Affair With You

Affair With You
Seperti Keluarga Harmonis


__ADS_3

Empat tahun berlalu, Varo tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan. Hari ini hari pertama ia masuk play group. Ia sudah bersiap dengan memakai seragam dan sepatunya.


" Mommy where is Daddy?"Varo menghampiri Andrea yang sedang menyiapkan sarapan.


" I'm here boy." Sahut Daniel dari depan pintu.


" Daddy." Varo berlari memeluk Daniel. Daniel segera menggendongnya.


" Jagoan Daddy udah siap sekolah nih! Pasti semangat kan?" Daniel mencium pipi Varo.


Varo menggelengkan kepalanya.


" Lhoh kok nggak semangat sih?" Daniel mengerutkan keningnya.


" Mom belum kasih aku breakfast Dad." Sahut Varo.


Daniel dan Andrea tersenyum mendengarnya.


" Baiklah sekarang Varo duduk di sini! Mommy akan menyajikan sarapan untukmu." Ujar Daniel.


" Ok Dad." Sahut Varo duduk di kursinya.


" Masak apa hari ini Mom?" Tanya Daniel.


" Nasi goreng sesuai permintaan Varo, Niel." Sahut Andrea.


" No Niel Mom... Itu tidak sopan! Mom harus memanggil Daddy dengan Dad!" Ucap Varo.


Ya Varo selalu tidak terima kalau Andrea menyebut Daniel dengan namanya saja, begitupun sebaliknya.


" I'm sorry boy!" Ucap Andrea.


" Sekarang makanlah yang banyak biar nanti bisa berkonsentrasi penuh di sekolah." Andrea menyajikan sepiring nasi goreng di depan Varo.


Varo melipat kedua tangannya ke dada sambil cemberut.


" Kenapa lagi sayang?" Tanya Andrea menatap Varo.


" Mom... Berapa kali Varo bilang, Mom harus memberikan makanan ke Daddy dulu baru ke Varo."


Benar benar anak yang cerewet dan cerdas, ia lebih dewasa dari usianya.


" Baiklah sayang Mom minta maaf, Mom lupa lagi." Andrea menarik piringnya lalu memberikannya ke Daniel.


" Mom selalu lupa, padahal Mom masih cantik dan belum tua." Ucap Varo.


Andrea menghela nafasnya.


" Sebenarnya dia anak kamu atau anakku sih? Dia selalu menyerangku dan mengagungkan dirimu." Andrea menatap Daniel.


" Anak kita berdua Mom." Sahut Daniel tersenyum.


" Iya lah Dad, memangnya Varo anak siapa lagi kalau bukan anak Mom Andrea dan Dad Daniel?" Varo menatap mereka berdua.


Deg...

__ADS_1


Andrea dan Daniel saling melempar pandangan.


" Kau benar boy, kamu memang anak kami, sekarang makanlah!" Sahut Daniel.


Daniel pernah membahas soal ini kepada Andrea. Ia ingin memberitahu kebenarannya kepada Varo jika dia bukan putra kandungnya, namun Andrea melarangnya.


Bukan tanpa alasan, alasan yang utama adalah Andrea tidak tega menghancurkan kebahagiaan dan keceriaan Varo jika ia tahu kalau ayahnya sudah meninggal, yang ke dua jika sampai kabar ini sampai ke orang luar, ia khawatir papa mertuanya akan mengambil Varo darinya. Ia berpikir mungkin ini yang terbaik untuk mereka bertiga.


Selesai sarapan Daniel dan Varo berpamitan dengan Andrea.


" Mom, Varo berangkat dulu ya, Mom jaga diri baik baik di rumah." Varo mencium pipi Andrea lalu mencium tangannya.


" Hati hati sayang! Nggak boleh nakal di sekolah ya! Dengarkan apa kata ibu guru! Sayangi teman teman dan harus bersikap sopan." Ucap Andrea mengelus kepala Varo.


" Ok Mom Varo akan melakukan apa kata Mommy." Sahut Andrea.


" Mom, Dad berangkat dulu, Mommy hati hati di rumah." Ucap Daniel.


" Hati hati Ni... Dad." Sahut Andrea setelah mendapat lirikan dari Varo.


Daniel tersenyum ke arahnya.


" Bye Mommy." Ucap keduanya serempak.


Daniel dan Varo masuk ke mobil. Daniel segera melajukan mobilnya ke sekolahan Varo.


Andrea masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka laci mengambil sebuah foto yang terselip di dalam buku diarynya.


" Anak kita sudah besar Bay, dia tumbuh menjadi anak yang cerdas seperti kamu, maafkan aku! Aku tidak bisa memberitahunya kalau kau ayah kandungnya karena berbagai alasan, ku harap kau memahami alasanku ini." Andrea mengusap foto Bayu.


