Affair With You

Affair With You
Perhatian Varo


__ADS_3

Andrea membuka matanya ternyata hari sudah pagi. Ia menatap wajah Daniel yang nampak pucat. Ia segera mandi lalu kembali duduk di samping Daniel.


Perlahan Daniel membuka matanya, ia menatap Andrea yang saat ini sedang tersenyum ke arahnya.


" Sayang aku dimana?" Tanya Daniel beranjak menyandarkan punggungnya pada headboard.


Ada yang aneh, kakinya tidak bisa di gerakkan.


" Sayang kakiku... " Daniel menatap Andrea.


" Kenapa kakiku tidak bisa di gerakkan sayang? Ada apa dengan kakiku?" Tanya Daniel cemas.


" Tenanglah Niel!" Andrea menyentuh kedua pundak Daniel.


" Andrea sebenarnya apa yang terjadi kepadaku?" Tanya Daniel menuntut.


" Semalam kamu mengalami kecelakaan, kakimu terjepit badan mobil itu sebabnya kakimu... " Andrea tak kuasa melanjutkan ucapannya.


" Apa aku lumpuh?" Selidik Daniel di balas anggukkan kepala oleh Andrea.


" Tidak!... Aku tidak mau lumpuh! Bagaimana aku bisa menjaga kalian kalau aku lumpuh Andrea? Bagaimana perasaan Varo mempunyai daddy yang kakinya lumpuh? Dia pasti akan sangat malu Andrea... Aku tidak mau lumpuh! Aku mau sembuh!" Ucap Daniel gelisah.


" Tenanglah Daniel! Ini hanya sementara saja kau bisa sembuh." Ucap Andrea.


Daniel menatap Andrea.


" Sembuh? Sampai kapan? Sampai kapan aku bisa kembali berjalan sayang?" Tanya Daniel.


" Dokter tidak bisa menjanjikan itu Niel, tapi percayalah kau pasti akan segera sembuh. Ada aku di sini yang akan merawatmu." Andrea menangkup wajah Daniel.


" Hiks... Hiks.... Apa ini hukuman Tuhan karena aku telah berbuat jahat pada Bayu? Ya Tuhan maafkan aku... Aku mohon jangan menghukumku seperti ini! Bagaimana jika aku lumpuh selamanya? Aku tidak bisa hidup seperti ini Andrea, lebih baik aku mati saja."


" Stt!!" Andrea meletakkan jarinya di bibir Daniel.


" Jangan mengatakan itu! Aku tidak mau mendengarnya Daniel." Ucap Andrea.


" Hiks... Andrea... aku lumpuh, aku akan menjadi beban untukmu. Aku akan menjadi bebanmu Andrea... Aku tidak mau lumpuh! Aku benci kaki ini! Aku benci kaki ini!" Daniel memukuli kakinya yang mati rasa.


" Daniel bersabarlah! Kau harus kuat menjalani ujian ini! Jangan seperti ini! Aku tidak sanggup melihatmu lemah seperti ini, kau pria tangguh Daniel, kau pria kuat.. Aku mohon jangan seperti ini, aku terluka Daniel... hiks... " Isak Andrea memeluk Daniel.


Tubuh Daniel menegang, ia tidak sadar telah membuat Andrea bersedih.


" Maafkan aku sayang." Daniel membalas pelukan Andrea. Ia menciumi pucuk kepala Andrea berkali kali.


" Maafkan aku yang telah membuatmu bersedih! Aku akan tetap kuat demi kamu dan anak anak kita, aku berjanji tidak akan mengeluh lagi!" Ucap Daniel.


Andrea melepas pelukannya, ia menatap Daniel sambil mengusap air matanya.


" Janji tidak akan mengeluh?" Tanya Andrea memastikan.


Daniel menganggukkan kepalanya.


" Kita akan jalani ujian ini bersama sama, bukan hanya kita berdua tapi bersama anak anak kita Niel." Ucap Andrea.


" Tapi bagaimana dengan Varo? Apa dia mau menerimaku dalam keadaan seperti ini?" Tanya Daniel.


" Varo anak siapa?" Tanya Andrea.

__ADS_1


" Dia putraku." Sahut Daniel tegas.


" Lalu menurutmu apa yang akan dia lakukan?" Andrea kembali bertanya.


" Dia akan tetap menyayangiku." Sahut Daniel.


" Cerdas!!! Lalu sekarang apa yang kau khawatirkan?" Andrea menatap Daniel.


" Tidak ada." Sahut Daniel.


" Jadi jangan berpikir buruk tentang Varo!" Ucap Andrea.


" Terima kasih telah menjadi penyemangat dalam hidupku, aku mencintaimu dan anak anak kita." Ucap Daniel mencium kening Andrea.


" Kami juga menyayangimu, tetap optimis dan semangat untuk sembuh." Ucap Andrea.


Daniel menganggukkan kepalanya.


Setelah di periksa oleh dokter, Andrea meminta Daniel di rawat di rumah saja karena ia harus mengurus kedua anaknya di rumah. Dokter pun mengijinkan Daniel pulang.


Setelah turun dari mobil, Andrea mendorong kursi roda Daniel menuju pintu rumahnya.


