
Otak Mirae berpikir tiga kali lebih keras dari biasanya saat menangani kasus pasien kanker hati. Dahinya terus berkerut sambil meremas ujung kertas hasil catatan pemeriksaan medis yang kini tergeletak didepan mejanya dengan tatapan kosong. Menangani pasien dengan penyakit serius bukan menjadi kendalanya karena memang Mirae dokter dalam bidang itu, namun melihat siapa pasien yang harus ia tangani membuatnya kehabisan kata-kata.
Mirae menghela nafas panjang sebelum akhirnya meraih selembar kertas itu menuju sebuah ranjang pasien yang hanya dibatasi gorden di ruang IGD.
"Bagaimana kondisinya?" Tanyanya pada seorang paramedis.
"Tekanan darah dan denyut nadinya sudah normal, Dok."
Mirae mengangguk. "Kalian bisa pergi, aku yang akan melanjutkan."
"Baik."
Kedua paramedis itu pamit setelah merapikan beberapa peralatan. Mirae menatap pasien wanita yang hanya memandang lurus kedepan—dengan wajah pucat penuh kesedihan. Namun, wajah wanita itu malah mengulas senyum balik menatap Mirae yang serasa ingin menampar wajahnya seperti yang sudah wanita itu lakukan pada Younha. Sial menerima kenyataan bahwa ia harus memiliki pasien seperti Hyejin, tangannya terasa kotor.
"Kenapa wajahmu tidak tenang dokter Mirae?" Hyejin mulai bersuara. "Aku ingin tahu bagaimana kondisiku."
Mirae berdecih kecil, mengambil duduk di kursinya dekat ranjang Hyejin. Dia ragu untuk mengatakan apa isi pemeriksaan itu, terlalu ambigu untuk dikatakan tidak khawatir.
"Kamu tahu jika kamu punya penyakit yang cukup serius?" Mirae berkata lirih walau nadanya sedikit sebal.
"Ah, apa aku akan mati?"
"Aku selalu berharap kamu mati agar tidak ada yang menyakiti Younha sepertimu. Tapi apa kamu tidak berpikir jika akan ada orang lain yang itu sakit jika kamu seperti ini?" Mirae meremas catatan di tangannya. "Sejak kapan kamu menggunakan narkoba?"
Mendengar penuturan Mirae mengintimidasi dirinya, Hyejin tidak takut sama sekali. Wanita itu menatap iris Mirae lekat seolah menyalurkan isi hatinya bahwa ; Benar, aku wanita paling bahagia hingga orang yang tidak mengerti tak akan pernah menduga jika aku menggunakan obat sebagai temanku. Kalian tidak pernah tahu, aku yang paling kesepian disini.
"Kenapa kamu peduli?" Jawab Hyejin santai tanpa takut. "Aku akan mati setelah ini, jadi kamu tidak perlu repot-repot mengurusku dokter Mirae."
"Apa Jihoon tahu?"
Hyejin menggeleng.
"Aku akan menghubungi Jihoon." Mirae mengambil ponsel di saku jubah kedokterannya namun langsung dicekat Hyejin.
"Aku tidak ingin dia tahu." Hyejin tertawa kecil. "Tidak ada yang serius 'kan?"
"Kanker hati stadium awal." Bisik Mirae dan Hyejin spontan menoleh padanya dengan manik bergetar. "Berawal dari dehidrasi lanjut dan itu merambat pada tekanan darah yang terus menurun hingga Hipotensi Ortostatik. Tubuhmu kekurangan banyak cairan sedangkan otakmu tak pernah berhenti bekerja. Organmu sedang kelelahan dan kamu terus melawannya dengan narkotika. Hyejin, apa kamu tidak sadar?"
Kelopak matanya sudah lelah berkedip untuk membendung air mata. Hyejin menghela nafas panjang, kondisi lima tahun yang lalu datang lagi, kini lebih menakutkan. Dia butuh Jihoon saat ini, namun melihat pria itu mengabaikannya selama dua Minggu terakhir—Hyejin sadar jika dia sudah kalah dan tidak punya harapan. Jadi, bukankah mati adalah pilihan yang tepat? Hyejin hidup untuk Jihoon, jika pria itu sudah tidak mencintainya lalu untuk apa hidupnya yang tidak berguna?
"Aku cukup sadar hingga apa yang kujalani sampai Jihoon berkorban untuk pernikahannya sendiri. Bukan Younha yang paling menderita, bukan aku juga yang paling menderita," Satu bulir air mata meluncur dari sipit Hyejin. "tapi Jihoon, dia yang menyelamatkan hidupku lima tahun yang lalu. Dia berkata akan mengurusku dan membuatku bahagia sampai mati, dan kini mungkin tugasnya akan selesai. Karena aku akan mati, jadi Jihoon bisa merasakan bahagia yang sesungguhnya. Younha—"
"Tidak bisa." Mirae memotong. "Jihoon tidak akan kembali pada Younha."