" Empat tahun sudah berlalu walaupun kau sudah tiada tapi kau masih selalu hidup di dalam hatiku, aku tidak bisa melupakanmu, rasa cinta ini masih sama seperti dulu Bay bahkan tidak berkurang sedikit pun, tenanglah di sana aku selalu mencintaimu." Andrea mengembalikan foto Bayu ke dalam bukunya.


Siang hari Daniel pulang bersama Varo, ia menggendong Varo masuk ke dalam rumahnya.


" Dad, Mom pasti ada di dapur." Ucap Varo.


" Dad akan mengganti bajumu dulu! Setelah itu baru kita menghampiri Mommy lalu makan siang." Sahut Daniel menuju kamarnya.


" Ok Dad." Sahut Varo.


Setelah mengganti baju Varo, Daniel kembali menggendongnya menuju dapur.


" Good afternoon Mom." Sapa Varo.


Andrea menoleh ke belakang.


" Good fternoon sayang, anak Mommy sudah pulang to, maaf Mommy tidak menyambut kalian." Ucap Andrea.


" No problem Mom. " Sahut Varo.


" Bagaimana hari pertamamu masuk sekolah?" Tanya Andrea.


" Sangat menyenangkan Mom, Varo punya banyak teman baru di sana, mereka baik baik semua." Sahut Varo senang.


" Syukurlah kalau bagitu, sekarang makanlah!" Andrea menyajikan sayur sop ayam dan ayam gorengnya ke depan Varo.

__ADS_1


" Mom lupa lagi." Cebik Varo cemberut.


" Ah iya maaf sayang, ya sudah sekarang kamu makan dulu yang ini! Mom akan menyajikan makanan lagi untuk Daddymu, lain kali Mommy tidak akan lupa lagi." Ujar Andrea.


" Baik Mom." Sahut Varo.


Andrea menyajikan makanan untuk Daniel, mereka makan bersama.


" Mom, malam ini Varo ingin tidur bersama Mommy dan Daddy."


Uhuk... Uhuk.. Uhuk...


Ucapan Varo membuat Andrea tersedak makanannya. Daniel segera memberikan segelas air kepadanya.


" Varo ingin seperti teman teman Varo Mom, mereka tidur bersama Mommy dan Daddynya, Daddynya juga tinggal bersama mereka, lalu kenapa Mom dan Dad tidak tinggal bersama?" Varo menatap keduanya.


Ya sejak Andrea bisa mengurus Varo sendiri, Daniel kembali ke rumahnya. Ia tak kuasa menahan perasaannya untuk Andrea yang setiap hari perasaan itu semakin besar untuk Andrea.


" Kamu tanyakan saja pada Daddymu!" Sahut Andrea menatp Daniel.


" Sayang... Daddy punya pekerjaan di malam hari, jadi Daddy harus tinggal di rumah Daddy sendiri untuk menyelesaikannya." Ujar Daniel.


" Varo tidak mau tahu! Mulai malam ini Varo ingin tidur bersama kalian berdua sampai Varo dewasa." Ucap Varo.


" Sayang coba mengertilah keadaan Daddymu! Kasihan Daddy kalau dia harus meninggalkan pekerjaannya demi tidur bersamamu, kamu mengerti kan." Ujar Andrea.


" Berarti Daddy lebih sayang sama pekerjaannya di banding aku!" Varo berlari meninggalkan Daniel dan Andrea.


" Bagaimana ini Niel?" Andrea menatap Daniel.


" Aku sih tidak masalah Re, tergantung kamunya saja." Sahut Andrea.


" Bagaimana kata orang nanti jika kita tidur satu kamar tanpa adanya ikatan?" Andrea menundukkan kepalanya.


" Kalau begitu buat ikatan di antara kita." Sahut Daniel.


Andrea melongo menatap Daniel.


" Aku akan menikahimu." Ucap Daniel.


" Daniel apa yang kau katakan? Jangan bercanda Daniel! Jangan mengorbankan hidupmu demi hidup putraku, kau juga harus memikirkan kehidupanmu sendiri, maafkan aku! Maafkan aku yang telah menyeretmu terlalu jauh ke dalam hidupku." Ucap Andrea sendu.


Daniel menggenggam tangan Andrea.


" Ada sesuatu yang selama ini aku sembunyikan darimu Re." Ucap Daniel.


" Sesuatu?" Andrea mengerutkan keningnya.


" Ya, sebenarnya selama ini aku...


Sudah ketebak kan apa yang akan Daniel katakan? Kira kira lancar nggak nih?


Jangan lupa tekan like koment vote dan kasih 🌹yang banyak buat author ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2