihoon berusaha memegang tangan Hyejin. "Kamu salah faham."
Hyejin menyeret kopernya hingga sampai pintu, sementara Jihoon mengekori sambil merayu. Tangan sang kekasih berulang kali dicekal, tapi Hyejin pun tidak bosan menepis.
"Salah faham apa?! Tentang penolakanmu atas kehamilanku?"
"Hyejin, maafkan aku." Jihoon memelas. "Aku hanya terkejut—maksudku aku bahagia dengan kabar kehamilanmu. Aku sangat bahagia hingga tidak bisa berkata apapun. Kamu percaya 'kan sama aku?"
Tangan Hyejin berhenti dari gagang pintu mobil. Dan saat itu juga, Jihoon membalikkan tubuh lemas Hyejin dan memeluknya erat. Hyejin menumpahkan tangis disana, masih belum bisa memahami perhatian Jihoon yang selalu berubah ubah.
"Aku berjanji akan jadi ayah yang baik." Jihoon mengelus kepala Hyejin. "Maafkan aku, ya?"
Hyejin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jihoon, memeluk sang pria dengan erat seolah takut berpisah dan kehilangan.
...*****...
"Younha, ada seseorang mencarimu di lobi." Seorang pegawai memberitahu Younha yang tampak fokus tak fokus dengan pekerjaannya. "Hei, istirahat dulu. Ini sudah jam makan siang."
Wanita itu memberi simbol jempol lalu melanjutkan langkah menuju kafetaria. Younha menghela nafas panjang, melirik di sekitarnya dan mendapati kubikel pegawai telah ditinggalkan penghuninya. Ternyata Younha memang melamun sejak tadi hingga tanpa sadar waktu berjalan begitu cepat.
Younha melangkah gontai menuju lift sambil menempelkan ponsel ke telinga. "Kenapa kamu datang?"
"Apa?" Jinan mengerutkan dahi dari seberang telepon. "Aku di kepolisian. Apa ada yang ingin bertemu denganmu? Siapa dia?"
"Entahlah."
"Jangan ditemui jika orang asing."
Younha melangkah keluar dari lift menuju lobi, saat itu juga ia melihat seorang anak kecil berdadah heboh kepadanya. Anak itu berlari menghampiri Younha kemudian.
"Oh, ternyata Mirae dan anak-anak." Younha melanjutkan. "Sudah dulu ya, aku tutup."
"Baiklah. Huh, mengagetkanku saja."
Younha menutup sambungan, lalu tersenyum pada Mirae yang tampak asik mengayunkan Seojun dalam gendongannya. "Ada apa Mirae? Apa Seojun rewel?"
"Tidak kok." Mirae menggeleng, lalu membiarkan Seojun beralih gendongan pada mamanya. "Sebenarnya aku mau izin kepadamu."
"Izin? Untuk apa?"
__ADS_1
"Aku ingin mengajak Yeonjun dan Seojun ke taman bermain, disana ada bazar buku dongeng. Karena Yeonjun sangat suka dongeng jadi aku mengajaknya." Mirae menjelaskan. "Mungkin kami akan pulang agak larut sebab malam nanti juga ada kembang api."
"Wah, pasti mereka sangat senang." Younha mengangguk. "Tentu saja aku mengizinkan. Aku sedikit cemburu, karena kalian akan bersenang senang tanpaku."
"Aku akan mengirim uang jajan mereka ke rekeningmu." Ucap Younha segera menyalakan ponsel.
"Eh, tidak perlu." Mirae menahan tangan Younha. "Aku sudah bicara hal ini pada Jinan tadi pagi dan dia langsung menyerahkan kartu hitamnya. Hah, pria itu semakin tampan jika sedang mengeluarkan uangnya."
Mirae tertawa atas candaannya sendiri. Younha yang menyimak hanya tersenyum sebelum akhirnya bertatapan pada manik lembut Mirae—ia menjadi malu lantaran mengingat perkara tiga hari yang lalu saat ia menuduh lah bodoh pada Mirae dan Jinan. Merebut anak-anak—hah, Younha pasti tidak berfikir lurus saat itu.
"Bibi Mirae, kapan kita berangkat?!" Yeonjun bertanya dari tempat duduk samping resepsionis.
"Aku harus berangkat sekarang." Mirae kemudian menerima Seojun ke emongannya lagi. Lalu menggandeng Yeonjun. "Selamat bekerja kembali Younha."
Mereka berjalan ke depan pintu masuk. Younha mengikuti dan menunggu hingga mereka masuk mobil.
"Dadah mama!!!"
Younha membalas lambaian tangan Yeonjun. Lalu mobil berangkat perlahan, meninggalkan Younha dengan hati lega karena ketulusan Mirae menghangatkan hatinya.
"Younha-ssi."
Panggil seorang pria berpakaian kantor lengkap yang kini berjalan menghampirinya. Younha berbalik badan, sedikit membungkuk untuk memberi hormat pada orang yang berstatus ketua Tim Produksi itu.
"Ternyata anda disini. Saya mencari ke seluruh ruangan tim management tadi."
Younha tertawa kecil. "Maaf membuat anda bingung. Tapi, ada urusan apa hingga anda mencari saya?"
"Begini, direktur dari Daisy Group ingin bertemu denganmu."
"Daisy Group?" Younha mengernyit tak mengerti. "Ada urusan apa ya pak hingga direktur langsung yang ingin bertemu?"
"Kami juga tidak tahu." Jawab Pak Seunghun. "Tadi ada utusan dari perusahaan mereka membawa sebuah berkas. Saya sudah meletakkannya di meja kerja anda."
Younha mengangguk. "Baik, terimakasih pak."
"Tidak perlu khawatir Younha-ssi, jika menemui tim management biasanya untuk kerjasama internal." Pak Seunghun menjelaskan. "Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Oh, iya pak. Terimakasih atas infonya."
Setelah ketua tim produksi itu pamit, Younha juga ikut melangkah kembali sambil memikirkan berkas tentang apa itu. Karena selama bekerja di kantor, baru kali ini Younha mendapatkan tawaran kerja sama internal. "Daisy Group bukannya perusahaan Jinan?" Younha membatin. "Karena Jinan fokus di kepolisian maka perusahaannya dikelola sahabat kepercayaan Jinan."
Younha menghentikan langkah, mencoba ingat pada beberapa cerita Jinan tentang perusahaannya. "Berarti direkturnya—"
"Woojin?"
...*****...
__ADS_1