Affair with my Stepfather

Affair with my Stepfather
Viona Dikurung


__ADS_3

Keluarga Viona langsung panik ketika menyadari jika putrinya minggat entah kemana.


Kabar minggatnya Viona pun sampai pada keluarga Widianto. Hampir seminggu Viona tidak masuk kerja dan hape nya tidak aktif.


Di hari ke delapan Viona mengabari keberadaannya kepada Arman.


[ Kak Arman maaf sudah seminggu ini aku tidak ngantor, aku sedang ada masalah keluarga ]


[ Ada masalah apa kalau boleh tahu ? ]


Arman pura-pura tidak tahu


[ Mama dan Papa akan menjodohkan aku dengan orang yang tidak dikenal, seperti zaman Siti Nurbaya saja ]


Jawab Viona


[ Memangnya kamu minggat kemana ? ]


Tanya Arman


[ Aku minggat ke Jogja, ke rumah teman aku ]


Jawab Viona


[ Ya sudah hati-hati ]


Jawab Arman


[ Tapi aku jangan dipecat ya kak, kalau dipotong gaji aku tidak keberatan karena aku masih butuh pekerjaan itu. Sebentar lagi aku pasti di coret dari kartu keluarga dan hak waris ]


Arman tersenyum membaca pesan Viona tersebut dan ia pun langsung mengabari keluarga Viona tentang keberadaan gadis itu.


Dua hari kemudian Viona pun diciduk di rumah Meta.


Viona marah-marah kepada Arman karena ia sudah bisa menebak jika Arman lah yang sudah membocorkan keberadaannya kepada keluarganya.


"Dasar laki-laki tidak bisa dipercaya " Sungut Viona.


Akhirnya keluarga Viona pun berhasil membawa paksa gadis itu pulang.


Setibanya di rumah Viona langsung dikurung dan tidak diijinkan memegang hape. Orangtua Viona takut jika gadis itu mencoba kabur lagi.


* * *


Sepulang dari kantor, Kanaya menyempatkan diri mampir ke rumah Viona.


"Nay..gue ga mau dijodohin, lu harus bantu gue kabur " Viona memohon.

__ADS_1


"Ga mau Vi..gue takut kualat " Jawab Kanaya santai.


"Lu tega banget sih sama gue. Lu ga peduli sama gue mentang-mentang lu dan si bule sudah mendapat restu dari bonyok lu " Kata Viona.


"Bukan ga peduli Vi..justru gue peduli banget sama lu. Gue yakin kalau jodoh pilihan ortu lu itu yang terbaik..emang lu ga ngiler punya suami kayak gue dan Meta. Punya suami itu asik tau..kalau malem itu ada yang ngekepin " Kanaya mengompori Viona.


"lu dan Meta sih enak..suami kalian adalah pilihan kalian sendiri, tidak seperti gue " Kata Viona dengan wajah sedih.


"Lu jangan sedih gitu dong Vi..banyak kok pasangan hasil perjodohan yang berakhir bahagia " Kata Kanaya.


"Yang jelas bukan gue..lu pikirin saja..sampai saat ini gue tidak tahu siapa yang akan menikah sama gue..kalau kakek-kakek yang sudah bau tanah bagaimana?" Viona bergidik ngeri


Kanaya tertawa. Dasar bodoh..sampai sekarang Viona tidak tahu jika ia akan dinikahkan dengan Arman.


Kanaya melirik jam tangannya.


"Sekarang sudah sore, bentar lagi si bule pulang..gue harus pulang sekarang. Gue ga mau si bule ngamuk kalau dia pulang gue ga ada di rumah "


"Gue ikut sama lu ya Nay " Viona memeluk kaki Kanaya.


"Apa-apaan sih lu..gue ga mau digantung sama keluarga lu " Kanaya menepiskan tangan Viona.


"Nayaaaa ..gue ikut " Viona merengek.


"kagak..sudah lu diam saja disini. lu kan lagi dipingit " Kata Kanaya sambil buru-buru pergi dari kamar Viona.


"Nayaaa..dasar teman laknat lu " Viona ngamuk-ngamuk di kamarnya.


Setelah pamitan kepada Mama Viona, Kanaya pun melajukan mobilnya menuju pulang. Ia berpacu dengan waktu khawatir Arsen keburu pulang.


Begitu sampai rumah ternyata mobil Arsen sudah ada..sial ternyata Arsen pulang lebih cepat dari dirinya.


"Sayang..sudah pulang ?" Sapa Kanaya sambil memeluk perut Arsen dan mengecup bibirnya lembut seperti biasa.


Arsen masih mengenakan kemeja kerjanya dengan dasi yang sudah ia longgarkan. Tas kerjanya tampak tergeletak di ranjang.


