
"Wah, kenapa kamu masak banyak banget hari ini?" Tanya Jinan yang barusaja keluar dari kamar sambil membenarkan dasinya.
Mirae berbalik badan, sedikit mengepakkan jemarinya setelah mencuci sayuran. "Oh, ya. Hari ini Younha ingin menitipkan Yeonjun dan Seojun. Aku senang sekali, dua hari tidak bersama mereka rasanya rumah ini sepi."
"Aku juga ingin bermain dengan mereka." Celetuk Jinan meraih ponsel dari sakunya. "Tapi ada meeting mendadak dengan perusahaan Jihoon."
"Perusahaan Mas Jihoon?" Ulang Mirae mengernyit. "Bagus kalau begitu. Kalian bisa lebih akrab, bahkan nama kalian hampir sama Jinan dan Jihoon. Kupikir saudara itu memang seharusnya dekat 'kan?"
Jinan meletakkan ponselnya sebelum melangkah ke belakang tubuh Mirae, memeluk pinggang rampingnya kemudian mengadu dagu dipundak kecil sang istri. Jinan mengusap perut Mirae gemas lalu mengecup ngecup tengkuknya. "Entahlah, aku belum bisa menyebutnya sebagai saudara. Lagipula kami tidak sedarah 'kan."
Jemari Mirae berhenti sejenak, sedikit mengerjap. Kemudian menata lima buah sosis besar diatas talenan untuk dipotong kecil-kecil.
"Aku minta maaf." Tukas Mirae sedikit murung. "Harusnya aku tidak ada di kehidupanmu, dengan begitu kamu tidak akan seperti ini bersama Jihoon. Dan juga, kupikir Younha akan bahagia bersamamu." Mirae tertawa sumbang.
Jinan membalikkan tubuh sang istri, memegang kedua lengannya sambil menatap manik cantik yang mulai berair itu. "Jangan seperti itu Mirae, semua itu tidak ada hubungannya denganmu. Kita dipertemukan oleh takdir, dan Younha hanya sahabatku. Tidak lebih."
"Bisakah aku memegang kalimatmu?" Mirae menatap Jinan intens, seolah meminta kepastian. "Younha hanya sahabatmu, bisakah kamu berjanji pada hatimu sendiri?"
Jinan mengangguk pasti. "Ya. Harusnya aku yang minta maaf karena tidak memahami perasaanmu."
"Aku ingin menyentuh wajahmu." Gumam Mirae tidak memutuskan kontak iris mereka. "Bolehkah?"
Dengan senyum tulus, Jinan mengangguk. Membiarkan tangan lembut bau sosis Mirae menyentuh pipinya. Melihat tatapan penuh cinta Mirae, pria yang sudah siap ke kantor itu baik baik saja dengan tangan cantiknya yang lengket dan amis.
"Terimakasih."
"Hm?"
"Karena telah membuatku cemburu." Lanjut Mirae tertawa kecil. "Dengan rasa cemburu itu aku dapat belajar dan mengerti bahwa aku benar-benar mencintaimu. Aku tahu ini konyol, tapi bolehkan aku merasa seperti itu?"
Jinan tersenyum, mengecup kedua telapak tangan sang istri saat akan turun dari wajahnya. "Tentu sayang. Perasaanmu adalah milikmu. Cemburu itu hal yang wajar. Maaf karena ku tidak sepeka pria lain, belum bisa memahami hati seorang wanita."
"Aku mencintaimu." Sahut Mirae. "Aku tidak berharap kamu membalasnya, hanya dengan kamu bersamaku saja aku bahagia. Mungkin—"
"Aku mencintaimu, sangat." Jawab Jinan sebelum Mirae menyelesaikan kalimatnya.
Keduanya tersenyum dan cinta itu dibuktikan dengan kecupan manis terselip sedikit gairah didalamnya. Lalu Mirae sadar dan mendorong dada sang suami sebab ia harus melanjutkan memasak.
"Younha akan mampir saat pulang kerja nanti." Lanjut Mirae memotong sosisnya lagi tanpa melirik Jinan yang sedang memakai jas kerjanya. "Kamu juga pulang sore 'kan? Nanti kita bisa makan bersama."
__ADS_1
"Mirae—"
"Aku tak apa sayang. Asal kamu tahu batasan."
Jinan mengangguk. "Tentu."
...*****...
Duduk kemudian bangkit lalu berjalan ke sudut kanan dan kiri. Sambil bersedekap, dahi Jihoon mengernyit gelisah sendiri di ruangannya. Memikirkan kejadian semalam membuat pria berbadan kekar itu tidak bisa tidur, mata pandanya bahkan terlihat jelas saking lelahnya.
Younha pergi dengan June semalam. Berkali kali Jihoon menelfon tapi tidak ada respon, ponsel Younha tidak aktif. Dan kini makin gelisah karena mendadak sang sekretaris izin.
Jihoon pulang dari apartemen Younha pukul sepuluh malam, setelah memastikan Yeonjun dan Seojun tidur. Namun hingga pukul sebelas malam lebih Younha belum pulang juga saat Jihoon sudah setengah jam menunggu di mobil.
Mengapa mereka berkencan sangat lama? Apa yang mereka bicarakan? Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka semalam? Apa June sengaja mengelabuhi Younha dan memesan sebuah kamar hotel? Ah, Jihoon menampis pikiran buruknya sambil menunggu Younha selesai rapat dengan tim management.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu terdengar jelas membuat Jihoon seketika bangkit dari kursinya.
