
Seharusnya pagi diawali dengan senyuman dan keceriaan karena itu menentukan perjalanan hidup dalam sehari. Namun pagi ini Younha benar-benar sebal. Marah dan kecewanya campur aduk jika mengingat kejadian kemarin belum lagi kini ia harus berhadapan dengan selingkuhan mantan suaminya itu yang tiba-tiba memanggil Younha ke ruangannya.
"Aku akan terbang ke Jepang besok." Mulai Hyejin menatap Younha yang berdiri didepan meja kerjanya. "Kuharap kau bisa menjaga diri."
"Apa maksudmu?" Younha menjawab nyalang. "Kau takut aku akan menggoda mantan suamiku lagi?"
Hyejin bangkit, kini mendekati Younha dan berdiri disampingnya. Menyamakan tinggi dengan wanita itu. Awalnya Younha bisa mengontrol amarahnya setelah tahu sikap dan kebaikan Hyejin pada anak-anaknya, namun hari ini tatapan Hyejin berbeda. Wanita itu seolah bertopeng dua, ekspresi licik itu tersirat jelas dari netranya.
"Apa kau mendedikasikan dirimu sebagai wanita ja*ang sekarang?" Hyejin mendesis. "Kalian bertemu diam diam, bertelfonan di tengah malam. Menurutmu aku tidak tahu?"
"Kau memanggilku hanya untuk bertanya itu?" Younha bertanya balik. "Aku tidak punya waktu."
"Jangan sok sibuk, aku bisa membuatmu menganggur detik ini juga." Ancam Hyejin menyilang kedua tangannya.
Younha benar benar tidak percaya dengan sikap dingin Hyejin saat ini. Kemana sikap ramahnya selama ini? Apa Hyejin hanya bersandiwara untuk mendapat perhatian Jihoon?
"Apa maumu?"
"Jauhi Jihoon."
"Aku tidak bisa karena dia ayah dari anak-anakku."
"Aku minta kau yang menjauhinya bukan anak-anak."
"Kau bodoh?" Younha sedikit membentak geram. "Kau pikir selama ini aku tidak menjauh? Harusnya kau tanyakan sendiri dengan kekasihmu kenapa dia diam diam menemui dan terus menelfonku. Bukannya malah menuduhku yang disini aku hanya korban." Ia tersenyum miring, mengangkat wajah dengan berani pada putri komisaris itu. "Oh, mungkin kau tidak membuat mas Jihoon nyaman?"
"Lancang sekali!!"
"Aku bahkan tidak berbuat apapun, tidak berusaha membujuk mas Jihoon agar mau rujuk kembali—tapi lihatlah kau yang malah ketakutan seolah kekasihmu mulai bosan dengan servismu." Sorot mata Younha menjadi dingin. "Kau yang membuatku bercerai dengan Jihoon jadi kumohon jaga sikapmu. Aku juga tidak pernah menyinggung tentang suamiku yang kau rebut. Kau sudah Menang Hyejin, apa semua itu tidak cukup untuk meyakinkan bahwa Jihoon tidak akan meninggalkanmu?"
Tatapan mereka menajam, Younha memutus tatapan itu dengan pamit hormat meninggalkan ruangan. Percakapan ini tidak penting menurutnya.
"Yeonjun dan Seojun akan ikut bersama kami."
Seketika Younha berbalik. Monolidnya melotot tak percaya pada perkataan Hyejin. "Apa?!"
"Mas Jihoon juga punya hak asuh atas mereka." Kata Hyejin dengan nada sinis. "Kami akan segera menikah dan hak asuh Yeonjun dan Seojun akan kami ambil dengan alasan dapat lebih memenuhi kehidupan mereka."
"A-apa? Tidak!!" Younha mengernyit tak mengerti, dadanya tiba-tiba sesak. Membayangkan kedua putranya tidak bersamanya, Younha tidak bisa. Mereka satu satunya kebahagiaan Younha, bagaimana ia bisa hidup tanpa putranya. "Jangan egois Hyejin. Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan anak-anakku bersama orang licik sepertimu."
"Hukum bisa saja berubah." Ekspresi Hyejin menjadi lebih licik dan tak berperasaan. "Bahkan Yeonjun sudah memanggilku bunda kemarin."
