
Arman adalah orang baru dalam keluarga Widianto, namun baik Hana maupun Kanaya tidak ada yang menolak akan kehadiran pria itu.
Hana dan Kanaya tidak keberatan Arman langsung menjadi tangan kanan Widianto di Perusahaan karena bagi mereka Arman adalah pahlawan.
Jika tidak ada Arman yang menolong dan merawat Widianto pada saat kecelakaan pasti Widianto tidak akan selamat dan mereka tidak mungkin bisa berkumpul lagi seperti ini.
Selesai makan siang bersama Arsen yang masih bertanggung jawab di area dapur langsung membersihkan kembali meja makan dan membawa piring kotor ke dapur untuk dicuci.
"Daddy biar aku bantu cuci piring nya ya " kata Kanaya.
"Jangan..nanti Mama marah " kata Arsen
Selain " suami takut istri " ternyata Arsen juga " suami takut mertua "
"Tidak apa-apa Dad..Mama langsung masuk kamar sepertinya kekenyangan makan rendang dan telur balado buatan Daddy " Kanaya memaksa.
"Ya sudah " akhirnya Arsen mengijinkan Kanaya membantunya mencuci piring.
"Wooiiyy...curang lu " kata Arman yang hendak kembali ke pos jaga
"Sttt...kakak juga tadi curang tidur di pos jaga " balas Kanaya
Arman hanya nyengir sambil berlalu keluar menuju tempatnya bertugas
"Enak sekali dia bisa tidur sedangkan aku terus sibuk di dapur " sungut Arsen
"Ini kan aku bantuin, Dad " kata Kanaya
"Iya sayang, kamu pengertian sekali " Arsen meraih pinggang Kanaya kemudian merunduk untuk mencium bibir ranum itu yang sudah menjadi candu baginya
Arsen dan Kanaya mencuci piring sambil sesekali berciuman, semua pekerjaan dapur pun menjadi ringan bagi mereka meskipun menjadi lama beresnya karena mereka bekerja sambil saling mencumbu.
Selesai dengan urusan dapur Kanaya dan Arsen mencari Alana di Playhouse dan ia menemukan gadis kecil itu sedang tertidur di gendongan Simon.
"Loh..Papa kemana ?" tanya Kanaya sambil mengambil Lana dari gendongan Simon.
"Om Wid ngikutin Tante Hana ke kamar " jawab Simon
"Ya ampun Papa "
"Mon..kalau lu udah pantes punya anak " kata Arsen
"Masa sih bos ?"
"Itu buktinya Lana nyaman sama Lu sampai tidur digendong sama Lu..makanya buruan nikah..kawin saja lu pinter " sindir Arsen
Simon hanya nyengir.
Kanaya membawa Lana ke kamarnya untuk ditidurkan, Arsen mengikuti dari belakang.
"Bos..saya pulang dulu ya " pamit Simon kepada Arsen. Sore ini ia ada janji dengan pacarnya bertemu di apartemen.
"Ya " jawab Arsen
"Bos..jangan lupa ganti uang rendang dan telur balado nya" Simon mengingatkan
"Iya..nanti gue transfer " jawab Arsen
Simon tersenyum lebar, tidak mungkin Arsen mentransfer uang hanya saratus dua ratus ribu untuk mengganti uang rendang dan telur balado.
__ADS_1
Simon sangat tau bagaimana royalnya si bule walaupun kadang menyebalkan.
"Mau kemana ?" tanya Arman kepada Simon
"Pulang..pinggang gue rasanya rontok jadi kerbau nya Lana " jawab Simon
"Alasan biasanya pacar lu yang jadiin kerbau " sindir Arman.
"Tau saja lu " Simon tertawa sambil masuk ke dalam mobilnya.
Setelah mobil Simon keluar dari gerbang, Arman pun mengunci pagar tinggi itu karena ia sangat mengantuk dan berniat tidur di pos.
Meskipun tidur hanya di sebuah bangku kayu namun Arman terlihat nyaman.
Arman terbiasa tidur di tempat alakadarnya sewaktu di kampungnya dulu.
Meskipun kini hidupnya bergelimang harta dan kemewahan namun tidak membuat pria itu lupa diri. Malah Arman sering kali dilanda kerinduan kepada kampung halamannya dan beberapa hewan ternaknya yang ia titipkan kepada tetangganya sejak ia memutuskan hijrah ke Jakarta.
Suara klakson mobil membangunkan Arman dari tidurnya. Dari layar monitor yang terhubung dengan cctv Arman bisa melihat jika di depan ada mobil Viona yang akan masuk.
Dengan mata mengantuk Arman pun membuka kunci pagar tinggi dan membukanya agar mobil Viona bisa masuk.
