
"Mama, Seojun tertawa karena kakak!" Yeonjun melapor saat Younha berada di wastafel untuk mencuci perkakas dapur bekas sarapan tadi pagi.
"Ohya? Berarti Seojun senang main dengan kakak." Jawab Younha dengan tersenyum.
"Yah, Seobear si menggemaskan." Yeonjun mencubit kecil pipi gembul adiknya.
"Seobear?"
"Iya, Seobear panggilan sayang dari bibi Mirae. Kalau kakak panggilan sayangnya Yeonttomeok!" Putra sulungnya sangat bersemangat. "Kata bibi Mirae karena kakak suka makan jadi diberi nama itu. Bagaimana mama, suka tidak?"
"Oh, suka sekali."
Bel unit terdengar, Younha segera mengelap tangannya dan bergegas membuka pintu. Tanpa diduga, seorang kurir membawa satu buket bunga Lily putih dengan satu surat polos tanpa nama pengirim. Younha menyanggah bahwa tidak pernah memesan, tapi sang kurir tetap memaksa bahwa bunga ini dikirim ke alamat Younha. Diapun akhirnya menerima walau bingung berat.
Younha menata bunga-bunga itu pada sebuah vas kaca kecil berisi air lalu meletakkannya di atas buffet ruang tamu, mengabaikan sementara darimana asal si bunga untuk menikmati momen dengan bunga kesukaannya. Saat ingin membuka surat misterius tanpa nama itu, Seojun menumpahkan mangkuk sereal saat sang kakak ke kamar mandi—Younha bergegas menghampiri dan membersihkannya agar tidak tumpah kemana mana.
Meninggalkan amplop surat yang belum terbuka di atas buffet.
...*****...
"Mama, kenapa ayah tidak pernah datang?" Yeonjun cemberut, memainkan mainan bayi adiknya sejak tadi. Mungkin sekarang sudah bosan. "Apa ayah tidak rindu Yeonjun dan Seojun. Padahal kakak rindu, kenapa kita tidak pergi ke apartemen ayah saja, Mama? Gedungnya tinggi—Yeonjun bisa melihat gedung lain dari atas."
Mendengar kata Ayah yang polos dari mulut Yeonjun, membuat Younha merenungi apa yang sudah terjadi padanya. Potongan momen menyakitkan seminggu yang lalu kembali berputar di memori. Sudah cukup seminggu Younha mengurung diri dan merenung karena terlalu hancur. Dia harus segera berbenah, masih ada dua kurcil yang bergantung padanya. Hidup Younha tidak bisa berhenti hanya karena sakit hati.
"Tidak bisa." Younha tersenyum getir. "Mulai sekarang kita tidak bisa bertemu ayah lagi. Yeonjun hidup bertiga saja ya, dengan Mama dan Seojun."
"Kenapa?" Yeonjun mengerjap, maniknya menyimpan kesedihan. "Ayah tidak mau bertemu Yeonjun lagi? Yeonjun bandel ya, Mama?"
"Yeonjun tidak bandel kok." Younha mengusap rambut hitam anaknya. "Yeonjun dan Seojun anak baik. Hanya saja—kita tidak bisa bertemu Ayah lagi. Kalau perlu, kalian tidak usah mencari Ayah lagi, ya. Nanti Mama akan berusaha sebaik mungkin agar kakak dan adik bahagia."
"Kakak tidak mengerti." Yeonjun menggeleng.
"Maafkan Mama." Bisik Younha mengecup pelipis Yeonjun dan memeluknya, lalu melanjutkan dalam hati, Maaf karena Mama tidak bisa mempertahankan Ayah untuk Yeonjun dan Seojun.
__ADS_1
Dding! Ddong!
"Ada tamu lagi!" Yeonjun berlari kecil menuju pintu ingin melihat langsung siapa tamunya? Sementara Younha meletakkan Seojun di dudukan bayinya sebelum akhirnya menyusul sang putra sulung.
Dengan berjinjit, Yeonjun menarik handle pintu sebelum memekik girang dan kaget.
"OOM OOJIINN?!"
"Ogu-Oogu, Pangeran om Woojin!" Pria yang memakai jeans belel dengan kemeja putih itu segera mengangkat Yeonjun ke gendongannya. "Sekarang sudah besar ya, padahal dulu masih suka empeng!"
"Sekarang Yeonjun tidak empeng lagi!" Yeonjun tersenyum, memamerkan gigi barunya yang baru tumbuh sedikit.
