
Hujan lagi.
Dunia siang harusnya makin terang, tapi langit mendung seakan tak mau bergeser sedikitpun. Cuaca hari ini mungkin tidak terlalu bagus, tapi siapa tahu jika kabar baik akan datang tiba-tiba?
Sudah satu bulan sejak drama-drama tak terduga itu berlalu di hidupnya, Younha masih berbenah memantapkan hati untuk Jihoon yang setiap hari tidak pernah bosan mengirimkan bunga dan bertanya kabar, menemui kedua putranya serta memperbaiki segala sikap yang belum pernah pria itu tunjukkan sebelumnya.
Jihoon sudah berubah, ya, Younha mengakuinya. Lalu apakah Younha akan menerimanya kembali? Tentu saja. Tapi tidak sekarang. Dia sengaja memberi waktu bagi Jihoon agar mau menunggu dan berjuang lagi selama dua tahun untuk membayar kesalahannya.
Walau Younha mulai luluh dan mau tinggal di rumah impian yang Jihoon berikan. Rumah nyaman yang memiliki taman dan halaman sendiri, bunga yang tertanam rapi dengan dua pohon besar di sudut tamannya. Indah sekali. Tempatnya yang sedikit menjauh dari pusat kota dan tidak terlalu padat penduduk, membuat Younha sering tersenyum geli jika mengingat basecamp Jihoon di Britania Raya. Hah, apa kabar basecamp itu? Younha ingin sekali mengunjunginya dan membuat pohon natal yang penuh lampu dan hadiah.
Tiba-tiba Younha merindukan Oxford. Masa-masa berjalan menelusuri kawasan universitas yang memiliki arsitektur khas Inggris dengan sentuhan peninggalan abad dahulu. Bodleian Library, salah satu perpustakaan tertua dan terbesar di Eropa, serta Christ College yang terkenal karena keindahan arsitektur gotiknya, membawa suasana dalam film-film Harry Potter.
Suasana dan pemandangan sore hari di tepian sungai Thames saat musim gugur, dimana pantulan sinar mentari senja jatuh di permukaan air. Bak cermin alam berwarna kuning keemasan. Melihat daun-daun kuning bertebaran dimana-mana. Saat Younha duduk bersama Jinan sambil bersandar di bahunya.
Mengingatnya saja dapat membawa Younha bahagia, walau Jihoon masih berperan sebagai figuran saat itu.
"Ekhm, hm. Sepertinya ada seorang putri yang menunggu pangeran datang?"
Younha beralih dari laptopnya dan menoleh ke asal suara. Melihat Jihoon dan kedua putranya yang masih di ambang pintu sambil menyembulkan kepala mereka. Kemudian Jihoon menahan pintu dengan lengannya dan membiarkan yang lebih kecil masuk dulu untuk bersalaman.
"Bagaimana? Kakak sudah melihat tempat sekolahnya?" Tanya Younha, meletakkan empat gelas jus kotak lalu ikut duduk bersama.
"Kakak sudah lihat!" Pingpong Yeonjun antusias. "Bagus sekali, Mama. Tadi juga bertemu teman-teman kakak. Mereka baik sekali."
"Seojun juga senang bermain prosotan!!" Adiknya ikut bersuara.
"Tapi Mama, tadi Seojun menangis karena es krimnya terguling." Yeonjun terkikik. "Bukankah kakak sudah bilang untuk pilih yang pakai cup saja jadi tidak akan jatuh dan kamu menangis seperti bayi."
"Seojun tidak bayi!!"
"Masih bayi gendut!!"
"Sudah, sudah. Kalian berdua masih bayi bagi Ayah. Tapi memang tidak terasa ya, bayi-bayi Ayah sudah sebesar ini." Jihoon mencubit pipi kedua putranya bergantian. Membuat sang empu terkikik geli.
"Tapi bukankah menyenangkan jika punya adik bayi lagi?" Yeonjun menyahut tiba-tiba, Younha langsung menoleh kaget.
Jihoon yang barusaja meneguk minumnya langsung berbinar senang. "Benar sekali, kakak!"
"Kita bisa mencubit pipi gendutnya."
"Benar sekali."
"Terus nanti kakak bantu ganti popok." Seojun ikut menyahut.
"Benar sekali."
"Tidak ada yang benar." Younha menyela sewot. "Kalian kakak dan adik saja sering berkelahi dan berebut."
"Kita bisa berkelahi bertiga kok." Jawab Seojun dengan polosnya.
Jihoon yang melihat Younha mulai terdiam, perlahan menghasut kedua bocilnya.
"Tapi sayang sekali, adek bayinya baru akan datang dua tahun lagi." Jihoon memanyunkan bibir, mencuri atensi kedua saudara kecil itu.
"Kenapa?"
Jihoon menghela napas. "Mama masih belum mau berbaikan dengan Ayah."
"Apa kalau Mama berbaikan dengan Ayah, adek bayinya bisa segera ada?" Yeonjun penasaran.
