Affair with my Stepfather

Affair with my Stepfather
Masih Adakah Kesempatan Kedua


__ADS_3

Kanaya terjaga tanpa membuka matanya ketika merasa ada yang menggerayangi tubuhnya.


"Daddy..nakal " Kanaya menangkap tangan Arsen yang sedang menangkup sepasang payu daranya dan mere mas nya lembut.


"Udara sangat dingin sayang, punya kamu hangat " bisik Arsen.


"Alasan " Kanaya mencubit ujung hidung mancung si bule.


Arsen terkekeh.


Arsen dan Kanaya berbaring saling berhadapan. Kedua pasang netra mereka bertemu dan memancarkan rasa cinta yang luar biasa.


"Bagaimana kalau kita tidak usah kembali ke Jakarta. Kita tinggal disini saja... Daddy tidak mau berpisah lagi sama kamu "


"Aku juga tidak mau jauh dari Daddy" balas Kanaya sambil menyusupkan wajahnya di dada bidang si bule yang berbulu.


Arsen mendesahkan nafas panjang kemudian mengecup puncak kepala istri kecilnya. Meskipun jalan yang harus ia lalui kini semakin terjal namun Arsen tidak akan berhenti memperjuangkan cintanya untuk Kanaya.


"Sebaiknya jangan habiskan waktu kebersamaan kita yang singkat ini dengan bersedih..kita harus menikmatinya dengan bahagia sayang " Arsen mengusap punggung telanjang Kanaya.


Kanaya mengangguk.


Udara yang dingin ditambah hujan turun cukup deras sejak semalam membuat Kanaya dan Arsen mencari kehangatan dengan cara mereka.


Suara desa han dan era ngan saling bersahutan kala dua raga yang saling merindukan itu bersatu dalam irama penuh cinta.


Kanaya takluk dalam pesona pria bule yang kini sedang bergerak dengan liar diatas tubuhnya.


Kedua kaki mulus Kanaya mengunci pinggang si bule membuat tubuh mereka bersatu dalam gerak seirama.


Arsen semakin bergerak tidak terkendali ketika mereka akan sampai pada puncaknya..dan tidak lama kemudian tubuh mereka pun mengejang saat rasa itu telah sampai dan menggulung raga mereka.


Tubuh kekar Arsen ambruk diatas tubuh Kanaya. Meskipun sama-sama lemas namun bibir keduanya menyiratkan senyum kebahagiaan.


Setelah tiga hari menghabiskan malam panas di Puncak mereka pun pulang.


Setelah sampai di Jakarta Kanaya berpindah ke mobil Simon dan selanjutnya Simon lah yang mengantarkan Kanaya sampai ke rumah.


Setibanya di rumah Kanaya mendapati wajah muram papanya yang sedang duduk melamun di teras belakang.


"Papa kenapa melamun ?" tanya Kanaya setelah menyimpan tasnya di dalam kamar.


"Tidak ada kamu Papa pikir Papa bisa punya banyak waktu berdua bersama Mama kamu, ternyata kesempatan itu sama sekali tidak ada " keluh Widianto.


"Loh kenapa Pah ?"


"Tidak ada kamu dirumah Mama kamu. malah mengurung diri di kamar, makan saja dia di kamar " jawab Widianto.


"Heumm...yang sabar ya Pah " hibur Kanaya.


"Bagaimana acara di Puncaknya, seru ?" tanya Widianto.

__ADS_1


"Seru banget Pah " jawab Kanaya


Tentu saja seru, disana ia dan Arsen menghabiskan malam panas berdua dan mereka mempraktekan beberapa gaya baru dalam bercinta.


"Papa senang melihat kamu sangat menikmati liburan kamu " Widianto mengecup kening Kanaya.


"Aku mau temui Mama dulu di kamarnya " Kanaya beranjak menuju kamar Mamanya. Widianto mengangguk.


Di kamarnya Hana sedang termenung dengan wajah yang sama muramnya dengan Widianto.


Begitu melihat Kanaya senyum wanita itu langsung mengembang.


"Kamu sudah pulang sayang ? Mama bosan tidak ada kamu di rumah " kini Hana yang mengeluh kepada Kanaya.


"Kenapa bosan ? kan ada Papa di rumah "


"Melihat wajah Papa kamu yang ada malah bete " jawab Hana.


"Ya ampun..kalian itu kapan akurnya sih ?" keluh Kanaya.


Hana terdiam


"Ketika Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk berkumpul lagi aku pikir kalian akan akur dan kembali seperti dulu " kata Kanaya dengan wajah sendu.


"Maaf sayang..Mama belum bisa menerima Papa kamu lagi " lirih Hana.


"Belum bisa berarti masih ada kesempatan kan Mah ?" harap Kanaya.