"Anda mencari saya Pak?"
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Jihoon tiba-tiba. "Apa kamu baik baik saja?"
Younha mengernyit, menyingkirkan tangan besar itu dari tubuhnya. "Apa maksudmu?"
Jihoon menghembuskan nafas lega. "Memastikanmu masih hidup."
"Kenapa aku harus mati?" Younha mendesah lelah. "Siapa yang akan mengurus anak-anak jika aku mati. Kamu? Cih, apakah itu mungkin?"
"Ada urusan apa Pak direktur memanggilku tiba-tiba?" Lanjut Younha. "Oh, tentang June-ssi? Dia mabuk semalam mungkin terlalu banyak minum membuatnya tidak enak badan."
"Aku khawatir padamu." Kata Jihoon masih sama seperti kemarin. "Dia tidak macam-macam kepadamu 'kan?"
"Macam-macam seperti apa?"
Jihoon berdecak kecil. "Ayolah kamu mengerti maksudku. Tolong katakan jika yang aku pikirkan tidak benar."
"Ya, tidak benar." Sahut Younha cepat walau ia masih kurang mengerti maksud Jihoon. "Kami hanya makan dan berbincang dengan pemilik restoran, itu saja."
__ADS_1
"Aku tidak bisa tidur semalaman." Ungkap Jihoon, menghela nafas pelan. "Aku khawatir padamu."
Younha merotasikan bola matanya, selalu kalimat penyesalan ini yang ia dengar dari bibir Jihoon. Kalimat tak berarti bagi kehidupan Younha saat ini, walau ia menyadari bahwa pria itu masih sama seperti dulu. Yang membuat jantungnya berdebar saat bersama, wajah indah yang selalu Younha lihat diatas ranjang setelah percintaan mereka.
Tapi hatinya tidak sama, pria itu sangat sulit direngkuh hingga Younha mengalah saat ini.
"Itu tidak penting, jika tidak ada urusan saya pa—"
"Mengapa berkata aku khawatir padamu tidak penting?" Jihoon duduk agak angkuh, melepas dua kancing jas hitamnya. "Kamu juga tidak menjawab telfonku akhir akhir ini."
"Itu bukan urusan yang bisa dibahas di kantor." Younha mengangkat kepalanya. "Bukankah aku sudah bilang jika hal itu hanya sia sia?"
"Aku ingin mendengar alasanmu." Tegas Jihoon sedikit menekankan kalimatnya. "Kenapa kini kamu menjauhiku—"
"Karena kita sudah bercerai Jihoon!" Kesal Younha dengan nafas memburu. "Aku tidak menjauhkanmu dari anak-anak. Kamu masih bisa bersama mereka bahkan mengajak jalan-jalan dengan kekasihmu. Hyejin sangat menyayangi Yeonjun dan Seojun, dia juga sangat mencintaimu. Kupikir kehidupan seperti ini baik baik saja. Jangan pikirkan aku." Younha sedikit menjeda kalimat, menatap sang mantan suami yang kini mendekatinya. "Aku akan bahagia jika kamu bahagia Jihoon."
"Maafkan aku." Jihoon menjulang tinggi tepat di hadapan Younha yang tertunduk.
"Lalu apa maumu? Maaf atau tidak semuanya sudah terjadi." Younha menggeleng, menukik alisnya.
"Hanya—" Jihoon mengulum bibirnya. —jangan abaikan panggilanku. Susah payah aku mencuri waktu diam diam untuk menelfonmu jadi jangan buat aku kesal dengan suara operator. Biarkan aku mendengar suaramu, dari ponselmu sendiri dan bukan Mirae."
"Kamu sudah mendengarnya hari ini."
Jihoon terdiam sejenak, memindai wajah bening Younha yang sangat sedap dipandang membuatnya benah menatap. Saat tautan iris mereka terjalin semakin dalam Younha tidak tahu cara untuk melepaskan diri. Ia hanya memejamkan mata saat tengkuknya diraih Jihoon untuk menjemput satu cumbuan...
Tok Tok Tok
"Bu Hyejin ada disini."
Ketukan pintu dari luar ruangannya menahan bibir Jihoon di jarak satu senti dari Younha yang membuka mata perlahan, memandang Jihoon dengan nafas tertahan lalu mendorong dadanya.
Dari balik pintu itu, Hyejin menyembunyikan getir hatinya. Ia sudah berdiri disana tak lama setelah Younha masuk dan dengan itu ia mendengar segala obrolan mereka. Perasaannya semakin kalut saat mengetahui fakta jika Jihoon mengisyaratkan masih mencintai Younha. Tapi Hyejin tidak mau menyerah, ia juga mencintai Jihoon. Ia tidak bisa melepaskannya begitu saja.
Hyejin menata ekspresinya seolah tidak tahu apa-apa lalu masuk ke ruang Jihoon dan langsung berpapasan dengan Younha yang tampak murung dan menunduk. Lalu Hyejin menatap Jihoon yang berekspresi sama.
Ia sedikit putus harapan, tahu jika posisinya salah namun Hyejin juga tidak ingin kehilangan Jihoon. Ia sangat mencintai pria itu.
...*****...
__ADS_1