
" Daddy cepat katakan! Apa kesalahan yang telah Daddy lakukan?" Desak Varo.
" Daddy melakukan kesalahan karena telah merusak mobil kesayanganmu." Sahut Amdrea yang baru saja keluar dari kamar mandi.
" Benar Dad?" Tanya Varo menatap Daniel.
" Iya sayang, maafkan Dad ya! Karena Daddy mobil kesayanganmu jadi rusak." Ucap Daniel.
" Keselamatan Daddy lebih penting dari apapun Dad, Daddy tidak perlu merasa bersalah, Varo memaafkan Daddy kok." Sahut Varo.
Benar benar anak yang bisa bersikap dewasa, pikir Daniel.
" Sayang panggilkan bibi Titin suruh bawa Angelin ke sini ya." Ujar Andrea.
" Iya Mom." Sahut Varo keluar dari kamar.
" Kau mau mengatakan apa pada Varo?" Tanya Andrea menatap Daniel.
" Entah lah sayang, aku sendiri juga bingung kenapa aku berbicara seperti itu. Aku merasa apa yang terjadi kepadaku yaitu hukum karma. Aku berpikir kalau aku akan memberitahu Varo yang sebenarnya, karena bagaimanapun Bayu pasti menginginkan pengakuan dari anaknya." Ujar Daniel membuat Andrea terkejut.
" Itu berarti kau harus siap kehilangan kami bertiga."
Deg...
Jantung Daniel berdegup kencang. Ia menatap Andrea dengan tatapan menyelidik.
" Kalau Varo tahu semuanya aku yakin dia akan sangat kecewa, bahkan mungkin dia akan sangat membencimu dan meminta aku untuk meninggalkanmu sendirian di sini. Kau tahu kan kalau aku tidak akan bisa menolak permintaan Varo? Apa kau sudah siap untuk hidup sendiri tanpa aku, Varo dan Angeline?" Tanya Andrea yang di balas gelengan kepala oleh Daniel.
" Itu berarti kau harus diam! Jangan pernah memberitahu Varo yang sebenarnya! Ini sudah menjadi kesepakatan kita Daniel. Jangan gegabah mengatakan sesuatu karena kau akan menyesalinya." Uajr Andrea.
" Maafkan aku!" Ucap Daniel.
" Aku maafkan, tapi tidak untuk lain kali." Sahut Andrea duduk di ranjang sebelah Daniel.
Tak lama Varo dan bibi Titin masuk ke dalam.
" Ini Angelin nya Non." Ucap bi Titin memberikan Angelin pada Andrea.
" Terima kasih Bi." Ucap Andrea.
Bi Titin mengangguk lalu pergi meninggalkan kamar Andrea.
" Mom apa Angelin mau tidur?" Tanya Varo naik. ke atas ranjang mendekati Andrea.
" Mungkin, Mommy harus memberi asi pada Angeline dulu ya." Ujar Andrea.
Andrea menyusui Angelin dengan telaten. Varo kembali mendekati Daniel. Ia memijat kaki Daniel dengan lembut.
" Dad apa sudah baikan?" Tanya Varo.
" Iya, pijatanmu enak sekali sayang. Dan pastinya bikin Daddy cepat sembuh." Sahut Daniel.
" Daddy memang harus cepat sembuh, Varo mau main sepak bola sama Daddy untuk persiapan lomba di sekolah Dad." Ujar Varo.
" Tentu sayang, doakan supaya Daddy cepat sembuh ya." Ucap Daniel. Varo menganggukkan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain tepatnya di ruangan Bayu, ia sedang menatap Lian yang duduk di sofa sambil mengerjakan beberapa tugasnya. Lembaran kertas berserakan di meja, ballpoint ia selipkan di telinganya dan tangannya memegang pensil. Sesekali ia menggigit pensilnya sambil berpikir.
Bayu mengembangkan senyumannya, entah mengapa pergerakan Lian terlihat *"**" di matanya.
Lian menatap Bayu yang duduk manis di kursi kebesarannya membuat tatapan mereka bertemu.
" Kenapa menatapku seperti itu Pak? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" Tanya Lian.
" Apa kau sudah punya pacar?"
" Hah????" Lian melongo membulatkan matanya dan membuka mulutnya sedikit.
__ADS_1
" Ah maksudku pasti kamu tidak punya pacar, karena tidak ada pria yang mau punya pacar sepertimu. Tidak ada jaim jaimnya." Sambung Bayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Saya memang belum punya pacar Pak."
Entah mengapa ucapan Lian membuat hati Bayu berbunga. Ia berpikir ada kesempatan untuk mendekati Lian.
" Tapi bukan berarti karena tidak ada pria yang mau dengan saya. Asal bapak tahu saja, banyak pria yang rela mengantri untuk mendapatkan cinta saya Pak." Ucap Lian.
" Ah masa' ? Tapi selama ini aku mengamatimu tidak ada tuh cowok yang mendekatimu." Ujar Bayu.
