About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Saat Untuk Saling Melepaskan


__ADS_3

Younha benar-benar tidak tega meninggalkan Woojin sendirian dalam keadaan seperti ini, tapi Younha tidak bisa tinggal sebab ada orang yang juga menunggunya di tempat lain.


Setelah menaikkan selimut yang membungkus tubuh pria itu, Younha bangkit dan berniat pergi sebelum Woojin sadar namun tangan agak kasar yang meraih pergelangannya memaksa Younha untuk berhenti melangkah—iapun berbalik badan kembali sambil melihat Woojin yang sudah membuka mata. Pria itu mendudukkan badan tanpa melepaskan tautan tangan mereka sama sekali.


“Aku ingin mendengar jawabanmu saat ini juga.” Woojin menyusul Younha berdiri, walau badannya masih sempoyongan dia tetap berusaha tegap.


“Aku tidak mengerti maksudmu.” Kata Younha bingung.


“Jawaban yang akan kamu berikan waktu itu, aku menunggunya hingga sekarang.” Manik Woojin menatap lekat Younha, menunggu jawaban yang mungkin kini telah berganti dari keyakinan awal wanita itu. Woojin tidak ingin menyerah, walau kenyataan menamparnya telak bahwa Younha telah mendapatkan kebahagiaannya kembali. “Jangan menutupinya dariku, Younha. Aku yakin kamu tidak melupakannya begitu saja ‘kan?"


Bola mata Younha bergerak gusar tidak tahu harus berkata apa. Jika dia menjawab ya, itu sama saja membohongi Woojin namun jika dia menjawab tidak, maka akan ada yang terluka lagi darinya.


“Aku juga datang malam itu.” Woojin melanjutkan dan ekspresi Younha berubah khawatir seketika.


Younha mengerjap. “Paju Dohwa-dong? Kamu seperti ini karena aku? Benar?”


Woojin terdiam sebelum akhirnya mengangguk dengan senyum tertahan.


“Ya, kamu benar. Aku datang saat kamu sudah mendapat perlindungan dari seseorang. Kuharap aku bisa datang lebih awal saat itu.” Pria itu berdecih. “Jadi kenapa? Sekarang kamu menemuiku karena khawatir? Karena kamu merasa bersalah dan terbebani? Jika benar maka aku akan senang sekali.”


Senyum di sudut bibirnya seolah menggambarkan rasa kalah. Younha menatap wajah Woojin yang kini tidak bisa ia kenal sebagai Woojin yang dulu. Younha tidak tahu jika pria lembut itu juga ada untuk menunggunya dan menyimpan perasaan itu diam-diam.


Sementara dia malah menunggu yang lain.


“Karena aku—ingin kamu peduli padaku, Younha.” Woojin meraih tubuh Younha untuk dipeluk erat kemudian berbisik di bahu sempit itu. “Aku ingin menjadi orang yang selalu ada untukmu, kalau kamu merasa kesulitan melangkah tetaplah bersamaku. Bisakah kamu memberikanku kesempatan juga, hm?”


"Woojin..."


"Aku tahu ini sulit bagimu, tapi aku akan tetap menunggu."


Pelukan pria itu merenggang, kini kedua tangan Woojin turun menyentuh kedua lengan Younha sambil terus bergumam untuk mengulur waktu agar wanita itu bisa sedikit lebih lama di sisinya. "Kalau saja kita bertemu lebih dulu, kalau saja aku memperjelas ini dari awal, kalau saja—" Woojin berdecih kecil. "Kalau yang hanya menjadi ekspektasi. Kalau-kalau yang tidak bisa merubah apapun."


Mereka terdiam. Memikirkan kalimat dan keadaan yang sedang mereka hadapi yang sebenarnya hanya satu, harapan. Sejak awal Younha menaruh harapan pada Woojin disaat dia sedang terpuruk. Younha merasa nyaman saat bersama Woojin entah bicara maupun perlakuan pria itu padanya yang berkata akan selalu ada sebagai teman, menemani dan menanyakan kabar di penghujung hari, bahkan memberi ketenangan saat Younha sedang tidak baik-baik saja. Sejak awal, Jihoon berjuang untuk harapannya walau malah terus menyakiti Younha. Dan sejak awal, Woojin berada diantara kedua orang yang sedang mempertahankan harapan hingga akhirnya dia sadar bahwa dia lah alasan mengapa masalah harapan itu menjadi pelik.


Woojin—berat mengakui pada dirinya sendiri bahwa dia adalah masalah.

__ADS_1


"A-Aku... Kak—"


Tok! Tok! Tok!


"Pak Woojin, anda sudah sadar? Apa saya boleh masuk?"


Suara dari seberang pintu menjadi pemutus suasana tegang diantara mereka.


"Pergilah, aku tidak akan menahanmu kali ini." Kata Woojin dengan senyum yang menyimpan pilu—kemudian melangkah ke kamar mandi. Biarlah Younha pergi tanpa Woojin melihatnya.


Dia tidak bisa.


...*****...


Jihoon menatap langit-langit kamar, dia barusaja bangun saat demamnya sudah mereda lalu menoleh ke jendela dan melihat kaca besar itu masih dialiri air hujan walau hanya rintikan. Hari sudah gelap, melihat gorden belum menutupi kaca lebar itu—Jihoon mengira Younha masih sibuk menyiapkan makan malam sambil diganggu anak-anaknya yang usil.


Membayangkan itu saja membuat Jihoon bisa langsung sembuh tanpa obat, dia sedang memikirkan cara untuk mengembalikan kembali senyum Younha walau sadar yang dilakukan selama ini sangat kejam.


