About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Kilas Balik 6


__ADS_3


Aku menemukan ini kemarin di bagian paling bawah Drive fotoku. Lihatlah, lucu ya—tanganku terlihat mini dibanding tanganmu🤭


Btw, cincinnya cantik sekali. Makasih...❤️


Jika saja Younha tidak bersandar pada buffet, mungkin dia sudah tersungkur menindih anaknya yang berada dalam kandungan. Matanya berkedip tak percaya dengan dada naik turun mengikuti irama nafas yang terasa sesak. Air matanya menetes tak tahu malu, membasahi pipi cantik yang barusaja ia poles dengan bedak brand mewah hadiah ulang tahun dari suaminya kemarin.


Benarkah Jihoon menduakannya selama ini? Younha tak habis pikir. Dia mengira hal yang paling sulit hanyalah menunggu Jihoon mengatakan perasaannya, namun Younha salah. Cinta sang suami mungkin bukan untuk dirinya. Dia kira Jihoon akan tetap sama pada pendiriannya saat Younha memilih meninggalkan Jinan dan meraih tangan Jihoon. Dia pikir Jihoon benar-benar mencintainya, tapi kenyataan ini cukup membuat Younha sadar yang sebenarnya. Dugaan dan rasa khawatir yang ia kira adalah bawaan hamil ternyata salah total. Lalu mengapa rumah tangga ini masih berjalan seolah tidak ada apa-apa bahkan melibatkan anak-anak—yang satu malah masih dalam kandungan.


Drrttt..... Drrttt....


Dering nada panggilan dari ponselnya yang berada di atas tempat tidur membuyarkan lamunan. Younha menyeka air matanya lalu mengangkat telfon dari nomor tak dikenal itu.


"Halo, sayang?"


"Mas Jihoon?"


"Ya, ini aku. Suara kamu sengau, kenapa?"


"Aku baru bangun tidur." Younha duduk di pinggir ranjang sambil melihat foto tangan itu. "Kamu mau menanyakan ponselmu yang tertinggal?"


"Ah, ya. Aku tadi terburu-buru." Jihoon tertawa kecil. "Ada diatas buffet kalau tidak salah."


"Ya, aku sudah melihatnya." Younha tersenyum miris. "Apa perlu aku antarkan ke kantor?"


"Eh, tidak perlu. Nanti akan ku ambil saat jam istirahat siang. Kamu di rumah saja, jangan kelelahan dan jaga bayi kita. Istirahatlah yang banyak, aku tidak sabar melihat babyboy kita yang kedua. Baiklah, aku tutup ya."


"Hm."


Panggilan terputus. Younha menahan tangisnya dengan tangan yang masih memegang ponsel Jihoon. Cara manis yang pria itu tunjukkan untuk menanggapinya membuat Younha makin sakit. Jihoon memperlakukannya dengan sangat tulus sehingga Younha tidak tahu jika selama tiga tahun ini dia sudah ditipu oleh ketulusan itu.

__ADS_1


Tangan Younha turun untuk memegang perut besarnya yang mulai berkontraksi. Dia makin terisak, berusaha menenangkan bayi kecilnya agar tidak tahu apa yang sedang Younha rasakan.


...*****...


Pukul sebelas malam lebih, Younha masih setia duduk di sofa ruang tamunya. Pikirannya seperti kaset pita rusak yang tak terselamatkan. Setelah melihat foto tangan bergandengan itu, dunia Younha terasa hilang, semua cinta yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit untuk Jihoon terhempas sia-sia. Hingga ia selesai menidurkan putra pertamanya, air mata tiada henti membanjiri mata yang sudah sembab. Tiga jam ia menunggu Jihoon pulang, tanpa suara televisi maupun ponsel untuk menghibur—hanya kesunyian yang menemani hati rapuhnya.


Suara pin apartemen berbunyi disusul munculnya sosok pria yang sedang ia tunggu sejak tadi membuat Younha reflek melangkah. Walau susah payah Younha berjalan memegang perut besarnya, ia tetap menyambut suaminya seperti yang biasa ia lakukan.


"Kamu pasti lelah bekerja hingga larut seperti ini." Mulai Younha menyungging senyum tipis.


"Oh, kamu belum tidur?" Kata Jihoon setelah melepas jas kerjanya.


Younha mendekati Jihoon, melepas sampul dasinya dan melemparkannya ke sofa. Tangan rantingnya mengalung ke leher Jihoon dengan sedikit berjinjit. Kemudian Jihoon spontan merenggang agar tidak menghimpit bayi mereka.


Dengan air mata yang mulai mengalir lagi, Younha mengecup bibir Jihoon dalam dan menyalurkan segala isi hatinya dalam diam. Tidak ada gairah terselip diantaranya, Jihoon menatap Younha dengan binaran bingung saat wajah mereka mulai berjauhan.


