Affair with my Stepfather

Affair with my Stepfather
Rencana Perjodohan


__ADS_3

Matahari sudah mulai tinggi, namun Arsen dan Kanaya tidak ada tanda-tanda akan bangun dengan cepat.


Tubuh polos keduanya masih menyatu dalam.balutan selimut tebal berwarna putih.


Kanaya tampak begitu nyaman bergelung di dada bidang si bule yang berbulu.


Kanaya lebih dulu terjaga namun ia enggan beranjak dari tempat ternyamannya di dada si bule.


Kanaya betah menghirup aroma maskulin yang menenangkan dari tubuh Arsen sampai tidak sadar ia mengendus-endus dada pria itu.


"Menyadari ada yang mengendus tubuhnya Arsen pun membuka matanya dan senyum pun langsung mengembang di sudut bibirnya kala menyadari siapa yang sudah mengganggu tidurnya.


"Sudah bangun hmm ?" Arsen mengecup puncak kepala Kanaya.


"Sudah tapi mau begini terus sama kamu " jawab Kanaya manja.


Arsen tertawa sambil meraih tubuh polos Kanaya dan mendekapnya erat.


Kanaya menengadah dan tatapan mereka bertemu.Perlahan bibir mereka pun bertemu dan saling melu mat.


Cukup lama mereka berciuman dengan panas dan baru saling melepaskan diri ketika pasokan oksigen mereka mulai menipis.


"I love you Kanaya so much " bisik Arsen setelah mengakhiri tautan bibir mereka.


"I also really love you.. Daddy" jawab Kanaya sambil mengecupi rahang tegas Arsen..dan Arsen membiarkannya.


Namun ketika kecupan itu mulai bergeser dari rahang menuju leher Arsen pun langsung bereaksi.


"Jangan salahin Daddy, sayang . Kamu yang mancing duluan " keluh Arsen sambil mendorong tubuh Kanaya hingga telentang dan kemudian Arsen pun merangkak naik keatasnya.


Kanaya terkikik sambil mengaitkan sepasang tungkainya di pinggang Arsen.


Suara tawa Kanaya pun tidak lama kemudian menjadi suara desa han dan era ngan ketika siang itu Arsen melambung Kanaya ke langit ke tujuh.


Mereka mengakhiri sesi percintaan hari ini dengan berendam bersama di bathtub.


* * *


Setelah seminggu berlalu Arsen dan Kanaya pun kembali ke Jakarta. Dua hari kemudian Arsen pun memboyong Kanaya dan Lana pindah ke rumah yang sudah Arsen bangun sebelum mereka bercerai.


Awalnya Widianto dan Hana keberatan melepas mereka pindah namun akhirnya mereka terpaksa mengijinkan karena rumah yang Arsen bangun itu sudah lama kosong dan hanya diisi oleh beberapa pelayan yang bertugas merawat rumah itu.


"Sayang..sejak kapan kamu bangun rumah ini ?" tanya Kanaya di hari pertama kepindahan mereka.


"Sudah lama..sebelum kita cerai " jawab Arsen.


Kanaya termangu, ia tidak menyangka jika Arsen diam-diam sudah menyiapkannya sebuah rumah yang sangat megah untuk tempat tinggal mereka.


Lana sibuk wara wiri kesana kemari di rumah barunya dan berakhir di sebuah area Playhouse yang Arsen buat khusus untuk putri kecilnya.


Lana pun anteng disana bersama pengasuhnya.


"Setiap hari Mama akan kesini buat menemani Lana kalau kalian ngantor "kata Hana saat mereka berkumpul di ruang tengah sambil memperhatikan Lana yang sedang berada di dalam rumah mini nya di area Playhouse.


Hana masih belum tega melepaskan cucu kesayangannya jauh dari pantauannya meskipun ada pengasuh yang menjaga mereka.


"Iya, nanti pulangnya Papa dan Arman jemput " jawab Widianto sambil menyesap kopinya.


Sebetulnya rumah baru yang kini Arsen dan Kanaya letaknya tidak terlalu jauh dari komplek perumahan elit tempat tinggal Widianto, hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari lima belas menit dengan perjalanan mobil.


"Pah..Mah..aku pamit dulu ya mau keluar " Arman tiba-tiba bangkit setelah menghabiskan kopi nya.

__ADS_1


"Mau kemana kak ?" tanya Hana


"Ada janji sama teman " jawab Arman


"Sama siapa ? paling sama Simon ya !" tanya Kanaya


" Kepo banget sih kamu " jawab Arman sambil tertawa.


Sebelum pergi Arman sempat menghampiri Alana yang sedang bermain dan mencium pipinya dengan gemas.


"Bye..papaaa " Alana melambaikan tangan mungilnya kepada Arman.


Arsen hanya tersenyum, ia tidak keberatan melihat putrinya memanggil Arman dengan sebutan Papa karena Arman sudah menyayangi Alana seperti putrinya sendiri.


"Sayang..teman kamu yang namanya Viona itu apakah sudah punya pacar ?" tanya Widianto setelah Arman menghilang.


"Dulu waktu di Jepang punya pacar tapi sudah putus makanya dia balik ke Indo " jawab Kanaya.


