
Malam ini setelah membujuk Varo untuk tidur sendiri, Daniel memeluk Andrea dengan erat di kamarnya. Ia menciumi pipi Andrea dengan perasaan membuncah dalam hatinya.
" Mom... Apa kau tidak mau menawarkan sesuatu padaku?" Tanya Daniel.
" Sesuatu apa Dad?" Andrea
membalasnya dengan pertanyaan.
" Sesuatu itu sayang." Sahut Daniel.
" Apa sih Niel?" Goda Andrea.
" Sesuatu yang... Jangan pura pura tidak tahu deh!" Ujar Daniel.
" Aku memang tidak tahu Niel, katakan yang jelas!" Ujar Andrea.
" Aku ingin membuatkan adik untuk Varo." Ucap Daniel lantang.
Andrea langsung membekap mulut Daniel dengan tangannya.
" Jangan keras keras! Atau Varo akan kemari Niel." Ucap Andrea.
" Lagian kamunya gitu, pura pura tidak paham." Cebik Daniel.
" Iya aku paham, mau?" Andrea menatap Daniel.
" Tau ah." Kesal Daniel bersandar pada headboard.
" Uluh uluh... Big babbyku kesal." Ujar Andrea mencubit pelan pipi Daniel.
Daniel tidak bergeming. Andrea mengalungkan tangannya ke leher Daniel. Ia menatap wajah Daniel yang mukus seperti kulit bayi. Tatapannya turun ke bibir merah Daniel, entah dorongan dari mana Andrea memajukan wajahnya lalu...
Cup....
Andrea mengecup bibir Daniel. Daniel menahan tengkuk Andrea, ia mencium lembut bibir Andrea. Andrea membuka mulutnya membiarkan Daniel mengekspos setiap inchinya. Suara decapan terdengar jelas di dalam kamar mereka.
Ciuman yang semula lembut menjadi menuntut. Tangan Daniel mulai bergerilya, ia menemukan squishy lembut yang nyaman untuk di mainkan.
" Shhh Niel." Des*h Andrea.
Ciuman Daniel berpindah ke leher Andrea, ia sedikit memainkan lidahnya di sana lalu menyesapnya meninggalkan jejak kemerahan di sana. Andrea menikmati sentuhan Daniel, ia begitu mendamba sentuhan yang selama ini tidak pernah ia rasakan lagi sejak kepergian Bayu.
Tanpa keduanya sadari kini keduanya sama sama polos. Daniel memulai permainannya dengan sangat lembut seperti menyentuh seorang gadis. Andrea yang terbuai dengan sentuhannya terus memanggil namanya.
Suara erangan dan des*h*n memenuhi ruangan kamar Daniel. Keduanya sama sama menikmati indahnya malam pertama. Dua jam lamanya akhirnya Daniel menghentikan permainannya setelah sama sama mencapai puncak.
" Terima kasih sayang." Daniel mencium. kening Andrea.
" Hmm." Gumam Andrea.
Daniel memeluk Andrea di balik selimut. Ia merasa sangat bahagia karena pada akhirnya ia memiliki Andrea sepenuhnya. Keduanya terlelap bersama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari Andrea bangun dari tidurnya, ia menatap Daniel yang masih memejamkan matanya.
Cup...
Andrea mengecup kening Daniel membuat sangat empu membuka matanya.
" Maaf aku mengganggu tidurmu." Ucap Andrea.
" Tidak apa sayang, kamu mau kemana? Ini masih pagi sayang." Ujar Daniel memeluk Andrea lebih erat.
" Aku mau turunlah Niel, mau menyiapkan sarapan untuk kalian." Sahut Andrea.
" Aku mau sarapan yang lain." Ucap Daniel.
Daniel menindih tubuh Andrea.
" Apa semalam masih kurang?" Tanya Andrea menatap Daniel yang berada di atasnya.
" Iya, dirimu bagai candu untukku sayang." Sahut Daniel.
__ADS_1
Daniel kembali menyentuh Andrea dengan lembut. Keduanya saling menikmati pagi yang indah dengan penuh kenikmatan surga dunia. Daniel menjadi bersemangat menjalani hati hari.
Setelah mandi Andrea turun ke bawah, di sana sudah ada bi Titin yang sedang memasak.
" Eh Bibi udah masak?" Andrea menghampiri bi Titin.
" Udah Non." Sahut bi Titin.
" Baiklah, tolong siapkan di meja ya Bi! Kami akan turun satu jam lagi." Ujar Andrea.
" Iya Non." Sahut bi Titin.
Andrea kembali ke kamarnya, ia menyiapkan baju untuk Daniel.
Ceklek.....
Daniel keluar dari kamar mandi. Ia menghampiri Andrea di tempatnya.
" Sayang pakaian bajunya donk!" Ujar Daniel.
Andrea melongo menatap Daniel.
