
Enam bulan berlalu, kandungan Andrea menginjak usia sembilan bulan. Ia sudah tidak pergi ke kantor karena perutnya yang membesar membuatnya tidak nyaman kemana mana. Daniel selalu stand bay menemani Andrea.
Seperti biasa pagi ini mereka sarapan bersama. Bi Titin memasak masakan kesukaan Andrea.
" Makan yang banyak Re, biar dedeknya sehat." Ucap Daniel.
" Ini udah banyak Niel, mau sebanyak apa lagi coba." Sahut Andrea.
" Hari perkiraan lahir dedeknya sebentar lagi, apa belum ada tanda tanda dia mau lahir? Kalau sudah, aku tidak akan berangkat ke kantor, aku akan di rumah menemani kamu saja." Ucap Daniel menatap Andrea.
" Kamu ada meeting penting Niel, jadi pergilah ke kantor! Segera selesaikan pekerjaanmu karena dari kemarin kamu selalu menemaniku di rumah, lagian aku belum berasa apa apa kok, nanti kalau ada apa apa aku akan telepon kamu." Sahut Andrea.
Sebenarnya Andrea sudah merasakan mulas, tapi ia tidak mau lebih merepotkan Daniel karena Daniel ada meeting penting dengan para dewan direksi.
" Baiklah, jaga diri baik baik ya." Ujar Daniel.
" Siap." Sahut Andrea.
Selesai sarapan Daniel pamit pergi ke kantor.
" Aku pergi dulu ya, kamu jaga diri di rumah, kalau ada apa apa segera telepon aku! Aku akan tetap mengaktifkan ponselku." Ucap Daniel.
" Ok, kamu juga hati hati ya." Sahut Andrea.
" Iya, jagoannya Om, Om pergi dulu ya.. Jangan nakal di rumah kasihan mommy kalau kamu nakal." Daniel menyentuh menatap perut buncit Andrea.
" Siap Om." Sahut Andrea menirukan suara anak kecil.
Ya saat USG Andrea mengetahui kalau anak dalam kandungannya berjenis kelamin laki laki. Ia sangat bahagia setidaknya Tuhan menggantikan Bayu dengan kehadiran putranya.
Daniel keluar rumah, Andrea menatapnya dengan tatapan penuh kagum.
" Aku kagum padamu Niel, sebagai sahabat kau benar benar pria yang baik, Terima kasih telah menyayangi kami selama ini." Batin Andrea.
Andrea kembali ke kamarnya, ia duduk di tepi ranjang.
" Shhhh kenapa perutku terasa mulas ya." Keluh Andrea mengelus perutnya.
" Sayang apa mau sudah mau lahir? Kamu udah nggak sabar ya mau melihat dunia ini? Kamu mau bermain sama Mama dan om Daniel ya." Ucap Andrea mengusap usap perutnya yang semakin mulas.
" Shhh... " Desis Andrea.
" Sepertinya aku memang mau melahirkan, aku harus bertanya pada bi Titin." Ujar Andrea.
Andrea turun ke bawah mencari bi Titin di dapur.
" Bi." Andrea menghampiri bi Titin yang sedang mencuci piring.
" Iya Non, ada apa?" Tanya bi Titin.
" Bi perutku rasanya mulas sekali, kenapa ya Bi?" Tanya Andrea.
" Jangan jangan Nona Andrea mau melahirkan! Kita harus segera ke rumah sakit Non." Ujar bi Titin.
" Saya telepon Den Daniel dulu Non." Bi Titin segera menelepon Daniel.
Daniel yang sedang memimpin rapat, menghentikan rapatnya sebentar untuk mengangkat telepon dari bi Titin.
__ADS_1
" Halo Bi, ada apa menelepon saya? Apa Andrea baik baik saja?" Tanya Daniel.
" Begini Den, perut Non Andrea mulas mulas, sepertinya Non Andrea mau melahirkan Den." Ujar bi Titin.
" Apa?" Pekik Daniel membuat semua orang saling melempar pandangan.
" Baiklah, bibi siapkan kopernya saya akan pulang, kita akan langsung ke rumah sakit setelah saya sampai." Sambung Daniel.
" Baik Tuan." Sahut bi Titin mematikan ponselnya.
" Maaf semuanya, saya harus segera pulang karena teman saya mau melahirkan, prapat akan di handle oleh Peter." Ucap Daniel.
Mereka semua menatap Daniel dengan penuh pertanyaan. Daniel tidak mempedulikan itu, ia meninggalkan ruang rapat sambil berlari.
Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sepuluh menit ia sampai di rumah Andrea. Ia segera berlari ke dalam mencari Andrea.
" Re kamu dimana?" Teriak Daniel.
" Di dapur Tuan." Sahut bi Titin.