"Apalagi jika Yeonjun dan Seojun bisa membujuk Mama, mungkin adik bayinya besok langsung dibuat." Jihoon berbisik didepan wajah kedua putranya yang berekspresi serius, sementara Jihoon menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya agar Younha tidak bisa mendengar. Ada-ada saja, padahal Younha tepat di samping mereka.
__ADS_1
"Adik bayinya dibuat dari tepung 'kah?" Tanya Seojun kemudian. "Apakah seperti kukis?"
"Ditambah margarin juga biar lembut." Yeonjun menyahut.
Jihoon tertawa kecil. "Terus Ayah kasih dua telur biar bentuknya bagus. Ayah yang aduk adonannya dan Mama akan memanggangnya di oven."
Ketiganya langsung tertawa dengan candaan mereka sendiri. Sementara Younha diam-diam mencubit lengan Jihoon sambil mengerutkan dahinya. Lucu sekali. Jika Yeonjun dan Seojun benar-benar membayangkan kukis, maka Jihoon menjadikan objek pertama sebagai ranjang dan oven berada di perut Younha.
"Sudahlah, kita bicarakan adik bayinya dua tahun lagi." Kata Younha sembari membereskan gelas, sementara Ayah dan dua anaknya itu masih bisik-bisik menyusun rencana.
Jihoon menang banyak sepertinya.
...*****...
"Pokoknya ingin makan tteokpokki pedas sekarang juga!"
Sudah lima belas kali, bibir Mirae melengkung ke bawah sambil bergumam ingin makanan pedas itu. Membuat Jinan yang menyetir pun gemas sendiri. Tidak biasanya sang istri merengek seperti ini. Sejak pulang dari rumah ibu di Gangwon, Mirae selalu makan makanan pedas padahal wanita itu punya asam lambung tinggi—itulah yang membuat Jinan tidak mau menurutinya.
"Kamu tidak mau menurutiku lagi?" Gerutu Mirae begitu mobil mereka masuk gerbang apartemen. "Kamu mengabaikanku?"
"Bukan begitu." Jinan mendengus kasar, lalau menatap wajah cantik di sampingnya. "Aku takut perutmu sakit jika makan pedas terus. Sejak kemarin kamu makan pedas. Apa tidak panas di tubuhmu?"
"Pokoknya mau tteokpokki, tteokpokki, tteokpokkiiiii!!!!"
Jinan terdiam sejenak, mengetuk-ngetuk kemudian sambil memutar otak. Memikirkan yang kemungkinan terjadi pada istrinya yang tiba-tiba bersikap seperti anak kecil minta es krim ini. Hingga sebuah pemikiran melintas di kepalanya. Jinan menoleh, menggenggam tangan sang istri yang terlihat kebingungan.
"Kenapa?" Tanya Mirae masih memanyunkan bibir. "Kenapa kamu melihatku seperti itu? Tatapanmu membuatku takut."
"Mirae, apa mungkin—kamu sedang mengidam?"
Mirae mengerjap. Satu tangannya turun untuk mengusap perutnya yang masih rata.
"Hei mana mungkin. Aku baru—sebentar..." Mirae mencoba mengingat kapan terakhir kali tamu bulanan itu datang dan menghitung perlahan. Seingatnya, terakhir kali tamu itu selesai tepat sehari sebelum pertengkarannya dengan Jinan malam hari itu. Dan malam itu juga, mereka bercinta karena Mirae memang sudah bersih.
"Berapa hari?" Manik Jinan menatap serius. "Satu bulan? Dua?"
Mirae mengangguk. "Dua."
Senyum Jinan merekah tanpa diperintah sambil mengeratkan genggamannya di tangan Mirae. Matanya ikut berkaca-kaca saking bahagianya.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
"Tapi—aku takut." Bisikan Mirae seketika membuat Jinan menoleh khawatir. Apa mungkin Mirae mengalami baby blues bahkan di awal kehamilan?
"Kenapa Mirae? Apa yang kamu takutkan?" Tanyanya selagi mengusap kepala sang istri. Perasaan bahagia yang tadi sempat membuncah perlahan menjadi khawatir.
"Aku—" Mirae diam sejenak, bibirnya melengkung menahan tangis. "—TAKUT JIKA HAMIL MENJADI GENDUT, HUHU..."
Jinan kaget. Air matanya jatuh entah untuk alasan yang mana. Kemudian pria itu tertawa kecil, mengusuk kepala sang istri dan bergegas ke rumah sakit.
...*****...
Pukul delapan pagi, Younha sudah selesai mengurus pekerjaan rumah. Sementara anak-anak anteng di depan televisi menonton kartun mingguan, wanita itu diam-diam memoles wajah dengan riasan tipis. Younha berdebar sekali karena Jihoon akan datang pagi ini. Minggu, kiranya pria itu akan mengajaknya pergi kemana? Atau berlibur dengan anak-anak ke suatu tempat indah?
Tinggal sentuhan terakhir, parfum beraroma manis dari brand Dior tidak ketinggalan. Menambah cantik auranya.