" Bapak mengamati saya?" Tanya Lian menaik turunkan alisnya.
" Cie cie... Jangan jangan Bapak suka ya sama saya?" Goda Lian membuat Bayu jadi salah tingkah.
" Eh enggak ya, siapa yang suka sama kamu." Kilah Bayu.
" Bapak."
" Bukan."
" Iya, Bapak pasti suka sama saya."
" Tidak Liansa."
" Iya."
" Tidak."
" Iya."
" Iya saya suka sama kamu." Ucap Bayu keceplosan.
Lian melongo membulatkan matanya. Tubuhnya menegang saat mendengar ucapan Bayu.
" Ba... Bapak suka sama saya?" Selidik Lian tidak percaya.
Lian berdiri berhadapan dengan Bayu.
" Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?" Tanya Bayu.
Lian menganggukkan kepalanya.
" Ya.. Aku suka sama kamu, puas??" Bayu menatap Lian.
Lian kembali menganggukkan kepalanya.
" Apa kamu mau menerimaku sebagai kekasihmu? Atau mungkin sebagai suamimu?" Bayu bertanya lagi.
Lagi lagi Lian menganggukkan kepalanya membuat Bayu tersenyum.
" Eh tidak tidak tidak!" Lian menggelengkan kepalanya saat menyadari kebodohannya.
" Kau sudah mengakuinya maka kau tidak bisa menariknya kembali, mulai saat ini kau kekasihku dan aku kekasihmu. Aku akan segera melamarmu untuk menjadi istriku." Ucap Bayu.
" Apa??" Pekik Lian memekakkan telinga.
" Jangan berteriak seperti itu! Suaramu tidak ada bagus bagusnya sama sekali." Ucap Bayu.
Lian mengerucutkan bibirnya.
" Aku tidak setuju dengan kata katamu Pak, kita tidak ada hubungan apa apa. Aku tidak mau menjadi istrimu ataupun kekasihmu. Aku sudah punya pacar." Ucap Lian duduk di sofa.
Bayu membungkukkan badannya mendukung Lian.
" A... Apa yang akan kau lakukan Pak?" Gugup Lian.
" Aku akan melakukan hal yang tidak bisa kau bayangkan di sini kalau kau tidak mau menuruti kata kataku." Ancam Bayu.
Lian paham betul apa maksud Bayu.
__ADS_1
" Ba... Baiklah.. Aku akan menuruti apa kata Bapak." Ucap Lian.
" Mulai saat ini kau siapa?" Tanya Bayu.
" Kekasih Bapak." Sahut Lian cepat.
Bayu tersenyum menatap Lian.
" Jangan berani dekat dengan pria lain! Atau aku akan menghajar orang itu di depan matamu." Ucap Bayu.
" I.. Iya Pak." Sahut Lian.
" Kau milikku dan selamanya kau akan menjadi milikku, apa kau mengerti?"
Lian menganggukkan kepalanya.
Bayu menatap bibir Lian, ia memajukan wajahnya lalu...
Cup...
Bayu mengecup bibir Lian. Merasa tak ada penolakan, Bayu mencecap bibir Lian dengan lembut. Terbuai dengan ciuman Bayu, Lian pun memejamkan matanya membiarkan Bayu mengekspos setiap inchinya.
Suara decapan memenuhi ruangan Bayu, entah mengapa bibir Lian bagaikan candu untuknya. Sampai...
" Astaga!!!"
Bayu melepas pagutannya. Ia menoleh ke arah Wahyu yang mengedarkan pandangannya ke segala arah.
" Kau mengganggu saja Yu." Bayu menghampiri Wahyu.
Lian segera beranjak meninggalkan ruangan Bayu.
" Kau mau kemana sayang?"
Pertanyaan Bayu membuat Lian menghentikan langkahnya. Tubuhnya terpaku susah di gerakkan.
" Sayang?" Wahyu mengerutkan keningnya.
" Ya... Aku dan Lian baru saja jadian, dia kekasihku dan aku kekasihnya." Ucap Bayu.
" Lian, tatap aku!" Ucap Wahyu.
Dengan berat hati Lian membalikkan badannya. Ia menatap Wahyu dengan tatapan sedikit takut.
" Kau jadian sama Bayu?" Tanya Wahyu.
Lian menganggukkan kepalanya.
" Lalu apa arti kedekatan kita selama ini? Kau menamai apa hubungan yang kita jalani selama ini Lian?" Tekan Wahyu.
Kali ini Bayu yang mengerutkan keningnya.
" Apa maksudmu Wahyu?" Tanya Bayu penuh selidik.
" Liansa Pacarku!"
Jeduar....
Nah loh kok bisa?
Penasaran?
Jangan lupa tekan like dan koment biar Lian semangat menjawab pertanyaan Wahyu.
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu
Miss U All...
TBC...
__ADS_1