Affair with my Stepfather

Affair with my Stepfather
Kenapa Menyendiri ?


__ADS_3

Kanaya mengambil gawainya ketika satu notifikasi pesan masuk.. ternyata dari Dimas


[ Sorry Nay.. sepertinya rencana kita untuk pergi ke coffee shop temen gue batal ]


[ Kenapa ? ]


[ Gue harus berangkat ke Lombok ada kerjaan mendadak dari si Bos ]


[ Sayang ya batal.. mungkin lain kali kita bisa pergi ]


[ Semoga ]


* * * * *


Akhir pekan ini Kanaya menyiapkan pakaian Lana karena sebentar lagi Arsen akan datang menjemput.


Rencananya Arsen akan membawa Alana menginap di villa nya di Puncak bersama seluruh keluarganya.


Ketika Arsen datang Kanaya memberikan tas berisi pakaian dan perlengkapan milik Alana kepada mantan suaminya.


"Mau cama Mommy.." sebelum pergi Alana malah menangis ingin mengajak Kanaya.


"Mommy tidak bisa ikut ya sayang.. Lana pergi sama Daddy saja " bujuk Kanaya.


"Tidak mau..mau cama Mommy juga " tangis Alana semakin kencang.


Kanaya berusaha meredakan tangis Alana.


"Lana pergi sama Daddy ya, nanti Mommy nyusul " bujuk Kanaya.


Alana menggeleng." Ndak jadi ikut cama Daddy "


Alana mendadak menolak ikut pergi dengan Arsen.


"Ikut dong sayang .nanti kita beli mainan ya " bujuk Arsen


"Ndak mau " jawab Alana sambil memeluk erat leher Kanaya.


"Ya sudah kamu ikut saja, kalau Lana tidak ikut Mama dan Papa pasti kecewa karena mereka sudah menunggu ingin bertemu cucunya " kata Arsen memohon.


Kanaya sebetulnya enggan pergi dengan Arsen namun karena ia kasian kepada keluarga Arsen yang sangat ingin bertemu dengan Alana


akhirnya Kanaya pun bersedia ikut dengan Arsen ke Puncak


Pagi itu mereka pergi ke Puncak karena seluruh keluarga Arsen sudah menunggu disana.


Bahkan kedua kakak Arsen dan keluarganya sengaja datang hanya untuk bertemu dengan Alana.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan keduanya membisu. Mereka benar-benar seperti orang asing.


Baik Arsen maupun Kanaya tidak terlibat obrolan sama sekali. Arsen dan Kanaya hanya berbicara dengan Alana saja.


Seluruh keluarga Arsen menyambut hangat kedatangan mereka, bahkan sikap mereka terhadap Kanaya sangat baik meskipun Kanaya sudah tidak berstatus sebagai istri Arsen lagi.


"Kamu masih muda sekali dan cantik " puji Ema kakak ipar Arsen dalam bahasa Inggris.


"Alana cantik seperti kamu, bagaimana kalau Alana aku bawa saja ke Kanada " timpal kakak kedua Arsen.


"Jangan dong kak " jawab Kanaya


Diantara semua keluarga Arsen hanya Arsen yang selalu bersikap dingin kepada Kanaya.


Tidak tahan mendapat sikap dingin dari Arsen, Kanaya pun memilih memisahkan diri di pinggir danau sambil menikmati pemandangan di sekitar danau.


Dulu ia dan Arsen pernah menginap disini dan menghabiskan malam panas berdua.


Kini mereka datang lagi ke tempat ini dalam suasana yang sangat berbeda. Ia dan Arsen tak ubah layaknya seperti orang asing.


Ada rasa sakit menusuk di ulu hatinya saat mengingat semua kenangan manis itu. Tak terasa air mata Kanaya pun menetes di pipi mulusnya.


"Kenapa menyendiri disini ?"


Kanaya kaget ketika tiba-tiba Arsen berdiri dibelakangnya sambil menggendong Alana yang tertidur di bahunya.


"Sa..saya sedang menikmati pemandangan disini " jawab Kanaya dengan suara sedikit bergetar.


