
Minggu sore Kanaya dan Arsen pulang dari Puncak. Sepanjang perjalanan keduanya membisu hanya Alana saja yang sibuk berceloteh dengan suara cadelnya.
"Minggu depan aku tidak bisa menemui Alana karena akan pergi ke Bali " ucap Arsen.
"Iya " jawab Kanaya
"Daddy mau pelgi ?" mata Alana membola menatap wajah Daddy nya.
"Iya..Lana jangan rewel ya sama Mommy " Arsen mengelus puncak kepala Alana.
"No..no..Daddy jangan pelgi " Alana menggerakkan telunjuknya di depan wajahnya.
Arsen tertawa.
"Daddy kan mau cari uang buat jajan Lana " tutur Arsen.
"Lana Ndak mau jajan, nanti cakit " Alana menggeleng.
"Anak pintar " puji Arsen sambil tertawa. Arsen melirik sekilas kearah Kanaya yang tampak tidak tertarik untuk menimpali obrolan antara Arsen dan Alana.
Padahal Arsen sangat ingin melihat Kanaya ikut nimbrung obrolan mereka.
Diam-diam Arsen rindu akan sikap manja Kanaya yang menggoda.
Pada saat Alana tidur, Arsen menepikan mobilnya di sebuah minimarket yang kebetulan mereka lewati.
"Mau ikut turun ?" tanya Arsen
Kanaya menggeleng
Arsen menghela nafas berat. " Mau titip sesuatu ?" tanyanya lagi
Lagi-lagi Kanaya menggeleng.
Dengan berat hati Arsen pun turun sendiri ke minimarket. Tidak lama kemudian Arsen sudah datang lagi dengan membawa satu kantung plastik berisi air mineral dan aneka cemilan. dan satu buah ice cream yang langsung Arsen berikan kepada Kanaya.
Kanaya menerima ice cream pemberian Arsen dengan sedikit ragu. Pasalnya Kanaya merasa jika ice cream lebih cocok untuk anak-anak..apakah Arsen menganggap dirinya masih anak-anak?
Meskipun begitu Kanaya tetap menikmati ice creamnya untuk sekedar menghormati Arsen.
Arsen diam-diam melirik kearah Kanaya, ia seperti melihat Kanaya ketika masih mengenakan seragam putih abunya dan masih berstatus istrinya.
__ADS_1
Jika waktu bisa diputar kembali, Arsen ingin kembali ke masa-masa itu dimana ia masih menyembunyikan status pernikahan nya dari Orangtua Kanaya ..itu adalah kenangan terindah yang tidak akan pernah Arsen lupakan..dan Arsen sangat menyesal telah mengambil keputusan menceraikan Kanaya.
Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya mereka pun sampai di rumah Kanaya.
Setelah mengantarkan Kanaya dan Alana, Arsen pun langsung pulang.
* * * * * *
Hari kerja adalah hari sibuk bagi Arsen begitu juga dengan Kanaya. Niat Widianto untuk menyatukan Kanaya dan Arsen melalui proyek Lombok ternyata gagal.
Kanaya tidak mau masuk dalam tim proyek itu dan Widianto pun tidak bisa memaksa.
Nyatanya Kanaya lebih menyukai bekerja di belakang meja daripada mengurusi projek sebesar apapun nilainya.
Meskipun sibuk dengan pekerjaan, namun Arsen tetap selalu menyempatkan diri mengunjungi Alana setiap akhir pekan.
Seperti sekarang ini, sabtu siang Arsen baru pulang dari Lombok dan sorenya ia langsung mengunjungi Alana di rumah mantan mertuanya.
"Kanaya kemana ? tumben tidak kelihatan" tanya Arsen kepada Arman.
"Kanaya pergi ke acara reuni teman sekolah SMA nya " jawab Arman.
" Dimana ?" tanya Arsen penasaran
"Di Putri resort " jawab Arman
Wajah Arsen terlihat gelap dan Arman dapat menangkap perubahan wajah Arsen itu.
"Mau nyusul kesana ?" tanya Arman
"Tidak..dia mau pergi kemanapun itu hak dia..saya tidak berhak melarang karena dia bukan siapa-siapa saya " jawab Arsen.
Diam-diam Arman tersenyum geli mendengarnya..masih saja tidak mengakui jika sedang cemburu.
Wajah Arsen semakin terlihat gelap ketika mendengar ocehan Alana.
"Mommy pelginyah cama Om Dimas..nanti kalau puyang mau beyiin aku cokat "
Jadi benar Kanaya pergi dengan Dimas, apakah mereka sekarang sudah jadian ? Memikirkan nya saja membuat hati Arsen menjadi kacau balau.
"Tidak usah banyak pikir kalau mau nyusul " kata Arman
__ADS_1
Arsen termenung, ia meragu..jujur ia ingin sekali menyusul Kanaya ke tempat reuni namun Arsen cukup tau diri jika ia bukan siapa-siapa Kanaya..Kanaya bebas setelah ia menceraikan nya.
Kanaya pulang dari acara reuni ketika hari menjelang sore. Arsen melihat Kanaya pulang dengan diantarkan oleh Dimas.
"Hari libur bukannya ngurusin anak malah kelayapan " sindir Arsen ketika mobil Dimas sudah berlalu.
"Loh..bukannya sekarang Lana waktunya sama kamu ?" jawab Kanaya. "Lagian saya mau pergi kemanapun bukan urusan kamu "
"Lana itu masih kecil, setiap hari kamu sibuk di kantor , kalau hari libur kamu pergi kapan Lana ada waktu dengan kamu ?"
"Walaupun kerja tapi aku setiap hari bertemu dengan Lana..tidak seperti kamu " balas Kanaya sinis.
"Aku juga tidak ingin seperti ini , Nay " lirih Arsen.
"Tidak ingin seperti ini ? bukannya ini yang kamu mau " Kanaya tertawa sinis."Kamu yang mau kita seperti ini..ini pilihan kamu..aku hanya mengikuti apa yang kamu putuskan "
"Mommy..Daddy..jangan belantem " Lana menatap Mommy dan Daddy nya dengan tatapan bingung.
Kanaya dan Arsen pun terdiam, mereka baru sadar jika mereka telah bertengkar di depan Alana.
Hana dan Widianto yang sempat mendengar pertengkaran antara Kanaya dan Arsen terlihat sedih. Mereka menyesal telah membuat Arsen dan Kanaya berpisah.
Kanaya yang terlanjur kesal kepada Arsen akhirnya pergi meninggalkan pria itu dan masuk ke kamarnya.
Kanaya tidak keluar lagi dari kamar sampai Arsen pulang setelah berhasil menidurkan Alana.
* * * * * * *
Arsen sedang sibuk di kantornya ketika Simon mengatakan jika ada Widianto ingin menemuinya.
Arsen pun mempersilahkan Widianto masuk ke meeting room karena mereka akan berbicara disana
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda " ucap Widianto setelah mereka berada di meeting room.
"Tentang apa ?" tanya Arsen
"Tentang hubungan kalian..kami sangat menyesal telah memisahkan kalian " ucap papa Kanaya.
"Kami berharap kalian bisa rujuk lagi " pinta Widianto. " Demi Alana" lanjutnya.
Arsen termangu
__ADS_1