
Dengan penuh kesabaran Arsen menemani Alana diatas ranjang sementara Kanaya duduk terpekur di ujung sofa.
Kanaya bingung dengan apa yang harus ia lakukan, apakah harus disana atau pergi meninggalkan Arsen dan Alana berdua.. dan pilihan Kanaya adalah membiarkan ayah dan anak itu berdua.
"Mommy..jangan pelgi.." suara rengekan Alana membuat langkah Kanaya terhenti di depan pintu.
"Mommy cinii...!" Alana merengek lagi sambil melambaikan tangannya kearah Kanaya, hidungnya kembang kempis hendak menangis.
Jika saja Arsen sedikit meliriknya tentu Kanaya akan langsung berlari untuk kembali, namun Arsen tampak tidak peduli. Si bule itu hanya fokus pada putrinya saja.
Dengan langkah berat Kanaya pun memenuhi panggilan Alana kemudian duduk di ujung ranjang sementara Arsen berada di ujung yang lain.
Keduanya membisu hanya sesekali terdengar suara rengekan Alana yang tidak nyaman dengan suhu tubuhnya yang masih naik turun.
Kebisuan mereka terpecah dengan kehadiran Hana dan pelayan yang mengantarkan nampan berisi makan malam untuk Arsen dan Kanaya.
"Silahkan makan Pak Arsen !" kata Hana ramah.
Hana sengaja mengantarkan makan malam mereka ke kamar karena yakin jika Alana tidak akan mau ditinggal walaupun hanya untuk sekedar makan malam.
"Terimakasih " jawab Arsen.
"Naya..kamu juga harus makan sayang, sejak tiba kamu tidak makan apapun " Hana menyentuh bahu putrinya.
Kanaya mengangguk
Hana dan pelayan itu pun keluar meninggalkan mantan suami istri dan putri kecilnya.
Rengekan Alana perlahan tidak terdengar lagi karena anak kecil itu mulai tertidur.
"Silahkan dimakan Pak Arsen " kata Kanaya.
Hati Arsen mencelos karena Kanaya memanggilnya Pak Arsen bukan lagi Daddy seperti dulu..Arsen tidak suka dengan panggilan itu.
Karena memang sangat lapar Arsen pun mengambil piring dan mulai makan begitu juga dengan Kanaya.
"Kenapa sih Mama harus masak bebek Rica-rica ?" batin Kanaya menatap piring di pangkuannya.
Kanaya ingat ketika dulu ia sering mencuri makanan untuk ia antarkan ke unit apartemen Arsen di lantai atas..Kanaya membuang tatapannya ke sembarang arah untuk menyembunyikan matanya yang tiba-tiba berkabut.
Kanaya tidak tau jika sebenarnya Arsen pun memikirkan hal yang sama.
Arsen begitu menikmati makanan yang sudah masuk kedalam daftar makanan pavoritnya itu sambil menikmati sepenggal kenangan yang tersisa.
Tidak terasa kini piring Arsen sudah kosong berbeda dengan Kanaya. Makanan penuh kenangan itu seperti batu yang sulit untuk ia telan..Kanaya tidak menghabiskan makanannya.
"Kenapa tidak dihabiskan ?" tanya Arsen
__ADS_1
"Ya Tuhan.. akhirnya si bule itu bicara padaku " batin Kanaya
"Sudah kenyang " jawab Kanaya dengan suara tersendat.
Mungkin Kanaya akan kembali melanjutkan makannya jika Arsen membujuknya..tapi tentu saja itu hanya mimpi.
Arsen tidak peduli..dia hanya bertanya. Setelah selesai makan si bule itu pergi ke balkon dan merokok disana.
Suara rengekan Alana yang kembali terjaga membuat Arsen buru-buru menggerus rokoknya di asbak dan kembali menemui putri kecilnya.
"Daddy bobo cini mau peyuk..Mommy juga cini ..peyuk juga " pinta Alana.
Arsen dan Kanaya pun naik ke ranjang kemudian memeluk tubuh mungil Alana yang berada di tengah diantara mereka.
Sebelum tidur Kanaya mengganti baju Alana yang basah karena mulai berkeringat pertanda demamnya mulai mereda.
Alana yang tampak mulai nyaman setelah Kanaya mengganti bajunya akhirnya kembali tidur dalam dekapan Mommy dan Daddy nya.
Kanaya dan Arsen pun akhirnya ikut tertidur.
