Affair With You

Affair With You
Terabaikan


__ADS_3

Daniel tersenyum bahagia saat Andrea mengurungkan niatnya untuk meninggalkannya. Andrea berbaring miring di ranjangnya memejamkan mata merasuk ke alam mimpi.


Tak mau mengganggu tidur Andre, Daniel membawa Varo ke kamarnya. Ia mengganti baju Varo lalu menyuapi Varo makan siang.


" Dad, apa mommy nggak jadi pergi?" Tanya Varo.


" Sepertinya tidak sayang, terima kasih ya kamu selalu mendukung Daddy. Daddy sangat menyayangimu sayang, kamu putra Daddy dan selamanya akan seperti itu." Ucap Daniel mengecup pipi Varo.


" Selamanya Daddy Niel juga akan menjadi Daddynya Varo. I love you Dad." Varo mencium pipi Daniel.


" Love you too sayang." Sahut Daniel.


" Dad setelah ini Varo mau main robot sama Daddy, Daddy mau kan?" Tanya Varo.


Daniel nampak sedang berpikir.


" Aku ingin membujuk Andrea, tapi Varo malah ngajak bermain. Tapi tidak pa pa aku akan menemani Varo saja lah dan memberikan waktu Andrea untuk sendiri dulu." Ujar Daniel dalam hati.


" Gimana Dad?" Tanya Varo.


" Baiklah Daddy akan menemanimu bermain, tapi sebentar saja ya karena kamu harus bobok siang." Ujar Daniel.


" OK Dad." Sahut Varo.


Selesai makan mereka bermain sebentar lalu Varo tidur siang di ranjangnya.


Daniel kembali ke kamarnya, ia naik ke atas ranjang menghampiri Andrea yang masih terlelap.


Cup..


Daniel mencium kening Andrea.


" Maafkan aku sayang! Aku telah menyakiti dan membuatmu kecewa. Tapi aku tidak menyesali perbuatanku karena bagiku semua adil dalam cinta dan perang. Lagian kamu juga mencintaiku kan. Aku sangat mencintaimu dan aku tidak mau kehilanganmu sayang, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah melepasmu. I love you." Daniel kembali mencium kening Andrea.


Ia merebahkan tubuhnya di belakang Andrea lalu memeluknya dari belakang ikut tidur.


Sore hari Andrea mengerjapkan matanya. Ia menatap tangan yang melingkar di perutnya. Milik siapa lagi kalau bukan milik Daniel.


Ia turun dari ranjang dengan pelan lalu masuk ke kamar mandi. Selesai mandi ia menuju kamar Varo.


" Mommy." Ucap Varo menatap Andrea.


Andrea menghampiri Varo yang sedang duduk di atas ranjang. Sepertinya Varo baru bangun tidur.


" Mandi dulu boy." Ucap Andrea.


" Dad mana Mom? Varo mau mandi sama Daddy aja nggak mau sama Mommy." Ujar Varo membuat Andrea menghela nafasnya pelan.


" Dad sedang istirahat sayang, Mommy tidak berani mengganggunya jadi sekarang mandinya sama Mommy ya." Ucap Andrea.


Varo menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Sayang...


" Varo nggak mau Mom, Varo mau mandi sama Daddy." Ucap Varo.


Varo turun dari ranjang lalu menuju kamar Daniel. Ia naik ke atas ranjang mengguncang tubuh Varo.


" Daddy bangun!" Ucap Varo.


" Sayang jangan ganggu Daddy!" Ucap Andrea.


" Daddy bangun! Ayo kita mandi!" Ucap Varo kembali mengguncang tubuh Daniel.


Andrea hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya. Putra yang lebih dekat dengan Daddy nya.


Daniel mengerjapkan matanya menatap Varo yang tersenyum memamerkan deretan giginya.


" Ada apa sayang?" Daniel mengucek matanya.


" Mommy menyuruh Varo mandi, tapi Varo maunya mandi sama Daddy nggak mau di mandiin Mommy. Ayo Dad kita mandi." Ajak Varo.


" Jam berapa sekarang?" Daniel menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


" Jam empat." Gumam Daniel.


" Sebentar ya." Daniel duduk bersandar pada head board mengumpulkan semua nyawanya.


Varo berbaring menjadikan paha Daniel sebagai bantalan, ia menatap Daniel dengan intens.


" Dad, Varo mau jalan jalan sama Daddy. Kita jalan jalan ke taman setelah ini yuk Dad!" Ajak Varo.