" Daddy... " Varo berlari ke arahnya.


" Daddy.. Daddy kenapa?" Tanya Varo saat melihat Daniel yang duduk di kursi roda.


Daniel tidak menjawab ia hanya emjundukkan kepalanya saja. Ia tidak siap menerima reaksi Varo yang akan menolaknya karena kelumpuhan yang ia alami saat ini, walaupun ia sudah menyakinkan dirinya jika Varo tidak akan melakukannya.


" Mom, Daddy kenapa?" Varo mendongak menatap Andrea.


" Ya sudah sekarang ayo kita masuk ke dalam Daddy!" Varo menggenggam tangan Daniel.


Daniel meneteskan air matanya menatap haru ke arah Varo.


" Kenapa Daddy menangis? Apa Varo melakukan kesalahan?" Tanya Varo menatap Daniel.


" Tidak sayang, Daddy hanya mengkhawatirkan sesuatu tentang kamu. Apa kamu tidak malu punya daddy yang tidak bisa berjalan seperti Daddy? Daddy hanya bisa duduk di kursi roda ini sayang. Daddy tidak bisa mengantarmu ke sekolah lagi." Ucap Daniel.


" Kenapa Varo harus malu? Semua ini musibah kan Dad? Apapun keadaan Daddy, Daddy Niel tetap Daddy terbaik bagi Varo. Varo sayang Daddy." Varo memeluk Daniel lalu menciumi pipinya.


" Terima kasih sayang." Air mata Daniel semakin deras membasahi pipinya.


" Masih mau menangis di sini apa mau masuk ke dalam nih?" Tanya Andrea.


Keduanya mengusap air matanya.


" Maaf Mom!" Ucap Daniel.


" Mommy biar Varo yang mendorong kursi rodanya." Ucap Varo.


" Tidak bisa sayang, ini berat. Varo tidak kuat mendorongnya." Ujar Andrea.


" Ya sudah Varo menggenggam tangan Daddy saja." Ucap Varo menggenggam tangan Daniel.


Andrea mendorong kursi roda menuju kamarnya. Dengan di bantu pak Sofyan, Andrea membawa Daniel ke kamarnya.


Pak Sofyan merebahkan tubuh Daniel di atas ranjang. Andrea membantu Daniel duduk bersandar pada tumpukan bantal.

__ADS_1


" Terima kasih Pak." Ucap Andrea.


" Sama sama Nyonya, kalau begitu saya permisi." Ucap pak Sofyan di balas anggukan kepala oleh Andrea.


" Oh ya sayang, mulai besok pak Sofyan yang akan mengantar jemput Varo ke sekolah." Ucap Andrea.


" Iya Mom." Sahut Varo.


Varo naik ke atas ranjang duduk di samping Daniel.


" Varo temani daddy dulu ya, Mommy mau mandi." Ucap Andrea.


" Oke Mom." Sahut Varo.


" Aku mandi dulu Dad." Ucap Andrea mencium kening Daniel sebagai bentuk suportnya.


Daniel menganggukkan kepalanya.


" Dad, Varo pijitin ya kakinya." Ucap Varo meminta kaki Daniel.


" Terima kasih sayang." Ucap Daniel.


" Dad apa ini sakit?" Tanya Varo mengelus kaki Daniel.


" Tidak sayang, kaki Daddy mati rasa saat ini." Sahut Daniel.


" Tidak pa pa Dad, mulai sekarang Varo akan sering memijat kaki Daddy sampai kaki Daddy sembuh." Ucap Varo membuat hati Daniel benar benar trenyuh dengan perhatian Varo.


" Daddy bangga sama kamu sayang, kamu memang anak yang baik." Ucap Daniel.


" Varo anak Daddy Niel, Daddy baik maka anaknya pun akan menjadi anak baik. Bukan begitu Dad?" Varo menatap Daniel.


" Iya sayang." Sahut Daniel.


" Sayang, seandainya Daddy melakukan kesalahan yang sangat besar, bahkan mungkin tidak bisa di maafkan. Apakah Varo akan memaafkan Dad atau justru Varo akan menghukum Dad?" Tanya Daniel memastikan.


" Apapun kesalahan Daddy, Varo akan selalu memaafkannya. Daddy adalah Daddy terbaik bagi Varo, Daddy yang selalu menyayangi Varo dan menjadi pahlawan buat Varo dan Mommy. Lalu apa kesalahan yang telah Daddy lakukan pada Varo?" Selidik Varo.


Deg...


Jantung Daniel berdegup sangat kencang. Bagaimana ia bisa menghindari pertanyaan Varo. Varo anak yang cerdas, bahkan lebih cerdas dari anak anak pada umumnya.


Anak seusia Varo masih bisa di bohongi tapi tidak dengan Varo. Semakin ia mencurigai sesuatu semakin ia semangat untuk mencari bukti. Entah otak siapa yang menurun pada Varo sehingga membuatnya menjadi anak genius.


" Daddy jawab pertanyaan Varo! Kesalahan apa yang Daddy lakukan pada Varo atau Mommy?"


Nah loh...


Jawab nggak ya....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat...


Terima kasih untuk readers yang wali mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC

__ADS_1


__ADS_2