Younha menyambut Woojin dengan senyum sumbang, tidak mengira pria itu akan berkunjung ke rumahnya setelah pertemuan satu Minggu yang lalu. Sebenarnya, Younha masih canggung untuk berhadapan dengan Woojin. Pertama, karena dia adalah sepupu Hyejin dan sahabat mantan suaminya. Kedua, pertanyaan yang belum bisa Younha putuskan masih mengiang di hatinya—walau hampir saja Younha menerima seketika.
"Masuk, kak." Tawar Younha mempersilahkan dan menerima bingkisan dari Woojin lalu melanjutkan langkah ke dapur untuk membuat minum.
"Wah, Seojun menggemaskan sekali!!" Rancau Woojin begitu menurunkan Yeonjun dan melihat Seojun di ruang tengah. "Bolehkah aku menggendongnya?"
"Senang kamu bisa mampir ke rumahku, kak."
Woojin mengangguk. "Kamu baik-baik saja?"
Alis Younha terangkat bingung, walau tahu maksud pria itu.
"Aku akan baik-baik saja." Dia pun terkekeh, mencairkan suasana. "Beginilah hidup, kejam, meski kita berbuat baik."
"Dunia memang milik mereka yang jahat, tapi mereka tidak akan mendapatkan kebahagiaan." Jawab Woojin. "Kebahagiaan hanya akan dirasakan orang-orang baik, karena orang jahat tidak mengerti maksud dari kebahagiaan itu sendiri."
"Hm?"
"Kamu."
"Apa?"
__ADS_1
"Suatu saat kebahagiaan akan datang untukmu Younha-ya. Kamu akan bahagia setelah semuanya—bahagia berkali kali lipat." Woojin menggosok telapak tangannya canggung. "Aku sudah mendengar semuanya tentang Jihoon kemarin, tapi kamu tenang saja—Jinan tidak tahu tentang ini. Jihoon itu bodoh, makanya aku memarahinya."
Younha hanya tersenyum pahit, memainkan tangan mungil Seojun di pangkuan Woojin.
"Meskipun aku sahabat Jihoon dan sepupu Hyejin, bukan berarti aku memihak mereka. Terlalu kekanak-kanakan jika urusan pribadi malah dicampur aduk dengan pekerjaan, terlihat sekali jika dia tidak profesional. Bahkan sampai menyuruhmu resign—sungguh hal tidak masuk akal yang pernah kutemui seumur hidup." Pria itu mencoba bercerita sesantai mungkin saat melihat ekspresi Younha.
Younha menunduk, sekuat mungkin menahan air mata saat mengingat kejadian itu.
"Maafkan aku." Woojin berkata lirih. "Maaf dari mereka yang telah menyakitimu."
"Aku sebenarnya muak mendengar kata maaf." Younha berdecih kecil. "Manusia selalu menyalahgunakan kata itu tanpa mau merenungi maksud darinya. Mereka memanfaatkan kata maaf dan berbuat seenaknya, mereka pikir maaf saja cukup?"
Woojin menatap Younha dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Hari ini—hanya ada aku dan anak-anak. Tidak ada kemarin, cukup untuk semua yang telah terjadi. Aku tidak butuh kenangan masa lalu, semua itu tidak berguna bagiku."
"Aku akan ada jika kamu butuh tempat bercerita—" Woojin menyela. "—atau teman. Mungkin sulit jika kamu melihatku seolah ada bayangan orang-orang yang menyakitimu. Tapi aku akan tetap ada. So, don't be cry and sad for many reason. Just trust me."
Tautan mata mereka bertemu untuk waktu yang lama, andai boleh—ingin sekali Younha memeluk pria itu, yang telah memberikan kehangatan pada hatinya walau hanya sebentar. "Terimakasih, kak."
Awalnya mungkin Younha tidak nyaman dengan eksistensi Woojin karena pria itu hanya mengingatkan pada Jihoon, tapi seiring berjalannya waktu pembicaraan mereka mengalir lancar seperti air tanpa canggung. Yeonjun dan Seojun juga sangat ceria bagai bermain dengan ayahnya sendiri. Younha memandangi Woojin dengan kedua putranya dan baru sadar jika ia tersenyum.
Senyum yang pernah hilang beberapa minggu yang lalu, kini hadir kembali karena hal kecil yang bahkan tidak Younha harapkan.
"Wah, Yeonjun pintar sekali berbicara tentang medis padahal usianya baru empat tahun?"
Younha tersenyum. "Dia harus lebih sukses dari mamanya, katanya ingin jadi dokter."
"Dia akan, karena memiliki mama hebat seperti kamu."
Younha agak tersanjung mendengar pujian kecil dari Woojin—tapi, apa benar dia sehebat itu?
...*****...
__ADS_1