" Biasanya pakai sendiri Niel." Ujar Andrea.
" Aku lagi mode manja sayang." Sahut Daniel.
" Varo aja pakai sendiri." Ucap Andrea.
" Kan aku sudah bilang kalau...
" Mode manja." Sahut Andrea.
Andrea membantu Daniel memakai kaos dan kemejanya karena Daniel sudah memakai sendiri celananya.
" Dasinya." Daniel memberikan dasi pada Andrea.
Andrea memasangkan dasi pada kerah leher Daniel. Daniel terus menatapnya dengan penuh cinta.
Cup...
" Apaan sih Niel." Ujar Andrea malu malu.
" Menciummu sayang." Sahut Daniel.
" Daddy.. Mommy... "
Varo berlari menghampiri kedua orang tuanya. Ia sudah berpakaian rapi karena di mandikan oleh bi Titin.
" Sayang." Daniel menggendong Varo lalu menciumi pipinya.
" Daddy, mana adik untuk Varo?" Tanya Varo.
Daniel menatap Andrea begitupun sebaliknya.
" Sayang... Adik Varo akan hadir satu tahun lagi, jadi adik Varo akan lahir pas Varo masuk TK nanti." Ucap Daniel.
" Yei.... Varo akan punya adik... Varo mau adiknya tiga ya Daddy biar rumah ini ramai." Ujar Varo.
" Tanyakan itu pada Mommy! Apakah Mommy bersedia mengandung tiga adik Varo atau hanya dua." Ujar Daniel.
" Tiga ya Mom?" Varo menatap Andrea.
Andrea mengangguk sambil tersenyum manis.
" Beneran lhoh sayang, aku akan menagihnya nanti." Ucap Daniel.
" Bener Dad." Sahut Andrea.
" Terima kasih sayang, mulai sekarang aku akan rajin membuatnya biar cepat jadi." Daniel merangkul Andrea lalu mencium keningnya.
" Apaan sih! Ada Varo juga ngomongnya gitu." Andrea mencubit perut Daniel.
" Awh sakit sayang." Pekik Daniel.
__ADS_1
" Lebay." Sahut Andrea.
" Mommy, jangan sakiti Daddy Varo! Varo tidak terima." Ucap Varo.
" Maaf sayang! Mommy tidak sengaja." Ucap Andrea.
" Ayo Dad kita turun! Kita tinggalkan Mommy yang nakal." Ujar Varo melirik sinis ke arah Andrea.
Daniel tersenyum mengejek melewati Andrea keluar kamarnya.
" Ya Tuhan... Sebenarnya dia anakku atau anak Daniel sih? Sejak lahir dia tidak pernah akur denganku ibunya sendiri, dia selalu membela Daniel dan menyudutkan aku." Monolog Andrea.
" Ayo Mom!" Ajak Daniel di depan pintu.
" Ah baiklah." Sahut Andrea.
Mereka turun ke bawah menuju meja makan.
" Daddy aku mau di suapi." Ujar Varo.
" Baik sayang." Sahut Daniel.
Dengan telaten Daniel menyuapi Varo. Andrea mengisi piring Daniel lalu piringnya sendiri.
Selesai makan Daniel berpamitan kepada Andrea.
" Mom kami berangkat ya." Ucap Daniel mencium kening Andrea.
" Iya Dad, hati hati ya!" Andrea mencium punggung tangan Daniel.
" Sayang, pamitan dulu sama Mommy!" Daniel menatap Varo.
" Nggak mau! Mommy jahat sama Daddy." Ujar Varo.
" Kan Mommy udah minta maaf." Ucap Andrea.
" Minta maaf yang benar sama Daddy! Cium juga pipinya Mom." Ucapan Varo membuat Andrea melongo.
" Ayo Mom." Ucap Daniel menyunggingkan senyumamnya.
Andrea menghela nafasnya pelan, ia mendekati Daniel hingga mengikis jarak di antara mereka.
" Mom minta maaf Dad." Ucap Andrea menatap Daniel.
Cup.. Cup...
Andrea mencium pipi Daniel membuat hati Daniel berbunga bunga.
" Aku maafkan sayang." Daniel membalasnya dengan mencium kening Andrea.
" Sudah?" Andrea menatap Varo.
" Sudah Mom, Varo pergi dulu! Mommy hati hati di rumah!" Varo mencium punggung tangan Andrea.
" Iya sayang kamu juga hati hati! Mom sangat menyayangimu." Ucap Andrea menciumi pipi Varo.
" Varo juga menyayangi Mommy." Sahut Varo.
" Bye Mom." Ucap Daniel dan Varo bersama.
" Bye." Sahut Andrea.
Setelah mobil Daniel tidak terlihat lagi, Andrea masuk ke dalam rumah dan...
Deg....
" Kamu."
Siapa hayooo...
Jangan lupa tekan like koment dan 🌹nya..
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...