Dua hari kemudian kondisi Alana pun mulai pulih dan Arsen pun pamit pulang.
Kepulangan Arsen diwarnai suara tangis Alana yang menyayat hati karena tidak mau ditinggalkan lagi oleh Daddy nya.
Selanjutnya Arsen rutin mengunjungi Alana setiap akhir pekan. Widianto dan Hana bahkan menyiapkan kamar khusus untuk Arsen jika si bule mantan menantunya itu menginap.
* * * * * * * * *
Khusus akhir pekan ini Widianto dan Hana mengijinkan Arsen membawa Alana menginap di apartemennya.
Alana yang sudah mulai dekat dengan Opa dan Oma nya tampak senang ketika diajak menginap.
Kanaya yang merasa gabut karena ditinggalkan oleh putrinya akhirnya memilih menerima tawaran Dimas teman sekolahnya untuk nongkrong.
"Mau pergi kemana Nay ?" tanya Arman yang sudah kembali dari Lombok.
"Sama temen kak " jawab Kanaya
"Iya temannya siapa dulu ?"
"Namanya Dimas teman sekolah aku..kakak kenapa jadi cerewet sih ?" Kanaya protes.
"Bukan cerewet tapi---"
"Kepo " sambar Kanaya sambil buru-buru pergi karena mobil Dimas sudah datang untuk menjemputnya.
Arman hanya geleng-geleng kepala menatap kepergian Kanaya. Jujur Arman senang melihat Kanaya kembali ceria tapi ia lebih senang jika Kanaya kembali bersatu dengan Arsen.
__ADS_1
Setelah Kanaya pergi tidak lama kemudian Arman pun pergi karena ia ada janji untuk pergi nongkrong dengan Simon.
Namun akhirnya Simon dan Arman tidak jadi pergi nongkrong, kedua pria itu malah pergi membuntuti Kanaya dan Dimas.
Dimas dan Kanaya pergi ke sebuah coffee shop dan ngopi disana.
"Bulan depan akan ada reuni angkatan kita Nay..tempat dan waktu pastinya masih akan dibahas lagi..Lu datang ya " kata Dimas.
"Kalau ga sibuk gue usahakan datang " jawab Kanaya.
"Si Meta dan Viona juga akan datang. Gue udah hubungi mereka "
"Kasih tau saja waktu dan tempat pastinya " kata Kanaya.
Dimas mengangguk.
Pergi dengan Dimas ternyata tidak buruk, Dimas ternyata cukup menyenangkan. Pria itu tetap baik kepada Kanaya meskipun dulu beberapa kali cintanya Kanaya tolak.
"Kalau Lu ga keberatan akhir pekan nanti gue mau ajak Lu nongkrong di coffee shop milik teman gue, tempatnya asik loh..lu pasti suka " kata Dimas.
"Kalau bener tempatnya asik gue mau " jawab Kanaya.
"Yakin, Nay..lu pasti suka " kata Dimas yakin.
Kanaya dan Dimas tidak menyadari jika ada dua pasang mata yang sedang mengawasi mereka.
"Itu kan si Dimas salah satu staf di kantor..darimana mereka kenalnya? " Simon terus mengawasi Kanaya dan Dimas.
"Naya bilang dia teman sekolahnya " jawab Arman.
Arman dan Simon terus mengawasi Dimas dan Kanaya sampai mereka pulang dan Simon pun langsung melaporkan temuannya itu kepada Arsen.
Arsen terlihat menanggapi dengan biasa, si bule itu terlihat tidak peduli membuat Simon merasa kesal karena menganggap usahanya sia-sia.
* * * * * * *
Di Kantor Arsen
Simon yang akan masuk ke ruangan Arsen mengurungkan niatnya ketika mendapati Arsen sedang berbicara dengan Dimas.
"Ada apa si Dimas pagi-pagi ada di ruangan si Bos ?" tanya Simon kepada sekertaris Arsen.
"Kurang tau " sekertaris Arsen mengangkat bahunya.
Simon yang akan menemui Arsen akhirnya menunggu sampai pembicaraan Arsen dengan Dimas selesai.
Tidak lama kemudian Dimas keluar dari ruangan Arsen dan kembali ke mejanya.
__ADS_1
Dimas mengambil gawainya kemudian mengirimkan pesan kepada Kanaya.
[ Sorry Nay.. sepertinya rencana kita untuk pergi ke coffee shop temen gue batal ]