"Loh kak Arman..pak satpam nya kemana ?" Viona melongokan kepalanya kaget melihat Arman yang membukakan pagar.
"Lagi diliburkan sama Mama dan Naya " jawab Arman sambil menutup kembali pagar besi yang tinggi itu dan menguncinya.
"Masuk saja Naya ada di dalam kok !" kata Arman setelah Viona turun dari mobil.
Viona masuk kedalam dengan perasaan aneh karena Arman malah kembali masuk kedalam pos satpam..ngapain Arman disana seperti seorang satpam saja.
Di dalam Viona celingukan sendiri karena disana tidak ada siapa-siapa, padahal satu jam yang lalu ia disuruh datang oleh Widianto.
"Kak Arman lagi ngapain disini ?" tanya Viona.
Arman yang sedang berbaring di bangku kayu langsung bangun.
"Aku sedang dihukum sama Mama disuruh jaga pos " jawab Arman
"Dihukum ?"
"Iya.. gara-gara mabuk sama Papa di acara teman Papa " jawab Arman.
Viona tertawa
"Kamu sendiri ngapain malah kesini bukannya di dalam "
"Di dalam tidak ada siapa-siapa, mungkin mereka sedang tidur siang " jawab Viona.
"Kamu ada perlu sama Naya ?" tanya Arman
"Aku disuruh kesini sama Om Wid "
"Kalau begitu tunggu saja di dalam "
"Tidak enak di dalam sendirian, aku nunggu disini saja ya sama kak Arman " kata Viona.
"Ya sudah " jawab Arman sambil menggeser duduknya memberi tempat untuk Viona duduk di kursi kayu yang ia duduki.
"Tante Hana ternyata galak ya " kata Viona
__ADS_1
"Iya..Kanaya juga..kita bertiga hari ini mendapat hukuman dari mereka.
"Jadi bukan kak Arman saja yang dihukum ?"
"Papa dan Arsen juga. Papa disuruh jadi pengasuh Lana, dan Arsen disuruh mengurusi dapur "
"Mengurusi dapur ? termasuk masak juga ?" Mata Viona membola.
"Ya..tapi masakannya enak " puji Arman.
"Waah ga nyangka ya " kata Viona.
"Kalau kak Arman bisa masak tidak ?" tanya Viona
"Bisa..waktu di kampung aku biasa masak sendiri, tapi menu seadanya dan sayurannya diambil dari ladang sendiri.
"Yang bener kak ? kapan-kapan ajak aku dong ke kampung kak Arman "
"Mau ngapain ? kamu tidak akan betah..disana banyak nyamuk dan tidak ada jaringan internet " jawab Arman.
"Biarin...anggap saja sedang camping "
Arman tampak berpikir, ia sangat ragu Viona akan menyukai tempat tinggalnya di kampung.
"Lain kali saja ya " kata Arman akhirnya membuat Viona kecewa. Padahal ia sangat ingin tau tentang Arman lebih dalam namun sepertinya Arman tidak memberi kesempatan untuk itu.
Beberapa jam kemudian Hana dan Widianto bangun. Mereka langsung mengajak Viona masuk.
"Sudah lama Vi ?" tanya Hana
"Lumayan Tan "
"Oh iya..Om lupa nyuruh kamu kesini tadi " kata Widianto.
"Tidak apa-apa Om..aku tadi ngobrol sama kak Arman di depan " kata Viona.
"Syukurlah " bibir Widianto menyunggingkan senyum misterius.
"Mau minum apa Vi ?" tanya Hana
"Apa saja Tan " jawab Viona
Hana pun beranjak pergi menuju ke dapur. Disana Hana membuatkan es jeruk peras untuk Viona.
Hana memotong beberapa buah jeruk dan memerasnya kedalam gelas berukuran tinggi.
Pada saat membuang sisa jeruk yang sudah diperas Hana mendapati dua dus bekas kotak makanan dengan logo sebuah restoran. Dus itu pada bagian penutupnya terdapat tulisan 'Rendang ' dan satu lagi ' Telur balado '
"Dasar bule edan..berani membohongi mertua " sungut Hana.
Pada saat menyuguhkan es jeruk peras untuk Viona wajah Hana terlihat cemberut.
"Kenapa cemberut, Ma ?" tanya Widianto
"Arsen ternyata sudah bohongin kita. Rendang sama telur balado yang kita makan tadi ternyata bukan masakan dia tapi beli di restoran" jawab Hana.
Widianto dan Viona tertawa.
"Ya maklum, Ma. Menantu kita mana faham bumbu dapur..tapi sup ayam dan tortila dia bikin sendiri..buktinya jarinya sampai keiris segala " bela Widianto.
__ADS_1
"Iya juga sih " jawab Hana.