"Pengkhianatan papa kamu sudah menorehkan luka yang sangat dalam di hati mama dan sampai saat ini mama tidak bisa melupakannya "


"Iya aku mengerti " Kanaya memeluk perut Hana.


Setelah Kanaya pulang barulah Hana mau keluar dari kamar. Mereka kembali berkumpul bersama meskipun Hana masih enggan bertegur sapa dengan Widianto.


Widianto berusaha bersabar menghadapi Hana karena ia sadar jika kesalahan terbesar ada padanya.


* * * *


"Pah..kita jalan-jalan yuk, sejak tinggal disini kita tidak pernah pergi keluar bersama " Kanaya tiba-tiba mempunyai ide untuk mencairkan kebekuan diantara Papa dan Mamanya.


"Ayok..mumpung masih siang " Widianto langsung menyambut dengan semangat ajakan putrinya.


"Mau ya Mah !" Kanaya menatap kearah Hana memohon.


"Ayolah Mah..demi menyenangkan putri kita masa tidak mau " bujuk Widianto.


Dengan terpaksa Hana pun bersedia pergi jalan-jalan bertiga.Widianto pun senang bukan kepalang.


Siang itu mereka bertiga pun pergi ke sebuah pusat perbelanjaan.


Acara jalan-jalan itu Hana pergunakan untuk berbelanja kebutuhan dapur.

__ADS_1


Widianto dengan sabar mendorong troli mengikuti kemanapun kaki Hana dan Kanaya melangkah.


Ketika melewati rak berisi aneka kopi, Hana mengambil beberapa kemasan kopi kesukaan Widianto dan memasukkannya kedalam troli.


"Ternyata kamu masih ingat kopi kesukaan aku Mah " lirih Widianto dengan mata berembun.


"Aku hanya asal ambil " jawab Hana sambil ngeloyor pergi.


Widianto kembali mengikuti Hana dibelakangnya dengan troli yang hampir penuh dan hati yang membuncah.


Di lorong yang lain Kanaya sudah memenuhi troli miliknya dengan aneka jajanan kesukaannya dan mereka pun bertemu di meja kasir.


Setelah melakukan pembayaran, Widianto menyuruh sopir untuk membawa semua belanjaan mereka kedalam mobil sementara mereka melanjutkan membeli barang yang lain.


Ketika menemukan sebuah toko perhiasan, Widianto mengajak Hana dan Kanaya masuk kesana.


Hana tampak tidak berminat ketika berada disana.


"Tolong pilihkan perhiasan yang cocok untuk mama kamu " bisik Widianto ditelinga Kanaya.


"Iya Pah " jawab Kanaya sambil memilihkan sebuah cincin yang sangat cantik untuk Hana.


"Langsung dipakai saja Mah " perintah Widianto Setelah melakukan pembayaran namun Hana menolak.


"Mama kenapa tidak mau pakai ? Mama tidak suka dengan pilihan aku ?" tanya Kanaya dengan memasang wajah yang sedih.


"Bukan begitu sayang " Hana terlihat serba salah.


"Pilihan aku buruk ya ?"


"Pilihan kamu bagus kok.. ini mama mau pakai "


Demi menyenangkan putrinya Hana pun memakai cincin itu dan senyum Widianto pun mengembang.


Keluar dari toko perhiasan mereka masuk ke sebuah restoran. Kanaya benar-benar menikmati waktu kebersamaan nya dengan Mama dan Papanya setelah bertahun-tahun kehilangan moment itu.


Kanaya memesan banyak makanan yang ia sukai dan memakannya dengan lahap.


"Jika bukan karena Kanaya males aku jalan sama kamu seperti ini " ucap Hana pedas pada saat Kanaya pergi ke toilet.


"Tidak bisakah kamu memberi aku kesempatan Mah ? aku janji akan memperbaiki semuanya " Widianto memohon.


"Kamu seperti ini karena istri muda kamu itu menikah lagi.. jika tidak mana mungkin kamu akan berubah seperti ini "


"Pada saat aku mengalami kecelakaan dan sempat hilang ingatan, begitu ingatan aku kembali kamu dan Kanaya yang pertama kali aku ingat Mah..dari situ lah aku sadar jika aku selama ini telah salah jalan dan aku ingin kita bersama lagi "


"Dan kamu pikir aku sebodoh itu mau kembali sama kamu hah ?" tanya Hana sinis.


Mendengar ucapan Hana tersebut Widianto pun menunduk.


Perdebatan keduanya berakhir manakala Kanaya sudah kembali dari toilet.

__ADS_1


Di depan Kanaya Hana bersikap biasa kepada Widianto..demi menyenangkan Kanaya.


__ADS_2