" Baiklah, nanti setelah mandi kita jalan jalan sebentar. Apa ada yang ingin kamu beli di sana?" Tanya Daniel.


" Tidak ada Dad, Varo hanya ingin melihat orang orang main bola saja, Varo ingin menjadi pemain sepak bola kalau sudah besar nanti Dad." Ujar Varo.


" Daddy akan selalu mendukung apa yang kamu cita citakan sayang. Baiklah putra Daddy yang sangat tampan, ayo kita mandi dulu." Daniel menggendong Varo menuju kamar mandi.


Dengan telaten Daniel memandikan Varo lalu memakaikan bajunya.


" Sekarang putra Daddy sudah wangi, giliran Daddy yang mandi dulu ya Kamu tunggu di sini saja!" Ujar Daniel mencium pipi Varo.


" Iya Dad." Sahut Varo.


Setelah itu ia masuk ke kamar mandi. Selesai mandi Daniel mennggandeng tangan Varo menuruni anak tangga.


Mereka berpapasan dengan Andrea yang hendak naik tangga.


" Mom Varo jalan jalan dulu sama Daddy." Ucap Varo.


Andrea menatap Daniel sebentar lalu menatap Varo.


" Hati hati! Jangan nakal di sana!" Ucap Andrea.

__ADS_1


" Ok Mom." Sahut Varo.


" Kami pergi Mom." Ucap Daniel.


" Hmm." Gumam Andrea.


Daniel mendekati Andrea, ia memajukan wajahnya hendak mencium kening Andrea tapi Andrea kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


Daniel menghembuskan nafasnya kasar.


" Sabar Daniel... Ini semua karena kesalahanmu sendiri." Batin Daniel.


" Ayo Dad!" Ajak Varo.


" Ayo sayang." Sahut Daniel.


Keduanya berjalan menuju mobil. Daniel segera melajukan mobilnya menuju taman kota yang berjarak satu kilo meter dari rumahnya.


Sesampainya di taman keduanya duduk di bawah pohon beringin menonton orang orang yang sedang bermain sepak bola di lapangan depan sana. Varo nampak antusias menontonnya, sesekali ia ikut berteriak memberikan komentar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah makan malam, Andrea kembali ke kamarnya. Ia beranjak naik ke atas ranjang lalu tidur.


Daniel yang sedang menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja tidak bisa konsentrasi. Pasalnya sedari siang Andrea terus mengabaikannya. Bahkan apa yang biasanya selalu di siapkan oleh Andrea kini Daniel menyiapkannya sendiri.


" Argj sial!" Umpat Daniel menarik kasar rambutnya.


" Kenapa semua ini harus terungkap sih! Andrea memang tidak pergi dari rumah ini tapi dia pergi dari hatiku. Aku tidak bisa menerima semua ini, aku tidak mau Andrea terus mengabaikan aku. Aku harus meminta maaf padanya dan membujuknya agar tidak marah lagi padaku." Monolog Daniel menutup laptopnya.


Daniel membuka pintu kamarnya. Ia menghela nafasnya pelan saat melihat Andrea sudah tertidur. Ia kembali menutup pintunya lalu berpindah ke kamar Varo.


Ia masuk ke dalam menghampiri Varo yang sudah terlelap. Ia memeluk putra tercintanya. Entah mengapa jika bersama Varo hati Daniel menjadi tenang. Ia bahkan mampu melupakan masalah yang sedang menimpanya. Baginya Varo adalah obat dari segala obat, itulah sebabnya ia tidak mau kehilangannya.


" Doakan daddy bisa meluluhkan hati mommymu sayang. Daddy akui kalau cara daddy salah, tapi daddy benar benar tidak bisa hidup tanpa kalian berdua saat ini. Daddy sangat menyayangimu sayang melebihi apapun." Ucap Daniel menciumi kepala Varo.


" Dad... Daddy berisik. Varo ngantuk mau tidur, Daddy jangan ngomong terus!"


Entah mengigau atau tidak, Varo mengatakannya dengan jelas. Daniel tersenyum mendengarnya.


" Kamu mengigau sayang, baiklah Daddy tidak akan berisik lagi." Ucap Daniel.


Daniel memeluk Varo. Tak terasa ia terlelap di sana.


Jangan lupa like koment vote dan mawarnya buat author biar semangat ya...


Terima kasih..


Miss u All...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2