
Arman melajukan mobilnya menuju ke luar Jakarta. Di sebelahnya Viona tampak tertidur dengan sangat pulas.
Setelah drama perjodohan yang melelahkan akhirnya Viona dapat tertidur dengan pulas setelah mengetahui jika suaminya bukanlah kakek kaya raya seperti yang ia pikirkan selama ini.
Kalau saja Viona tahu jika orang yang akan dijodohkan dengannya adalah Arman pasti ia tidak akan buang-buang tenaga sampai kabur ke Jogja segala.
Setelah berjam-jam perjalanan Viona terbangun karena merasakan mobil yang mereka kendarai melewati jalanan berbatu.
Viona meringis karena kepalanya sempat terantuk di kaca mobil.
"Ini dimana sih kak ?" Tanya Viona saat menyadari jika mobil mereka sedang melaju melewati jalanan berbatu di sebuah perkampungan.
"Ini di kampung tempat kelahiran aku. Sebentar lagi kita akan sampai di istana aku " Jawab Arman
Jika melihat kondisi kampung yang terpencil seperti ini Viona tidak yakin ada istana di sini.
"Ini jalanan tempat mobil Papa terjun ke jurang " Arman menunjukkan sisi kiri jalan yang mereka lewati dimana disana ada sebuah jurang yang cukup dalam.
"Pantas saja Om Widi sempat menghilang lama..kalau melihat kondisinya seperti ini masih untung beliau bisa selamat juga " Kata Viona.
"Aku menemukan Papa dalam keadaan terluka parah " ujar Arman
"Kamu adalah pahlawan buat keluarga Kanaya..pantas mereka sangat menyayangi kak Arman " Ujar Viona.
Sepuluh menit kemudian mobil Arman pun sampai di sebuah rumah sederhana di tengah ladang.
Rumah itu terbuat dari kayu dan disanalah Arman merawat Widianto hingga sembuh.
"Ini adalah istana aku " ujar Arman sambil turun dari mobil dan menurunkan semua barang mereka.
Meskipun ditinggal lama namun rumah Arman tetap terawat baik karena Arman menyuruh orang untuk menjaga dan merawatnya.
"Ini adalah kehidupan aku yang sebenarnya. Aku harap kamu menerima aku apa adanya bukan karena aku anak angkat Papa " ucap Arman sambil membawa Viona masuk kedalam istananya.
Viona membuka sepatu mahalnya karena rumah Arman adalah rumah panggung.
Meskipun istana Arman ini jauh dari ekspektasinya namun Viona bersyukur karena setidaknya sudah ada listrik disana.
"Kita akan tinggal disini selama satu Minggu " Ujar Arman
"Apakah itu artinya kita akan bulan madu disini ?" Tanya Viona
"Anggap saja begitu " Jawab Arman
Kini Viona baru mengerti kenapa Arman membawa banyak makanan di dalam mobilnya, rupanya semua itu untuk bekal mereka selama seminggu tinggal disini.
Hari mulai gelap dan suara binatang malam mulai terdengar. Viona yang baru mengunjungi tempat terpencil seperti itu mulai ketakutan.
"Kakak itu suara apa ?" Tanya Viona sambil menggeser duduknya mendekati Arman.
__ADS_1
"Itu suara kodok. Tepat di belakang rumah ini ada sungai dan sawah " Jawab Arman.
"Ooh "
"Kenapa ..kamu takut ?" Tanya Arman
"Sedikit " Jawab Viona.
"Kalau kamu takut sebaiknya tidur saja. Kamu pasti belum terbiasa dengan suara-suara alam seperti ini " Kata Arman
" Sama kakak tidurnya " Viona semakin merapatkan tubuhnya kepada Arman. Ia benar-benar takut dan tidak mau jauh dari Arman.
Ini baru jam tujuh malam namun Viona merasa jika sudah tengah malam saking sepinya seperti tidak ada kehidupan manusia disana selain mereka berdua.
"Tidur sini !" Perintah Arman sambil memberikan lengannya untuk Viona jadikan bantal. Padahal disana juga sudah tersedia bantal untuk Viona.
Viona merebahkan tubuhnya di sebelah Arman dengan berbantalkan lengan kokoh pria itu.
Meskipun rumah Arman sangat sederhana namun Viona sangat yakin jika kasur dan bantal juga sprei yang sekarang ia tiduri semuanya baru.
"Dulu kak Arman tinggal sendirian disini ?" Tanya Viona sambil mengelus dada Arman.
"Iya. Bapak dan Ibu sudah meninggal karena hanyut saat terjadi banjir bandang " Jawab Arman
"Maaf " Cicit Viona
"Kenapa harus minta maaf ?" Tanya Arman.
Untuk sesaat keduanya saling membisu. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing di benak mereka.
"Setelah mengetahui kehidupan aku seperti ini apakah kamu menyesal telah menikah dengan aku ?" Tanya Arma.