"Darimana dulu..kenapa telat ?" Tanya Arsen


"Habis dari rumah Viona dulu, nengokin dia yang sedang dikurung " Jawab Kanaya sambil terkikik kemudian duduk manis di pangkuan si bule.


"Kamu seperti yang senang melihat nasib teman kamu itu " Kata Arsen.


"Dia itu lucu Dad..masa pas aku mau pulang dia nangis-nangis ingin ikut " Kata Kanaya.


"Kenapa kamu tidak kasih tau saja sama Viona kalau yang mau dijodohkan sama dia itu Arman "


"Aku dilarang sama Papa..biar saja si Viona nangis guling-guling dulu " Jawab Kanaya.

__ADS_1


"Dasar nakal " Arsen mencubit ujung hidung Kanaya.


"Nakal juga kan istri Daddy " jawab Kanaya sambil mengurai simpul dasi Arsen dan melemparkannya ke atas sofa.


Setelah berhasil melepaskan dasi Arsen, kini tangan Kanaya melepas satu persatu kancing kemeja Arsen.


"Daddy sekarang mandi sudah itu kita ke rumah Mama. Malam ini mereka nyuruh kita nginep disana katanya mau bahas tentang pernikahan kak Arman " Kata Kanaya.


"Oke..tapi aku mau mandinya sama kamu sayang " Jawab Arsen


"Tidak ah..kalau mandi sama Daddy tidak bisa cepat " Tolak Kanaya.


Mendengar penolakan Kanaya Arsen pun langsung bangun dari duduknya. Kanaya yang sedang berada dalam pangkuannya pun ikut terangkat dan Arsen pun membawa tubuh Kanaya seperti membawa karung beras ke kamar mandi.


"Daddy turunin..takut jatuh..iya aku mau mandi sama Daddy " Kanaya memukul punggung Arsen minta diturunkan.


Arsen pun menurunkan Kanaya di dalam bathtub yang sudah terisi air.


"Dasar bule..tidak sabaran banget sih " Kanaya ngomel-ngomel karena pakaian kerjanya basah kuyup.


Arsen tertawa kemudian masuk ke dalam bathtub setelah melepas semua pakaiannya hingga benar-benar polos.


"Sini aku bantu " Arsen pun membantu melepaskan rok dan kemeja Kanaya yang sudah basah.


"Daddy itu jahil sekali sih " Kanaya masih menggerutu setelah semua pakaiannya terlepas hingga tidak menyisakan selembar benangpun di tubuhnya.


"Mumpung tidak ada Lana sayang, kalau ada dia pasti teriak-teriak marah lihat Mommy dan Daddy nya pacaran " Bisik Arsen sambil mengecup pundak Kanaya dan menyesapnya. Sementara tangannya menyelusup disela lengan Kanaya demi menjangkau sepasang gunung kembar Kanaya yang semakin padat berisi.


Arsen masih ingat dengan benar ukuran dada Kanaya saat pertama kali ia menjamahnya. Saat itu Kanaya masih 16tahun dan ukuran dadanya tidak lebih dari sebesar kepalan tangan.


"Daad.." Kanaya melenguh saat tangan kokoh berbulu pirang itu mere mas dadanya dan memi Lin puncaknya dengan gemas.


Kanaya dapat merasakan adanya pergerakan di bokongnya. Pasti sosis jumbo si bule sudah bangun dan meminta untuk dijinakkan.


Perlahan Arsen mengangkat tubuh Kanaya agar menghadap kearahnya agar ia dapat leluasa menikmati tubuh Kanaya dari depan.


Kanaya pun duduk dengan kedua tungkai kaki mengapit pinggang Arsen. Dan sosis jumbo si bule pun dengan sendirinya perlahan melesak masuk kedalam lembah surgawinya.


Kanaya menekan bokongnya dan si bule pun menggeram sambil meremas bokong Kanaya.


Arsen dan Kanaya hampir satu jam lebih berada disana. Setelah memuaskan si bule mesumnya Kanaya dan Arsen pun keluar dari kamar mandi.


Ada perbedaan saat Kanaya dan Arsen keluar dari kamar mandi. Wajah Arsen terlihat segar dan berseri-seri sedangkan Kanaya terlihat lemas dan nyaris tidak bisa berjalan.


"Dasar bule mesum " Kanaya menggerutu karena Arsen benar-benar telah membuat dirinya lemas di kamar mandi.


"Kalau masih lemas ke rumah Papanya aku gendong saja " Kata Arsen meledek.

__ADS_1


"Tidak mau..yang ada mereka malah curiga kalau kita habis nganu dulu sebelum pergi " Kanaya memukul lengan Arsen .


Arsen pun tertawa.


__ADS_2