"Kalau begitu mau Papa jodohkan sama kakak kamu..nanti kamu bantuin ya " kata Widianto.


"Papa kebiasaan deh suka ngatur jodoh anak-anak " omel Hana


"Iya " timpal Kanaya


"Ya namanya juga usaha , Mah. Siapa tau berjodoh " jawab Widianto


"Kalau begitu aku akan dukung Papa..menurut aku Viona cocok untuk Arman " kata Arsen.


"Aku tidak mau ikutan " Kanaya mengangkat tangannya


"Mama juga "


"Ya sudah kalau begitu kita saja yang usaha Ars " kata Widianto kepada Arsen


"Waaah..panjang umur Lu..lagi diomongin muncul " kata Kanaya ketika Viona muncul dengan membawa boneka beruang seukuran tubuhnya.


Viona memberikan boneka beruang itu kepada Lana.


"Bear nya besarrr.." Lana langsung memeluk boneka lembut itu.


"Iya dong..Aunty sampai keringetan gini bawanya " Viona terkikik sambil mengusap peluhnya.


"Terimakasih Aunty " kata Lana


Setelah memberikan boneka beruang kepada Lana, Viona pun bergabung bersama di ruang tengah.


"Kegiatan kamu selama ini apa saja ?" tanya Widianto kepada Viona.


"Masih nganggur Om " jawab Viona


"Kenapa tidak masuk di Perusahaan Papa kamu saja ?" tanya Widianto lagi.


"Ga ah..Papa itu galak " jawab Viona


"Kalau di Perusahaan Om mau tidak ?" tawar Widianto.


Ia mulai melancarkan misi nya untuk mendekatkan Viona dengan Arman.


"Mau..mau Om " jawab Viona cepat.


Target masuk jebakan

__ADS_1


"Ya sudah..nanti Senin kamu ke kantor Om ya " kata Widianto


"Baik Om " jawab Viona


Siang itu Arsen dan Widianto pergi entah kemana meninggalkan Hana di rumah Kanaya.


"Dulu kemanapun pasti ngajak Mama, sekarang yang diajak mantu " Hana bersungut-sungut.


"Kalau begitu kita pergi saja ,Ma. Kita belanja habiskan uang Papa " Kanaya memberikan saran yang menyesatkan.


"Baiklah..ayo kita pergi " Hana setuju


Tidak lama kemudian ketiga wanita dewasa dan satu bocah itu pun pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk bersenang-senang.


Alana yang tidak bisa diam wara Wiri kesana kemari sempat membuat Kanaya kewalahan. Untung ada Viona yang bergantian menggendong bocah bule itu.


Hanya dalam jangka waktu tidak lebih dari tiga jam Hana menghabiskan uang tidak kurang dari seratus juta untuk berbelanja beberapa tas dan gaun karya designer terkenal untuk mereka bertiga.


Untuk Alana Hana membelikan beberapa sepatu dan baju yang harganya selangit untuk ukurannya yang mungil.


Ketika Alana tertidur dalam gendongan Kanaya barulah mereka pulang.


Kanaya terlebih dahulu mengantarkan Viona pulang sebelum Kanaya dan Hana pulang ke rumah baru Kanaya.


Mereka tiba ketika hari sudah mulai gelap dan Arsen, Widianto dan Arman sudah menunggu di rumah.


"Kalian darimana sih jam segini baru pulang ?" tanya Widianto


"Habis belanja " jawab Hana sambil meletakan banyak paperbag diatas karpet.


"Kalian habis borong ?"


"Iya Pah "


"Emang laki-laki saja yang butuh hiburan..perempuan juga " jawab Hana


"Terserah kalian lah " jawab Widianto pasrah.


Malam itu Hana, Widianto dan Arman akan menginap karena Alana masih tidak mau ditinggal oleh Hana. Bahkan malam itu Alana tidur bersama Hana dan Widianto.


"Tadi sore kamu dan Papa pergi kemana ?" tanya Kanaya sambil beringsut naik keatas ranjang kemudian melabuhkan kepalanya di dada telanjang si bule yang berbulu.


"Nongkrong di coffee shop terus lihat pameran Automotif sebentar " jawab Arsen


"Oh "


"Minggu depan aku mau pergi Touring Jawa-Bali..sudah lama gak ikutan jadi kangen " kata Arsen


"Aku ikut ya, Dad " pinta Kanaya manja sambil mempermainkan bulu dada si bule.


"Maaf sayang..aku sudah janji akan pergi dengan Arman " jawab Arsen.


"Ck..kenapa sama kak Arman sih ?" Kanaya langsung cemberut


"Karena yang pergi semuanya pria " jawab Arsen


Kanaya pun cemberut


"Jangan marah dong " Arsen merangkum wajah Kanaya dan mencium bibirnya lembut.


Kemarahan Kanaya pun langsung sirna apalagi saat tangan Arsen mulai menyusup dibalik baju Kanaya dan mere mas sesuatu yang menonjol di dadanya.

__ADS_1


Dan merekapun berdua pun menghabiskan malam panas sampai menjelang tengah malam.


__ADS_2