"Tidak mungkin." Younha menggeleng rapuh. "Jangan racuni pikiran anakku!!"
__ADS_1
"Jangan khawatir Younha, mereka juga anakku." Kata Hyejin mengusap sebelah pundak Younha lembut. "Aku juga ibu mereka, jadi tak apa 'kan jika mereka tinggal bersamaku. Bersikaplah seperti biasanya. Kamu selalu senang saat aku menggendong Seojun."
Younha menyekat lengan Hyejin yang berjalan melewatinya. "Katakan jika kamu hanya bercanda. Katakan Hyejin!!"
"Aku tidak punya waktu." Hyejin menepis tangan lemas Younha lalu meninggalkan ruangannya lebih dulu.
Dengan tangis yang mulai merembes, Younha bertumpu pada sebuah meja sambil memegangi dadanya yang sesak. Tidak percaya hal seperti ini akan terjadi. Lalu bagaimana hidup Younha tanpa kedua putranya? Kenapa Jihoon tega membuatnya menderita?
...*****...
"Ada apa Younha?"
Mirae memegangi tangan Younha yang hanya berpaut diatas pahanya. Sejak awal bertamu, wanita itu tidak berkata apa-apa. Hanya terdiam menatap secangkir teh yang mulai mendingin. Baru lima menit Mirae kembali dari rumah sakit, Younha datang bersama Yeonjun dan Seojun yang tampak ketakutan. Mirae memandangi wajah murung yang tergambar kesedihan, wajah itu murung dengan bibir pucat dan mata sembab.
"Aku akan menelfon Jinan. Kurasa kamu dapat bercerita dengannya." Mirae yang akan bangkit mengambil ponsel pun dicekat tangan ranting bergetar itu.
Younha menggeleng. "Aku tidak ingin merepotkan Jinan."
Mirae menghela napas. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu bercerita. Kamu bisa istirahat saja di apartemenku, aku akan menjaga Yeonjun dan Seojun."
"Hanya—" Younha menghembuskan nafas bergetar dan memaksakan senyum. "—aku lelah. Aku lelah bekerja, mengurus rumah dan anak-anak. Tidak apa-apa 'kan jika aku merasa lelah? Terkadang aku merasa baik baik saja tapi sekarang aku sadar ternyata aku—sangat lelah."
"Berhentilah bekerja." Mirae mengusap punggung tangan Younha. "Mas Jihoon telah mencukupi kebutuhanmu dan anak-anak. Jangan keras pada dirimu sendiri. Seojun masih bayi, dia butuh perhatian lebih darimu."
Kurang dari dua puluh menit, Jinan telah sampai. Ia berlari cepat dengan rambut yang tersibak. Ekspresinya benar-benar khawatir.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Jinan berjongkok diantara keduanya yang duduk disofa, walau lebih didepan Younha.
"Aku tidak tahu." Jawab Mirae sendu. "Dia tidak mau bercerita."
"Younha, kamu kenapa? Katakan padaku. Jangan menangis."
Mirae menatap suaminya yang kini mencoba menangkan Younha dengan mengusap bahunya. Nada bicara Jinan lembut dan penuh perhatian. Dalam batin Mirae sedikit terbesit pertanyaan. Seberapa dalam cinta Jinan pada Younha dulu?
"Aku hanya lelah." Younha mengusap wajah basahnya. "Aku hanya ingin menangis seperti bayi, tidak apa-apa 'kan?"
"Dasar cengeng." Jinan mengusap pucuk kepala Younha sebelum menoleh pada Mirae yang hanya terdiam dari tadi. "Sayang, antar Younha istirahat dikamar ya, agar nanti setelah bangun tubuhnya lebih ringan."
Mirae mengangguk dengan senyum tipis, menuntun Younha menuju kamar dan menemaninya hingga tidur. Sementara Jinan menuju kamar lain untuk memastikan Yeonjun dan Seojun juga sudah terlelap.
...*****...
"Younha tidak mengatakan apapun?"
__ADS_1
"Hm, dia hanya terus berkata lelah." Mirae memainkan kesepuluh jemarinya. "Apa Younha bertengkar dengan Mas Jihoon? Bukan maksud ingin ikut campur, tapi aku tahu persis Younha. Dia tidak peduli dengan Jihoon, bahkan jika bertengkar pun Younha tidak akan seperti ini. Dia itu wanita yang acuh, selama tidak menyangkut anak-anak, Younha tidak peduli." Mirae menatap suaminya dengan alis mengerut. "Apa ini ada hubungannya dengan anak-anak?"
