Affair with my Stepfather

Affair with my Stepfather
Alana Sakit


__ADS_3

Sudah satu Minggu lebih Arsen mulai kembali ke kantornya di Jakarta. Bocah cantik bermata perak bernama Alana ternyata mempunyai kekuatan sangat besar sehingga mampu membuat si bule itu kembali ke Jakarta.


Pagi itu Simon datang ke ruangan kerja Arsen membawa kabar cukup mencengangkan.


"Siang nanti ada perwakilan dari perusahaan mantan mertua Bos yang ingin bertemu " lapor Simon.


"Ngapain ? kalau urusan bisnis gue bisa, tapi kalau urusan pribadi gue tidak bisa " jawab Arsen.


"Sepertinya urusan bisnis " ucap Simon.


Jika akhirnya menjadi urusan pribadi itu urusan belakangan. Yang penting mereka bertemu.


"Bagaimana Bos ?" tanya Simon.


Arsen tampak berpikir sebelum akhirnya ia mengangguk tanda setuju.


"Atur pertemuan disini saja, gue gak mau datang ke tempat mereka " perintah Arsen.


"Baik Bos " jawab Simon


Ini akan jadi sebuah pertemuan bersejarah dan Simon tidak sabar menantinya.


Tepat pada saat jam makan siang dua orang dari perusahaan Widianto datang.Orang itu adalah Widianto sendiri dan Arman.


Widianto berencana akan membangun hotel di Bali dan Lombok dan ia ingin perusahaan Arsen lah yang mengerjakan pembangunan nya.


Widianto memilih perusahaan Arsen karena mereka pernah beberapa kali terlibat kerjasama dan hasilnya selalu memuaskan.


Pembicaraan antara mantan menantu dengan mantan mertua itu berlangsung hampir satu jam lebih. Dan mereka murni membicarakan urusan bisnis.


Arman diam-diam memperhatikan Arsen dengan Widianto. Arman yakin jika tujuan Widianto bukan semata-mata untuk urusan bisnis, Arman tidak bisa menebak apa tujuan utama Papa nya itu menjalin hubungan bisnis dengan Arsen.


Setelah pembicaraan mengenai projek kerjasama usai Widianto dan Arman pun pulang.


"Papa yakin akan menjalin kerjasama dengan perusahaan Arsen ?" tanya Arman ketika mereka dalam perjalanan pulang.


Jujur Arman khawatir jika Papa nya sedang mencari jalan untuk semakin menjauhkan Arsen dengan Alana dan Kanaya.


"Kenapa kamu bertanya begitu ?" Widianto balik bertanya.


"Bukan kah Arsen itu mantan menantu Papa " jawab Arman.


"Memang ada aturannya tidak boleh menjalin kerjasama dengan mantan menantu ?" tanya Widianto.


"Bukan begitu Pah..a..aku hanya takut Naya terluka Pah..aku sayang dia. Kemarin saja saat Arsen menemui Lana, Kanaya begitu terluka..apalagi jika kedepannya mereka akan semakin sering bertemu aku khawatir Naya akan semakin terluka " jawab Arman.

__ADS_1


Diluar dugaan Widianto malah tersenyum. "Papa senang kamu peduli kepada Kanaya dan menyayangi dia seperti adik kamu sendiri "


Arman semakin dibuat bingung dengan ucapan Widianto.


"Kamu tidak usah bingung.. Papa sedang berusaha untuk membahagiakan anak-anak Papa " Widianto menepuk bahu putra angkatnya.


"Memisahkan Arsen dengan Kanaya bukan membahagiakan Pah tapi malah menghancurkannya " batin Arman.


"Projek ini Papa percayakan kepada kamu dan Naya, Papa harap ini membuka jalan bagi mereka untuk berkomunikasi lagi karena sekarang ada Lana diantara mereka "


"Serius Pah ?" Arman menatap Widianto tidak percaya.


"Ya..mau bersatu lagi atau tidak nantinya itu terserah mereka. Yang penting Papa sudah menyambungkan kembali sesuatu yang sudah Papa putuskan. Mendengar pembicaraan kalian di kamar sewaktu Arsen datang untuk menemui Lana membuat Papa dan Mama sadar jika apa yang sudah kami lakukan adalah salah. Kami egois dan hanya memikirkan perasaan kami sendiri tanpa peduli dengan perasaan Kanaya. Melihat Naya menutup diri selama bertahun-tahun adalah sebuah tamparan bagi kami " aku Widianto.


Aman mengangguk


"Sekarang tugas kamu sebagai kakaknya tolong jaga Naya sampai dia mendapatkan kebahagiaan nya " pesan Widianto


"Iya Pah " jawab Arman.


