About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Cinta Datang Karena Terbiasa


__ADS_3

...🔥Warn 17+...


Hari ketiga perjalanan mereka di Busan, Jihoon melajukan mobil dengan tenang menuju lokasi observasi kedua yang letaknya agak jauh dari pusat kota, berdekatan dengan Pantai Haeundae. Dulu, di tahun pertama pernikahan mereka, Jihoon sering mengajak Younha jalan jalan menapaki pasir pantai di waktu sore. Sambil melihat senja perlahan memudar, genggaman tangan mereka semakin erat mengingat perjalanan cinta mereka yang bisa dikatakan sembrono.


Cinta yang tumbuh dari kesalahan.


Sambil mengingat masa masa itu, otot ringan disamping bibir Jihoon terangkat mengulas senyum tipis. Pria itu melirik Younha untuk memastikan sang mantan istri tidak memergoki senyumnya. Younha hanya fokus mengetikkan beberapa materi observasi yang telah ia catat dalam buku.


"Apa hanya aku yang merasa tidak nyaman disini?" Jihoon membuka pembicaraan dengan sedikit candaan.


"Kenapa merasa tidak nyaman?" Ucap Younha tanpa beralih dari ponselnya.


"Kamu serius sekali, berbicaralah padaku." Jihoon mendumel. "Karyawan mana yang menjadikan bosnya sebagai supir pribadi."


Younha terkekeh sumbang. "Aku tidak ingin mengganggumu."


"Dengan caramu diam saja malah menggangguku."


Dahi Younha mengkerut tiba-tiba ketika Jihoon memutar balik kemudinya dan parkir didepan sebuah kedai kopi familiar. Mesin mobil dimatikan, Jihoon melepas seatbeltnya sebelum menoleh pada Younha.


"Aku butuh Americano." Kata Jihoon berseri seri. "Biar semangat lagi, sekaligus istirahat sebentar."


Mereka memasuki kedai, Jihoon menahan pintu masuk dan membiarkan tubuh kecil Younha melewatinya menuju antrian pemesanan sedang dirinya berbisik pada seorang pelayan kafe untuk mem-booking sebuah meja didekat jendela.


"Wah, kenapa sekarang kopi banyak sekali variannya?" Celetuk Younha sambil memilih menu board. "Kamu yakin ingin Americano? Kurasa kamu anti dengan minuman pahit."


"Aku tidak butuh hal manis karena kamu."


Younha merotasikan mata, omongan Jihoon memang selalu random namun mematikan. Helaan nafas panjang ketika giliran mereka yang ditanyai pramusaji, Younha tampak bingung karena dia sangat jarang meminum kopi apalagi beli langsung di kedai seperti ini. Jihoon yang entah sejak kapan asik memandang wajah bingung Younha mulai tersadar, bahwa wanita itu kesusahan memilih menu.


"Bagaimana jika Cappucino?" Tawar Jihoon. "Itu tidak terlalu pahit."


"Baiklah, Cappucino."


Jihoon tersenyum lebar, menjelaskan pesanan mereka pada pramusaji. "Satu Americano dingin dan Cappucino dingin."


Saat menunggu pesanan mereka, beberapa pria bersetelan jas kantor barusaja masuk untuk mengantri pesanan dan tanpa sengaja seorang diantaranya menyenggol bahu Younha. Jihoon yang melihat itu pun langsung meraih bahu Younha untuk dilindungi, tubuh kecilnya sedikit digeser oleh tangan kekar Jihoon yang menangkup badannya.

__ADS_1


"Orang jaman sekarang susah sekali untuk minta maaf." Gerutu Jihoon lalu menerima kopi dari pramusaji yang mengatakan selamat menikmati.


Tangan Younha digenggam erat Jihoon menuju sebuah meja yang sudah pria itu pesan sebelumnya. Mereka duduk berhadapan, benar-benar menikmati kopi ditengah terik kota Busan.


"Kamu ingin coba kopi milikku?" Tanya Jihoon dengan senyum sumringah. "Orang-orang sering menilai dan mengatakan jika Americano pahit tapi menurutku tidak sepahit itu. Kurasa mereka hanya tidak bisa menikmatinya."


"Semua orang punya pendapat sendiri."


"Kalau begitu aku ingin mendengar pendapatmu." Jihoon menyodorkan kopinya didepan mulut Younha.


