
Oxford University, Britania Raya. 2016
"Ash, sial. Kenapa merosot sih?"
Younha berjongkok gagu saat tiba-tiba buku paketnya merosot dari genggaman. Karena roknya agak pendek, maka gesturnya sedikit sulit apalagi didepan loker banyak pria.
Satu buku sudah diraih dan satu lagi sedikit berjarak dari tangannya. Younha menggeser kaki, menutupi pahanya dengan buku.
"That's your?" Seorang pria bermata sipit dengan Hoodie hitam polos mengambil buku itu dan menyodorkan pada Younha. Ia kemudian bangkit, menerima buku itu tak lupa mengucapkan terimakasih.
"Thanks." Ucap Younha tersenyum, sedikit mengerut saat melihat rupa si pria. "Are you Asian people? Your face like Korean."
"Bagaimana kamu bisa tahu?" Sahut si pria dengan bahasa Korea. "Apakah wajahku pasaran? Atau tampangku seperti idol? Jungkook BTS mungkin?"
Mereka tertawa bersama apalagi Younha yang merasa tidak sendiri lagi di kampus ini. Untunglah masih ada orang Korea, setidaknya ia punya teman berkebangsaan sama.
"Aku Jihoon. Lee Jihoon." Si pria mengulurkan tangannya.
Younha tersenyum dan meraih tangan itu juga. "Kim Younha."
"Kenapa kita tidak bertemu sejak awal semester? Aku selalu kesepian. Bahasa inggrisku belum fasih, aku sedikit sulit untuk beradaptasi."
"I think you smart." Timpal Younha meletakkan paketnya ke dalam loker. Sedang Jihoon sambil bersandar di pintu loker lain, ia tiada henti menatap wajah Younha dari samping. Baginya Younha sangat cantik, hanya seperti itu saja Jihoon senyum senyum sendiri.
"Biasanya kamu makan siang dimana?"
"Oh, biasanya aku di kantin kampus. Kalau Sabtu aku ke gereja di dekat sini, mereka membagikan makanan setelah ibadah Sabat." Jihoon mencanglongkan tasnya yang ia letakkan di lantai beberapa saat yang lalu. "Well, mahasiswa sepertiku harus hemat. Hidup di negara orang adalah tantangan yang sulit."
Younha mengangguk, mengerjap pelan sebelum memulai kata. "Apa kamu mau makan bersama? Aku traktir. Hari ini, aku dapat gaji dari anak didik privatku."
"Kamu mengajar apa?" Jihoon mengernyit sambil memikirkan peluang yang mungkin bagi gadis Korea seperti Younha. "Sebentar, jangan bilang kamu les bahasa Korea?"
__ADS_1
"Tak hanya bahasa Korea, aku bahkan melatih dance K-Pop pada mereka."
"Wah keren sekali. Kenapa aku tidak kepikiran dari dulu?"
"Kamu juga bisa dance?"
"Ngga sih, hehe." Canda Jihoon mengusuk tengkuknya.
"Kita pergi sekarang?" Tawar Younha berbinar.
Jihoon mengangguk dan mereka melangkah beriringan menuju anak tangga sesekali menyapa mahasiswa yang bergerombol. Walau canggung untuk sedikit akrab di pertemuan pertama tapi Jihoon sangat random, ia pandai memulai topik dan candaan. Memulai obrolan ringan dan hubungan baik dari ajakan makan siang bersama.
...*****...
"Habis ini mau langsung pulang?" Tanya Jihoon setelah makan siang mereka. Kebetulan dosen hari ini izin sehingga kelas Jihoon hanya diberikan tugas rumah ringan—namun berat bagi otak Jihoon yang pas Pasan.
"Aku masih ada satu mata kuliah lagi." Younha berkata datar. "Makasih ya buat hari ini. Seneng banget punya temen satu negara kayak kamu, jadi aku ngga lupa caranya bicara bahasa Korea."
Younha tertawa lirih. "That's your private, aku ngga berhak tahu soal ini. Tapi kalau kamu bisa merasa lega setelah cerita, aku akan dengerin dan sebisa mungkin memberi masukan atau tanggapan. Tapi bukan berarti aku ingin tahu kehidupan kamu, ini semacam timbal balik. Seperti seorang penulis, ia akan sangat bahagia jika karyanya diapresiasi berupa kritik dan saran. Bukan begitu?"
