
Andrea menemui keduanya di ruang tamu tiba tiba...
" Kamu."
" Kamu." Ucap Andrea dan Risa bersamaan.
" Firman, Varo, kalian bermain dulu yah! Mommy sama tante ada perlu sebentar." Ucap Andrea
" Ok Mom." Sahut Varo.
" Ayo Bang!" Varo menarik tangan Firman menuju ruang bermain.
Andrea duduk di sofa sebrang Risa.
" Jadi Firman anak kamu? Bukankah waktu itu Bayu... " Andrea menjeda ucapannya.
" Aku di pungut oleh seorang pria, tapi mungkin memang nasibku yang buruk aku hanya di jadikan pelampiasan nafsunya saja. Saat aku hamil Firman, aku pergi dan menetap di kota ini. Dan aku bersyukur karena dia tidak sampai mengejarku sampai " Sahut Risa.
" Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu." Ucap Andrea.
" Mungkin ini karma untukku Re." Ujar Risa.
" Tidak perlu menoleh ke belakang, sekarang saatnya berjalan menatap masa depan Ris. Mari kita sama sama belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi." Ujar Andrea.
" Iya Re, terima kasih mau menerimaku dan anakku dengan baik." Ucap Risa di balas anggukan kepala oleh Andrea.
Mereka melanjutkan mengobrol bersama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam ini Bayu di temani oleh Wahyu menuju rumah Lian dengan mengendarai mobilnya.
" Bay, kenapa Lian memberikan alamat rumah majikan ibunya? Kenapa tidak ke rumahnya?" Tanya Wahyu menatap Bayu sekilas.
" Aku tidak tahu, dia menyuruhku datang ke sana." Sahut Bayu.
" Oh mungkin majikan ibunya ingin melihat lamaran Lian, makanya acara di adakan di sana." Ujar Wahyu.
Tiga puluh menit mereka sampai di rumah super megah berlantai tiga. Keduanya turun dari mobil.
" Wah... Rumahnya benar benar mirip istana." Decak Wahyu kagum.
" Iya, seperti pengusaha nomer satu di negara ini Yu." Sahut Bayu.
__ADS_1
" Ya sudah lah ayo kita masuk!" Ajak Wahyu.
Keduanya berjalan menuju pintu, di sana sudah ada pelayan yang menyambut mereka.
" Mari Tuan, Tuan kami sudah menunggu." Ucapnya.
" Terima kasih." Ucap Bayu.
Bayu dan Wahyu mengikuti pelayan itu dari belakang menuju ruang tamu. Di sana sudah ada dua orang pasangan suami istri dan Lian yang duduk di sofa.
" Tuan Mahendra." Ucap Bayu menyalaminya.
" Tuan Bayu, selamat datang di kediaman kami." Sahut tuan Mahendra.
" Terima kasih Tuan,tapi ngomong ngomong jangan panggil saya Tuan! Saya seperti anak anda Tuan Mahendra. Panggil Bayu saja." Ucap Bayu.
" Baiklah nak Bayu." Sahut Tuan Mahendra.
Setelah mereka bersalaman, Bayu duduk di sofa sebrang menghadap tuan Mahendra dan istrinya.
" Maaf Tuan Mahendra, apa bisa di panggilkan kedua orang tua Lian?" Tanya Bayu sopan.
Tuan Mahendra tersenyum menatap Bayu.
Bayu dan Wahyu mengerutkan keningnya.
" Maksud anda Lian... " Bayu menjeda ucapannya.
" Ya, Liansa anak kandung kami."
Jeduar....
Bagai di sambar petir jantung Bayu benar benar kaget. Bagaimana bisa ia ingin melamar anak dari orang nomor satu di negara ini? Bahkan perusahaan Bayu bekerja di bawah naungan MH Group. Atas dasar apa ia ingin meminang Lian? Cinta? Apakah lamarannya akan di terima?
" Apa tuan? Lian anak kandung anda? Tapi selama aku mengenal Lian, dia mengaku sebagai anak bu Romlah." Ujar Wahyu.
" Ada alasan tersendiri Lian melakukan itu nak Wahyu. Lian ingin di kenal sebagai orang biasa bukan sebagai orang terkaya di negeri ini. Itulah sebabnya Lian selalu mengaku sebagai anaknya bi Romlah, art yang bekerja di sini." Sahut nyonya Mahendra.