Suara pintu diketuk menjadi perhatian dua bocah yang langsung berlari tidak sabar untuk menjadi pemenang siapa yang lebih cepat melihat wajah Ayahnya pertama kali. Jihoon berlutut, membiarkan Yeonjun dan Seojun masing-masing mendapat paha dan lengannya. Yeonjun mendapat pelukan kanan, sementara Seojun di kiri. Mereka berada di pelukan berbeda dari biasanya karena Seojun tersandung karpet saat berlari.
"Oow, tampan sekali anak-anak Ayah." Kata Jihoon setelah memberi kecupan. "Kenapa Seojun mau menangis?"
"Jatuh saat berlari." Sahut si kakak.
__ADS_1
"Itu karena kakak terlalu cepat!!"
"Kakak pelan kok, kamu saja yang kakinya masih kecil."
Jihoon ikut terkekeh dengan sikap putranya, lalu memberi kecupan di masing-masing pipinya agar terdiam. "Mama mana?"
"Ada. Sedang menyiapkan makanan." Yeonjun menjawab lalu kedua menarik tangan sang Ayah untuk masuk bersama.
"Sudah datang?" Tanya Younha basa-basi.
Jihoon mengangguk. Tapi sebelum berbicara dengan mantan istrinya, pria itu berbisik pada kedua bocilnya untuk mengambil mainan dari mobil Ayah dan bermain di depan televisi. Keduanya menurut dan berlari girang.
Sedangkan iris Younha yang awalnya hanya menatap wajah Jihoon kini turun dan memindai penampilan pria itu dari ujung rambut hingga kaki. Tidak biasanya Jihoon berpakaian serapi ini saat datang ke rumah Younha. Hari ini Jihoon memakai pakaian agak formal, celana panjang hitam yang dipasangkan dengan kemeja bercorak garis biru. Sementara jas berwarna senada masih tersampir di tangan kanannya.
"Kamu ada jad—Oh!"
Kalimat Younha yang belum selesai terpotong otomatis saat Jihoon langsung memeluknya erat sebelum mengucapkan apapun. Younha terdiam, menunggu pria itu berbicara lebih dulu.
"Maaf, Younha."
"Kenapa?" Alis Younha berkerut. "Jangan meminta maaf, Jihoon. Kamu membuatku takut."
"Bisakah kamu menungguku dua tahun lagi?" Jihoon memegang kedua bahu Younha.
"Apa maksudmu?" Younha tersenyum, walau masih bingung dengan tatapan Jihoon yang terlihat serius. "Kamu memang harus menunggu dua tahun lagi 'kan?"
"Aku harus pergi."
Younha sempat terdiam dan mereka hanya saling bersitatap.
"Ke-kemana? Why?"
"Berlin. Ada perusahaan yang harus kuurus dalam waktu dua tahun disana."
"Kamu akan meninggalkanku lagi?"
"Mianhae."
Younha mengangguk patah. Sebisa mungkin menyembunyikan sedihnya dalam senyum tipis. "Kalau begitu aku perlu ke bandara jam berapa? Penerbanganmu pukul berapa?"
Jihoon menghela napas. "Younha-ya, Sebaiknya—kita tidak berpisah dan menangis di bandara."
"Kenapa? Aku ingin mengantarmu pergi." Younha meraih tangan Jihoon pertama kali. "Dua tahun penuh mungkin kita tidak akan bertemu lagi."
"Aku mungkin tidak bisa mengatasinya." Nada suara Jihoon merendah. "Aku berusaha tenang dan katakan kamu bisa tinggal. Tapi saat melihatmu besok, mungkin aku akan memohonmu ikut. Aku takut aku mungkin ingin membawamu pergi."
Younha mengulum bibir. "Berarti kita harus berpisah disini?"
Jihoon mengangguk, melihat kedalam pupil memohon Younha yang mulai berkaca-kaca lalu membawanya ke pelukan. Jihoon memejamkan mata sejenak, ingin mengenang pelukan yang tidak akan dia dapatkan lagi selama dua tahun nanti.
"Aku akan menghubungimu sepuluh kali sehari. Aku akan mengirim surel setiap hari. Dan kita harus saling mengirim surat setiap bulan, ya." Bisiknya.
Younha mengusap punggung lebar Jihoon. "Ya, lakukanlah."
Pelukan mereka merenggang perlahan, jempol Jihoon ikut menyeka air mata Younha di pipinya.
"Aku akan pamit pada anak-anak dengan kalimat yang bagus dan melerai mereka karena adik bayinya benar-benar akan datang dua tahun lagi."
Younha tersenyum gemas, kemudian memukul manja dada pria itu. Bahkan disaat Younha ingin menangis, mantan suaminya itu masih saja bercanda.
Hingga setelah Jihoon pamit pada dua jagoannya dan mereka mengantar sampai pria itu masuk mobil. Mereka berdadah pelan dan untuk kesekian kali, Younha ditinggalkan orang tersayangnya lagi.
__ADS_1
...*****...