
Keesokan harinya Bayu datang ke rumah sakit. Ia masuk ke ruang rawat Varo.
Ceklek...
Andrea dan Daniel menoleh ke arahnya. Bayu menghampiri keduanya di sofa.
" Mau apa kau kemari?" Tanya Andrea menatapnya.
" Aku mau mengantarkan ini." Bayu memberikan stopmap pada Andrea.
Andrea membukanya, ia menatap Bayu. Ada sedikit perasaan bersalah di dalam hatinya. Bagaimanapun ia telah mengkhianati Bayu.
" Aku akan tanda tangan." Andrea segera menandatanganinya lalu mengembalikannya pada Bayu.
" Maafkan aku jika kau merasa aku telah mengkhianatimu, tapi ini lah kehidupan Bay. Kita hanya bisa berencana dan Tuhan lah yang mengatur segalanya. Kau bisa menikah dengan wanita pilihan papamu, dan terima kasih atas cinta dan kenangan indah yang telah kau berikan padaku." Ucap Andrea.
" Aku juga minta maaf padamu karena aku bukan suami yang baik untukmu. Aku menyesali keputusanku yang lebih memilih menjadi anggota gangster dari pada kembali padamu. Jika aku tahu kejadiannya akan seperti ini waktu itu aku lebih memilih tiada bersamamu." Sahut Bayu.
Andrea melongo mendengar ucapannya.
" Takdir telah menunjukkan jalannya Bay, terima kasih." Ucap Andrea.
" Saat ini aku membiarkan Varo hidup bersama kalian, tapi jika dia sudah besar nanti aku akan mengambilnya karena dia harus menjadi penggantiku sebagai ketua gangster."
Andrea melotot mendengar ucapan Bayu.
" Tidak bisa Bay! Aku tidak..
" Aku tidak menerima penolakan atau alasan apapun, kalau kau menolak aku akan membawa anakmu dan Daniel untuk menggantikannya." Bayu pergi meninggalkan ruangan.
" Daniel." Lirih Andrea berkaca kaca.
Daniel menarik tubuh Andrea ke dalam pelukannya.
" Tenanglah! Bayu hanya mencoba menggebrak kita saja sayang, seandainya dia benar maka aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi." Ucap Daniel mengelus punggung Andrea.
" Aku percaya padamu Niel." Sahut Andrea.
" Ya sudah kamu istirahatlah! Jangan banyak pikiran! Aku tidak mau sampai kamu sakit sayang." Daniel menarik pelan kepala Andrea menyandarkan pada bahunya.
" Bagaimana kalau Bayu...
" Aku sudah bilang sayang, jangan di pikirkan! Yakinlah Tuhan akan selalu melindungi anak kita." Sahut Daniel.
" Baiklah maaf aku!" Ucap Andrea.
Siang hari Daniel dan Andrea membawa Varo pulang ke rumah. Kondisi Varo sudah membaik, lebam di perutnya juga sudah hilang. Mungkin efek obat mahal yang Daniel berikan.
Daniel merebahkan nya di ranjangnya.
" Tidurlah sayang! Daddy akan menjagamu di sini." Ujar Daniel naik ke atas ranjang. Ia mengelus kepala Varo.
" Mommy akan memasak untuk makan siang nanti." Ucap Andrea.
" Apa kamu nggak capek sayang? Biar bi Titin aja yang masak." Ujar Daniel.
__ADS_1
" Enggak Niel, aku akan memasak makanan kesukaan kalian." Sahut Andrea tersenyum.
Andrea turun ke bawah menuju dapur. Ia memasak sop ayam, ayam goreng, tempe goreng dan tidak lupa dengan sambalnya. Ia jadi teringat makanan kesukaan Bayu.
" Entah kenapa aku menjadi merasa bersalah padamu Bay, hah... Semoga kau mendapatkan kebahagiaan dengan caramu sendiri. Mungkin ini yang terbaik untuk kita semua." Monolog Andrea.
" Kenapa kau merasa bersalah kepadanya?" Daniel menghampirinya.
" Apa kau masih mencintainya?" Selidik Daniel menatap Andrea.
" Kalau aku masih mencintainya kenapa aku menandatangani surat perpisahan itu? Kau bisa tahu jawabannya dari sana Daniel." Sahut Andrea.
" Jawabannya cuma satu, yaitu Varo." Ucap Daniel membuat Andrea mengerutkan keningnya.
" Kau melakukannya demi kebahagiaan Varo." Sambung Daniel.
" Apa kau tidak melihat ketulusan di mataku?" Tanya Andrea.
Keduanya saling menatap.