"Apa—karena kak Woojin?"
Mirae terdiam cukup lama. Dia dokter, tidak bisa membawa urusan pribadi hingga pasiennya down.
__ADS_1
"Istirahatlah, aku akan menunggu keputusanmu untuk mengambil perawatan lanjut." Kata Mirae bangkit setelah memberikan catatan medis itu. "85% kesembuhan bagi kanker stadium awal. Kuharap kamu sadar dan tidak terus terperangkap dalam kegilaan."
Kedua tangan Mirae terbungkus di masing-masing saku jubah kedokterannya. Setelah memastikan infus menetes sesuai dosis, wanita itu melangkah pergi—berhenti sejenak untuk mendengar bisikan Hyejin.
"Jangan sampai Jihoon tahu. Aku akan ikuti prosedur medis asalkan dia tidak tahu."
Mirae berbalik sejenak. "Bagaimana bisa kamu melewati ini sendirian?"
"Aku bisa." Lirih Hyejin. "Aku percaya padamu."
Dengan anggukan terpaksa, Mirae melangkah dengan helaan nafas panjang. Dia harus memberitahu Jinan tentang masalah ini.
...*****...
Jinan bertopang pinggang sambil memegang daun pintu kamar mandi, melihat istrinya yang terduduk dipinggir tempat tidur dengan raut gelisah. Sejak pulang dari rumah sakit, Mirae terus melamun atau memikirkan suatu hal yang sangat serius bahkan jika Jinan bertanya—tidak ada jawaban yang lebih panjang dari tidak apa-apa.
"Kamu mau temani aku mandi?" Tanya Jinan terselip nada menggoda, tapi Mirae tidak merespon malu-malu seperti biasanya. "Kenapa? Apa ada yang mengganggumu? Apa ada operasi sulit yang harus kamu lalui?"
Jinan beranjak untuk duduk disamping Mirae, menggenggam jemari ranting itu dan terus bertanya ada apa. Mirae yang tidak pernah menyimpan rahasia pun jadi panik dan cemas. Bagaimana jika Jinan tidak mendukung keputusannya tentang Hyejin?
Tidak. Mirae tidak bisa berpikir sendiri, dia butuh saran dari orang terpercaya untuk urusan seperti ini. Setelah menghela nafas panjang, Mirae menatap manik Jinan yang masih menunggu dengan khawatir.
"Ada yang ingin aku katakan padamu." Mirae berkata gagu, Jinan mengangguk dan masih menunggu. "Berjanjilah kamu akan membantuku."
Jinan mengusap punggung tangan istrinya. "Tentu saja. Jangan takut dan katakan, sayang."
Jinan mengerjap, pegangan tangannya mengendur perlahan.
"Aku akan katakan keseluruhannya dan kamu harus beritahu Jihoon secara langsung." Lanjutnya. "Hubungan mereka—"
"Aku sudah tahu."
"Kamu sudah tahu?" Mirae melotot, Jinan bahkan setenang itu menghadapi kenyataan yang sulit dipercaya. "Kamu tahu dari awal tentang hubungan mereka tapi membiarkan Younha menderita?"
Jinan menggeleng. "Tidak ada yang bisa kulakukan untuknya, Younha juga tidak akan percaya apa yang kukatakan. Tapi Jihoon, dia bahkan tidak pantas untuk dimaafkan tapi orang mungkin akan kasihan padanya setelah tahu hal apa dibalik sikap pengecut dari Lee Jihoon."
Mirae mencoba untuk menahan emosi, tidak tahu harus menyalahkan atau membalikkan hati pada bajingan itu.
"Apa dulu Hyejin juga sakit?"
"Dia bahkan hampir mati." Jinan terdiam sesaat. "Sebentar, kamu bilang juga?"
Mirae mengangguk cepat. "Dia pasienku sekarang. Kanker hati stadium awal."
"Kanker hati?"
"Dia bahkan pecandu narkoba." Decakan Mirae sebal bercampur kasihan. "Apa dia tidak bahagia selama ini hingga dapat tekanan mental yang begitu dalam? Dan menurut hasil pemeriksaanku, zat obat terlarang itu mengendap sekitar dua tahun terakhir. Apa dulu dia tidak menggunakannya?"
__ADS_1
Jinan menggeleng, benar memang dulu Hyejin tidak menggunakan obat itu. Keluarga Jihoon dekat dengan keluarga Hyejin dan awal dari sakit yang diderita wanita itu adalah saat tahu Jihoon menikah dengan Younha. Hyejin beringsut sakit dan tidak kunjung sembuh, dalam keadaan setengah sadar wanita itu terus mengucap nama Jihoon.