"Aku juga tidak bisa memberi kepastian." Jinan mengangkat dagu, menatap manik Mirae yang tampak gelisah lalu mengelus pipinya lembut. "Mungkin Younha memang lelah sayang, ada beberapa urusan menumpuk dan ia kelelahan. Makanya emosinya tidak stabil."
"Benar juga." Mirae mengangguk. "Jinan, bagaimana jika kita yang menjaga Yeonjun dan Seojun saat Younha tidak stabil seperti ini? Aku takut mereka akan menambah lelah Younha, maksudku kita bisa memberi Younha waktu untuk rileks tanpa beban anak-anak. Bagaimana?"
"Seojun masih menyusu." Jinan memberitahu. "Yeonjun juga tidak bisa jauh dari mamanya."
"Aku tahu." Mirae mengulum bibirnya. "Tapi, ini demi kebaikan Younha dan anak-anak. Aku tidak ingin mendengar kabar Younha menyakiti mereka saat emosinya tidak stabil. Semua hal bisa saja terjadi 'kan?"
Jinan hanya terdiam mencerna kata Mirae. "Kamu sekarang juga tidak bisa terus dirumah."
"Ya, aku tahu. Tapi aku bisa mengambil shift malam saja, untuk pagi hingga siang aku bisa menjaga Yeonjun dan Seojun."
"Nanti kamu kelelahan sayang."
"Tentu saja tidak." Mirae tersenyum lebar. "Aku senang bisa menemani anak-anak bermain, membuatkan makanan lezat, menidurkan mereka. Aku sangat senang bisa menjadi mama mereka walau sebentar."
Younha yang sudah tidak tahan menyembunyikan diri dibalik dinding pun menampakkan dirinya. Air matanya merembes melewati pipinya mendengar perkataan tidak masuk akal Mirae. Menjadi mama dari Yeonjun dan Seojun? Apa maksud wanita itu?
"Jadi ini alasan kalian berlaku baik padaku?" Younha mulai terisak. "Kalian berencana merebut anak-anakku? Merebut kebahagiaanku satu satunya?!!"
"Younha, bukan begitu maksudku." Mirae yang terkejut segera berdiri dari kursi makan, begitu juga Jinan. "Aku tidak ingin merebut anak-anakmu. Aku hanya ingin membantumu menjaga mereka."
"Pembohong!!!" Younha berlari menemui kedua putranya lalu menggendong Seojun dan menggandeng Yeonjun yang hanya terdiam tidak mengerti.
Dengan cekatan Jinan menghadang Younha yang menuju pintu, sedang wanita itu dengan erat memeluk Seojun dan menyembunyikan Yeonjun dibalik kakinya. "Kalian tidak akan pernah bisa merebut Yeonjun dan Seojun! Mereka anak-anakku!!"
"Younha tenanglah, kamu sedang tidak bisa berfikir lurus." Jinan berkata hati-hati. "Aku tidak akan merebut mereka, kamu salah faham."
"Minggir dari hadapanku!!"
"Jika kamu pergi dengan keadaan kacau seperti ini malah bisa membahayakan mereka." Jinan makin khawatir. "Pikiranmu sedang kosong Younha!"
Disaat Younha lengah dan merenungkan ucapan Jinan—secepat kilat pria itu mengambil Seojun dan memberikannya pada Mirae, begitu juga dengan Yeonjun.
Hati Younha sakit sekali, ia tersungkur ke lantai sambil terus menangis. Yeonjun yang melihat mamanya seperti itu segera menghampiri, mengusap pipi basah sang mama dengan tangan kecilnya. Younha memeluk anaknya erat, mengucapkan kata maaf berkali-kali. Entah maaf untuk apa, Yeonjun tidak tahu. Mamanya tidak berbuat salah.
Jinan menghembuskan nafas panjang, ikut berjongkok memeluk keduanya. Lengan kokohnya mendekap Younha dan Yeonjun—berusaha menenangkan keduanya yang sama-sama menangis.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Younha?" Bisik Jinan, matanya ikut berkaca-kaca.
...*****...
__ADS_1