"Tidak " Jawab Viona
"Seandainya kita tidak kembali ke Jakarta apakah kamu mau mendampingi aku disini dan menggarap lahan disini ?" Tanya Arman.
"Mau..asal sama kamu terus " Jawab Viona.
"Sungguh ?" Tanya Arman. Viona mengangguk.
"Terimakasih sayang " Ujar Arman dan tanpa disangka-sangka langsung melahap bibir Viona dengan rakus.
Viona menyambutnya dengan hangat. Viona merasakan tangan kekar Arman menyelusup dibalik bajunya dan merayap menuju keatas ke bagian dadanya dan menyelipkan jemarinya disana.
Jemari Arman pun menemukan dua gunung kembar Viona yang masih terbungkus.
Viona melenguh saat jemari kokoh Arman mere-masnya dengan lembut dan memilih puncaknya.
Saat tiba di sini Viona pikir Arman adalah pria yang lugu dalam urusan s*x namun ternyata Arman cukup lihai dalam memanjakan tubuh Viona hingga membuat wanita itu terus menggelinjang menerima sentuhan bibir dan tangan dari Arman.
__ADS_1
Sejak kenal dengan Simon Arman sering pergi ke klub dan mulai mengenal dunia malam. Namun Arman tidak pernah terjerumus dalam pergaulan bebas seperti Simon.
Selama ini Arman hanya jadi penonton dan ia baru akan mempraktekkannya kepada Viona.
Semakin malam udara semakin dingin. Viona semakin merapatkan tubuhnya kepada tubuh kekar Arman dengan bibir saling bertautan.
Cukup lama mereka larut dalam ciuman yang lembut dan memabukkan. Semakin lama ciuman lembut itu mulai berubah luar dan menuntut ditambah lagi dengan aksi tangan Arman yang mulai menjelajahi sekujur tubuh mulus Viona.
Merasa aksinya terganggu dengan pakaian yang melekat di tubuh Viona, Arman pun melepasnya dan menghempaskannya ke sembarang arah.
Kini tubuh Viona sudah sepenuhnya polos dan Arman terkesiap menatapnya. Arman tidak menyangka jika Viona memiliki sepasang dada yang besar membuat jakunnya naik turun ingin segera melahapnya.
Perlahan Arman merangkak keatas tubuh Viona namun gadis itu menahan dada Arman.
"Kenapa ?" Tanya Arman
"Kak Arman curang..kenapa aku telanjang sendirian ?" Jawab Viona
Arman menatap dirinya yang masih mengenakan pakaian lengkap sementara Viona yang ada di bawah tubuhnya sudah telanjang bulat dan ia pun tertawa.
Dengan cepat Arman pun melepas kaosnya. Viona membantu Arman saat pria itu melepas lilitan sabuk di pinggangnya. Tidak lama kemudian mereka pun sudah sama-sama polos.
Viona terkesima melihat adik kecil Arman yang menggantung disela pangkal pahanya yang ukurannya tidak lah kecil.
Viona membayangkan pasti sakit jika benda itu masuk kedalam inti tubuhnya..membayangkannya saja membuat Viona bergidik ngeri..Untuk ukuran lokal saja Viona merasa ngeri lalu bagaimana dengan Kanaya yang bersuami pria bule yang katanya ukurannya lebih besar dari ukuran pria lokal..tapi sampai sekarang Kanaya masih hidup.
Viona tertawa sendiri membayangkannya.
Viona berhenti berpikir yang ngawur ketika Arman kembali melakukan penyerangan. Kali ini sepasang dada montoknya yang jadi sasaran.
Arman melahap dada montok Viona dengan sangat rakus dan satu tangannya mere mas nya. Tubuh Viona melenting keatas karena kegelian dan tangannya menjambak rambut Arman.
Satu desa han lolos dari bibir Viona saat Arman menghisap puncak dadanya dengan kuat
Selain dada, Arman juga menyerang bagian leher Viona dan memberikan banyak tanda kepemilikan disana.
Viona tampak pasrah dibawah kendali tubuh Arman. Ia hanya bisa menatap wajah tampan suaminya itu dengan tatapan sayu.
Ketika Arman mulai bersiap pada permainan inti, Viona membuka kedua pahanya lebar-lebar untuk memberi akses agar tubuh kekar Arman berada diantaranya.
Malam itu Viona pun memasrahkan seluruh jiwa dan raganya kepada Arman.
Tubuh Arman dan Viona menyatu dengan diiringi alunan suara binatang malam yang sudah mulai familiar di telinga Viona.
Setelah mencapai puncaknya tubuh Arman pun ambruk diatas tubuh Viona seiring dengan ambruknya ranjang kayu miliknya.
Meskipun kasur,bantal dan sprei mereka baru namun Arman lupa mengganti ranjang kayunya dengan yang baru.
"Kak..ranjangnya ambruk " Kata Viona
__ADS_1
"Ya sudah besok ranjangnya kita jadikan kayu bakar saja " Jawab Arman santai.