"Menikmati pemandangan atau sedang menghindari saya ?" tanya Arsen menyindir.


Kanaya mengernyit, apa tidak sebaliknya ? batinnya.


"Kalau saya menghindari kamu tidak mungkin saya ada disini sekarang " jawab Kanaya dengan tatapan lurus kedepan kearah danau yang membiru sebiru hatinya saat ini.


Untuk sesaat keduanya saling membisu.


"Alana sudah tidur, biar saya bawa ke kamar " Kanaya mencari alasan untuk pergi dari hadapan Arsen.


"Tidak usah mencari alasan untuk pergi dari sini " ucap Arsen.


"Kenapa kamu selalu berkata seolah aku sedang berusaha menghindari kamu ?" tanya Kanaya


"Memang begitu kan kenyataannya " jawab Arsen.


"Aku bukan menghindar, kalau bukan demi Lana malas saja berhubungan dengan pria pengecut seperti kamu " jawab Kanaya sambil berlalu meninggalkan Arsen.


"Apa maksud kamu berkata begitu ?" tanya Arsen sambil menangkap tangan Kanaya.

__ADS_1


"Pikir saja sendiri " jawab Kanaya seraya menepiskan tangan Arsen dan berlalu dari sana.


Arsen menatap punggung Kanaya yang menghilang dibalik pintu kamarnya. Dan setelahnya Arsen pun membawa Alana ke kamarnya.


Malam mulai merangkak naik, Kanaya sudah mulai terlelap dibawah selimut tebalnya.


Di kamar sebelah Arsen tampak sedang kerepotan menenangkan Lana yang terbangun dan merengek mencari Ibunya.


Karena Alana mulai menangis akhirnya Arsen pun memberanikan diri mengetuk pintu kamar Kanaya.


Tok..tok..tok


Suara ketukan dipintu kamarnya membuat Kanaya kembali terjaga. Dari luar terdengar suara tangisan Alana dan suara Arsen yang memanggil.


Kanaya menyingkirkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya kemudian beranjak menuju pintu.


Begitu pintu terkuak Kanaya melongo mendapati Alana tengah menangis dalam gendongan Arsen.


"Mommy..mau bobo cama Mommy " Alana merentangkan tangannya kearah Kanaya.


"Ya sudah Lana bobo sama Mommy saja ya " Kanaya mengambil alih bocah kecil dalam gendongan Arsen.


Wajah Arsen tampak kecewa karena Alana memilih tidur dengan Kanaya, padahal ia ingin tidur sambil memeluk tubuh putri kecilnya malam ini.


Setelah memberikan Alana kepada Kanaya, Arsen pun berbalik hendak kembali ke kamarnya.


Baru dua langkah berlalu ia tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika terdengar kembali suara rengekan Alana.


"Mau bobo cama Daddy juga..cama Mommy juga "


Arsen dan Kanaya terlihat bingung.


"Bobo nya dicanah.." Alana menunjuk ke kamar Arsen.


Tidak ingin melihat Alana menangis akhirnya dengan terpaksa Kanaya pun pindah ke kamar Arsen.


Arsen dan Kanaya menidurkan Alana sampai bocah itu benar-benar pulas.


Setelah memastikan Alana tidur dengan pulas Kanaya pun kembali ke kamarnya.


Arsen menatap punggung Kanaya yang menghilang di balik pintu dengan perasaan sedih. Ia tidak menyangka jika kisah cintanya dengan putri sambungnya itu akan berakhir seperti ini.


Disaat buah hatinya hadir ia dan Kanaya bukan lagi siapa-siapa. Tidak bisa dipungkiri jika ia masih sangat mencintai Kanaya, tapi ia juga sangat kecewa ketika menyadari jika selama ini Kanaya hanya menjadikan dirinya sebagai alat balas dendam kepada Angel.


Arsen tidak menyadari jika keputusan dirinya untuk menceraikan Kanaya juga telah menorehkan luka yang sangat dalam di hati Kanaya.


Disaat Kanaya berharap Arsen bergerak untuk memperjuangkan cinta mereka seperti niat semula namun malah perceraian yang Kanaya terima.

__ADS_1


__ADS_2