* * * * * * * *


Kanaya tampak ogah-ogahan ketika harus pergi ke Lombok untuk urusan proyek pembangunan hotel Papa nya. Alasannya adalah tentu saja karena ia enggan bertemu dengan si bule mantan suaminya.


Hari pertama tiba Kanaya memilih mengurung diri di kamar, sedangkan Arman sempat nongkrong dan ngopi bersama Simon.


"Kemana Kanaya ?" tanya Simon


"Ngumpet, dia sepertinya belum siap bertemu dengan Arsen " jawab Arman.


"Terlalu lama tertekan ya begitu, padahal dulu dia yang nyosor Arsen duluan " Kata Simon.


"Dulu kan dia itu masih bocah, pikirannya masih labil, sekarang dia sudah dewasa " jawab Arman.


"Iya..semakin cantik " puji Simon.


"Semoga dengan adanya Lana diantara mereka bisa membuka jalan untuk mereka kembali bersama lagi " kata Arman.


"Waktu gue pertama kali liat Lu gue pikir Lu itu suami Kanaya, soalnya gue denger Lana panggil Lu Papa " Simon terkekeh.


Arman pun ikut terkekeh. " Dia tidak punya Papa jadi gue tidak keberatan jadi Papa nya "


"Lu tidak naksir Kanaya kan ?" Simon menatap curiga


"Gue sayang dia sebagai adik karena dari awal Pak Widianto angkat gue anak bukan buat menantu" jawab Arsen.

__ADS_1


Simon pun terlihat lega.


Keesokannya Arman, Simon, Kanaya dan Arsen pergi bersama ke lokasi. Ini adalah untuk yang pertama kalinya Kanaya bertemu dengan Arsen setelah hari penembakan itu..dan suasana diantara mereka terlihat kaku.


Kanaya tidak berbicara apapun, hanya Arman, Arsen dan Simon lah yang membahas masalah proyek yang akan segera mereka kerjakan.


Kacamata hitam yang Kanaya pakai menyembunyikan mata Kanaya yang berair sejak bertemu dengan Arsen.


Selesai meninjau lokasi mereka berempat pergi untuk makan siang bersama.


Ketika sudah berada di restoran barulah Kanaya membuka kacamata nya dan Arsen terkesiap mendapati mata Kanaya yang merah seperti yang habis menangis..namun Arsen tidak mengatakan apapun seolah ia tidak peduli dan tentu saja itu membuat Kanaya semakin terluka.


Acara makan siang itu bagi Kanaya seperti sedang memakan bara,terasa panas dan menyesakkan tenggorokannya.


Kanaya hanya mampu menelan sedikit makanannya dan semua itu tidak luput dari perhatian Arsen.


Setelah selesai makan siang mereka pun melanjutkan menghadiri pertemuan dengan pejabat setempat untuk membicarakan masalah perijinan.


Setelah semua beres mereka pun pulang.Setibanya di hotel Kanaya langsung mengurung diri di kamar dan tidak keluar lagi. Kanaya menolak ajakan Arman untuk pergi jalan-jalan menikmati suasana malam di Lombok.


Di hari ketiga Arman dan Simon merencanakan untuk mempertemukan Arsen dan Kanaya berdua namun Kanaya memutuskan pulang lebih dulu ke Jakarta karena Alana mengalami demam.


Mendengar Alana sakit Arsen pun menyusul Kanaya pulang ke Jakarta.


Melihat Mommy nya pulang Alana pun langsung tidak mau turun dari gendongan Kanaya.


"Semalam sudah Mama bawa ke dokter dan sudah dikasih obat penurun demam. Kalau masih demam juga dokter bilang Alana terpaksa harus dirawat " kata Hana.


"Sembuh dong sayang , jangan buat Mommy khawatir " Kanaya mengecup kening Alana.


Disaat Alana nyaris terlelap dalam gendongan Kanaya tiba-tiba Arsen datang. Wajah pria bule itu terlihat khawatir melihat kondisi putrinya yang tampak lemah dalam gendongan Kanaya.


"Apakah masih demam ?" tanya Arsen. Kanaya mengangguk.


Mendengar suara Arsen, Alana pun membuka matanya kemudian mengangkat tangannya minta digendong.


Tanpa pikir panjang Arsen pun langsung mengambil Alana dari gendongan Kanaya.


"Daddy..cakit " keluh Alana


"Iya sayang...cepat sembuh ya, jangan bikin Daddy khawatir " Arsen mengusap punggung Alana.


Alana pun akhirnya tertidur dalam gendongan Arsen.


Malam itu Arsen tidak pulang karena Alana tidak mau sedetikpun jauh dari Arsen dan Widianto pun mengijinkan Arsen menginap.

__ADS_1


__ADS_2