" Iya, aku melihat ketulusan di matamu. Maafkan aku yang telah curiga padamu, aku hanya tidak ingin kehilangan kamu saja." Sahut Daniel.
" Aku tidak akan meninggalkanmu, kau cinta pertama dan akan menjadi cinta terakhirku." Sahut Andrea.
" Terima kasih sayang." Ucap Daniel mengecup kening Andrea.
" Apa Varo tidur?" Tanya Andrea.
" Iya." Sahut Daniel.
" Sini aku bantuin masak." Ucap Daniel.
" Aku ke kamar lihat Varo dulu." Ujar Andrea.
" Iya, aku ke ruang kerja dulu mau menyelesaikan pekerjaan." Ujar Daniel.
Andrea menganggukkan kepalanya. Keduanya berpisah di ruang tamu. Andrea kembali ke kamarnya, ia menghampiri Varo yang masih tertidur pulas.
" Semoga kita selalu bersama sayang." Andrea mengecup kening Varo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari hari berlalu tak terasa sudah satu bulan sejak Andrea menandatangani surat perpisahan. Kini ia menjadi jandanya Bayu dan menjadi milik Daniel sepenuhnya. Mereka baru saja keluar dari ruang persidangan.
" Andrea." Panggil Bayu menghentikan langkah Andrea.
" Ya." Sahut Andrea.
" Untuk terakhir kalinya, bolehkah aku memelukmu?" Bayu menatapnya dengan penuh harap.
Andrea menatap Daniel di balas anggukan kepala olehnya.
" Boleh." Sahut Andrea.
Grep....
__ADS_1
Bayu memeluknya dengan sangat erat seolah tidak mau kehilangannya.
" Maafkan aku Re.. Aku akan mencoba melepasmu dengan ikhlas, aku berharap kau akan hidup bahagia bersama Daniel dan Varo, ijinkan aku menemui Varo suatu saat nanti." Ucap Bayu.
" Aku akan mengijinkanmu menemuinya tapi aku tidak akan membiarkanmu membawanya dariku." Sahut Andrea.
" Aku tidak bisa menjanjikan itu, kita akan lihat setelah Varo dewasa. Aku titip putraku padamu, katakan padanya kalau aku sangat menyayanginya. Aku yakin kau akan merasakan seperti aku suatu saat nanti. Daniel akan meninggalkanmu demi cintanya pada wanita lain." Bayu melepas pelukannya.
Andrea terpaku mendengar ucapan Bayu.
" Benarkah Daniel akan meninggalkan aku suatu saat nanti? Tidak... Aku tidak boleh terpengaruh oleh ucapan Bayu, aku harus lebih percaya pada Daniel daripada Bayu." Batin Andrea.
Bayu beralih ke Daniel, ia menatap Daniel dengan senyum meremehkan.
" Aku titip anak dan mantan istriku bro." Bayu menepuk pundak Daniel meninggalkan keduanya.
Andrea menatap kepergian Bayu dengan perasaan entah. Hatinya terusik dengan kata kata Bayu.
" Kenapa sayang? Kamu tidak ikhlas melepas kepergiannya?" Tanya Daniel.
Andrea menatap Daniel.
" Tidak, aku hanya kasihan saja padanya. Semoga dia menemukan kebahagiaannya sendiri." Ujar Andrea.
" Amin." Sahut Andrea.
" Ayo kita pulang!" Daniel menggandeng tangan Andrea.
Keduanya pulang ke rumah, sesampainya di rumah Andrea merebahkan tubuhnya di atas sofa.
" Hah." Andrea menghembuskan nafasnya kasar.
" Kenapa sayang? Capek?" Tanya Daniel.
" Aku sudah lega Niel, akhirnya aku tidak terikat lagi dengan Bayu. Kau menjadi suamiku satu satunya." Ucap Andrea.
" Aku bahagia sayang, akhirnya tidak akan ada pengganggu dalam hubungan kita." Ujar Daniel.
" Iya Niel, semoga kita selalu bahagia selamanya." Ucap Andrea.
" Amin." Sahut Daniel.
Daniel merangkul pundak Andrea. Andrea merebahkan kepalanya di bahu Daniel. Bahu yang sangat nyaman sebagai sandaran.
Daniel tersenyum smirk sambil mengelus kepala Andrea.
" Akhirnya aku bisa memilikimu sepenuhnya , tidak sia sia usahaku selama ini sayang." Batin Daniel mencium pucuk kepala Andrea.
Kira kira apa ya maksud ucapan Daniel?
Ada yang bisa nebak?
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semangat mengungkap semuanya.
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...