Orang tua Hyejin hampir putus asa dan Jihoon tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga rencana awal dimana Jihoon hanya sebagai semangat hidup Hyejin berakhir seperti sekarang.
"Aku sebenarnya tidak bermaksud mengeratkan hubungan Jihoon dan Hyejin, namun saat ini dia sedang sakit serius dan dukungan Jihoon sangat berarti." Mirae meraih tangan suaminya. "Hyejin ingin merahasiakan ini dari Jihoon tapi aku tidak bisa, kita harus memberitahu yang sebenarnya. Jika Hyejin sangat mencintai Jihoon, bukankah dia obat terbaik bagi penunjang semangat hidup Hyejin?"
Jinan terdiam, tampak berpikir panjang. "Aku akan bicara dengan Jihoon perlahan."
"Terimakasih, Jinan."
...*****...
"Apa Om Woojin sudah pulang?"
Dengan mulut penuh pangsit rebus, Yeonjun mengunyah makanannya sambil celingukan mencari sosok yang menemaninya tidur tiga puluh menit yang lalu. Bocil itu menghampiri Younha di konter dapur saat sedang memasukkan belanja tadi siang kedalam kulkas lalu mengaku lapar sebab mimpi dikejar T-rex.
"Om Woojin besok harus bekerja." Younha mengelap remahan pangsit di sudut mulut sang putra.
Yeonjun cemberut. "Padahal kakak ingin bermain lagi dengan Oom Woojin."
"Suka sekali sama Om Woojin?"
Putranya mengangguk girang. "Om Woojin baik, sama seperti Ayah."
Mendengar kata Ayah membuat Younha menurunkan senyumnya perlahan, dia mengusuk rambut Yeonjun pelan. Si kakak mungkin tidak mengerti tapi melihat Younha tiba-tiba murung, bocah lima tahun itu merasa aneh.
"Kakak ingin bertanya pada Ayah—apakah Ayah masih menyayangi Mama, kakak, dan Seojun? Kalau tidak lagi, tidak apa-apa." Yeonjun menggenggam satu tangan sang Mama dengan telapak tangan kecilnya. "Tidak apa-apa jika Ayah tidak menyayangi Mama, kakak, dan Seojun lagi. Banyak yang akan menyayangi kita. Om Jinan, bibi Mirae, bahkan Om Woojin. Kakak juga sayang sekali sama Mama."
Younha tidak tahu lagi harus berkata apa selain memeluk Yeonjun, memeluk buah hatinya. Jahat jika Younha menganggap tidak dicintai oleh siapapun, padahal Yeonjun dan Seojun selalu ada di sisinya—mereka mencintainya sama seperti dia mencintai mereka. Younha harusnya merasa cukup dengan anak-anaknya.
"Oh ya, kakak lupa." Yeonjun melepas pelukannya. "Kemarin kakak main lomba lari sama adek dan tidak sengaja menabrak buffet Mama, bunga diatas sana terguling dan airnya tumpah. Yeonjun ingin membersihkan tapi tidak sampai."
Younha tertawa kecil kemudian mencubit pipi gembul putranya. Pingpong Yeonjun hampir menangis karena takut Mamanya akan kecewa, jadi bocil itu berkata sambil memasang wajah imut.
"Tak apa, nanti akan Mama bersihkan. Lagipula bunganya sudah layu, Mama akan membuangnya." Suara lembut Younha sukses membuat Yeonjun tersenyum lagi. "Kalau makannya sudah selesai, kakak masuk kamar dan tidur ya, nanti Mama menyusul."
Yeonjun mengangguk senang, meninggalkan mangkuk supnya dengan sedikit genangan kuah lalu berlari ke kamar.
Sementara Younha menghampiri vas plastik yang memang sudah terguling dengan bunga tulip putih layu dan menghitam. Sambil mengelap sisa air, dia teringat saat bunga ini datang bersama sebuah surat. Langsung saja ia mencari surat itu dibalik tumpukan buku diatas buffet.
Younha makin penasaran, dia duduk kembali di kursi meja makan sambil mengibaskan surat yang kini hampir sepenuhnya ditutupi oleh debu. Dia kira berisi uang atau cek karena sedikit tebal. Isinya ditarik perlahan dan terlihat selembar kertas putih yang nampak penuh tulisan tangan.
Monolid Younha mengerjap saat baru melihat tulisan itu, tidak asing dengan bahasa penulisan yang sangat ia kenal.
Tanpa sadar air matanya menetes dengan tangan bergetar. Demi Tuhan, ada apa ini?
...*****...
__ADS_1