Bayu menatap Lian yang di balas senyuman olehnya.
" Sekarang kata apa maksud kedatangan nak Bayu kemari!" Titah tuan Mahendra.
" Mohon maaf jika saya telah lancang datang kemari Tuan Mahendra, dengan bermodalkan cinta saya kemari untuk meminang putri anda menjadi istri saya. Terus terang saya mencintai Lian, saya ingin Lian mendampingi saya seumur hidup saya Tuan. Apakah anda menerima lamaran dari saya setelah anda mengetahui bagaimana status saya?" Bayu menatap Tuan Mahendra.
__ADS_1
" Saya tidak memandang seseorang dari statusnya nak Bayu, soal jodoh saya serahkan kepada Liansa sepenuhnya. Siapa pun yang akan menjadi suaminya yang jelas dia harus bertanggung jawab, dia harus benar benar mencintai Liansa, dia harus memprioritaskan Liansa dalam hidupnya. Anda tahu nak Bayu jika Liansa putriku satu satunya jadi saya harus memastikan kebahagiaannya." Sahut Tuan Mahendra.
" Saya tidak bisa berjanji Tuan, tapi saya akan selalu berusaha membuat Lian bahagia. saya akan menjadikan Lian sebagai prioritas utama saya. Dan saya butuh doa dan dukungan dari anda berdua agar saya bisa membuat Lian bahagia." Ucap Bayu.
" Bagaimana Liansa? Apa kau menerima lamaran bosmu?" Tanya Tuan Mahendra bercanda.
" Iya Pa." Sahut Lian.
" Alhamdulillah." Ucap semuanya bernafas lega.
" Mohon maaf Tuan Mahendra jika kami datang hanya berdua, malam ini saya akan melingkarkan cincin di jari Lian sebagai tanda pengikat hubungan di antara kami. Dan saya akan menikahi Lian besok malam, semuanya sudah saya persiapkan." Ucap Bayu.
Tuan Mahendra dan istrinya saling melempar pandangan.
" Apa tidak ada acara pesta pertunangan dulu?" Tanya nyonya Mahendra.
" Tidak Nyonya, cukup malam ini dan akan di lanjut acara pernikahan kami. Saya sudah membicarkannya dengan Lian." Sahut Bayu menatap Lian.
" Iya Ma, lebih cepat lebih baik kan." Sahut Lian.
" Baiklah terserah kalian saja, soal pertanian tidak perlu di masalahkan. Yang jelas besok pesta pernikahannya harus meriah. Saya akan mengundang semua relasi bisnis saya ke acara resepsi kalian berdua." Ujar Tuan Mahendra.
" Karena saya tidak tahu jika Lian putri anda, saya hanya mengundang rekan bisnis saya Tuan. Kapasitas yang saya pesan pasti akan kurang banyak, menurut anda bagaimana baiknya Tuan?" Tanya Bayu.
" Anda terlalu terburu buru mengambil. keputusan nak Bayu, kenapa tidak di rancang setelah acara lamaran ini?" Bukannya menjawab Tuan Mahendra justru balik bertanya.
Bayu hanya nyengir kuda.
" Tidak masalah jika anda sudah mengundang rekan bisnis anda, kami akan mengadakan resepsi pernikahan sendiri di hati berikutnya. Kami akan mempersiapkannya malam ini untuk mengundang mereka semua." Sahut Tuan Mahendra.
" Terima kasih Tuan." Ucap Bayu.
Bayu dan Lian saling memasangkan cincin. Lian menatap cincin emas yang sangat indh menurutnya. Ia nampak begitu bahagia, entah apa yang ia rasakan hanya dia yang tahu.
Semua orang nampak bahagia, begitupun dengan Wahyu.
" Beruntung Bayu yang melamar Lian, coba kalau aku... Kami bagaikan langit dan bumi yang sangat jauh jaraknya. Ternyata kita memang di takdirkan untuk tidak bersama Li, semoga kau bahagia." Batin Wahyu.
Mereka melanjutkan mengobrol seperti keluarga pada umumnya.
Hari readers... Author berencana setelah pernikahan Bayu cerita ini END ya...
Terima kasih kepada readers yang telah mensuport author selama ini semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...