Daniel segera menuju dapur. Ia melihat Andrea yang sedang berjongkok sambil meringis kesakitan.
" Andrea kamu baik baik saja?" Daniel menghampiri Andrea.
" Niel sakit." Keluh Andrea.
" Sabar ya! Sebentar lagi rasa sakit ini akan tergantikan dengan tangisan dedek bayinya." Ujar Daniel mengusap keringat Andrea yang memenuhi dahinya.
" Ayo kota ke rumah sakit!" Ajak Daniel.
" Aku tidak sanggup berdiri, rasanya perut ini sangat sakit." Ujar Andrea.
Setelah mendudukkan Andrea di jok mobil bagian depan, Daniel segera melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
Sesekali terdengar rintihan dari bibir Andrea.
" Sakit banget ya Re." Ujar Daniel.
Andrea menganggukkan kepalanya.
Daniel mengusap perut Andrea tanpa sadar.
" Sayang... Kamu jangan lama lama ya cari jalannya, sampai rumah sakit nanti kamu harus segera lahir, kasihan mommy kamu udah kesakitan gini, Om tidak tega melihatnya." Ucap Daniel.
Andrea menatap Daniel, entah mengapa rasa sakitnya sedikit berkurang.
Sesampainya di rumah sakit, Andrea di bawa langsung ke ruang bersalin. Dokter segera memeriksanya.
" Sudah pembukaan sempurna nyonya, sekarang waktunya mengejan untuk mendorong babby nya untuk keluar ya." Ucap dokter.
" Semangat berjuang Re! Kamu pasti bisa, aku keluar dulu." Ucap Daniel hendak keluar namun Andrea mencekal tangannya.
" Ada apa?" Tanya Daniel.
" Temani aku di sini!" Ucap Andrea.
" Tapi...
__ADS_1
" Temani di sini sajaTuan, istri anda butuh dukungan anda saat ini." Ucap dokter.
" Tapi dia bu...
Andrea menganggukkan kepala membuat Daniel menghentikan ucapannya.
" Baiklah." Sahut Daniel.
Danil membelakangi dokter, ia terus menatap wajah Andrea dan berusaha untuk tidak tertarik dengan apa yang terjadi di bawah sana.
" Ayo dorong nyonya." Ucap dokter.
Andrea mulai mengejan, tangan kanannya menggenggam tangan Daniel, sedangkan tangan kirinya mencengkram kuat sprei.
Daniel memejamkan matanya tidak tega mendengar suara Andrea yang sedang berjuang melahirkan buah hatinya.
Tak lama setelah itu...
Oek... Oek....
" Alhamdulillah." Ucap Daniel.
" Selamat Nyonya, Tuan, babby nya laki laki, tampan seperti ayahnya." Ucap dokter.
" Dia juga sehat Nyonya, fisiknya sempurna." Sambung dokter.
" Alhamdulillah Dok, terima kasih." Ucap Daniel.
Dokter memberikan babby mungil itu kepada suster untuk di pakaikan baju.
Daniel menatap hari ke arah Andrea.
" Selamat Re, sekarang kau telah menjadi ibu." Ucap Daniel.
" Terima kasih Niel, semua ini berkat kamu, kalau tidak ada kamu aku tidak tahu, apakah jagoan kita akan lahir ke dunia ini dengan selamat atau tidak." Ucap Andrea.
" Jagoan kita?" Daniel mengerutkan kepalanya.
" Ya, kau yang mengurus kami selama ini, kau juga berhak atas dirinya, kau mau kan menganggap putraku sebagai putramu sendiri? Sebagai teman kita akan sama sama membesarkannya." Ujar Andrea.
" Dengan senang hati Re, aku akan menganggapnya sebagai putraku sendiri, terima kasih telah memberikan hak itu padaku." Sahut Daniel.
" Tuan, ini babby nya." Suster memberikan babby mungil itu pada Daniel.
" Oh putraku, jagoanku, kamu tampan sekali sayang." Daniel menggendong babby mungil itu.
" Uluh uluh pipinya gembul benget ya, mirip sama kamu Re." Ujar Daniel.
Andrea tersenyum bahagia, setidaknya ada teman setia yang selalu menyayanginya.
" Anak kita sudah lahir Mas, dia tampan sepertimu, aku akan membesarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang, semoga kau juga bahagia di alam sana Mas." Batin Andrea.
" Lihatlah putramu Bay! Dia gagah sepertimu, aku tidak akan membiarkan putramu mengalami nasib malang, aku akan memberikan cinta dan kasih sayangku sebagai seorang ayah, aku akan membuat mereka bahagia, semoga kau selalu tenang di alam sana Bay, terima kasih telah memberikanku kesempatan ini." Batin Daniel.
Jangan lupa untuk selalu tekan like ya...
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu..
__ADS_1
Miss U All...
Tbc...