Younha pasrah, mencicipi sedikit kopi itu dengan ekspresi mengkerut walau akhirnya dia berkata bahwa itu enak. Jihoon tersenyum lebih lebar, terlihat seperti menyengir. Senyum mahal yang jarang pria itu perlihatkan dan sikap ramah yang jarang Younha lihat saat di kantor. Jihoon benar-benar bahagia tiga hari ini, observasi yang seharusnya menjadi beban malah membuat pria itu merasa santai. Senyum lebar hingga mata sipitnya makin menyipit saking senangnya. Younha melihat sikap ramah Jihoon saat ini menjadi sedikit takut. Takut akan terjatuh lagi padanya dan tidak bisa bangkit—seperti dulu.


"Hari ini kita kembali lagi ke hotel. Restoran klien kedua sedang tutup karena renovasi pendingin ruangan." Jihoon menjelaskan saat Younha terus mengaduk minumannya. "Besok kita mampir dulu ke apartemen ayah, beliau merindukanmu."


"Mas, kurasa kita menjalani ini hanya untuk perjalanan bisnis." Younha semakin bingung. "Maksudku, aku merasa tidak punya muka untuk bertemu ayahmu kembali. Sebenarnya, aku malu."


"Kenapa harus malu pada orang yang sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Ayah sendirian di rumah karena ibu tiriku sedang di Jepang. Kita juga jarang mengajak anak-anak untuk berkunjung maka dari itu saat tahu aku pergi ke Busan bersamamu, ayah meminta kita datang." Jihoon menjelaskan panjang.


Dagu Younha terangkat untuk menatap manik Jihoon dengan tatapan getir lalu tersenyum tipis.


"Kamu tidak mengerti yang kurasakan."


"Apa itu penting sekarang?" Younha berdecih, mengambil nafas panjang. "Dua tahun lalu—saat aku minta kita berpisah kukira kamu akan bertanya mengapa dan bagaimana pada perasaanku. Namun nyatanya hingga hari perceraian itu datang, tanpa sepatah katapun kamu melihat diriku yang menyembunyikan kekacauan atas jawaban "baiklah" darimu. Seolah jawaban itu yang telah kamu persiapkan sejak lama."


Jihoon terdiam, mengulang ingat kejadian dua tahun lalu yang membuatnya berpisah dengan wanita yang ia temui pertama kali di Britania Raya itu.


"Jika kamu bertanya sekarang bukankah sudah basi?" Younha mengatur nafasnya yang mulai terasa sesak bersama air mata yang ia tahan. "Waktu itu, jika—andai saja kamu mau bertanya tentang perasaanku, mungkin aku mau menceritakan bagaimana rasanya menjadi orang yang pura-pura tidak tahu."


"Younha—"


"Aku tidak membencimu. Aku juga tidak menyalahkanmu karena darimu juga aku memiliki Yeonjun dan Seojun. Mereka membutuhkan eksistensimu dalam tumbuh dan kamu sudah memenuhinya." Younha memotong ucapan tercekat Jihoon. "Kamu tidak salah karena mengejar seseorang yang kamu cintai, sama ketika dulu kita bersatu dalam cinta walau dengan jalan yang salah. Cintamu pada Hyejin tulus dan aku tahu itu walau caramu saja yang kurang menyenangkan. Jadi, kumohon jangan buat aku mengingat rasa sakit sendirian itu lagi."


Dengan kerjapan pelan, Jihoon mencerna semua curhatan Younha yang serasa menusuk jantungnya. Jihoon mengutuk dirinya sendiri yang telah membuat wanita sekuat Younha merasakan hal seperti ini. Younha berpisah dari Jinan karenanya dan kini dia juga yang melepaskan wanita itu.


"Oh, Pak Hyunwoo menelfon." Younha memecah lamunan Jihoon yang hanya menatap kosong cup kopi di depannya. Wanita itu pamit untuk menerima telfon setelah meminta maaf atas pembicaraannya yang tidak penting.


Perasaannya memang tidak penting bagi Jihoon, jadi semua terasa sia-sia.

__ADS_1


...*****...


Jihoon terus meremas stir selama perjalanan kembali menuju hotel. Younha tidak menyadari itu karena asik sendiri pada ponselnya. Tidak tahu bahwa Jihoon masih kepikiran dengan ungkapan Younha di kedai kopi tadi yang seakan dapat membuat kepalanya meledak.


Kenapa Younha tidak terus terang saja dengan perasaannya waktu itu? Kenapa dia hanya diam dengan senyum getir yang bahkan Jihoon tidak peka?


