
Daniel keluar dari mobil setelah melihat beberapa teman Varo keluar dari kelasnya.
" Daddy." Varo berlari menghampiri Daniel yang berdiri di depan mobil.
" Sayang." Daniel menggendong Varo.
" Gimana sekolahnya? Apa menyenangkan?" Tanya Daniel mencium pipi Varo.
" Happy fun Daddy. Ada Mommy?" Tanya Varo menatap ke dalam mobil.
" Iya." Sahut Daniel.
Andrea turun dari mobil.
" Mommy." Ucap Varo menatap mommynya.
" Mau gendong Mommy?" Andrea mengulurkan kedua tangannya. Varo menggelengkan kepalanya.
" Varo mau sama Daddy aja, hari ini gantian Mommy yang nyetir, Varo mau duduk di pangku sama Daddy." Sahut Varo.
" Baiklah hari ini Mommy akan menjadi sopir kalian berdua, Mommy akan mengantar kalian kemanapun kalian pergi." Sahut Andrea.
" Yei.... Varo mau makan siang di restoran, boleh Dad?" Varo menatap Daniel.
" Boleh donk sayang, kita akan makan di restoran biasa biar kamu bisa mainan di sana, gimana." Ujar Daniel.
" Ok Daddy, lets go Mom." Ajak Varo penuh semangat.
" Ok sayang." Sahut Andrea.
Varo duduk di pangkuan Daniel, sedangkan Andrea duduk di kursi kemudi. Ia segera melajukan mobilnya ke restoran xx yang ada di jalan mm.
Sepuluh menit mereka sampai di sana Daniel menggendong Varo sambil menggandeng tangan Andrea masuk ke dalam. Mereka duduk di dekat arena bermain anak setelah memesan makanan.
" Dad aku mainan dulu ya." Ucap Varo.
" Ok, hati hati sayang." Daniel mencium pipi Varo.
" Ok Dad." Sahut Varo berlari ke arena bermain.
Andrea menatap kepergian Varo yang telah melupakannya.
" Varo selalu melupakan aku kalau sudah bersamamu." Gerutu Andrea menyangga dagunya.
" Dia kan putraku Mom." Ucap Daniel terkekeh.
" Ckk aku yang mengandung dan melahirkannya." Ucap Andrea cemberut.
" Aku yang mengurusnya dari kecil sampai dia sebesar ini Mom." Sahut Daniel tak mau kalah.
" Tapi tetap saja seharusnya dia lebih dekatku, dia kan putraku bukan pu.....
Andrea menghentikan ucapannya. Ia menatap Daniel yang menampakkan wajah terkejutnya. Daniel tidak menyangka Andrea akan mengeluarkan kata kata itu di saat dia baik baik saja, kalau dalam keadaan emosi mungkin Daniel masih bisa memakluminya.
" Maaf." Andrea menundukkan kepalanya.
" Kau mengingatkan aku akan posisiku Re, terima kasih." Ucap Daniel sedih. Ia beranjak menghampiri Varo.
" Niel." Panggil Andrea namun Daniel tidak bergeming. Ia lebih memilih bermain bersama putra tercintanya.
Andrea menghela nafasnya pelan.
" Ya Tuhan kenapa aku bisa sampai kelepasan sih! Nih mulut juga apantidak bisa ngomong yang baik sampai harus ngomong sesuatu yang menyakiti Daniel, aku yakin Daniel pasti sangat terluka, aku harus meminta maaf padanya." Gumam Andrea.
__ADS_1
Dua orang pelayan membawa pesanan mereka.
" Nona ini pesanannya, selamat menikmati." Ucap salah satu pelayan sambil meletakkan dua piring ayam lada hitam.
" Terima kasih Mbak." Sahut Andrea.
" Varo sayang pesanannya sudah datang, suruh Daddy ke sini juga." Ucap Andrea menatap Varo.
" Yes Mom." Sahut Varo.
" Ayo Dad kita ke sana!" Varo menggandeng tangan Daniel.
Mereka duduk di kursinya.
" Dad suapin!" Ucap Varo manja sambil menatap daddynya.
" Nggak mau minta di suapin sama mommy aja? Kamu kan anaknya Mommy juga." Daniel melirik Andrea.
" Iya sayang, sini biar Mommy yang suapin kamu, Daddy udah lapar jadi Daddy mau makan sendiri" Ujar Andrea paham akan sikap Daniel.
" Nggak mau! Varo maunya di suapin sama Daddy, kalau Daddy nggak mau suapin Varo, Varo nggak mau makan." Sahut Varo cemberut.
" Baiklah sayang Daddy minta maaf! Jangan cemberut lagi! Daddy akan menyuapimu." Ucap Daniel mengambil nasi putih dan ayam kecap untuk Varo.
" Sini Daddy suapin! Manja banget sih, anaknya siapa." Ujar Daniel.