"Kenapa Younha-ya. Hm?" Bisik Jihoon mengusap rambut Younha ke belakang. "Kenapa kamu menangis?"


"Hyejin?" Younha berdecih. Melihat pupil Jihoon yang bergerak acak dan berusaha menghindari tatapan dengannya seolah membenarkan tebakan Younha.


"Apa aku tidak becus mengurusmu? Aku pemalas, membosankan dan servisku kurang memuaskan?" Younha memulai dengan pertanyaan acak. "Katakan apapun yang kurang dariku."


Alis Jihoon berkerut. "Kamu bicara apa?"


"Aku bicara apa yang ingin aku bicarakan."


"Younha, apa masalahmu? Jangan bicara omong kosong."


"Masalahku itu kamu!" Sahut Younha mulai tidak sabar. "Aku menunggumu menyatakan cinta semenjak di Britania Raya hingga kini, aku yang selalu menyatakan perasaanku dan aku selalu menunggumu. Tapi kamu malah mengatakan itu pada wanita lain?" Younha tertawa kecil. "Apa kamu tahu rasanya jadi aku? Aku berusaha yang terbaik, melakukan berbagai cara untuk membuatmu mencintaiku dan kurasa aku menang setelah hadirnya Yeonjun dan bayi kita selanjutnya. Tapi ternyata—aku kalah. Perjuanganku tidak berarti karena aku kalah dari orang yang kamu cintai. Bukankah begitu?"


Jihoon benar-benar terdiam.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu punya hubungan dengan Hyejin? Sejak aku hamil Seojun? Atau sebelum Yeonjun ada? Lalu kenapa kamu memperlakukanku seolah aku adalah duniamu yang kamu rawat dan takut akan terluka?" Air mata Younha mulai deras. "Aku—hampa ketika tahu kamu selingkuh."


Jihoon menggeleng. "Kamu tidak mengerti."


Younha mendengus kesal, hatinya benar-benar dongkol mendengar omongan kecil Jihoon barusan. Matanya bergetar, paling tidak kata maaf yang harus ia dengar walau palsu.


"Aku pasti membuatmu tertekan ya? Kamu pasti susah karena terkekang dengan kehidupan kita." Younha mengangguk, terselip sedikit tawa miris dari katanya.


"Younha, bukan begitu—"


"Harusnya kamu bilang dari awal, Jihoon-na." Lirih Younha melanjutkan. "Dengan begitu aku bisa melepaskanmu sejak dulu, kamu juga tidak perlu diam-diam menemui Hyejin dan mencari alasan untukku dan anak-anak. Karena semua sudah jelas, maka—ayo bercerai."


Jihoon menunduk, menghindar menatap kontak dengan Younha.


"Aku tidak mau kamu terus membohongi Yeonjun dan Seojun yang akan lahir seolah kamu mencintai mamanya, itu terlalu menyakitkan. Maka dari itu, bercerai disaat mereka belum tahu adalah hal yang tepat. Dimasa depan setelah mereka tumbuh dewasa kita bisa menjelaskan yang sebenarnya pada mereka tentang hubungan palsu ini." Younha masih berusaha bicara walau hatinya tidak sanggup lagi.


"Setelah Seojun berusia lima belas bulan, ayo bercerai secara hukum. Paling tidak dia sudah pernah belajar berjalan dengan tangan ayah menggandengnya." Younha menyeka air matanya. "Kamu—tidak ada yang ingin kamu katakan?"


"Baiklah."


"Baiklah?" Younha tertawa remeh. Kemudian mengangguk mengerti sambil memegangi perutnya yang mulai kram lagi, dia menangis sejak tadi—mungkin bayinya ikut mengerti apa yang sang ibu rasakan.


Jihoon bergerak untuk membantu Younha kembali ke kamar namun tangannya dicekal sebelum menyentuh sikunya.


"Tak apa, aku bisa sendiri. Aku harus belajar mandiri 'kan mulai saat ini?"


Younha bangkit dengan susah payah, melangkah sambil berpegangan tembok untuk menyangga tubuh dan kakinya yang gemetaran. Begitu sampai kamar, tangisnya tak terbendung lagi. Hal yang tidak pernah ia bayangkan dari Jihoon, ternyata menjadi ketakutan terbesarnya.


Mungkin Tuhan ingin membuat Younha sadar, dengan begitu dia hanya akan menggantungkan diri dan berharap hanya pada-Nya. Tuhan sangat menyayangi Younha, hamba rapuhnya. Tuhan ingin Younha menguatkan hati, bahwa Jihoon juga bukan miliknya—Jihoon juga milik Tuhannya.


Younha harus melepas pria hebatnya walau hancur.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2