Dia ingin mengubahnya, memperlakukanku Younha seperti di awal pertemuan mereka.


Saat hendak menurunkan kakinya ke lantai, sebuah notifikasi masuk ke handphonenya di atas meja. Sebuah pesan dari Hyejin yang katanya Ingin berbicara dalam telpon, selama ini memang Jihoon selalu menanyakan kabar Hyejin dan perkembangan pengobatannya dalam pesan dan tidak pernah saling berbicara dalam telpon. Saat jemari Jihoon sedang mengetik jawaban tidak bisa, wanita itu malah langsung memanggil. Jihoon menghela nafas, melirik ke pintu untuk memastikan Younha tidak akan masuk tiba-tiba lalu berjalan ke jendela kaca—melihat dunia malam dari lantai 15 apartemen itu.


"Tidak ada." Jawab Jihoon sekenanya. "Bagaimana denganmu?"


"Aku tiba-tiba memikirkanmu, sudah hampir satu bulan kita tidak bicara seperti ini. Apa disana kamu baik-baik saja?" Tanya Hyejin dari seberang.


Jihoon terdiam sejenak. "Harusnya aku yang bertanya apa kamu disana baik-baik saja? Apa kamu makan dan tidur dengan baik?"


"Tidak baik." Hyejin menghela napas tidak tahu jika raut Jihoon berubah cemas sekarang. "Ada banyak hal yang ku lalui dan itu tidak mudah. Tapi kabar baiknya dokter berkata jika aku akan segera sembuh, aku lega."


"Syukurlah."


"Tapi ada satu hal yang mengganjal." Hyejin mengulum bibirnya sambil memegang tiket pesawat ke Korea dua hari lagi di tangan kirinya. Dia ragu harus memberitahu Jihoon atau tidak, Hyejin yakin jika Jihoon sudah bersama Younha saat ini tapi dia masih belum sanggup untuk mengatakan kata berakhir dan benar-benar pergi dari sisi Jihoon.


"Kenapa?" Tanya Jihoon. "Kamu terdiam cukup lama, apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

__ADS_1


"Aku merindukanmu." Tanpa sadar air mata mengalir pelan dari sudut mata Hyejin. "Aku merindukanmu, Jihoon. Bolehkah aku pulang?"


Jihoon termenung. Pandangannya lurus ke gemerlap gedung luar sambil memutar beberapa memori di kepala. Sampai ingatan masa kecilnya bersama Hyejin, saat senyum cantik itu perlahan berubah menjadi tangis karena tak rela atas keadaan Jihoon dengan Younha. Bagaimana kelegaan Jihoon begitu Hyejin bisa bangkit dan meneruskan hidup bersamanya—hingga perlakuan Jihoon yang membuat Younha menderita.


Semua hal itu mendesak kepala Jihoon hingga terasa pening sesaat, lalu sekarang setelah dia ingin memulai dari awal kembali bersama Younha—haruskah Jihoon luluh untuk Hyejin yang ingin pulang?


"Mengapa kita seperti ini?" Suara Hyejin terdengar putus asa.


"Maaf aku mengecewakanmu, Hyejin. Harusnya aku jujur sejak awal padamu."


"Harusnya aku tidak egois saat itu, harusnya aku mengerti keadaan kita." Hyejin tersenyum miris.


Jihoon menggeleng karena merasa jika dia yang salah untuk Hyejin. "Maafkan aku."


"Sekarang semua untuk jalan kita masing-masing 'kan?" Bisik Hyejin dengan air mata yang mulai deras. "Haruskah kita selesaikan sekarang?"


Jihoon terdiam sambil memijit pelipisnya.


"Aku harus melepaskanmu kembali pada keluargamu yang sebenarnya." Hyejin terisak. "Aku tahu rasanya berat bagiku, tapi daripada itu bukankah ada yang lebih berat sampai mengorbankan pernikahannya?"


"Hyejin—"


"Aku lelah dengan egoku sendiri." Wanita itu segera memungkas panggilan Jihoon. "Aku merasa bersalah setiap melihat Yeonjun dan Seojun, mereka harus melihat kedua orang tuanya berpisah karenaku. Maka dari itu, hubungan jahat ini harus berakhir sekarang."


Jihoon kembali tidak menjawab—yang seharusnya lega akan perpisahan ini tapi dia merasa sesak di dadanya.


"Aku mencintaimu Ji, tapi aku sudah tidak punya kesempatan lagi." Hyejin memejamkan mata. "Setelah aku sampai di Korea, putuskan semua kontak pribadi kita. Jangan pernah bertanya kabar keseharian dan saling peduli untuk maksud kasih sayang. Di masa mendatang juga, aku akan berusaha untuk benar-benar menjauhimu, aku tidak akan kembali ke perusahaan dan akan memulai karirku sendiri. Jadi—bisakah aku mengatakan selamat tinggal sekarang?"


Air mata Jihoon ikut merembes, rasanya berat sekali untuk mengatakan kalimat itu.


"Ya." Bisik Jihoon akhirnya. "Aku selalu berharap untuk kebaikanmu Hyejin, maafkan aku."


"Terimakasih."


Hyejin menutup panggilan segera. Tangisnya sudah tidak bisa ditahan lagi ditengah kesunyian apartemen berpenerangan redup itu. Sambil memeluk lututnya sendiri, Hyejin menumpahkan semua air matanya hingga tidak tersisa lagi untuk Jihoon.

__ADS_1


Pria yang menjadi terkasihnya.


...*****...


__ADS_2