Entah mengapa rahang Jihoon ikut mengeras, amarahnya memuncak di ubun-ubun.


Hingga sampai di lift menuju kamar hotel, Younha baru menyadari ekspresi Jihoon saat berada di lift.


"Kamu kenapa?" Younha mengernyit saat menoleh dan mendapati Jihoon terlihat pucat. "Kamu sakit?"


Younha berusaha meraih tangan Jihoon namun segera ditepis. Jihoon melangkah tergesa dan itu membuat Younha semakin tidak mengerti lalu menggesek Card Acces di portal pintu tidak sabaran hingga mereka masuk dan Younha semakin terjengat saat tubuh kecilnya melayang dibanting ke belakang pintu dengan sebuah bibir yang mencumbunya cepat hingga suara pintu yang belum sepenuhnya tertutup itu menimbulkan suara lebih keras.


Pinggang sempit Younha di peluk posesif, sedikit diangkat untuk menyamakan tinggi pada pria itu agar mempermudah hisapan. Masing-masing jas kerja yang disampirkan di tangan mereka merosot ke lantai. Jihoon tidak memberi Younha celah sedikitpun untuk melawan walau tangan rantingnya berusaha menahan gerakan brutal Jihoon.


Tautan bibir mereka terhenti sejenak saat dirasa napas mereka mulai habis, tangan kekar Jihoon menapaki wajah lembut Younha. Mengusap pipi dan bibir bawahnya dengan sensual. Jihoon menatap manik Younha yang sedang mengatur nafas dengan lekat.


"Harusnya kamu memberitahuku." Bisik Jihoon putus asa didepan bibir Younha. "Ceritakan semua yang aku tidak ketahui. Dengan begitu aku tidak akan merasa sebersalah ini."


"Untuk apa merasa bersalah?" Bisik Younha balik. Mulai gila—dengan pengaruh hasrat Jihoon. "Cinta datang karena terbiasa. Kamu tidak salah mencintainya karena kamu tidak terbiasa dengan perasaanku. Tidak ada yang membuatmu sadar atas degupan jantung darimu untukku. Kamu tidak terbiasa denganku, maka dari itu kita berpisah. Kamu tidak salah Jihoon."


Kedua tangan ranting Younha merambat ke bahu Jihoon, tatapan mereka terkunci ditengah kelam yang sulit diartikan. Bibir mereka kembali bertemu. Kini lebih bergairah, Younha juga membalas ciuman berantakan Jihoon. Mata mereka terpejam, dengan kaki saling bertubrukan menuju ranjang hingga akhirnya Younha dijatuhkan perlahan pada permukaan sprei yang dingin.


Jihoon kembali memberi Younha jeda untuk bernapas sebelum melempar satu pertanyaan lagi.


"Bagaimana denganmu?"


Younha tersenyum getir. "Aku tidak mengejar. Hanya mempertahankan sebelum akhirnya melepaskan. Membiarkanmu memilih wanita yang lebih kamu cintai, membawamu pada kebahagiaan yang sesungguhnya."


Jempol tangan Jihoon terulur untuk mengusap bibir basah Younha ke kanan dan kiri lalu menekannya pada cumbuan yang lebih, lebih, lebih dalam dan bergairah. Tangannya beralih dari paha merambat ke pinggang—memeluknya, mengusap, bahkan meremasnya beberapa kali seolah mengisyaratkan rindu yang mendalam. Sementara jemari tangan Younha bergerak membuka dua kancing kemeja yang Jihoon kenakan lalu tanpa diduga suara dering ponsel menyela suasana mereka.


Younha membuka matanya, seolah kesadaran barusaja dikembalikan oleh malaikat—ia mendorong dada Jihoon untuk menjauh dan buru buru bangkit. Berapa terkejutnya Younha saat melihat keadaan Jihoon yang sudah acak acakan karena ulahnya.


Younha mengutuk dirinya sendiri. Mereka terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya Younha berlari menuju kamar mandi, mengunci pintunya kemudian memecahkan tangis disana. Dadanya benar-benar sesak entah karena apa.


Air keran dinyalakan kencang untuk menutupi tangis frustasinya.

__ADS_1


Aku barusaja memberitahumu agar tidak membuatku bingung Mas. Namun apa yang kamu lakukan barusan malah membuatku makin bingung yang tak bisa kutolelir......aku tidak mengerti.....


...*****...


__ADS_2