
Jihoon berkeliling mencari Younha hingga dini hari. Nomornya sudah tidak bisa dihubungi karena mati, mungkin ponsel Younha kehabisan daya. Jihoon sudah bertanya pada beberapa pemilik kedai dan masyarakat sekitar, namun mereka tidak melihat wanita seperti yang ditunjukkan Jihoon. Kemana tungkai kecilnya melangkah di kota metropolitan luas ini sendirian?
Pukul tiga pagi, Jihoon sampai di rumah neneknya dengan tangan kosong, tubuh tegapnya melemas dan menggigil karena suhu di sekitar pantai terus turun melewati angka nol. Jihoon tidak peduli, dia duduk di beranda rumah dan terus memeriksa ponselnya, berharap Younha akan menelfon—meminta dijemput dimana tempat wanita itu berada.
Jihoon bersandar di pilar kayu sambil menghembuskan nafas panjang, tanpa sadar membawanya termangu pada apa yang sudah ia lakukan tujuh tahun yang lalu. Berawal dari Britania Raya, dia bertemu Younha dan langsung menjatuhkan hati padanya. Memang benar yang dikatakan Younha jika cinta—juga bajingan. Cinta Jihoon yang hilang saat lima tahun yang lalu, ketika ia mulai mengingkari janji pernikahan yang ia ucapkan sendiri, bahwa dirinya akan mencintai dan melindungi Younha seumur hidupnya. Namun, yang Jihoon lakukan hanya terus membuat wanita itu menderita.
Mungkin Tuhan marah padanya. Tuhan sengaja memisahkan mereka sebagai karma atas perbuatan Jihoon. Tuhan sengaja membalik hati Jihoon setelah berpisah dengan Younha sehingga dia juga merasakan bagaimana mencintai sendiri, mencintai tanpa balasan, dan terluka atas cinta itu. Tuhan ingin Jihoon tahu bahwa Younha sangat berharga untuknya dan membuatnya menyesal yang amat menyakitkan—seolah membunuhnya perlahan.
Pintu gerbang besi berderit dan Jihoon spontan mengalihkan pandangannya lalu bersitatap dengan monolid wanita yang sangat ia khawatirkan semalaman. Younha mematung di ambang gerbang dengan ekspresi yang masih sama dengan tadi sore. Tubuh kecilnya seperti tenggelam dalam balutan mantel tebal entah milik siapa.
Jihoon bangkit dan melangkah perlahan mendekati Younha, saat itu juga dia baru sadar jika semburat mentari hampir muncul beriring cuitan burung yang bertengger diatas pohon. Jihoon menunggu Younha semalaman di luar ruangan, hanya dengan celana panjang dan kaus pendek tipis berkerah.
"Kamu darimana saja?" Tanya Jihoon dalam bisik. "Mengapa membuatku khawatir? Apa ada yang sakit? Apa kamu semalam tidur? Beritahu aku, Younha-ya."
"Aku ingin kembali ke Seoul hari ini juga." Kata Younha ketus. "Jika kamu tidak mau, aku akan kembali sendiri!"
Jihoon mengangguk girang, bahagia karena Younha masih mau berbicara padanya. Pria itu sangat takut Younha mendiamkannya—Jihoon tidak sanggup jika itu terjadi.
"Ya, kita akan pulang hari ini." Tukas Jihoon. "Apa kamu tidur dengan baik malam tadi? Aku sangat menghawatirkanmu. Kupikir kamu kembali ke Seoul tanpa memberitahuku."
"Itu tidak penting."
Telapak tangan beku Jihoon menapak pipi merona Younha, perbedaan suhu tubuh yang kontras itu membuat Younha reflek mendongak—menatap Jihoon dalam diam, menelisik wajah pucat, mata menghitam dan bibir birunya. Tangan Younha terangkat, menyentuh dahi dan pipi Jihoon dengan raut cemas.
"Badanmu panas?" Kata Younha saat dingin itu hanya sementara, yang dia rasakan kini tubuh Jihoon panas luar biasa. "Kamu demam. Kenapa tiba-tiba?"
__ADS_1
Jihoon menggeleng dengan senyum lalu membawa Younha ke dekapannya.
"Aku semalaman menunggumu." Gumamnya amat lirih. "Sekarang kamu sudah di pelukanku. Rasanya lega sekali."
Sesaat kemudian, Younha merasakan tubuhnya mulai berat sebab Jihoon pingsang di pelukannya. Mereka tersungkur bersama namun Younha merelakan lengannya terbentur lantai kayu beranda rumah untuk menyangga tubuh Jihoon.