"Aku jadi curiga deh sama kamu?" Jihoon menaikkan sebelah alisnya. "Pantesan kamu diterima di universitas ini, You not smart but genius."
"Kamu pasti sama 'kan?" Younha tertawa santai, lebih terdengar seperti ejekan. "Kamu pasti juga sangat pintar sehingga memilih universitas ini. Atau sedikit dukungan dari crazy rich your family."
"Kamu apa tahu? Aku kan belum cerita?"
"Ei, kamu pikir aku tidak tahu?" Ucap Younha bertanya balik. "Satu stel pakaian bermerek Dior, tas sederhana Celine, jam tangan Rolex, sepatu Adidas, sepasang tindik Flawless, belum lagi perintilan kecil di tas kamu. Oh, mungkin ada juga Black Card?"
Jihoon dibuat menganga oleh Younha, dengan sangat teliti gadis itu mengabsen barang barang Jihoon seperti stylish profesional. Ia jadi sedikit malu dengan gadis pintar di hadapannya.
"Wah, keren!!" Seru Jihoon bertepuk tangan lalu mengacungkan dua jempolnya. "Kalau begitu lebih baik kamu jadi manajerku saja, aku rasa orang sepertimu pantas mendapatkan pekerjaan ringan karena kamu cerdas, aku pikir akan banyak perusahaan merekrutmu nanti dan sebelum itu terjadi aku ingin merekrutmu duluan."
__ADS_1
Younha mengangguk. "Ya, akan aku pikirkan."
"Sebenarnya aku malas kuliah."
"What?"
"Aku harus bergegas master untuk bisa merebut perusahaan ayahku yang kini dikuasi oleh penyihir. Eh, ibu tiriku maksudnya."
Jihoon memulai cerita dan Younha hanya mengangguk dan berdehem merespon karena tidak tahu harus menjawab apa. Jihoon sangat terbuka, bahkan seluk beluk keluarganya ia ceritakan pada Younha yang baru dikenal satu hari.
"Aku juga punya saudara tiri. Bukan dari ibu tiriku, ia pewaris perusahaan Daisy Corp." Lanjut Jihoon sambil melirik jam tangannya, masih sepuluh menit sebelum kelas Younha masuk. "Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, ia belum bisa mengelola perusahaan sendiri dan akhirnya ayah mengangkat ia sebagai anak dan perusahaannya dikelola ayah kini."
"Daisy Corp.?" Tanya Younha dengan dahi mengernyit lalu membatin, perusahaan Jinan? "Aku punya sahabat dari perusahaan itu. Dia kini kuliah di Harvard university."
Jihoon menatap Younha lekat. "Jinan? Yoon Jinan?"
"Benar." Manik Younha berbinar. "Yoon Jinan sahabatku. Berarti kalian bersaudara? Kenapa tidak di Universitas yang sama saja?"
Sambil meneguk minumannya, Jihoon mendengus kasar. "Dia cerdas, tidak sepertiku yang otaknya pas pasan. Semua orang menyayanginya, bahkan ayah sekalipun." Jihoon berucap dengan ekspresi lain, tidak antusias seperti tadi. Younha jadi sedikit canggung, seperti ada hal rumit dari hubungan Jihoon dan Jinan. Dan selama ini Jinan juga tidak pernah bercerita jika punya saudara.
Younha berkedip lambat, lalu bergegas merapikan pakaiannya. "Bisakah kita bertemu lagi di lain waktu?" Ucapnya bangkit. "Maaf, aku ada kelas sekarang. Jangan khawatir, aku yang bayar. Aku 'kan tadi sudah bilang. Lagipula aku menghargai mahasiswa hemat sepertimu."
Mendengar itu Jihoon juga bangkit dan terkekeh pelan. "Sorry, bukan maksud mau membohongimu." Ia menghembuskan nafas panjang. "Kamu sih bongkar semua rahasiaku, jadi identitasku sebagai mahasiswa hemat luntur karenamu."
"Tidak perlu sungkan pak Direktur." Tawa Younha sedikit mengejek. "Lagipula aku akan jadi anak buah anda, aku harus sedikit menyuap atasan agar mau menerimaku kelak."
Younha menepuk sebelah bahu Jihoon lalu pamit menuju kasir. Setelah tubuh ramping itu hilang bersama pintu kantin yang tertutup, Jihoon kembali duduk di tempatnya, memainkan sedotan dari minum yang sudah habis setengah itu sambil tersenyum dan bergumam sendiri.
She so Cute.
...*****...
__ADS_1