" Anak Daddy." Sahut Varo.
" Benarkah Varo anak Daddy?" Daniel menatap Varo.
" Iya... Varo anak Daddy...." Sahut Varo.
" Memangnya siapa Daddynya Varo?" Pertanyaan Daniel membuat Andrea terhenyak.
" Daddy Niel." Sorak Varo.
" Apa kau dengar Mom? Varo putraku, putra daddy Daniel tersayang." Ucap Daniel menatap Andrea.
" Iya Dad, dia putramu... Maafkan Mommy." Sahut Andrea.
" Kalau begitu ayo kita makan yang banyak, biar Varo cepat besar biar bisa jagain Daddy sama Mommy." Ucap Daniel tanpa menyahut permintaan maaf Andrea.
" Ok Dad." Sahut Varo.
Daniel menyuapi Varo dengan telaten. Andrea menatapnya dengan bahagia.
" A' Dad."
Tanpa sadar Andrea menyodorkan sesendok makanan ke mulut Daniel. Daniel melongo menatapnya.
" Eh maaf."
Daniel mencekal tangan Andrea saat hendak menarik kembali tangannya. Daniel menerima suapan dari Andrea sambil tersenyum.
" Enak Dad?" Tanya Varo.
" Ternyata lebih enak kalau makan di suapi ya, pantas saja kamu suka banget di suapi sama Daddy." Ujar Daniel.
" Suapi lagi Mom!" Ucap Daniel menatap Andrea.
Andrea kembali menyuapi Daniel.
" Mommy juga harus makan." Daniel menyodorkan sesendok makanan ke mulut Andrea.
__ADS_1
Andrea tersenyum sambil mengunyah makanan yang di suapi dari tangan suaminya. Alhasil ketiga anggota keluarga itu saling suap suapan.
Para pengunjung lain menatap iri ke arah mereka. Mereka saling berbisik mengucapkan kata kata pujian untuk keluarga kecil Andrea.
" Yei habis.... " Sorak Varo setelah menghabiskan makanannya.
" Sayang minum dulu!" Daniel memberikan segelas air putih pada Varo lalu meminumkannya.
" Dad kita di sini dulu ya, Varo mau mainan sebentar." Ucap Varo.
" Daddy mau kembali kantor sayang." Ucap Andrea.
" Benarkah Dad?" Varo menatap Daniel.
" Tidak sayang! Sana bermainlah sampai puas! Daddy sama Mommy tunggu di sini." Sahut Daniel.
" Thank you Dad." Varo kembali berlari ke arena bermain.
Andrea menggenggam tangan Daniel, Daniel menatap ke arahnya.
" Aku minta maaf karena aku telah menyakitimu, aku tidak bermaksud melukai hatimu Niel, entah mengapa kata kata itu keluar begitu saja dari mulutku, aku minta maaf! Aku berjanji tidak akan mengucapkan kata itu lagi, Varo putra kita... Putramu dan putraku, tidak ada yang bisa mengubah itu Niel." Ucap Andrea.
" Entah aku bisa memaafkanmu atau tidak Re, jujur... Hatiku sangat sakit mendengar ucapanmu, aku merasa kehilangan Varo saat itu juga, aku sadar kalau sampai kapanpun dia bukan milikku, dia tetaplah anak...
" Stt!" Andrea menempelkan telunjuknya pada bibir Daniel.
" Aku terima kalau kau tidak memaafkan aku, kau juga sudah membalas rasa sakit ini dengan ucapanmu barusan, aku menyesal telah mengatakan itu." Andrea menundukkan kepalanya.
Tes...
Tak terasa air matanya menetes begitu saja. Ia merasakan sakit yang Daniel rasakan saat ini.
" Hei jangan menangis sayang! Aku cuma bercanda." Ucap Daniel.
Andrea mengusap air matanya menatap Daniel.
" Kamu ngerjain aku?"Selidik Andrea.
" Iya maaf." Ucap Daniel.
" Jahat kamu Dad." Andrea meninju pelan perut Daniel.
" Awh sakit sayang!" Pekik Daniel.
" Lebay." Cebik Andrea.
Daniel menarik tubuh Andrea ke dalam pelukannya.
" Maafkan aku!" Ucap Daniel.
" Aku maafkan." Sahut Andrea.
" Aku juga minta maaf." Ucap Andrea.
" Aku maafkan juga sayang." Sahut Daniel mencium pucuk kepala Andrea.
Seseorang yang telah mengintai mereka sedari tadi mengepalkan erat tangannya. Ia segera pergi dari sana sebelum Andrea dan Daniel melihatnya.
Siapakah dia??????
Jangan lupa tekan like koment vote dan kasih🌹yang banyak buat author biar author makin semangat...
Terima kasih untuk kalian semua yang telah memberikan dukungan pada author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....