"Mas Jihoon?!"
Younha panik, menepuk pelan wajah pucat pria itu yang mulai dialiri darah dari hidungnya.
...*****...
Younha bersandar ke dinding, memandang Jihoon yang terlelap diatas ranjang dengan selimut tebal. Nenek meletakkan kompres pada dahi Jihoon agar demamnya menurun. Alasan Jihoon mendadak lemah seperti itu karena udara dingin, tubuhnya hampir membeku karena semalaman terkena angin tanpa pakaian tebal.
"Kupikir Mas Jihoon harus menikah dengan Hyejin secepatnya, agar hal seperti ini tidak terjadi lagi." Younha berkata lirih, mencuri atensi dari sang nenek yang menumbuk daun teh kering di sampingnya.
"Hyejin?" Sang nenek tertawa kecil. "Nenek bahkan belum tahu bagaimana rupanya." Ujar nenek yang membuat Younha terkejut.
"Mas Jihoon belum pernah mengajak Hyejin bertemu nenek?"
Nenek menggeleng. "Katanya belum sempat, tapi nenek bisa menebak jika dia enggan menginjakkan kaki di gubuk sederhana nenek ini. Nenek dengar Eun Hyejin itu putri komisaris perusahaan ayah Jihoon yang sangat modis dan bergaya. Rumah seperti ini sama sekali tidak pantas untuk orang sepertinya."
"Bagaimanapun mereka harus cepat menikah, agar hidup mereka lebih mantap dan berjalan baik." Younha mendekati Jihoon, duduk di pinggiran ranjang untuk membenarkan kompres Jihoon yang tergeser karena pria itu bergerak barusan. "Mas Jihoon harus segera bahagia."
"Bagaimana denganmu?"
__ADS_1
"Aku?" Younha menunjuk dirinya sendiri. "Aku akan mendukungnya, Nek. Mas Jihoon sangat mencintai Hyejin sejak dulu."
"Kamu baik-baik saja?"
Younha mengerjap, mengalihkan pandangan pada Jihoon lagi. Ditanyai seperti itu membuat Younha bertengkar dengan dirinya sendiri, apa kamu benar baik-baik saja? Pria yang kamu cintai akan menikah lagi, kamu rela? Dia akan bahagia bersama orang lain dan meninggalkanmu sendirian. Kamu akan benar-benar melepaskannya? Kim Younha, lihatlah dirimu—kamu terlihat menyedihkan.
"Aku baik-baik saja, Nek." Jawab Younha tersenyum menahan perih. "Di masa depan, aku juga akan menemukan pria yang mau mencintaiku dengan tulus. Aku akan menyusul Mas Jihoon bahagia."
Tangan rentan Nenek terulur untuk mengusap punggung Younha, menyalurkan dukungan dan semangat juga permintaan maaf untuk semua sikap tidak menyenangkan Jihoon yang telah menyia nyiakan Younha. Kemudian nenek pamit keluar untuk membuat sup agar Jihoon bisa memakannya saat bangun nanti.
Setelah nenek menutup pintu, Younha kembali menatap wajah Jihoon, menaikkan selimutnya sambil menepuk nepuk lengan Jihoon seperti yang selalu ia lakukan pada Yeonjun saat sakit. Wajah Jihoon seperti anak kecil dimata Younha saat sedang sakit, membuatnya tersenyum sendiri.
"Kamu harus bahagia Jihoon-na." Bisik Younha, mengulas senyum tipis. "Jangan sakit dan jangan menangis lagi. Kamu tidak pantas menangis."
Tangan kanan Younha terangkat untuk menyibakkan poni Jihoon, barusaja jemari cantik itu menyentuh sehelai rambutnya—Jihoon bergumam lirih,
"....Hyejin...... Hyejin......"
Seketika Younha menarik tangannya kembali, lalu mengepal dengan bergetar. Manik Younha mulai berkaca-kaca, walau hatinya menangis lebih dulu sambil menertawai kebodohannya.
Memang benar jika kamu sangat mencintai Hyejin, Jihoon-na. Aku hampir saja percaya pada ucapanmu kemarin dan ternyata aku salah. Kamu bahkan mengigau namanya dalam tidur. Seharusnya aku yang sadar dan tidak menyimpan harapan—karena kamu memang sangat mencintainya.....
Aku yang salah....
...*****...
__ADS_1